Bab [7] Kesalahpahaman
Malam berikutnya, Sinta Lestari tiba tepat waktu di kediaman keluarga Wijaya.
Saat Sinta melangkah masuk ke ruang musik, Lia Wijaya sudah ada di dalam. Namun, gadis kecil itu sama sekali tidak memedulikannya, asyik menyusun balok-balok Lego di tangannya.
"Enak banget, dibayar buat main game lagi hari ini."
Sinta mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu merebahkan diri di sofa dalam ruangan itu dan membuka game favoritnya.
Di sampingnya, Lia Wijaya sempat melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kesibukannya hingga satu jam kemudian alarm berbunyi.
"Sudah, jangan main lagi," kata Lia ketus. "Ayah sebentar lagi pulang, cepat ajari aku."
"Oke," Sinta dengan sigap menyimpan ponselnya.
Setelah mengamati selama dua malam, Sinta menyadari bahwa gadis kecil yang tampak seperti boneka porselen ini sebenarnya sangat cerdas. Hanya saja, ia angkuh dan tidak peduli pada siapa pun kecuali ayahnya.
"Kemarin kamu mainkan Für Elise lumayan bagus. Tapi, itu kan cuma lagu pemula yang paling gampang. Aku rasa itu bukan levelmu yang sebenarnya. Kamu bisa main lagu lain, kan?"
Wajah Lia langsung menggelap. "Nggak bisa."
"Apa? Kamu cuma belajar satu lagu?"
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Lia dengan nada menantang.
"Hahahaha, nggak apa-apa. Lucu aja, kok cuma bisa satu lagu. Pantesan kamu mainnya lancar banget, ternyata setiap hari cuma latihan itu saja."
Tawa Sinta meledak begitu keras. Ejekan itu membuat Lia benar-benar murka. Ia melompat ke arah Sinta dan mencoba memukulnya, tapi Sinta dengan cepat menahan tangannya.
"Lho, kok jadi marah? Aku kan cuma bilang kenyataan. Kalau kamu memang nggak suka belajar piano, bilang saja sama ayahmu. Belajar itu bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri, tahu?"
"Lepasin! Sakit!" Lia mengentakkan tangan Sinta dengan kasar.
"Nanti aku akan bilang ke ayahmu kalau kamu nggak suka belajar piano dan nggak punya bakat. Biar dia nggak maksa kamu lagi."
"Jangan!" Lia nyaris menangis.
Ayahnya bisa bermain piano. Sebagai anaknya, bagaimana mungkin ia tidak bisa?
Alasan ia selalu berulah saat les adalah untuk membuat guru-gurunya kesal dan mengadu pada ayahnya. Dengan begitu, ia bisa bertemu ayahnya setiap hari.
Ayahnya terlalu sibuk, bertemu dengannya saja sangat sulit. Jika ia menjadi anak yang penurut dan baik-baik saja, mungkin ayahnya tidak akan pulang.
"Toh kamu juga nggak niat belajar, setiap hari les cuma buang-buang waktu. Kenapa nggak bilang terus terang saja sama Ayah?"
"Bukan urusanmu!"
Emosi Lia akhirnya pecah. Tidak ada yang mengerti dirinya. Semua orang bilang ayahnya sibuk, semua orang menasihatinya untuk menjadi anak yang penurut dan pengertian, jangan membuat ayahnya khawatir. Tapi, siapa yang mengerti perasaannya?
Anak-anak lain punya ayah dan ibu yang menemani mereka, tapi dia tidak. Dia hanya tinggal di rumah bersama kepala pelayan dan para pembantu.
Dia juga ingin ditemani ayah dan ibunya.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?"
Kepala pelayan yang mendengar tangisan Lia bergegas masuk. Begitu tiba, ia melihat Lia jongkok di lantai sambil menangis, sementara Sinta duduk tenang di sofa. Pemandangan itu membuatnya geram.
"Bu Sinta, apa yang sudah Anda lakukan pada Nona Lia?"
"Saya tidak melakukan apa-apa."
"Bohong! Nona Lia kami anak yang paling manis. Kalau Anda tidak melakukan apa-apa, kenapa dia menangis sampai seperti ini? Anda pasti mengganggunya, kan?"
"Saya tidak melakukannya."
"Ya ampun, guru macam apa ini. Lia, jangan menangis, ya. Sebentar lagi Tuan pulang, biar Tuan yang membereskan ini." Kepala pelayan itu segera menelepon Adi Wijaya, lalu memeluk Lia dan menenangkannya dengan suara lembut.
Sinta sama sekali tidak takut Adi Wijaya akan datang. Semua tingkah laku Lia hanya untuk menarik perhatian ayahnya. Artinya, Adi Wijaya adalah kunci untuk mengubah Lia. Jika masalah ini tidak diselesaikan, kondisi psikologis Lia tidak akan pernah sehat.
