Bab 003 Salah Identitas di Bandara
Maya benar-benar terkejut. Memang sih, Citra suka bermanja-manja dan bertingkah menggemaskan, tapi anak itu juga sangat pintar dan mandiri. Biasanya Citra yang jahil, bukan dia yang jadi korban keisengan orang. Mendengarnya memanggil "Bunda" dengan nada sedih dan begitu rapuh adalah hal yang baru pertama kali terjadi.
Hati Maya terasa perih. Ia memeluk Citra erat-erat dan berbisik, "Bunda di sini, Citra. Nggak usah takut, semuanya udah aman sekarang."
Anak laki-laki di dekat mereka akhirnya bisa bernapas lega, tapi seketika matanya terbelalak melihat Alya Wijaya meringkuk nyaman di pelukan wanita itu.
Dia tahu betul adiknya, Alya, telah melewati masa-masa berat setelah insiden penculikan dua tahun lalu. Anak perempuan itu menjadi sangat tertutup, hampir tidak pernah bicara dengan siapa pun. Bahkan di Kediaman Keluarga Wijaya, Alya hanya membiarkan sang papa dan dirinya yang mendekat, bahkan nenek mereka pun tidak.
Dan sekarang, adiknya itu bersandar di pelukan orang asing dan memanggilnya "Bunda"?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Saat otaknya masih berusaha mencerna situasi, ponsel Maya berdering.
Ketika layarnya menyala, anak laki-laki itu melihat foto seorang ibu bersama dua anaknya. Ibu di foto itu jelas-jelas wanita ini, dan anak laki-laki serta perempuan di foto itu terlihat persis seperti dirinya dan Alya.
Matanya makin terbelalak. Yang benar saja?
"Bima?" tegur Maya, menyadari reaksi anak itu. "Kamu kenapa hari ini?"
Belum pernah ia melihat Bima tampak begitu kebingungan. Biasanya anak itu selalu tenang dan bisa menguasai diri.
Anak laki-laki itu hanya menatapnya dengan raut penuh tanda tanya.
Maya baru menyadari, bukan cuma tingkah mereka yang aneh, tapi pakaian mereka juga berbeda.
Anak laki-laki itu mengenakan setelan jas kecil yang rapi, tampak seperti pria dewasa versi mini.
Dan anak perempuannya memakai gaun pesta anak-anak berwarna merah muda.
Walaupun mereka berdua tidak pernah memakai baju seperti itu, mereka terlihat sangat menggemaskan.
Terutama anak laki-lakinya, yang kehilangan aura dinginnya seperti biasa, membuatnya terlihat jauh lebih lucu.
Maya menghela napas, "Bunda kan cuma nyuruh kalian nyusul Tante Eva, kenapa malah ganti baju segala? Memangnya Tante Eva belum pernah lihat kalian berantakan? Ya sudah, ayo jalan, Tante Eva udah nunggu. Nanti sampai rumah, Bunda harus periksa keadaan Citra baik-baik."
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Eva. Ia pun membalas dengan pesan suara, "Va, tunggu bentar ya. Ini gue lagi jalan ke sana."
Ia memasukkan kembali ponselnya dan berdiri.
Alya terus menempel padanya, matanya memancarkan rasa percaya yang begitu besar.
Hati Maya kembali terenyuh. Ia membungkuk, mengecup pipi Alya, dan berkata lembut, "Bunda harus dorong koper, jadi kamu pegangan tangan sama Bima dan ikutin Bunda, ya. Kita temui Tante Eva dulu. Kalau badanmu masih kerasa nggak enak, bilang sama Bunda, oke?"
"Oke," angguk Alya.
Maya meletakkan tangan mungil anak itu ke genggaman si anak laki-laki, lalu menuntun mereka berjalan.
Kali ini, anak laki-laki itu tidak menolak. Mata besarnya mengamati sekeliling, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tak jauh dari sana, Bima dan Citra yang baru saja menyusul, mematung melihat Maya berjalan menjauh bersama dua anak lain.
Citra bertanya, "Ini ada apa, sih? Kita ditinggalin begitu aja?"
Bima membalas cepat, "Bukannya kamu harusnya lebih heran kenapa ada dua anak yang mukanya persis banget sama kita?"
Citra berseloroh, "Oh, iya juga ya. Jangan-jangan kita dikloning?"
