Bab [2] Informasi yang Sangat Banyak

Saat aku baru saja hendak mengambil ponsel untuk melihat siapa yang mengirim pesan, Arya Hartono tiba-tiba berbalik masuk lagi ke kamar. Ia menyambar ponsel itu, membacanya sekilas, lalu berkata padaku yang masih terpaku, "Dari Maya!"

"Ada apa? Takut aku lihat, ya?" tanyaku curiga sambil menatapnya lekat. Jantungku mulai berdebar tak karuan, firasatku tidak enak.

Pesan singkat itu hanya berbunyi: Dia sudah tahu belum?

Meski singkat, pesan itu sarat makna. Jelas sekali ada sesuatu yang mereka tidak ingin aku ketahui. Ada nuansa ambigu yang tak bisa kujelaskan.

Aku menatap Arya lekat-lekat. Insting keenam seorang wanita tiba-tiba menguat, firasat buruk itu semakin menjadi-jadi.

Arya tertawa terbahak-bahak. Ia melempar kembali ponselnya ke atas nakas, lalu menarikku dan memelukku erat. "Kamu mikir kejauhan, Sayang!" katanya sambil mengecup bibirku. "Ini bukan tentang kamu, tapi tentang Ibu! Dia pakai aku lagi buat alasan, mau nipu Ibu buat minta uang!"

Maya, nama lengkapnya Maya Hartono, adalah adik Arya. Sejak kecil ia sering sakit-sakitan, jadi selalu dimanja dan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan seenaknya. Gayanya seperti nona besar dari keluarga kaya, usianya sudah lebih dari dua puluh tahun tapi tidak punya pekerjaan tetap. Kerjanya hanya jalan-jalan, makan-makan, dan bersenang-senang.

"Nipu Ibumu? Memangnya uang Ibumu itu uang siapa?" sindirku dengan nada kesal.

Dia tertawa, lalu membungkuk dan mengangkat tubuhku yang tanpa busana. Sambil terus menciumiku, ia membawaku ke kamar mandi. "Iya, iya... semua ini uang istriku! Siapa suruh aku punya istri yang pengertian dan baik hati begini!"

Kata-katanya membuat hatiku luluh. Selama bertahun-tahun ini, aku tidak pernah pelit pada keluarganya. Aku selalu percaya bahwa keharmonisan keluarga adalah segalanya, dan ketulusan harus dibalas dengan ketulusan.

Kami pun kembali mandi bersama. Suasana romantis itu membuat hatiku berbunga-bunga, segala keraguan dan kekesalan yang tadi sempat muncul langsung sirna tak berbekas.

Malamnya, saat berbaring di pelukannya, aku kembali membahas soal rumah di kawasan sekolah unggulan. Masalah ini sudah hampir menjadi bebanku.

Sejak menikah sampai sekarang, kami masih tinggal di apartemen kecil seluas 45 meter persegi ini. Aku tidak terlalu peduli dengan ukurannya yang kecil, tapi aku tidak mau anak kami kalah start dalam hidupnya!

Anak kami sebentar lagi akan masuk sekolah, dan di kompleks kami sekarang tidak ada sekolah yang bagus.

Sebenarnya, selama beberapa tahun ini, uang untuk membeli rumah sudah terkumpul. Tapi Arya selalu bilang tidak perlu terburu-buru. Katanya, Jakarta berkembang pesat, jadi harus cari lokasi yang benar-benar bagus agar tidak perlu pindah-pindah lagi.

Malam ini, saat aku menyinggungnya lagi, ia tidak membantah. Ia menepuk-nepuk bahuku dan mencium keningku. "Oke, nanti aku coba cari-cari info. Kalau ada yang cocok, aku ajak kamu lihat. Kamu yang putuskan!"

Jawaban itu membuatku sangat puas. Aku pun tertidur pulas dengan senyum di wajah, membayangkan rumah baru yang besar dan indah.


Keesokan paginya.

Baru saja aku mengantar putriku ke taman kanak-kanak, aku mendapat telepon dari sahabatku, Ivan. Dia mengajakku bertemu di tempat biasa.

Tentu saja aku langsung mengiyakan dan segera memesan taksi ke tempat janjian kami.

Ivan sudah seperti keluarga satu-satunya bagiku di Jakarta selain suamiku, tempatku bisa mencurahkan segalanya. Tapi jarang sekali dia mengajakku bertemu sepagi ini. Dia orang yang super sibuk, seorang manajer artis di sebuah perusahaan media hiburan.

Begitu aku masuk ke toko kue langganan kami, aku langsung melihatnya duduk di pojok. Di hadapannya ada sebuah laptop, jemari lentiknya yang putih menari-nari di atas keyboard. Seberkas sinar matahari pagi menerpa tubuhnya, menciptakan pemandangan yang tenang dan indah.

Melihatku datang, dia melambaikan tangan.

Aku segera menghampirinya. "Tumben kamu santai hari ini, pagi-pagi udah ngajak ketemuan!" godaku.

Ivan memutar bola matanya dan melirikku. "Memangnya aku nggak boleh perhatian sama kamu?"

"Haha, ya boleh dong!" Aku duduk dan tanpa basa-basi langsung menyambar kopi yang sudah ia pesankan untukku. "Masalahnya, kan, kamu sibuk? Aku ini pengangguran!" seruku sambil menyesap kopi.

"Hah! Masih berani bilang begitu. Kamu itu sudah keenakan di rumah, dimanja habis sama Arya. Awas, ya, jangan terlalu nyaman, nanti jadi bodoh!" katanya, lalu menatapku dengan tatapan penuh arti.

Entah kenapa, kata-katanya membuat jantungku berdebar kencang. Aku menatapnya dan langsung bertanya, "Maksudmu apa? Kok kayak ada udang di balik batu?"

Dia menunduk, mengalihkan pandangannya ke layar laptop seolah menyembunyikan sesuatu. "Nggak ada apa-apa, kok. Cuma mau nyindir kamu aja!"

Lalu, tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan menatapku lekat. "Dua hari yang lalu, aku lihat Arya!"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya