Bab 001 Mari Bercerai

Citra sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di swalayan ketika ponselnya bergetar. Panggilan itu dari ibu mertuanya, Nyonya Sari.

Ia menatap layar ponselnya sejenak, ragu-ragu, lalu menjawab dengan suara pelan, "Halo, Ibu..."

"Lama sekali sih kamu? Cepat pulang sekarang juga!" Suara ketus Nyonya Sari membentak dari seberang telepon.

Sebelum Citra sempat menjawab, sambungan sudah diputus sepihak.

Dengan helaan napas lelah, Citra meninggalkan barang belanjaannya dan bergegas pulang.

Begitu ia melangkah masuk ke ruang keluarga, bahkan sebelum sempat melepas sepatunya, Nyonya Sari melemparkan sebuah kotak perhiasan ke arahnya dan berteriak, "Di mana kalung zamrudku? Harganya miliaran rupiah!"

"Aku tidak mengambilnya, Bu. Sumpah."

"Cuma kamu satu-satunya orang udik dan miskin di rumah ini. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Bisa-bisanya keluarga Wijaya ketiban sial punya menantu macam kamu!"

Citra hanya terdiam.

Ia tahu ibu mertuanya itu sangat membencinya. Sejak ia menikah dengan Rangga tiga tahun lalu, Nyonya Sari selalu membuat hidupnya menderita dengan segala hinaan dan tuduhan tak berdasar.

Dulu, Citra mungkin masih berusaha membela diri, tapi sekarang ia sadar semua itu percuma. Apa pun yang ia katakan hanya akan membuat wanita paruh baya itu semakin murka. Jauh lebih mudah membiarkannya marah-marah sampai puas.

Namun kali ini, Nyonya Sari bertindak lebih jauh. Ia menunjuk-nunjuk dahi Citra dengan kasar. "Jangan pikir kamu bisa lolos. Aku sudah menelepon Rangga. Kamu harus menjelaskannya hari ini juga, kembalikan kalung itu atau angkat kaki dari rumah keluarga Wijaya ini!"

Citra tetap bungkam.

Ia curiga Nyonya Sari sengaja menyembunyikan kalung itu sendiri, sekadar untuk mencari gara-gara dan mengusirnya dari rumah.

Sekitar satu jam kemudian, Rangga pulang.

Citra secara naluriah menatap suaminya. Pria bertubuh tinggi tegap itu berjalan masuk sambil menyampirkan jas mahalnya di lengan. Ada aroma parfum wanita yang samar-samar menguar dari tubuhnya.

Nyonya Sari langsung menghampirinya. "Rangga, ceraikan perempuan ini sekarang juga. Bisa-bisanya kamu menikah dengan pencuri?"

"Aku mengerti, Bu. Ibu bisa kembali ke kamar sekarang," ucap Rangga. Ekspresi wajahnya sedingin biasanya.

Pria itu kemudian berjalan menghampiri Citra dan menyodorkan sebuah dokumen. "Baca ini. Kalau tidak ada masalah, langsung tanda tangani."

Itu adalah surat perjanjian cerai.

Citra menolak menerimanya. Ia menatap mata suaminya, suaranya bergetar pelan. "Mas Rangga... kamu benar-benar berpikir aku yang mencurinya?"

"Itu tidak penting. Tanda tangani saja," jawab Rangga dengan nada datar tanpa emosi.

Jadi, pria ini juga tidak memercayainya.

Ia menatap nanar saat Rangga melempar surat cerai itu ke atas meja ruang tamu dan mulai melangkah naik ke lantai atas. Citra bersuara lirih, "Alya sudah kembali, kan?"

Rangga menoleh. Suara beratnya terdengar tidak sabar. "Citra, kamu tahu alasan kita menikah. Jangan bikin semuanya jadi rumit."

Citra tertawa getir.

Ya, tentu saja ia tahu.

Tiga tahun yang lalu, Nenek Ratna sakit parah dan memiliki satu keinginan terakhir: melihat cucunya, Rangga, menikah sebelum beliau tutup usia.

Saat itu, seharusnya Alya Kusuma yang menikah dan masuk ke keluarga Wijaya. Bagaimanapun juga, Alya tumbuh besar bersama Rangga dan mereka saling mencintai.

Namun, tepat sebelum pernikahan dilangsungkan, sebuah rahasia besar terbongkar. Alya ternyata bukan putri kandung keluarga Kusuma. Ia tertukar saat bayi dengan Citra, yang lahir di hari dan rumah sakit yang sama.

Pak Budi Kusuma mencari ke mana-mana dan akhirnya menemukan Citra, putri kandungnya yang selama ini hidup serba kekurangan di kampung.

Jadi, sudah bisa ditebak, pada akhirnya Citralah yang menikah dan masuk ke dalam keluarga Wijaya.

