Bab 004 Brengsek Ayah

Para pengawal dan Dimas hanya bisa menyaksikan ketegangan itu dalam diam. Di seluruh Jakarta, mungkin cuma Bima yang berani berbicara selancang itu kepada Pak Wibowo.

Semua orang menahan napas.

Wibowo berdiri menjulang di hadapan kedua anak itu, suaranya terdengar sangat marah. "Bima, kamu benar-benar kelewatan. Berani-beraninya kamu membawa adikmu kabur dari rumah sakit dan menyusul Papa ke bandara? Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Alya?"

Rangga mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak bersuara sedikit pun.

Bima? batin Rangga. Apa itu anak laki-laki yang tadi kulihat, yang wajahnya mirip banget sama aku?

Jadi, anak itu adalah putra Wibowo, cucu kesayangan keluarga besar Wijaya.

Kelihatannya pria ini sangat memanjakan anak perempuannya, tapi bersikap keras pada anak laki-lakinya. Pantas saja Bima sampai nekat kabur dari rumah.

"Kenapa diam saja?" Wibowo agak terkejut melihat putranya begitu tenang. Dia mengira Bima sudah menyadari kesalahannya, sehingga nada suaranya sedikit melembut, meski tetap tegas. "Kamu harus tahu batas, Bima. Kondisi Alya itu sedang tidak baik. Jangan mentang-mentang kamu ada di Jakarta, kamu pikir nggak ada orang jahat yang berani macam-macam sama kalian. Jangan bertindak gegabah begini lagi."

Rangga tetap bergeming.

Citra belum pernah melihat Rangga dimarahi habis-habisan seperti ini. Gadis kecil itu baru saja hendak membuka mulut untuk membela, tapi Rangga diam-diam memberinya isyarat agar tetap diam.

Terpaksa, Citra kembali menutup rapat mulutnya.

Melihat bocah laki-laki itu terus bungkam dengan wajah dingin, Dimas buru-buru menengahi untuk mencairkan suasana.

"Den Bima, Pak Wibowo itu panik setengah mati waktu sadar kalian berdua hilang. Kalau Aden curiga, harusnya Aden tanya langsung ke Bapak. Pak Wibowo datang ke bandara hari ini buat jemput Dokter Hani untuk merawat Non Alya, bukan mau pergi ke luar negeri sama Nona Siska. Aden benar-benar salah paham."

Rangga dan Citra saling bertatapan. Oh, jadi Bima dan Alya kabur dari rumah gara-gara urusan pria ini dengan perempuan jahat itu.

Rangga tahu betul siapa Siska. Perempuan itu berpura-pura menjadi pewaris tunggal keluarga Kusuma, merampas semua yang seharusnya menjadi milik Maira. Gara-gara perempuan itulah, ibunya terpaksa melahirkan Rangga dan Citra sendirian di luar negeri.

Dan sekarang, rupanya perempuan itu belum puas hanya menghancurkan hidup ibunya; dia juga berniat mencelakai saudara-saudaranya.

Rangga menatap Wibowo dengan sorot mata sedingin es. "Anda ini pemaaf sekali, ya. Kalau memang sebegitu cintanya, kenapa nggak sekalian saja nikahi perempuan yang sudah menyakiti ibuku?"

"Kamu bilang apa barusan?" Wajah Wibowo mendadak kaku.

Udara di sekitar mereka seolah ikut membeku karena amarah pria itu.

Dimas baru saja hendak angkat bicara untuk meredakan ketegangan, tapi sebelum dia sempat membuka mulut, Citra bergumam sinis, "Brengsek."

Semua orang di sana ternganga, terutama Wibowo. Dia menatap Citra dengan mata terbelalak.

Seingatnya, Alya tidak pernah berbicara kepadanya. Selama ini putrinya itu hanya berkomunikasi lewat bahasa isyarat sederhana. Tapi barusan, anak itu bersuara.

Wibowo tidak peduli meski anak itu baru saja mengumpatinya. Dia langsung melangkah maju, berjongkok di hadapan gadis kecil itu, dan memegang kedua bahu mungilnya dengan lembut. "Alya, tatap Papa, Nak. Coba bicara lagi sama Papa."

Citra membatin, Sebenarnya Alya itu sakit apa, sih?

Rangga memberinya isyarat mata agar terus bersandiwara. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, dan kenapa mereka berempat bisa terpisah selama bertahun-tahun.

Memahami maksud saudara kembarnya, Citra pun menundukkan kepala dan kembali bungkam.

Wibowo mengira dia sudah terlalu mendesak putrinya hingga anak itu kembali menutup diri. Dia lantas memeluknya erat untuk menenangkannya. "Ya sudah, Papa nggak akan maksa kamu lagi. Papa ajak kalian makan yang enak-enak, ya? Kamu mau makan apa, Sayang?"

Citra berpikir sejenak. Tadi Tante Eva sempat bilang mau mengajak mereka makan makanan Jepang di Hotel Mahkota.

Maka dia pun menjawab pelan, "Mau makan sushi di Hotel Mahkota."

Hati Wibowo melonjak kegirangan mendengar putrinya bisa mengutarakan keinginannya dengan begitu jelas. Tentu saja dia tidak akan menolak permintaan apa pun darinya.

Dia menggendong putri kecilnya itu dan menoleh ke arah Rangga. "Bima, ayo ikut Papa."

Rangga sampai kehabisan kata-kata.

Ibunya selalu mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan itu setara. Tapi pria ini jelas-jelas pilih kasih antara anak laki-laki dan perempuan. Pantas saja Bima sampai kabur dari rumah.

Hotel Mahkota.

Maira dan Eva sudah tiba lebih dulu, menggandeng sepasang anak kecil lain yang tak kalah menggemaskan.

Mereka duduk di meja yang sudah dipesan.

Setelah memesan beberapa menu, Vina menyodorkan iPad kepada anak-anak itu. "Sayang, coba lihat ada lagi yang mau kalian makan nggak? Pesen aja apa pun yang kalian suka. Tante yang traktir hari ini."

Aurel diam saja dan menyandarkan tubuhnya lebih dekat ke Dion.

Sebaliknya, Dion sama sekali tidak canggung. Ia mengambil iPad itu. Hotel ini adalah bagian dari Wijaya Group, dan ia sudah sering ke sini. Dengan cekatan, ia langsung memesan semua menu andalan restoran tersebut.

Lalu ia mengembalikan iPad itu kepada Vina dengan senyum manis. "Makasih, Tante."

Vina agak terkejut melihat senyumnya dan butuh sejenak untuk menguasai diri. Ia menoleh pada Kania dan bertanya, "Bukannya dia biasanya serius banget, ya? Tumben hari ini manis begitu?"

"Mungkin dia masih kaget gara-gara kejadian di bandara tadi." Kania duduk di sebelah Aurel, memangku anak perempuan itu, lalu bertanya lembut, "Sasa, ada yang sakit nggak, Sayang?"

Gadis kecil itu menggeleng patuh, menyembunyikan wajahnya di dada Kania. Dalam hati ia membatin, 'Inikah rasanya punya seorang Bunda?'

Dion menatap mereka dengan perasaan cemburu, heran kenapa Aurel bisa begitu lengket dengan wanita ini.

Maka ia pun melompat turun dari kursinya, menghampiri Kania, dan menyandarkan wajah kecilnya ke lengan wanita itu sambil menggesek-gesekkan pipinya manja.

Sudah lama Kania tidak melihat putranya bersikap semanja ini. Ia pun ikut memeluknya dan menenangkannya, "Wira, kamu ketakutan ya tadi? Nggak apa-apa, Sayang. Sasa tadi cuma kaget aja. Ini bukan salahmu, kok. Bunda nggak nyalahin kamu sama sekali."

Karena selama ini Sasa selalu sehat dan jarang sakit, kedua kakak beradik itu belum pernah menghadapi situasi darurat seperti tadi. Kania mengira sikap aneh mereka hari ini murni karena syok. Bagaimanapun juga, mereka baru berumur lima tahun.

Ada rasa sesak yang menyelinap di dada Dion saat mendengar suara lembut wanita itu.

Karena Aurel mengidap autisme dan berbeda dari anak-anak pada umumnya, Arga selalu menuntutnya untuk menjaga dan mengalah pada adiknya itu. Ayahnya tidak pernah sekalipun menenangkannya dan berkata bahwa itu bukan salahnya.

'Coba saja dia ini Bundaku.' Memikirkan hal itu, Dion kembali mendusel manja di pelukan Kania.

Kania mendekap kedua anak itu, menciptakan pemandangan yang begitu hangat dan penuh kasih.

Sementara itu, di tempat lain, suasana antara Arga, Wira, dan Sasa sama sekali tidak harmonis.

Mereka masuk ke ruang VIP melalui lorong yang berbeda.

Arga duduk di kursi utama, dengan Sasa di sebelah kirinya dan Wira di sebelah kiri Sasa.

Sasa menatap orang di sebelah kirinya, lalu beralih menatap orang di sebelah kanannya. Sikap, aura, dan raut wajah dingin mereka benar-benar mirip bak pinang dibelah dua—hanya berbeda ukuran, satu versi dewasa dan satu lagi versi mini.

Gadis kecil yang biasanya cerewet itu kini bungkam, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Hawa di ruangan itu terasa mencekam, membuat suasana kian kaku dan tegang.

Pelayan yang mengantarkan makanan bahkan tak berani mengangkat wajah, tangannya terus gemetar saat menata piring.

Yusuf berjalan menghampiri Wira, mengambilkan sedikit makanan ke piringnya, lalu membujuknya dengan halus, "Den Dion, makan dulu, ya. Biar Bapak kupaskan cangkang kepitingnya. Pak Arga tahu Aden suka seafood, makanya beliau khusus memesankan kepiting raja dan lobster biru premium buat Aden. Jadi anak baik, ya, jangan bikin Papa marah lagi."

Sambil berkata begitu, asisten paruh baya itu mulai memecahkan cangkang kepiting.

Wira menatapnya dengan tatapan aneh dan menjawab dingin, "Makasih, aku bisa makan sendiri."

Ia sudah terbiasa melakukan semuanya secara mandiri.

Yusuf tertegun. Apa benar ini Den Dion?

Kalau di rumah, Dion selalu minta tolong pelayan untuk mengupaskan kepiting dan udang untuknya. Ada angin apa hari ini?

Arga sedang menelepon. Melihat makanan sudah tersaji, ia bergegas mengakhiri panggilannya. Putrinya tidak pernah makan sendiri dan harus disuapi pelan-pelan karena kondisinya.

Namun, anak itu selalu menolak didekati orang lain. Ia hanya mau disuapi oleh kakak atau ayahnya.

Karena sudah terbiasa, Arga langsung mengambil sendok dan garpu. Namun, saat ia hendak menyuapinya, ia melihat gadis kecil itu sudah makan sendiri dengan sangat lahap.

Arga terkesiap. Butuh beberapa saat baginya untuk bertanya, "Aurel, makanannya enak?"

Sasa tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya ia memilih bungkam.

Arga baru saja hendak membuka mulut lagi, tapi ponselnya tiba-tiba berdering.

Sasa melirik sekilas dan melihat nama Siska tertera di layar ponsel tersebut.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya