Bab [6] Déjà Vu
"Pak Wijaya, Adi Wijaya... dunia ini sempit sekali," gumam Sinta Lestari dalam hati.
"Hari ini kamu jadi anak baik di kelas, bagaimana kalau besok Ayah ajak makan es krim?"
"Mau, mau! Ayah, aku mau cerita, tadi Bu Indira galak sekali. Dia bilang Bu Sinta kayak reseller di medsos. Ayah, apa sih artinya reseller di medsos itu?"
Adi Wijaya mengerutkan kening. Tadi di depan pintu, Indira Kusuma sudah menceritakan semua kejadian malam ini. Guru piano baru ini sepertinya cukup lihai bersilat lidah, bahkan sampai mengajari Lia untuk menyindir gurunya sendiri. Kalau begini terus, jangan-jangan Lia bisa terpengaruh hal buruk darinya.
Tapi, Lia sepertinya tidak keberatan belajar piano dengannya. Kalau dia dipecat, apakah Lia akan sedih?
"Reseller di medsos itu artinya orang yang jualan lewat HP, Lia. Bagaimana pelajaran piano hari ini?"
Sebenarnya, sepanjang pelajaran tadi Lia hanya asyik bermain gim. Tapi, rahasia ini tidak boleh sampai bocor ke ayahnya. Bola mata Lia Wijaya berputar sejenak, lalu ia tersenyum. "Ayah, guru ini baik sekali. Aku suka sama guru ini."
Indira Kusuma, yang sejak tadi menguping di luar pintu, merasa dunianya runtuh seketika. Ia menunggu begitu lama di sana dengan satu tujuan: melapor pada Adi Wijaya begitu ia pulang, agar pria itu segera memecat perempuan ini.
Tak disangka, Lia Wijaya yang biasanya sulit diatur justru terang-terangan mengaku menyukainya. Perempuan ini benar-benar aneh. Bagaimana bisa dia melakukannya?
"Baguslah kalau begitu. Sekarang kamu mandi dulu, ya. Ayah mau bicara sebentar dengan Bu Sinta."
"Baik, Ayah."
Lia Wijaya pun pergi mandi ditemani oleh pembantu rumah tangga. Barulah saat itu Adi Wijaya menatap Sinta Lestari yang berdiri di sampingnya dengan saksama. Anehnya, ia merasa seperti pernah melihat wanita ini di suatu tempat.
"Bu Sinta?"
Meskipun hatinya berkecamuk, Sinta Lestari tak berani menunjukkannya sedikit pun di wajahnya. Ia menata ekspresinya dan menjawab dengan tenang, "Selamat malam, Pak Wijaya."
"Sepertinya Lia sangat menyukai Anda. Tapi, saya harap ke depannya Anda tidak mengucapkan hal-hal aneh di depannya. Itu bisa memberinya pengaruh buruk."
"Pak Wijaya, justru Bu Indira yang lebih dulu menyindir saya. Lagi pula, saya tidak mengatakan hal yang tidak pantas. Mohon maaf sebelumnya, tapi menurut saya, Bu Indira tidak cocok menjadi guru les putri Anda. Metode mengajarnya terlalu kaku dan tidak bisa mengembangkan kemampuan berpikir anak."
Adi Wijaya tertegun. Indira Kusuma adalah rekomendasi dari dosen pembimbingnya di universitas, yang disebut-sebut sebagai mahasiswi dengan nilai terbaik di jurusannya. Mengajar anak TK seharusnya bukan masalah besar baginya.
Selama ini, Indira memang terlihat sangat serius dan bertanggung jawab. Meskipun Lia sedikit nakal, Indira selalu sabar menghadapinya. Tapi sekarang, wanita di hadapannya ini justru berkata Indira tidak cocok?
Di luar pintu, raut wajah Indira Kusuma langsung berubah mendengar ucapan Sinta. Gawat kalau Adi Wijaya termakan omongannya. Ia bisa kehilangan pekerjaan dengan gaji tinggi ini, dan yang lebih parah, kesempatannya untuk masuk ke dalam keluarga konglomerat bisa lenyap begitu saja.
Memikirkan itu, Indira segera menyerbu masuk ke dalam ruangan.
"Bu Sinta, kita baru bertemu hari ini. Pak Wijaya dan Lia saja tidak berkomentar apa-apa, atas dasar apa Anda bilang saya tidak cocok?"
Sinta Lestari sedikit terkejut dengan kemunculan Indira yang tiba-tiba. Ia pikir wanita itu sudah pulang, ternyata malah menguping di luar.
"Bu Indira, Anda tahu peribahasa 'mengajar dengan memahami karakter unik anak', kan? Kita harus menggunakan metode yang berbeda untuk anak yang berbeda."
"Tentu saja saya tahu! Tapi Anda tahu apa? Lia itu sedikit lambat menangkap pelajaran, jadi saya harus mengajarinya berulang-ulang agar ilmunya meresap ke otaknya."
Mendengar penjelasan itu, Adi Wijaya mengangguk setuju. Sinta yang melihatnya hanya bisa menghela napas dalam hati, merasa sangat jengkel. Rasa canggung dan panik karena mengenali Adi Wijaya tadi pun sirna seketika.
"Hari ini Anda tidak bisa menangkap maksud tersirat dari ucapan saya, tapi Lia bisa. Itu artinya, otak Lia bekerja lebih baik dari Anda. Bu Indira, jangan meremehkan kecerdasan Lia."
"Sa-saya..."
Indira selalu membenci mulutnya yang kaku ini. Seperti sekarang, ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan Sinta.
"Sudah cukup," sela Adi Wijaya. "Saya percaya setiap guru punya cara mengajarnya masing-masing. Kalian cukup fokus pada pekerjaan kalian, tidak perlu saling menilai."
Meskipun Lia juga pernah bilang tidak suka pada Bu Indira, tapi untuk saat ini, Indira adalah pilihan terbaik.
Guru-guru les sebelumnya tidak ada yang beres. Ada yang membentak Lia, ada yang diam-diam mencubitnya, bahkan ada yang terang-terangan menyebut Lia bodoh. Pernah sekali, seorang guru wanita nekat bersembunyi di kamar Adi. Ketika ia selesai mandi dan membuka selimut, ia menemukan seorang wanita telanjang di ranjangnya.
Singkatnya, dari sekian banyak guru les yang pernah ia pekerjakan, Indira adalah yang paling normal.
Sinta Lestari mengangkat alisnya. "Baik, Pak Wijaya."
Indira tidak menyangka Adi Wijaya akan membelanya. Hatinya terasa begitu tersentuh. "Pak Wijaya, saya janji akan mengajar Lia dengan sungguh-sungguh."
"Baiklah. Kalian boleh pulang."
Begitu keluar dari rumah keluarga Wijaya, raut wajah Indira langsung berubah drastis.
"Mbak Sinta, kalau kamu datang ke rumah keluarga Wijaya untuk jadi guru dengan niat terselubung, saya sarankan kamu buang jauh-jauh pikiran itu."
"Oh ya? Kenapa?"
"Pak Wijaya tidak suka tipe wanita sepertimu. Jangan salahkan saya kalau tidak mengingatkan. Kalau kamu nekat mendekatinya, kamu hanya akan mempermalukan diri sendiri."
"Oh, terima kasih sudah mengingatkan. Tapi, saya tidak punya niat jadi ibu tiri. Apalagi sampai seperti orang lain yang tidak sadar diri, mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas di luar jangkauannya."
Indira merasa sangat kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah menahan diri cukup lama, akhirnya hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya. "Saya harap kamu pegang ucapanmu."
Bukan tanpa alasan Indira merasa begitu terancam. Sinta Lestari memang luar biasa cantik. Ditambah lagi, hari ini Lia Wijaya secara terang-terangan mengaku menyukainya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar Lia menyukai orang lain selain ayahnya.
Setelah selesai mandi, Lia Wijaya menyelinap masuk ke kamar ayahnya. Meskipun di mata orang lain ia anak yang nakal, di hadapan ayahnya ia adalah seorang anak yang manis.
"Ayah, temani aku tidur, ya?"
"Tentu saja."
Setelah Lia terlelap, Adi Wijaya menutup buku cerita bergambar itu, melepas kacamatanya, dan memijat matanya yang terasa lelah.
Kejadian semalam tiba-tiba melintas di benaknya. Semalam ia minum obat lalu tidur, tak disangka ia malah bermimpi erotis. Dalam mimpi itu, ia tidak bisa melihat wajah wanitanya dengan jelas, tapi tubuhnya terasa begitu familier. Rasanya seperti wanita dari beberapa tahun yang lalu itu...
Memikirkan hal itu, Adi Wijaya menggelengkan kepala. "Akhir-akhir ini aku pasti terlalu lelah."
Kemudian ia teringat pada Sinta Lestari, dan perasaan familier itu kembali menyergapnya.
