Bab [1] Jejak Halus
Malam mulai larut.
Setelah bersusah payah menidurkan putriku, aku berniat istirahat sejenak sambil membuka TikTok.
Aku bersandar di kepala ranjang, mengambil ponsel, dan mulai menggulir layar TikTok tanpa tujuan.
Tanpa sengaja, sebuah siaran langsung street photography menarik perhatianku. Seketika aku terduduk tegak, mataku terpaku pada layar. Tapi sialnya, sang streamer keburu mengalihkan kameranya.
Jantungku berdebar kencang. Tanganku yang menggulir layar basah oleh keringat. Dengan panik, aku melirik waktu yang tertera di siaran itu—ini siaran langsung, dan lokasinya di kota yang sama denganku.
Aku buru-buru menutup TikTok dan langsung melakukan panggilan video ke suamiku, Arya Hartono. Dia bilang sedang ada perjalanan dinas ke Balikpapan selama tiga hari. Tapi barusan... aku melihat sosoknya di siaran langsung itu, di kotaku, dengan seorang wanita dalam rangkulannya.
Panggilan itu berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat. Layar bergoyang sejenak, lalu muncul wajah Arya yang tampan dan berwibawa. Dia menatap kamera dan memanggilku dengan lembut, "Sayang!"
"Kamu di mana?" tanyaku sambil mengamati latar belakangnya. Sepertinya di koridor sebuah restoran. Dia mengenakan kemeja putih dengan dasi.
Padahal, sosok yang kulihat di siaran langsung tadi mengenakan jaket trench coat abu-abu.
"Aku lagi makan malam sama klien, ini keluar sebentar buat angkat telepon kamu. Kenapa? Ada apa?" tanyanya lagi. "Bella sudah tidur?"
"Kamu di Balikpapan, kan?" desakku, mengabaikan pertanyaannya.
"Tentu saja. Kamu kenapa, sih?" Dia menatapku lekat-lekat lewat kamera, matanya penuh tanda tanya.
"Oh! Nggak... nggak apa-apa!" sahutku linglung, lalu bertanya lagi, "Kapan kamu pulang?"
"Sebentar lagi... begitu urusan di sini selesai, aku langsung pulang. Kangen ya sama suami?" Dia tersenyum padaku, tatapannya penuh cinta. "Aku usahakan secepatnya, ya? Ini sudah malam, kamu tidur duluan, oke? Aku masih ada kerjaan. Kututup dulu, ya!"
Dia memberiku ciuman jarak jauh sebelum mematikan panggilan video.
Aku menggenggam ponsel, tertegun sejenak. Aku merasa kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku jadi paranoid begini?
Kalau bicara soal Arya Hartono, dia adalah suami idaman yang langka. Bukan hanya tampan dan menawan, dia juga suami dan ayah yang sangat penyayang.
Saat pertama kali bertemu dengannya, dia hanyalah seorang pemuda sederhana. Meskipun asli Jakarta, kondisi keluarganya biasa saja, dan adiknya sering sakit-sakitan. Di antara sekian banyak pria yang mengejarku, aku memilihnya murni karena aku tergila-gila pada ketampanannya.
Setelah lulus kuliah, demi bisa tetap bersamanya, aku menggadaikan rumah orang tuaku untuk modal kami merintis usaha dari nol. Kami membuka perusahaan bahan bangunan. Saat itu, dia mengurus pasokan barang, sementara aku siang malam mengejar klien sampai hampir saja lambungku bermasalah.
Syukurlah, perusahaan kami perlahan-lahan berkembang pesat. Tepat saat itu, aku hamil dan akhirnya berhenti bekerja. Aku menyerahkan perusahaan sepenuhnya padanya, sementara aku fokus mengurus anak dan rumah tangga.
Tak terasa, putri kami, Bella, sudah berusia empat tahun. Kehidupan keluarga kecil kami begitu nyaman dan berkecukupan, membuat banyak orang iri.
Meskipun kami belum mengadakan resepsi pernikahan, Arya selalu merasa bersalah dan berjanji padaku, "Aku pasti akan membuatmu hidup bahagia, akan kubayar semua pengorbananmu."
Suami seperti ini, mana mungkin selingkuh?
Aku tersenyum kecut. Sepertinya aku terlalu banyak menonton sinetron murahan sampai punya pikiran konyol seperti ini.
Sambil berbaring, aku masih memikirkan bayangan sekilas di TikTok tadi. Mungkin aku hanya terlalu merindukan Arya. Dan yang paling penting, jaket trench coat itu terasa sangat familier karena aku sendiri yang menyetrikanya sebelum dia berangkat.
Jadi, mungkin saja pria itu hanya memakai jaket yang sama dengan suamiku, dan aku salah lihat.
Keesokan harinya, Arya pulang lebih awal dari yang kuduga. Dia membawakan banyak sekali makanan kesukaan untuk Bella.
Dia memeluk dan menciumi kami berdua bergantian. Suasananya begitu hangat dan manis.
Aku pun dengan gembira segera ke dapur, memasak beberapa lauk favoritnya untuk memanjakannya.
Saat kami duduk untuk makan, Arya menatapku sekilas dan berkata dengan santai, "Kamu bau asap dapur, sana mandi dulu."
Aku mengendus bajuku sendiri tanpa peduli, lalu tersenyum bangga. "Ini namanya aroma cinta dari dapur, tahu! Memangnya kamu nggak butuh makan?"
Dia tertawa penuh sayang, tangannya yang besar mengacak-acak rambutku. Dia menyuapkan sepotong iga ke mulutku, lalu menyuapkan sepotong lagi ke mulut kecil Bella. "Iya, iya... kesayangan-kesayanganku, ayo makan dagingnya!"
Setelah makan, aku menidurkan putriku lebih awal, lalu mandi. Aku mendekatinya dan bertanya dengan nada menggoda, "Sekarang masih bau asap, nggak?"
Arya tertawa kecil, tangannya mencubitku dengan mesra. "Sayang, aku kangen setengah mati!"
Tanpa basa-basi lagi, dia menarikku dan merebahkanku ke tempat tidur...
Malam ini dia terasa begitu bersemangat. Setelah selesai, dia pergi ke kamar mandi. Melihat punggungnya yang tegap, aku tersenyum puas.
Saat aku hendak bangkit untuk membersihkan diri, layar ponselnya yang tergeletak di nakas menyala. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Aku meliriknya sekilas, dan seketika seluruh tubuhku membeku...