Bima mempertahankan wajah datarnya dan menimpali, "Atau mungkin kita nyasar ke dunia paralel."
Mereka memang mengobrol santai, tapi otak mereka bekerja keras.
Teori soal kloning atau dunia paralel rasanya terlalu mengada-ada. Mereka berdua tahu persis kalau mereka sebenarnya lahir kembar empat.
Bima punya saudara kembar identik laki-laki, dan Alya punya saudara kembar identik perempuan.
Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, yang jelas kedua saudara mereka itu menghilang.
Alya bertanya, "Jadi, mereka nggak meninggal?"
Bima mengangguk. "Pasti ada yang bawa mereka pergi."
Alya mulai menebak-nebak, "Terus sengaja manfaatin mereka buat deketin ayah brengsek kita itu?"
"Atau jangan-jangan, ayah brengsek itu sendiri yang bawa mereka," timpal Bima.
Kakak beradik itu perlahan merangkai kepingan teka-teki tersebut.
Alya mengepalkan tangan mungilnya, menahan marah. "Berani-beraninya mereka culik saudara kita dan bikin Bunda sedih tiap hari? Kalau sampai aku tahu siapa pelakunya, bakal kubikin mereka nyesel!"
Bima menggenggam tangan adiknya. "Ayo pergi. Kita harus cari Bunda."
Alya mengangguk.
Baru saja mereka mau melangkah pergi, enam pria berjas rapi tiba-tiba muncul mengadang jalan.
Mereka berbaris rapi dan menyapa dengan penuh hormat, "Tuan Muda, Nona Muda."
Setelah itu, mereka menepi dan membentuk dua barisan, membuka jalan di tengahnya.
Bima dan Alya mendongak. Tampak Aryo melangkah gagah menghampiri mereka.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam putih klasik. Wajahnya memancarkan aura dingin dan berkuasa, membuat para pengawal di sekitarnya bahkan tak berani bersuara sedikit pun.
Namun, dua bocah itu sama sekali tidak gentar. Kepala mungil mereka secara refleks saling mendekat.
Alya tiba-tiba punya firasat. Ia berbisik, "Apa dia ayah brengsek kita itu? Wajahnya lumayan mirip sama kamu, lho!"
Bima tak menjawab; ia hanya menatap pria itu dengan sorot mata sedingin es.
Ia pernah meretas basis data milik Aryo, melihat foto-fotonya, dan tahu persis seperti apa rupa pria itu.
Aryo balas menatap mata bocah itu dan mendadak tertegun.
Putranya, Dika Wijaya, memang pemberani dan sering bertingkah bak iblis kecil pembawa onar, tapi anak itu tak pernah tampil setenang dan sedingin ini.
Baru saja Aryo hendak melangkah maju, Jefri menyusulnya dari belakang.
Jefri berbisik pelan, "Pak Aryo, kami tidak bisa menemukan Hesti. Sepertinya dia sudah meninggalkan bandara."
Asisten itu melirik ke arah Bima dan Alya. Tatapannya seolah menyiratkan: seandainya dua bocah ini tidak mendadak hilang dan membuat Aryo mengerahkan hampir seluruh anak buahnya untuk mencari, Hesti pasti tidak akan lolos.
Tapi bagaimanapun juga, dua anak ini adalah harta karun Keluarga Wijaya. Segeram apa pun Jefri, ia tak berani mengatakannya terang-terangan.
Aryo tidak menyalahkannya. Pria itu hanya berkata, "Tidak perlu dicari lagi. Suruh semua orang mundur."
Meski Grup Wijaya memang berniat menjalin kerja sama dengan Firma Desain AWAN milik Hesti, alasan utama Aryo datang ke bandara hari ini bukanlah untuk urusan bisnis.
Ia mendengar kabar bahwa selain menjadi arsitek papan atas, Hesti juga seorang dokter jenius yang konon bisa menyembuhkan penyakit apa pun. Karena itulah, tujuan utamanya kemari adalah untuk meminta wanita itu mengobati Amalia.
Bima dan Alya, yang sama sekali tidak tahu-menahu soal urusan itu, malah curiga pria ini sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Mita.
Begitu Aryo mendekat, Bima langsung pasang badan, menyembunyikan Alya di punggungnya tanpa sepatah kata pun. Ia menantang tatapan Aryo, lalu dengan nada datarnya yang khas, bertanya, "Anda mau apa?"
