Bab [4] Nasihat yang Tidak Menyenangkan

Aku buru-buru kembali ke kamar sambil membawa ponsel, lalu mengangkat telepon itu. Suara omelan langsung menyambutku, "Hebat banget ya kamu, habis bikin penasaran langsung ngilang!"

"Di kantor tadi ada masalah mendadak, penting banget," suara Ivan terdengar sangat lelah dan serak. "Ini baru selesai, makanya aku langsung telepon kamu, kan? Ngeluh terus, deh! Kamu pikir aku bisa santai kayak kamu!"

Aku ragu sejenak, tapi akhirnya tidak tahan lagi untuk bertanya, "Itu... kamu bilang kemarin lusa lihat Mas Arya, di mana? Jam berapa?"

Pertanyaan ini sudah mengganjal di benakku seharian.

Aku merasa Ivan di seberang sana terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada datar, "Aku juga lupa di mana. Cuma lihat sekilas pas lagi nyetir."

"Oh!" Entah kenapa, jawabannya membuatku sedikit kecewa.

Tapi di sisi lain, hatiku yang tadinya gelisah akhirnya bisa tenang. Tanganku yang terkepal erat pun seketika mengendur, telapak tanganku dingin dan basah oleh keringat.

Aku menertawakan diriku sendiri. Apa aku benar-benar berharap bisa membuktikan dia selingkuh baru merasa puas?

Harus kuakui, Arya Hartono adalah duniaku, aku takut duniaku itu runtuh.

"Aku perhatiin ya, kamu itu bucin banget sama suami. Kalau sudah bahas Arya Hartono, semangatmu langsung keluar. Bisa nggak sih kamu punya duniamu sendiri? Bella sudah masuk TK, kamu juga harusnya punya kegiatan sendiri. Jangan bilang kamu benar-benar mau jadi bayang-bayang Arya Hartono seumur hidup! Lama-lama kamu bisa kuper lho, nggak gaul sama dunia luar. Di duniamu itu cuma ada Arya Hartono, Arya Hartono, dan Arya Hartono," cerocos Ivan mengejekku.

Aku tertawa canggung dan menghela napas, "Tapi Mas Arya bilang..."

"Tuh, kan! Mas Arya bilang, Mas Arya bilang... Benar, kan, kataku? Duniamu itu cuma ada dia! Apa yang dia bilang itu sudah kayak sabda dewa. Kalau dia suruh kamu mati, kamu mau juga? Nanti kalau suatu hari dia jual kamu, kamu masih mau bantu dia hitung uangnya?" semprot Ivan dengan kesal.

"Ih, amit-amit! Mulutmu itu, ya! Mas Arya nggak mungkin tega jual aku!" bantahku.

"Halah! Iya, deh, Mas Arya-mu nggak bakal jual kamu. Biar aku aja yang jual kamu, puas?" balas Ivan dengan nada meremehkan.

"Nasihat baik itu memang nggak enak didengar. Coba deh kamu pikirin baik-baik. Manusia itu harus punya nilai sendiri, jangan cuma jadi kayak pembantu rumah tangga yang cuma ngurus dapur aja. Itu bukan cinta, tapi bego! Cinta sejati itu kalau dia yang takut kehilangan kamu. Kalau kamu cuma sibuk sama urusan dapur sehari-hari, lama-lama apa dia masih tertarik sama kamu?"

"Bukannya aku mau ceramah, tapi sekarang ini, selain anak dan suami, jangan-jangan kamu sudah lupa sama dirimu sendiri, kan?"

Mulut Ivan seperti senapan mesin, memberondongku tanpa henti sampai aku tidak punya celah sedikit pun untuk membantah.

Melihatku diam, dia akhirnya berhenti dan suaranya melembut, "Ayu Lestari, aku kangen banget lihat kamu yang dulu, yang penuh percaya diri. Dulu kan kamu itu mahasiswi berprestasi, dewi pujaanku! Aku cuma merasa sayang banget kamu jadi ibu rumah tangga sepenuhnya, bakatmu jadi sia-sia."

"Sudah, deh. Kamu ini habis mukul terus ngelus-ngelus. Nggak tahu habis kesal sama siapa, malah lampiasin ke aku."

Kami berdua pun tertawa.

Hubunganku dengan Ivan memang seperti ini, kami bisa bicara apa saja tanpa basa-basi.

Meskipun dia pernah mengatakan hal serupa sebelumnya, entah kenapa hari ini kata-katanya terdengar berbeda. Hatiku mendadak gelisah tanpa alasan. Apa mungkin ada maksud tersembunyi di balik ucapan Ivan?

Tepat saat itu, Arya Hartono mengetuk pintu lalu masuk dengan senyum lembut di wajahnya. "Sayang! Yuk, makan!"

Dia datang untuk mengajakku makan. Ivan yang mendengar suaranya dari seberang telepon langsung berkata, "Sudah, sana makan dulu!"

Lalu dia berbisik dengan suara pelan, "Omonganku tadi, direnungin, ya. Jangan sampai terbuai sama pemandangan indah di depan mata!"

Dia menutup telepon. Tepat saat itu juga, Arya Hartono menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku sekilas. "Telepon dari siapa?"

"Ivan!"

"Ngomongin apa? Kok kayaknya serius banget!" Senyum Arya Hartono begitu hangat, pertanyaannya terdengar sambil lalu. Tentu saja dia tahu sedekat apa aku dengan Ivan, kami teman kuliah. "Sudah lama, ya, nggak ketemu dia!"

Aku sedikit tersentak. Sudah lama tidak bertemu dengannya?

Itu artinya, saat Ivan bilang melihatnya kemarin lusa, itu bukan dari jarak dekat. Hatiku sedikit lega. Sepertinya aku hanya terlalu banyak berpikir. Mungkin Ivan juga salah lihat, sama sepertiku.

"Kenapa? Hm?" Arya Hartono melihatku melamun. Dia menunduk menatap wajahku, kedua tangannya mencubit pipiku dengan gemas, lalu mendekat untuk menciumku. "Kok bengong? Mikirin apa?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Tatapan matanya begitu tulus. Aku langsung tersadar dan tersenyum. "Nggak ada, kok. Yuk, makan!"

Arya Hartono menarikku, mencium pipiku sekali lagi, lalu menatap mataku dalam-dalam. "Kalau ada apa-apa, jangan disembunyiin dari suami, ya? Kita hadapi sama-sama!"

Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, mendongak, dan membalasnya dengan senyum jenaka, "Ini aku yang paranoid atau kamu yang paranoid, sih? Nggak ada apa-apa kok dipaksa harus ada apa-apa. Sudah, yuk, makan!"

Arya Hartono ikut tertawa, seolah lega, lalu menciumku sekali lagi sebelum merangkulku keluar kamar.

Entah mengapa, keraguan di hatiku justru semakin menjadi-jadi.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya