Cerci - Bertemu dengan mereka
“Pak Stark bilang Anda ketinggalan barang, dan minta Anda naik lagi.” Senyum si satpam yang seperti sudah tahu apa yang terjadi membuat pipiku panas, tatapannya bertahan sepersekian detik terlalu lama.
“Makasih,” gumamku, melangkah kembali ke arah lift dengan jantung memukul-mukul rusukku dalam irama yang kacau. Apa aku masih bakal punya pekerjaan setelah yang barusan kulihat? Kaki-tangan yang saling melilit, bisikan penuh gairah, bunyi kenikmatan yang tak mungkin salah... Logika mencoba menenangkanku: harusnya aku aman—toh aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Itu ruang pribadi mereka, momen intim yang tanpa sengaja kukacaukan.
Saat lift naik, kepalaku diserbu gambar-gambar yang terlampau jelas. Cara Bernard menekan George ke dinding, bagaimana kepala George terkulai ke belakang seperti pasrah, lehernya terbuka—kolom kulit yang terekspos pada mulut Bernard yang lapar. Mereka menyembunyikan hubungan ini karena sesuatu? Yang berambut gelap itu memakai dasi yang mungkin harganya lebih mahal dari uang kontrakanku sebulan, jenis dasi yang biasa menggantung di leher lelaki yang wajahnya nongol di sampul majalah...
Aku menggeleng, rambutku jatuh menutupi wajah, tepat ketika pintu lift bergeser terbuka dengan bunyi “ting” lembut yang entah kenapa terasa seperti peringatan.
Aku berdiri di depan pintu ganda di ujung lorong, jemariku sedikit gemetar saat memasukkan kode keamanan.
“Error, password ditolak.”
Jantungku seperti tersandung, lalu pintu itu terbuka sedikit—cukup untuk memperlihatkan dia: yang bermata hijau memikat, seolah mampu menangkap cahaya dan mengubahnya jadi sesuatu yang hidup dan berbahaya. Bayangan janggut di rahangnya menegaskan garis potong yang nyaris sempurna, menciptakan kontras mematikan antara maskulinitas liar dan keanggunan yang rapi.
“Halo, Ms. Lannister,” sapanya, aksen Inggrisnya meluncur lembut, mengusap tiap suku kata seperti sentuhan. Ia meraih kemeja-kemeja di pelukanku; ujung jari kami beradu sebentar—sekejap listrik yang membuat panas cair mengalir deras di dalam nadiku. Tatapannya turun pelan menyusuri tubuhku dengan apresiasi yang begitu sengaja sampai aku merasa seperti sedang ditelanjangi di tempatku berdiri, tiap detik perhatiannya serasa sentuhan fisik di kulitku yang mendadak peka.
Ia membuka pintu lebih lebar, menampakkan torso yang akan membuat pemahat mana pun menangis ingin mengabadikannya—otot-otot tegas dan bidang-bidang halus yang dihiasi tinta, seperti kisah-kisah yang tiba-tiba ingin kutelusuri dengan ujung jariku, mungkin dengan lidahku. Rasi bintang lima menghiasi bagian dalam bisepnya, sebuah dreamcatcher membentang di salah satu bahu, aksara Mandarin yang elegan mengikuti kontur tulang rusuknya seperti puisi, sementara sebuah salib dengan angka Romawi bertengger di atas jantungnya—masing-masing seperti undangan untuk menjelajah, untuk menemukan.
“Puasa sama hasil pemeriksaanmu, Sayang?” tanyanya, suaranya kental oleh geli yang hangat, bukan mengejek. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang seolah menjanjikan kenikmatan-kenikmatan yang baru sanggup kubayangkan.
“Kamu juga sama telitinya waktu giliranmu,” jawabku keburu lepas sebelum sempat kutahan, dan seketika aku menggigit bibir bawahku.
“Telak,” ia mengakui, senyum pelan yang mengapresiasi itu membuat lututku lemas. “Masuk, ya?”
“Iya, tentu.” Aku melangkah masuk, berusaha keras mengingat cara bernapas normal.
Perhatianku langsung terkunci pada pria berambut gelap di dekat jendela setinggi langit-langit, siluetnya seperti potongan tengah malam di depan cahaya sore keemasan. Entah bagaimana ia sudah sempat mengenakan kemeja dan dasi sejak aku memergoki mereka, meski kancing paling atas dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangka yang menggoda—yang beberapa jam lalu kulihat George kecap. Matanya yang biru tajam—mata yang sama yang sempat menyala intens saat ia menekan George ke dinding—kini tertuju pada ponselnya, profilnya tegas di latar langit.