Alya jelas tidak terima. Perempuan itu berusaha menghancurkan pernikahan Citra tepat di hari H. Namun, rencananya berantakan; Alya malah jatuh dari tangga, kakinya patah, dan akhirnya harus dikirim ke luar negeri untuk berobat.

Insiden itu meledak jadi skandal besar. Di tengah masyarakat yang selalu gemar membela pihak yang terlihat tertindas, semua orang langsung mengecap Citra sebagai tokoh jahat yang merebut cinta orang lain. Bu Sari tak henti-hentinya mencaci maki dirinya, sementara Rangga bahkan sudi menatap wajahnya pun tidak, apalagi menyentuhnya.

Bahkan orang tua kandung Citra sendiri menganggapnya perempuan licik.

Di mata mereka, Alya adalah simbol keanggunan, tata krama, dan pendidikan tinggi.

Sedangkan Citra? Cuma gadis kampung pendendam yang tak tahu diuntung.

Sejujurnya, Citra masa bodoh dengan omongan orang. Satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah Rangga.

Ia menelan mentah-mentah semua hinaan Bu Sari, merawat Rangga dengan sepenuh hati, dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan rumah tangganya.

Ia naif mengira cintanya perlahan akan mampu mencairkan hati sedingin es milik suaminya itu. Sayangnya, ia salah besar.

Pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan ini sudah terlalu menyesakkan. Ia tak lagi punya sisa tenaga untuk bertahan.

Tapi, kenapa juga ia harus pergi begitu saja hanya karena mereka yang menyuruhnya angkat kaki?

Citra melangkah menghampiri Rangga. "Tidur denganku satu malam saja, dan aku akan tanda tangani surat cerai itu."

Rangga yang sedang melonggarkan dasinya seketika berhenti. Ia pikir ia salah dengar. Matanya menatap Citra penuh rasa jijik. "Citra, bisa-bisanya kamu bicara murahan seperti itu? Di mana urat malumu?"

"Malu?" Citra tersenyum sinis. "Kalau menuntut kewajiban batin dari suamiku sendiri dianggap memalukan, lalu kamu sebut apa orang yang rela jadi pelakor atau berselingkuh di belakang pasangannya?"

"Citra!" bentak Rangga, darahnya mulai mendidih.

"Ini satu-satunya syarat dariku kalau kamu mau aku setuju cerai!" potong Citra cepat. Ia melangkah maju, mencengkeram dasi suaminya dengan tatapan penuh kebencian sekaligus menantang. "Kenapa, Tuan Wijaya? Kamu keberatan? Atau jangan-jangan... kamu impoten?"

Emosi Rangga langsung meledak di ubun-ubun. "Omong kosong! Biar kubuktikan padamu sekarang juga!"

Laki-laki itu mencengkeram tengkuk Citra dan menciumnya dengan beringas.

Citra membalas ciuman itu dengan gairah yang sama menggebu.

Tak ada sedikit pun kelembutan dari Rangga. Ia menghempaskan tubuh Citra ke atas ranjang, merobek kemeja perempuan itu, dan menyentuh tubuhnya dengan kasar.

Citra belum pernah disentuh seperti ini sebelumnya, dan tubuhnya memberikan reaksi seketika.

Rangga menyeringai merendahkan. "Kamu sudah sebasah ini. Sebegitu hausnya kamu sama laki-laki?"

Tanpa aba-aba, ia langsung menyatukan diri dengan paksa.

Tanpa memberi Citra waktu untuk menyesuaikan diri, Rangga mulai bergerak cepat dan menuntut.

Citra ingin mengumpat, tapi suara yang keluar dari bibirnya justru rentetan desahan yang menggoda.

Rangga belum pernah merasakan sensasi gila seperti ini. Tubuh istrinya itu terasa begitu pas, seolah memang diciptakan khusus untuknya, membuatnya tak kunjung puas. Ia terus meminta dan meminta lagi hingga fajar menyingsing, barulah ia melepaskan perempuan itu.

Citra menatap wajah suaminya yang terlelap.

Saat tertidur, laki-laki itu tidak terlihat sedingin atau sekejam biasanya. Garis wajahnya begitu tegas dan tampan.

Dulu, ia selalu tergila-gila pada ketampanan wajah itu. Namun sekarang, saat memandanginya, rasanya perasaan cinta itu sudah menguap entah ke mana.

Ketika Rangga terbangun, Citra sudah pergi. Perempuan itu hanya meninggalkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani di atas nakas.

Di kolom alasan perceraian, Citra menuliskan kalimat ini dengan tulisan tangan: [Suami mengalami disfungsi seksual dan tidak mampu memenuhi kewajiban batin dalam rumah tangga.]

Wajah tampan Rangga seketika pias dan menggelap menahan amarah.

Perempuan sialan!

Ia buru-buru menyambar ponselnya dan menghubungi nomor Citra, tapi nomor perempuan itu sudah tidak aktif.

Bab Selanjutnya