Bab [8] Pertengkaran
Sepanjang perjalanan, Sinta Lestari terus bercerita kepada Adi Wijaya tentang Lia Wijaya. Pembicaraan itu membuatnya sejenak melupakan kejadian malam itu. Tak terasa, mereka sudah tiba di depan rumah. Di luar dugaan, seluruh keluarganya sudah menunggunya di depan pintu.
Semalam, saat Bambang Santoso tidak di rumah, Dewi Kusuma dan putrinya tidak membuat keributan sama sekali. Hari ini, mereka berdiri di belakang Bambang Santoso, memasang ekspresi penuh kemenangan saat melihat Sinta Lestari turun dari mobil Rolls-Royce Phantom milik Adi Wijaya.
Melati Santoso tersenyum sinis. "Kak Sinta, pulang diantar siapa, tuh?"
"Apa urusanmu?"
"Bukan apa-apa, sih. Cuma, kamu pulang selarut ini, kami semua jadi khawatir."
"Oh, begitu. Terima kasih banyak, ya, atas perhatian kalian."
Adi Wijaya tetap duduk di dalam mobil tanpa bergerak atau bersuara. Statusnya yang istimewa membuatnya harus berhati-hati. Jika ia menampakkan diri, bukan hanya dirinya yang akan mendapat masalah, Sinta Lestari pun bisa ikut terseret.
Ia bisa melihat dengan jelas, hubungan Sinta Lestari dengan keluarganya tidak begitu baik.
"Aku pulang dulu," pamitnya.
Sinta Lestari mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil. "Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Pak. Maaf sekali, hari ini situasinya kurang nyaman, kalau tidak, sudah saya ajak Bapak mampir untuk minum teh."
"Tidak perlu sungkan begitu."
Setelah itu, sopir menyalakan mesin dan mobil pun melaju pergi. Sinta Lestari berbalik. Wajah Bambang Santoso, yang berdiri di belakangnya, tampak begitu kelam, seolah siap mengulitinya hidup-hidup.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Bambang Santoso dengan suara dingin yang menusuk.
"Klien."
"Klien? Klien apa? Sinta Lestari, apa saja yang sudah kamu lakukan di belakang kami selama ini?"
"Itu bukan urusanmu."
Setelah berkata demikian, Sinta Lestari mengabaikan semua orang yang ada di sana dan langsung berjalan menuju lantai atas.
"Berhenti!" Bambang Santoso maju dan mencengkeram lengannya. "Sikap macam apa itu? Keluarga Santoso tidak pernah mengajarimu bicara seperti itu pada orang tua!"
"Keluarga Santoso apa? Nama keluargaku Lestari."
Di samping mereka, mata Melati Santoso tampak memerah. Ia menatap Sinta Lestari dengan nada penuh kepiluan.
"Kak Sinta, meskipun Kakak tidak memakai nama Santoso, tapi yang membesarkan Kakak adalah keluarga Santoso. Ayah dan Ibu tidak pernah menuntut Kakak untuk berterima kasih, tapi setidaknya Kakak harus menghormati mereka. Sikap Kakak seperti ini akan membuat Ayah dan Ibu sangat sedih."
"Cih, menjijikkan." Setiap kali mendengar Melati Santoso bicara, Sinta merasa sekujur tubuhnya merinding.
"Hiks... Kak Sinta, kenapa Kakak bisa berkata seperti itu padaku? Aku mohon, bisakah Kakak bersikap lebih baik pada Ayah dan Ibu? Mereka sudah bekerja sangat keras."
Dewi Kusuma pun ikut menimpali dengan nada bijaksana, "Sinta, Ayahmu itu hanya mengkhawatirkanmu, takut kamu bergaul dengan orang yang tidak benar di luar sana. Ingat, nama baik seorang perempuan itu sangat penting. Kalau reputasimu sudah rusak, bagaimana kamu bisa menikah nanti?"
"Apa Ibu lupa kalau aku sudah menikah?"
"Ah? Oh, iya, ya ampun, Ibu sampai lupa..."
Pertanyaan itu berhasil membuat semua orang di sana terdiam, terutama Dewi Kusuma, yang wajahnya memerah karena malu.
Sinta Lestari memang menikah dengan pria yang divonis tidak akan hidup lama. Selama bertahun-tahun, keluarga Santoso tidak pernah berhubungan dengan keluarga besannya, bahkan informasi mengenai menantu mereka itu sama sekali tidak bisa ditemukan. Karena itulah, mereka selalu menganggap Sinta Lestari seolah-olah belum menikah.
Rencana mereka adalah, setelah Fajar Widya yang penyakitan itu meninggal, mereka akan mencarikan Sinta Lestari pria lain yang kaya dan berkuasa. Dengan begitu, Sinta bisa terus membalas budi keluarga Santoso. Bagaimanapun juga, kasih orang tua sejati, lebih dalam dari lautan.
Hanya saja, entah kenapa, setelah kembali dari luar negeri kali ini, Sinta Lestari berubah total. Ia tidak lagi mudah dikendalikan seperti dulu.
Itulah sebabnya malam ini mereka semua sengaja menunggunya pulang, berniat memberinya pelajaran.