“Aku paham, Nick. Aku cek dulu sebelum masuk,” ucapnya, suaranya kontradiksi yang memikat: baja dan sutra sekaligus, dengan aksen Boston tipis yang memberi warna pada tutur katanya yang rapi. “Bilang ke Carrie, aku mau meninjau lagi programnya begitu aku sampai... Bukan, aku nggak meragukan kemampuan dia. Maksudku kita butuh ini sempurna, jadi kita ulang.” Ia menutup panggilan itu dengan ketegasan yang final, lalu memalingkan seluruh perhatiannya kepadaku.
Tatapannya menyusuri dengan sengaja, seteliti pemeriksaan—dari wajahku turun sampai sepatu datarku yang sederhana, lalu naik lagi. Seketika aku jadi sadar pada setiap lekuk di bawah seragamku, setiap bagian kain yang menempel atau justru membuka garis tubuhku.
“Kamu pengurus rumah?” tanyanya, nada kaget yang tulus menyusup di sana.
“Iya.” Aku menahan dorongan untuk gelisah di bawah sorot matanya.
“Gimana satu orang bisa ngurus tempat sebesar ini sendirian?” Ada sesuatu seperti hormat di suaranya, dan itu menghangatkanku tanpa kuduga.
“Maaf, tapi boleh saya tahu saya harus memanggil kalian berdua dengan sebutan apa?” pertanyaan itu meluncur begitu saja, dan hening yang menyusul membuatku buru-buru menambahkan, “Atau ‘Tuan’ juga cukup.”
“Kamu nggak kenal aku?” Tatapan pria berambut gelap itu mengunci mataku, sementara tawa kecil George yang lembut memenuhi ruangan saat ia merebahkan diri di sofa kulit. Tubuhnya bergerak dengan keluwesan kucing besar, kemejanya masih terbuka, menyingkap pemandangan otot dan tinta yang tak bisa tidak kukagumi.
“Haruskah?” tanyaku, rasa penasaran pelan-pelan menggeser gugup di dadaku.
“Bernard Stark,” katanya, matanya mengamatiku seolah menunggu ada kilas pengakuan. Ia meraih remote, menyalakan televisi raksasa yang seketika memenuhi ruangan. Dan di sana dia—rapi tanpa cela dalam setelan hitam yang jatuhnya pas di badan, dasi biru tua yang membuat sorot matanya kian tajam—membacakan berita dengan wibawa yang nyaris memaksa orang patuh.
“Berita terbaru hari ini,” suara pembawa berita menggema, “baru dua puluh empat jam setelah pengungkapan mengejutkan Bernard Stark di The Stark Report mengenai skandal Gubernur MacDowell, kejaksaan distrik mengeluarkan pernyataan yang memastikan penuntutan akan segera dilakukan—”
“Dia sudah paham sekarang. Matikan.” Suara George hangat, namun tegas, dan layar itu meredup seketika. Saat aku menoleh kembali, ia memberiku sebuah kedipan yang membuat panas merambat dari perutku naik ke dada. “Kamu boleh panggil aku ‘Tuan’ kalau mau. Aku cukup suka bunyinya—apalagi kalau keluar dari suaramu yang manis.”
Nada suaranya membuatku sesaat kehilangan napas. Di kepalaku, imajinasi langsung membentuk adegan-adegan yang jauh lebih pribadi—tempat aku bisa menyebutnya begitu tanpa ada siapa pun yang mendengar. Dia sedang menggoda? Tadi, chemistry di antara dua pria itu jelas tak terbantahkan—tangan George sempat mengacak-acak rambut Bernard, mulut Bernard meninggalkan jejak di leher George—tapi sekarang, perhatian George mengarah padaku dengan intensitas yang sama.
“Ini George Clement,” Bernard menjelaskan, melangkah mendekat sampai aku menangkap aroma kolonye—mahal, tajam, dan memabukkan. “Executive chef sekaligus pemilik Wes Hill—”
“Tunggu—yang satu itu? Yang per orangnya hampir lima juta?” Kata-kata itu terlepas begitu saja sebelum sempat kusaring.
