Bab 002: Kembali dengan Harta Karun

Enam tahun kemudian, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Maya mendorong troli yang penuh dengan tumpukan koper keluar dari terminal kedatangan.

Rambut panjangnya yang bergelombang tergerai indah di punggung. Wajahnya yang menawan seketika mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya.

Namun, yang benar-benar membuat semua mata tertuju pada mereka adalah sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang berjalan di sisinya.

Si anak laki-laki, mengenakan setelan kasual biru dongker dengan ransel kecil di punggungnya, berjalan di belakang Maya dengan gaya santai namun penuh percaya diri. Bocah itu benar-benar cetakan kecil dari Arya.

Sementara itu, si anak perempuan mengikat rambutnya model ekor kuda. Ia memakai kaus dan rok yang serasi, serta membawa ransel dengan model yang sama seperti saudara kembarnya, hanya saja warnanya berbeda. Ia berjalan mengekor dengan senyum ceria yang menghiasi wajahnya.

Penampilan memukau ibu dan kedua anak itu langsung menjadi pusat perhatian. Tak sedikit orang yang diam-diam merogoh ponsel untuk mengambil foto mereka.

Anak laki-laki itu mengedarkan pandangan, tampak risi menjadi tontonan. Ia lantas memakai kacamata hitam yang sejak tadi menggantung di lehernya, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan berwibawa dari anak-anak seusianya.

Sebaliknya, anak perempuan itu malah tersenyum semakin lebar ke arah kamera dan orang-orang yang sedari tadi gemas melihatnya. Ia melambaikan tangan layaknya artis ibu kota.

Maya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. "Wira, Safira, kita sudah kembali. Jangan nakal dan tetap di dekat Mama."

Si kembar menoleh serempak.

Wira mengangguk tenang. "Siap, Ma. Kami bakal hati-hati."

Safira mendongak menatap Maya dengan senyum manis yang polos. "Emangnya kami ngapain, Ma?"

"Nggak usah pura-pura polos, deh." Maya sangat hafal tabiat putrinya. Semakin manis senyumnya, semakin besar kejahilan yang sedang ia rencanakan.

"Iya, iya, Fira bakal anteng." Safira mengangkat bahu, memasang wajah anak baik-baik.

Maya menghela napas sambil menggelengkan kepala, namun sorot matanya tetap memancarkan kasih sayang yang dalam.

Dulu, ia mengira tak akan pernah berurusan dengan Arya lagi. Namun, siapa sangka malam itu—enam tahun yang lalu—meninggalkan jejak. Ia hamil bayi kembar empat.

Tumbuh besar di kampung dan hanya dirawat oleh sang nenek membuat Maya selalu mendambakan sebuah keluarga utuh.

Kehamilan itu terasa seperti anugerah dari Tuhan. Sayangnya, saat proses persalinan, dua bayinya tidak bisa diselamatkan. Hanya si sulung, Wira, dan si bungsu, Safira, yang bertahan hidup.

Kecerdasan mereka yang luar biasa sering kali membuat Maya kewalahan, dan di saat yang sama, selalu mengingatkannya pada dua buah hatinya yang telah tiada.

Andai saja mereka semua ada di sini, pasti akan sangat membahagiakan.

Saat tengah melamun, ekor matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing di tengah kerumunan.

Pria itu berdiri menyamping, sedang berbicara di telepon.

Hanya dari sekilas melihat punggungnya saja, Maya langsung mengenali Arya. Pria itu masih memancarkan aura dingin dan tak tersentuh yang sama seperti dulu.

Apes sekali nasibnya, baru hari pertama menginjakkan kaki kembali di kota ini, ia sudah harus berpapasan dengan Arya.

Merasa ada yang memperhatikan, Arya refleks menoleh dan menatap lurus ke arah Maya.

Jantung Maya berdegup kencang. Ia buru-buru membalikkan badan, merogoh masker dari dalam tasnya, dan langsung memakainya.

Bukannya ia takut pada Arya, ia hanya tidak mau pria itu tahu soal keberadaan anak-anak mereka. Ia sangat takut Arya akan merampas Wira dan Safira darinya.

Ia harus segera pergi dari sini.

Ia memanggil dengan suara tertahan, "Wira, Safira, jangan jauh-jauh dari Mama."

Si kembar menyadari ketegangan ibu mereka yang tiba-tiba, namun keduanya tak banyak tanya dan langsung mengekor Maya menuju pintu keluar.

Namun, ada beberapa orang berpakaian preman yang berjaga di setiap pintu keluar.

Monika tahu betul, orang-orang itu pasti suruhan Arya.

Ia memilih pintu keluar yang paling sepi, tapi malah melihat wajah yang sangat dikenalnya—Yuda.

Yuda sudah bertahun-tahun menjadi asisten pribadi Arya. Pria itu sangat mengenali wajah Monika.

Monika buru-buru menahan langkah kedua anaknya. Ia merogoh tas, mengeluarkan dua buah masker anak, lalu memakaikannya pada mereka. Ia berbisik pelan, "Wira, Fira, kalian keluar lewat pintu depan, ya. Nanti belok kanan, jalan sekitar seratus meter, kalian bakal lihat mobil Tante Eva, mobil Audi putih. Kalian samperin Tante Eva duluan, nanti Bunda nyusul. Oke?"

"Oke, Bunda," jawab keduanya kompak sambil mengangguk.

Tanpa membuang waktu, Monika berbalik dan bergegas pergi.

Tapi begitu ibunya menjauh, raut penurut Fira langsung berubah. Dengan senyum jahil, ia menoleh pada Wira. "Aku juga pengin lihat ada apa, ah."

Wira sudah hafal kelakuan adiknya. Ia buru-buru menahan lengan Fira sambil mengerutkan kening. "Kan Bunda udah nyuruh kita nyamperin Tante Eva."

"Ya udah, Kakak duluan aja. Nanti aku nyusul!" Fira menepis tangan kakaknya dan langsung berlari kabur.

Wira yang cemas adiknya bakal bikin masalah, mau tak mau berlari mengejarnya.

Sementara itu, Monika berhasil menghindari pantauan orang-orang Arya. Ia menyelinap ke area parkir lewat pintu keluar yang lain, bergegas menuju tempat sahabatnya, Eva, menunggu. Tiba-tiba, ia mendengar teriakan panik dari arah dekat.

Ia menoleh dan melihat seorang anak laki-laki—seumuran Wira dan Fira—berlari ke sana kemari di area parkir sambil memanggil-manggil seseorang.

Awalnya Monika enggan ikut campur, tapi membiarkan anak kecil berlarian di tempat parkir seperti ini jelas sangat berbahaya. Naluri keibuannya tak bisa diam saja. Ia pun melangkah menghampiri anak itu.

Setelah mondar-mandir mencari, anak laki-laki itu berhenti melangkah, lalu mengeluarkan ponsel untuk menelepon.

Saat jarak mereka makin dekat, Monika akhirnya bisa melihat wajah anak itu dengan jelas. Raut wajahnya seketika berubah. Ia buru-buru mendekat. "Wira? Kan Bunda udah bilang samperin Tante Eva duluan. Kok kamu malah sendirian di sini?"

Anak laki-laki itu mengabaikannya, menunduk sibuk menekan nomor di layar.

Kesal, Monika langsung merampas ponsel tersebut.

Anak itu—yang sudah panik karena tak kunjung menemukan adik perempuannya, dan kini ponselnya malah dirampas—langsung membentak, "Tante siapa, sih? Balikin HP aku!"

"Bunda ini ibumu!" balas Monika gemas.

Ia sebenarnya heran melihat tingkah putranya yang biasanya tenang tiba-tiba berubah aneh. Tapi menyadari anak itu sendirian, ia bertanya dengan cemas, "Kenapa kamu sendirian? Adikmu mana?"

Anak laki-laki itu, yang masih belum paham sepenuhnya dengan situasi ini, menjawab lirih, "Dia hilang."

Suaranya sarat akan kepanikan dan rasa bersalah.

Melihat hal itu, Monika langsung menggenggam tangannya dan menenangkannya, "Bunda bantu cari adikmu, ya."

Anak itu pasrah saja saat Monika menuntunnya.

Tak lama kemudian, mereka menemukan anak perempuan itu di sudut parkiran yang sepi. Ia tergeletak di aspal, tak bergerak, dengan wajah pucat pasi dan bibir membiru.

Anak laki-laki itu langsung berlari menghampirinya.

Monika buru-buru mengangkat tubuh anak perempuan itu, menyadari bahwa badannya masih hangat.

Ia menunduk, menempelkan telinganya ke dada anak itu. Terdengar suara mengi dan napasnya yang semakin melemah—gejala asma.

Monika kebingungan. Fira selama ini selalu sehat dan sama sekali tidak punya riwayat asma.

Tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Monika segera mendudukkan anak perempuan itu tegak-tegak, lalu mengusap punggungnya pelan-pelan untuk melonggarkan jalan napasnya.

Perlahan, gejalanya mulai mereda. Anak perempuan itu membuka mata di pelukan Monika. Sambil menatap wajah wanita itu, ia bergumam lemah, "Bunda...."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya