Bab [5] Bukti Kuat
Setelah makan malam, Maya Hartono tidak langsung pulang. Dia bergelayut manja kepada kakaknya. "Kak, anterin aku pulang, dong!"
Aku meliriknya sekilas dengan malas. Namun, dia pura-pura tidak melihat, malah makin erat memeluk lengan Arya Hartono sambil merengek.
Arya Hartono menoleh kepadaku, lalu tersenyum tak berdaya. Tatapannya jelas-jelas meminta izinku.
Melihatku hanya diam, Arya dengan sedikit canggung berkata, "Tunggu sebentar, ya. Aku bantu kakak iparmu beresin piring dulu, baru aku antar kamu."
Sebenarnya aku sudah muak sekali melihat tingkah Maya, satu menit pun rasanya tidak ingin lagi melihat wajahnya. Aku langsung mengibaskan tangan ke arah Arya. "Cepat antar dia sana! Aku bisa bereskan sendiri, nggak perlu bantuanmu!"
"Ayah! Ayah mau ke mana? Bella ikut!" teriak Bella manja. Dia langsung berdiri dari kursinya, merentangkan tangan mungilnya minta digendong.
Arya sigap merengkuh putrinya dengan lengannya yang panjang, lalu menciumnya dengan gemas, takut anaknya jatuh. "Ayah cuma sebentar, kok. Sayang, main sama Ibu dulu, ya."
"Anak kecil, ikut-ikutan aja!" sahut Maya. Sebagai tante, dia sama sekali tidak punya kesabaran untuk Bella.
Aku mengambil alih Bella dari gendongan Arya. "Sayang, Ayah mau antar Tante Maya sebentar. Nanti juga langsung pulang. Temani Ibu, ya?"
Bella menatapku dengan mata besarnya yang jernih. Sesaat kemudian, dia mengangguk, melingkarkan tangannya di leherku, lalu menoleh ke arah Arya dan memberinya perintah. "Oke! Tapi Ayah harus cepat pulang, ya!"
Arya menjulurkan kepalanya untuk mencium putrinya sekali lagi, lalu mengangguk mantap. "Pasti!"
Dia kemudian mengambil kunci mobil untuk mengantar Maya. Sambil bergelayut di lengan kakaknya, Maya menoleh ke belakang untuk menatapku. Senyumnya penuh arti dan terasa seperti sebuah kemenangan. Aku malas menanggapinya.
Arya pulang agak malam. Aku tidak bertanya apa-apa. Dia anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, jadi aku yakin dia tadi mampir untuk mengobrol lebih lama dengan ayah dan ibunya.
Keesokan paginya, Arya bangun sangat awal. Katanya ada urusan penting di kantor, rapat jam sembilan pagi. Sekalian, dia juga membawa Bella untuk diantar ke taman kanak-kanak. Katanya, biar aku tidak repot bolak-balik.
Harus kuakui, Arya memang selalu begitu perhatian. Semua hal dia pikirkan sampai ke detail terkecil, membuatku tidak bisa menemukan celah untuk mengeluh. Persis seperti kata Ivan, Arya benar-benar memanjakanku habis-habisan. Di mata semua orang, dia adalah suami idaman, teladan sempurna bagi seluruh negeri.
Aku mengumpulkan pakaian kotor yang dia tinggalkan. Beberapa di antaranya harus di-laundry. Aku memeriksa setiap saku pakaiannya satu per satu sebelum membawanya ke laundry di lantai bawah.
Namun, aku tidak pernah menyangka, dari salah satu sakunya, aku menemukan sesuatu yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Melihat benda di tanganku, semua keraguan dan kekhawatiranku selama ini akhirnya menemukan pembenarannya.
Itu adalah sebuah kondom dalam kemasan yang masih rapi. Sejak melahirkan Bella, aku sudah memasang IUD. Kami berdua sama sekali tidak membutuhkan benda ini.
Dengan histeris, aku melempar benda menjijikkan itu. Seketika, hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Arya benar-benar selingkuh!
Dia mengkhianati kepercayaanku. Setelah bertahun-tahun berjuang bersama melewati masa-masa sulit, baru saja kami menikmati hidup yang sedikit lebih baik, dia malah mengkhianatiku.
Aku jatuh terduduk di lantai, lalu memeluk kepalaku dengan putus asa. Pikiranku dipenuhi bayangan Arya sedang beradu ranjang dengan perempuan lain. Rasa sakit di hatiku tidak tertahankan.
Seluruh masa mudaku, seluruh cintaku, segalanya ... semua telah kuberikan tanpa sisa untuknya dan keluarga ini. Namun, ini balasan yang kuterima.
Setelah dilanda kepedihan yang mendalam, aku berulang kali meneriakkan namaku dalam hati. 'Ayu Lestari, tenang! Kamu tidak boleh kehilangan semua yang telah kamu perjuangkan dengan susah payah begitu saja. Kamu harus mendapatkan jawaban yang jelas.'
Aku memungut benda itu, berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosiku. Aku mengepalkan tangan, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menyerahkan semua hasil jerih payahku kepada orang lain.
Sambil menarik napas dalam-dalam, aku merapikan penampilanku, lalu memesan taksi online langsung menuju kantor kami.