“Enggak usah minta maaf.” Tawa George dalam dan tulus. “Kamu benar. Memang dibuat eksklusif. Makin mahal, makin banyak yang ngiler. Walau, ya, membantu juga kalau aku tahu caranya mengurus hal-hal yang… halus.” Tatapannya mengunci mataku ketika ia mengucapkannya, dan kata-kata polos itu mendadak punya arti lain yang membuat nadiku berpacu.
“Merendah yang palsu itu nggak cocok buat kamu,” komentar Bernard, suaranya membawa keakraban intim—jenis keakraban yang lahir dari malam-malam panjang dan lelucon yang cuma mereka berdua mengerti.
“Baiklah, Sayang.” George menyerah dengan kilat nakal di matanya. “Aku memang luar biasa di dapur, Ms. Lannister. Kalau suatu saat kamu makan di restoranku, aku janji setiap suapan itu akan…” Ia sengaja berhenti, menahan jeda dengan tatapan yang tak lepas dari mataku, “…jadi pengalaman yang nggak bakal gampang kamu lupakan.”
Panas menubruk wajahku ketika maksudnya mengendap sepenuhnya. Bayangan tangan dan mulutnya—yang terlatih, yang tahu cara membuat orang menyerah—melintas tanpa diundang, seperti kilat yang menyalakan seluruh syarafku. Sebelum sempat menjawab, Bernard melangkah ke depan, menutup pandanganku, ekspresinya berubah lebih tertahan saat ia mengangkat dokumen yang memuat tanda tanganku.
“Kalau perkenalan sudah selesai, aku yakin kamu ingat ini,” katanya, serius tanpa terdengar kejam. “Apa yang kamu lihat hari ini harus benar-benar tetap rahasia. Kalau sampai tersebar, konsekuensinya akan… besar.”
Sorot matanya melunak setipis rambut—cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang rapuh di balik ketegasannya: seorang pria yang melindungi sesuatu yang berharga, sesuatu yang mungkin dunia tak akan paham, atau tak mau menerima.
“Aku paham soal menjaga rahasia,” yakinku, menegakkan bahu. “Privasi kalian aman sama aku.” Dan itu bukan basa-basi—apa pun yang ada di antara mereka terasa terlalu indah, terlalu nyata, untuk dirusak oleh gosip murahan.
Ada sesuatu dari jawabanku yang tampaknya membuatnya puas. “Bagus. Untuk hari ini selesai. Kamu bisa beres-beres. Kode keamanan yang baru akan dikirim ke kamu.”
Aku mengangguk, mengumpulkan barang-barangku. Saat aku hendak pergi, suara George menahanku.
“Ms. Lannister.”
Aku menoleh. Wajahnya berubah jadi sesuatu yang sulit kubaca—tapi menarik, menahan, seperti magnet yang pelan-pelan menggeser kompas di dalam diriku.
“Terima kasih,” ucapnya.
Dua kata sederhana, namun terasa berlapis-lapis; aku belum bisa mengurai semuanya, tapi bisa merasakannya di bagian yang paling dalam. Bernard kini berdiri di sampingnya, kontras mereka—yang satu terang, hidup, seolah punya api di dalam tubuhnya; yang satu gelap dan tajam, intens seperti malam—membentuk pemandangan yang begitu memukau di depan jendela dengan panorama kota. Dan mendadak aku mengerti: apa yang kulihat tadi bukan sekadar nafsu, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Aku melangkah masuk ke lift, kulitku masih bergetar karena pertemuan itu. Mereka berlawanan total, tapi entah bagaimana saling menyeimbangkan—api dan es, ketajaman dan pesona—menciptakan gaya tarik yang membuatku, tanpa alasan yang bisa kujelaskan, ikut tertarik, bahkan saat aku mencoba menahan diri.
Saat pintu lift menutup, aku sempat menangkap satu kilasan terakhir: tangan Bernard kini bertengger santai di punggung bawah George, ibu jarinya mengusap lingkaran-lingkaran kecil di atas kain, sementara George nyaris tak terlihat condong masuk ke sentuhan itu. Gerakan yang pelan dan hening, tapi bicaranya keras—tentang kepemilikan yang lembut, tentang keyakinan yang penuh. Dan itu membuatku bertanya-tanya, apakah suatu hari aku akan menemukan seseorang yang akan mengakui diriku dengan kepastian seperti itu, dengan pengabdian seperti itu.
Lift meluncur turun, tapi pikiranku tertahan di atas—terkunci pada dua pria yang rahasianya akan kujaga, dan pada ikatan mereka yang telah membangunkan sesuatu dalam diriku yang bahkan tak kuketahui sedang tertidur.
