Bab 1 Kecelakaan

Saat tabrakan itu terjadi, pikiran Citra mendadak kosong.

Dua mobil bertabrakan dengan sangat keras, memelintir kerangka logam dan menjebaknya di kursi kemudi bagaikan dalam sangkar besi. Kalau saja kantung udara tidak mengembang tepat waktu, nyawanya pasti sudah melayang.

Setiap jengkal tubuhnya dari dada ke bawah menjerit kesakitan, tetapi yang paling membuatnya ketakutan adalah bau menyengat bensin yang memenuhi udara.

Kecelakaan hari ini adalah tabrakan beruntun.

Jika tidak segera keluar, ledakan mobil itu yang akan membunuhnya, sekalipun ia selamat dari benturan tadi.

Di tengah situasi genting itu, ia dengan hati-hati melindungi perutnya. Dengan tangan gemetar dan sisa-sisa tenaga yang ada, ia merogoh ponselnya dan menghubungi Rangga.

Mungkin ini akan menjadi perpisahan terakhir mereka.

Bayinya yang malang... bahkan belum sempat melihat dunia.

Ponselnya terus berdering tanpa henti. Suara operator wanita yang kaku menggema di telinganya, membuat hatinya semakin sedingin es seiring dengan panggilannya yang tak kunjung dijawab.

Ia sedang meregang nyawa. Dan Rangga masih saja enggan mengangkat teleponnya?

Pria itu mungkin malah akan bernapas lega kalau mendengar kabar kematiannya.

Lagi pula, dengan begitu Rangga akhirnya bisa menikahi Alya.

Keputusasaan, kepahitan, dan rasa sakit menghantamnya secara bersamaan. Nyeri yang begitu tajam dan menyiksa tiba-tiba menusuk perut bagian bawahnya, disusul dengan sesuatu yang hangat mengalir keluar.

Ia menekan perutnya kuat-kuat, raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya.

Tepat pada saat itu, siluet Rangga berkelebat melewati jendela mobilnya. Namun, pria itu tidak berhenti untuknya. Ia justru berlari kencang menuju mobil yang berada tepat di depan Citra.

Wajah Citra seketika pucat pasi saat melihat Rangga dengan panik menghantam kaca depan mobil itu menggunakan sikunya, memecahkan kacanya, lalu dengan sangat hati-hati mengangkat wanita di dalamnya keluar.

Siapa lagi wanita itu kalau bukan Alya?

Citra bahkan tidak sanggup menjerit. Rasa sakit membuat pandangannya kabur dan dunia seakan berputar. Saat kesadarannya perlahan memudar, samar-samar ia melihat seseorang memecahkan kaca mobilnya dan menariknya keluar ke tempat aman.

Tepat setelah mereka menjauh, mobil itu meledak, mengubah seluruh lokasi kecelakaan menjadi lautan api yang mengamuk.

Pandangan Citra pun sepenuhnya gelap.

Ketika terbangun, ia sudah berada di kamar rumah sakit. Ia bersusah payah mengangkat kepalanya, menatap langit-langit putih yang polos, lalu beralih ke selang infus di tangannya. Pecahan ingatan terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran kembali membanjiri benaknya.

Ia selamat. Bima-lah yang telah menyelamatkannya.

Saat itu, televisi di kamar rawatnya sedang menyiarkan berita terkini.

Layar itu menampilkan adegan yang persis sama dengan apa yang ia saksikan saat terjebak di dalam mobil.

Rangga, yang masih mengenakan setelan jas kantornya dengan tangan berlumuran darah, tanpa ragu menyelamatkan Alya.

Kamera menangkap setiap detailnya—kelegaan di wajah Rangga setelah berhasil membawa Alya ke tempat aman, serta betapa lembutnya pria itu mendekap dan melindunginya.

Video itu hanya berdurasi beberapa menit, tetapi setiap detiknya terasa seperti belati tak kasatmata yang mengiris-iris hati Citra.

Rasa pahit itu begitu mencekik. Padahal, dialah istri sahnya!

Rangga sama sekali tidak pernah peduli padanya.

Ia kira tayangan itu sudah selesai, tetapi kamera beralih menampilkan wawancara eksklusif dengan Rangga.

Jasnya berdebu dan berantakan, tetapi pria itu tampak tak peduli. Bahkan di bawah sorotan lampu kamera yang terang benderang, ketampanannya tetap tak memudar.

"Saya akan menyumbangkan seratus lima puluh miliar Rupiah ke yayasan pendidikan untuk membantu anak-anak kurang mampu mendapatkan sekolah yang layak. Satu-satunya hal yang saya inginkan saat ini hanyalah Alya selamat dan sehat."

Potongan wawancara itu langsung viral di media sosial.

Citra menatap layar televisi itu dalam kebisuan yang membeku.

Bayangan akan sikap dingin Rangga padanya—ketidaksabarannya, ketidakpeduliannya—berkelebat di benaknya.

Hati yang dulu selalu berdegup untuk pria itu, kini benar-benar mati.

Citra perlahan memejamkan mata, membiarkan setetes air mata mengalir di pipinya.

Benar-benar menyedihkan. Ia baru saja bertaruh nyawa dalam kecelakaan maut, sementara suaminya sendiri malah sibuk menyelamatkan wanita lain, bahkan menyumbangkan harta atas nama wanita itu.

Bahkan sinetron paling murahan sekalipun tidak akan punya alur seabsurd ini. Namun, kenyataan pahit itulah yang kini menimpanya.

Saat matanya kembali terbuka, keputusannya sudah bulat. Ia segera menghubungi pengacaranya.

"Tolong siapkan surat gugatan cerai sekarang juga. Tidak perlu ada pembagian harta gono-gini—saya tidak mau sepeser pun dari dia."

Sang pengacara tiba tak lama kemudian.

Citra mengambil pulpen itu. Dengan perlahan namun mantap, ia membubuhkan tanda tangannya.

Mulai detik ini, ia dan Rangga tidak akan punya hubungan apa-apa lagi.

Tepat saat ujung pulpennya terangkat, rasa sakit yang luar biasa menusuk perut bagian bawahnya, seolah ada yang memelintir isi perutnya.

Kesadaran Citra kembali meremang, lalu gelap sepenuhnya.

Dokter mendobrak masuk ke ruang rawat dan berseru panik, "Siapkan ruang operasi sekarang! Pasien mengalami pendarahan hebat—dia akan melahirkan prematur!"

Sementara itu, di rumah sakit yang sama, Rangga berdiri mematung di dekat jendela kamar rawat dengan raut wajah kaku.

Ia menatap layar ponselnya. Panggilannya tak kunjung terjawab. Dahinya berkerut samar.

Citra tidak pernah mengabaikan telepon darinya.

Di belakangnya, Alya mulai mengerjap bangun. Suaranya terdengar serak saat memanggil, "Mas Rangga."

Perhatian Rangga seketika teralih padanya. Dengan nada penuh kekhawatiran ia bertanya, "Gimana perasaanmu? Ada yang sakit?"

Suara Alya terdengar begitu memelas. "Sakit semua, Mas."

Rangga menggenggam ponselnya dan melangkah menuju pintu. "Aku panggilkan dokter dulu buat periksa kamu, ya."

Ia bergegas keluar ruangan, tempat asistennya, Bima, sudah menunggu.

Nada suara Rangga menyiratkan kecemasan yang bahkan tidak ia sadari sendiri. "Masih belum ada kabar dari Citra?"

Bima menjawab dengan gugup, "Pak Rangga... sepertinya Bu Citra ikut jadi korban dalam kecelakaan beruntun hari ini."

Kerutan di dahi Rangga semakin dalam. Ia tahu persis betapa parahnya kecelakaan maut hari ini.

Apa mungkin Citra benar-benar...

Baru saja ia hendak melangkah pergi, rintihan kesakitan Alya terdengar dari dalam kamar. "Mas Rangga, tanganku sakit banget. Temani aku di sini, ya?"

Langkah Rangga terhenti. Ia menoleh pada asistennya dan memberi perintah tegas, "Cari Citra sekarang. Lakukan apa pun caranya, dan pastikan kandungan istri saya baik-baik saja."

Bima langsung mengangguk. "Baik, Pak. Saya urus sekarang juga."

Perasaan tidak enak semakin menggerogoti hati Rangga.

Namun, sebelum ia sempat mencerna asal muasal kecemasannya itu, sesosok pria datang menerjang ke arahnya dengan amarah meluap-luap.

"Rangga, lo tuh masih punya hati nurani nggak, sih?! Tega-teganya lo lakuin ini ke Citra!"

Dimas merangsek maju dengan rahang mengeras, melayangkan pukulan mentah tepat ke wajah Rangga.

Rangga berhasil mengelak dari serangan pertama dan menangkis pukulan kedua Dimas. Matanya menatap dingin, penuh kekesalan.

"Lo gila, ya?!"

Rangga menepis tangan Dimas dengan kasar.

"Di mana Citra?"

Dimas terhuyung mundur dua langkah dan membentak, "Lo nggak berhak nanya soal dia! Setelah semua penderitaan yang lo kasih, dia nggak akan pernah sudi maafin lo!"

Dimas menahan sorot kepedihan di matanya saat ia mengeluarkan sebuah map dokumen dan melemparkannya ke dada Rangga.

"Tanda tangani. Sekarang."

Rangga menunduk untuk memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai. Saat matanya menangkap tulisan "Surat Gugatan Cerai" di bagian atas, raut wajahnya langsung berubah pias.

Di bagian paling bawah, tertera tanda tangan Citra yang begitu rapi.

Suara Rangga menegang, setiap kata yang keluar dari mulutnya sarat akan amarah yang tertahan. "Dari mana lo dapat surat ini? Gue mau ketemu Citra. Bawa dia ke sini sekarang, atau lo bakal nyesel."

Dimas tertawa—tawa yang begitu getir dan menyayat hati hingga membuat bulu kuduk merinding.

"Citra nggak akan pernah muncul lagi di hadapan lo. Dia udah meninggal, Rangga! Dia tewas di kecelakaan itu! Lo lihat bercak darah di surat cerai itu? Dia pakai sisa napas terakhirnya cuma buat tanda tangan! Nyawa dia, Rangga—gimana caranya lo mau bayar utang nyawa itu?!"

Rangga berdiri mematung, seakan disambar petir di siang bolong. "Lo ngomong apa barusan?"

Dimas mendecih sinis. "Tanda tangani surat cerai itu. Cowok brengsek kayak lo nggak pantas punya hubungan apa-apa lagi sama Citra."

Rangga menatap nanar dokumen di lantai itu, tangannya bergetar hebat saat memungutnya kembali.

Tinta hitam di atas kertas putih, ternoda oleh bercak darah.

Citra benar-benar telah pergi, membawa serta buah hati mereka.

Tanpa sudi melirik sedikit pun pada wajah Rangga yang hancur lebur, Dimas membalikkan badan dan melangkah pergi.

Bab Selanjutnya