Saat Adi Wijaya tiba di rumah, Lia sudah berhenti menangis, tapi matanya menatap tajam ke arah Sinta. Ini pertama kalinya Adi melihat putrinya menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Bu Sinta, bisakah Anda memberikan penjelasan atas kejadian malam ini?" Adi menatap Sinta dengan dingin.
"Tentu saja. Tapi, saya tidak bisa menjelaskannya di depan anak-anak. Pak Wijaya, apa kita bisa bicara berdua saja?"
Sebenarnya, Sinta agak takut berduaan dengan Adi Wijaya. Kejadian malam itu benar-benar sulit dilupakan. Setiap kali melihat wajah Adi, otaknya otomatis memutar adegan-adegan dewasa yang membuatnya sulit berpikir jernih.
Namun, Lia benar-benar anak yang malang. Sinta ingin membantunya.
"Baik, kita ke..."
"Jangan!" Lia berteriak sambil berlari memeluk kaki Adi. "Ayah, jangan bicara dengannya! Aku janji akan belajar piano dengan baik. Ayah jangan pergi dengannya, ya?"
Melihat emosi Lia yang kembali meledak, Adi memberi isyarat pada kepala pelayan. Kepala pelayan itu segera memberi gestur "silakan" pada Sinta.
"Silakan Anda pulang. Kami akan menuntut pertanggungjawaban atas kejadian hari ini. Anda dan pihak Bina Harmoni tidak akan bisa lari!"
Sinta tidak berkata apa-apa. Ia mengikuti kepala pelayan keluar dari ruang musik, lalu duduk di sofa ruang tamu.
Kepala pelayan itu berkata dengan tegas, "Saya minta Anda segera pergi."
"Tolong sampaikan pada Pak Wijaya bahwa saya akan menunggunya di sini. Ada sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan, ini tentang Lia."
"Kami tidak punya urusan apa pun lagi dengan Anda."
"Pak, tadi Pak Wijaya sudah setuju untuk bicara dengan saya. Apa Pak Wijaya tahu kalau Bapak mengusir saya seperti ini?"
Pertanyaan itu membuat kepala pelayan terdiam. Memang benar, tadi tuannya sudah setuju untuk bicara. Tuannya juga tidak menyuruhnya untuk mengusir wanita ini. Apa benar ia harus membiarkannya menunggu di sini?
Tak punya pilihan lain, kepala pelayan itu memberanikan diri naik ke atas untuk bertanya pada Adi Wijaya. Mendengar laporan itu, ekspresi Adi tidak banyak berubah. Lia sudah tertidur dalam pelukannya. Setelah membaringkan putrinya di tempat tidur, ia turun dan duduk di seberang Sinta.
"Katakan."
"Pak Wijaya, apakah Anda bisa bermain piano?"
"Iya." Meskipun tidak mengerti mengapa Sinta menanyakan hal itu, Adi tetap menjawab.
"Sebenarnya, Lia punya bakat bermain piano. Apa Anda tahu?"
Adi tertegun. Tidak pernah ada yang mengatakan Lia punya bakat. Ia menyuruh Lia belajar piano hanya agar putrinya itu bisa memiliki pembawaan yang lebih anggun, tidak pernah berharap Lia akan menjadi mahir.
Melihat reaksinya, Sinta hanya bisa menggelengkan kepala. "Anda benar-benar tidak mengenal Lia."
"Kenapa?"
"Waktu yang Anda habiskan bersamanya terlalu sedikit. Ini membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang haus perhatian. Semua yang dia lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian Anda. Hari ini, saat saya bilang akan meminta Anda menghentikan les pianonya, emosinya langsung meledak. Dia takut Anda akan mengabaikannya."
Adi terdiam. Waktu yang ia habiskan bersama Lia memang sangat sedikit. Setiap hari ada tumpukan pekerjaan yang menunggunya.
"Pak Wijaya, membesarkan anak bukan hanya soal memberinya makan dan pakaian yang layak. Kesehatan mentalnya juga sangat penting. Mulai sekarang, tolong berikan perhatian lebih pada Lia. Sudah malam, saya permisi pulang dulu."
"Baik," Adi mengangguk secara refleks, lalu tersadar. "Anda pulang naik apa?"
"Pesan taksi online."
"Biar saya antar."
"Tidak perlu, Pak. Terlalu merepotkan."
Adi bangkit berdiri. "Ayo. Di mobil nanti, Anda bisa ceritakan lebih banyak tentang kondisi Lia."
Meskipun Sinta sangat ingin menolak, alasan yang diberikan Adi membuatnya tidak bisa berkata tidak. Dengan berat hati, ia pun setuju.
Berjalan di belakang Adi Wijaya, hanya ada satu pikiran di benak Sinta: Ya Tuhan, pria dengan tubuh sesempurna ini pernah menjadi miliknya semalaman