"Kamu masih sadar kalau sudah menikah?" Cengkeraman tangan Bambang Santoso di lengan Sinta Lestari semakin mengerat. "Kalau sudah menikah, seharusnya kamu menjadi istri yang setia dan tahu adat! Kamu pikir perbuatanmu di luar sana tidak ada yang tahu? Kalau sampai keluarga Widya tahu kamu main serong dengan laki-laki lain dan menyeret nama baik keluarga Santoso, jangan salahkan aku kalau aku bertindak kasar padamu!"
"Coba saja bentak aku sekali lagi! Mulai sekarang, jangan pernah ganggu aku. Kalau kalian membuatku marah, kita lihat saja siapa yang akan kena batunya!"
"Cih, baru dapat pacar kaya sudah tidak menganggap keluarga kandung. Kami ini semua demi kebaikanmu. Bagaimana kalau perbuatanmu ini ketahuan oleh keluarga mertuamu? Lebih baik kamu sadar diri dan segera putuskan hubungan dengan laki-laki itu."
Bambang Santoso melepaskan tangan Sinta Lestari. "Ibumu benar, kami semua melakukan ini demi kebaikanmu. Cepat putuskan hubungan dengan laki-laki itu. Soal keluarga Widya, kami akan bantu menutupinya."
"Jangan ganggu aku." Sinta Lestari menatap mereka dengan dingin, lalu berbalik dan menaiki tangga.
Tatapannya begitu menusuk hingga ketiga orang yang berdiri di sana merasakan hawa dingin merayap di punggung mereka. Saking terkejutnya, mereka bahkan tidak sempat bereaksi saat Sinta sudah menghilang dari pandangan.
"Anak kurang ajar itu, sekarang sayapnya sudah tumbuh, berani-beraninya dia bicara seperti itu pada kita!" Dewi Kusuma tersadar dan hendak mengejarnya, tetapi ditahan oleh Bambang Santoso.
"Sudahlah, jangan cari gara-gara dengannya sekarang. Sepertinya laki-laki di belakangnya itu bukan orang sembarangan, makanya dia punya nyali untuk melawan kita. Apa kalian lihat wajah laki-laki di mobil tadi?"
"Tidak," Melati Santoso menggeleng. "Lampu di dalam mobil tidak menyala, gelap sekali."
Dewi Kusuma juga menggelengkan kepala. Ia hanya melihat bayangan samar dan sama sekali tidak bisa mengenali siapa orang itu.
"Hah, sekarang dia sama sekali tidak mau mendengarkan kita. Entah Fajar Widya itu mau setuju bercerai atau tidak. Kalau tidak, masalah ini bisa jadi rumit..."
"Benar," kata Dewi Kusuma cemas. "Kita harus cari cara untuk mengetahui latar belakang laki-laki itu. Oh ya, suamiku, apa ada informasi baru tentang Fajar Widya?"
"Tidak ada sama sekali... Aku akan coba cari cara lain."
Setiap orang di dunia ini pasti meninggalkan jejak. Jika informasi tentang seseorang sama sekali tidak bisa ditemukan, itu artinya orang tersebut memiliki latar belakang yang luar biasa besar.
Dewi Kusuma merasakan dadanya sesak karena amarah yang tertahan. "Biarkan saja dia senang untuk sementara waktu. Nanti kalau dia sudah bosan dimainkan dan tidak punya sandaran lagi, dia pasti akan kembali merangkak pada kita."
"Ibu benar," sahut Melati Santoso, sangat setuju dengan ucapan ibunya.
Mana mungkin pria kaya dan berkuasa mau dengan perempuan tanpa latar belakang keluarga yang jelas? Pasti mereka hanya tertarik pada wajah Sinta Lestari dan ingin main-main saja. Nanti, saat pria itu sudah menendangnya, barulah dia akan menangis tersedu-sedu.
Memikirkan hal itu, Melati Santoso merasa sedikit bangga.
Meskipun wajahnya tidak secantik Sinta Lestari, dia adalah putri tunggal keluarga Santoso. Kelak, dia pasti akan menikah dengan suami yang hebat. Saat itu tiba, Sinta Lestari hanya bisa iri padanya.
Kembali ke kamarnya, Sinta Lestari mencoba menenangkan hatinya. Ia tidak mengerti bagaimana manusia bisa berubah secepat itu. Meskipun ia tidak memiliki ikatan darah dengan keluarga Santoso, bukankah hubungan bertahun-tahun seharusnya bisa mengubah orang asing menjadi keluarga yang terikat secara emosional? Mengapa mereka bisa begitu kejam?
Dulu, Bambang Santoso dan Dewi Kusuma mengancamnya dengan menggunakan anaknya, memaksanya menggantikan Melati Santoso untuk menikah dengan keluarga Widya. Sinta menuruti kemauan mereka, tetapi mereka tidak pernah mengembalikan anaknya. Mereka hanya berkata bahwa anaknya telah hilang.
Bagaimana mungkin seorang anak bisa tiba-tiba menghilang? Sinta yakin anaknya pasti telah dibuang oleh mereka. Selama bertahun-tahun, ia terus menyumbang ke panti-panti asuhan di dalam negeri, berharap salah satu dari anak-anak di sana adalah anaknya.
Kali ini, ia pulang ke tanah air dengan sebuah misi: mencari tahu kebenaran di masa lalu dan menemukan anaknya.
