Bab 5 Bantu Saya Membawa Anak-anak Saya Kembali
"Bima, tolong!"
Citra yang pertama kali bereaksi. Gadis kecil itu menjatuhkan kuas lukisnya dan langsung mengambil langkah seribu menuju pintu.
Sambil berlari, ia berteriak panik tak terkendali.
"Jangan lari!"
Tubuh Tono tersentak kaget, lalu buru-buru mengejar anak itu.
Kalau sampai bocah ini lolos dari pengawasannya, Pak Wibowo pasti akan menghabisinya.
Citra menoleh ke belakang dengan wajah ketakutan. Melihat Tono yang makin mendekat, tangan dan kaki mungilnya berayun makin cepat.
Dia takut tertangkap.
Kalau sampai Bunda Dina tahu, dia pasti bakal dimarahi habis-habisan.
Bima baru saja selesai buang air dan hendak mencuci tangan saat sayup-sayup mendengar jeritan Citra.
Alisnya berkerut. "Belum ketemu juga kuasnya? Bukannya tadi kita bawa, ya?" gumamnya pada diri sendiri.
Citra memang hobi menggambar dan selalu membawa kuasnya ke mana-mana.
Setelah selesai menggambar anak anjing, mereka merasa ada yang kurang. Butuh beberapa saat sampai mereka sadar kalau gambarnya belum diwarnai.
Keduanya pun sepakat, lalu kembali ke ruang tunggu untuk mengambil kuas sebelum menyusup ke ruangan Pak Wibowo.
Tapi Bima benar-benar kebelet pipis.
Jadi, dia membiarkan Citra kembali sendirian, berniat menyusulnya ke ruang tunggu Pak Wibowo nanti.
Meski kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan, bocah laki-laki itu tetap mencuci tangannya dengan santai.
Begitu selesai dan melangkah keluar, dia melihat Citra berlari kencang ke arahnya.
Baru saja dia mau memanggil, seseorang tiba-tiba muncul dari belakang Citra dan menangkap gadis kecil itu secepat kilat.
"Mau lari ke mana, heh? Dasar bocah nakal, berani banget ya kalian!" Tono terengah-engah sambil berusaha menahan tubuh Citra yang meronta-ronta dalam dekapannya.
"Diam! Sekarang kasih tahu Om, di mana temanmu yang satu lagi?"
"Kecil-kecil sudah bikin ulah, gedenya mau jadi apa kalian!"
Tono terus mengomel sambil memegangi Citra dengan kasar.
Citra yang sudah ketakutan, diperlakukan seperti itu oleh Tono, langsung meledak dalam tangisan yang menyayat hati.
Bima belum pernah melihat Citra menangis semenyedihkan itu. Darahnya mendidih. Dia melesat bagai peluru dan menendang Tono yang sedang lengah sekuat tenaga.
Tono terhuyung menahan sakit, nyaris membuat Citra ikut terjatuh.
Baru saja pria itu menoleh untuk melihat siapa yang menyerangnya, kakinya sudah dipeluk oleh sepasang lengan mungil. "Lepasin Citra, Om jahat! Kalau nggak, aku tendang lagi nih!"
Bima memang kecil—pukulannya mungkin tidak terasa, tapi tendangannya lumayan bikin ngilu!
Dia terus berteriak mengancam sambil memeluk kaki Tono, mendaratkan tendangan bertubi-tubi tanpa henti.
"Kalian ngapain cuma bengong?! Sini bantuin!" teriak Tono.
Lorong itu pun seketika berubah kacau balau.
Di dalam ruang tunggu VIP.
Suara tangisan bersahut-sahutan memenuhi ruangan.
Pak Wibowo duduk dengan satu tangan menopang dagu, sementara tangan lainnya bersandar di lutut, jari-jarinya mengetuk berirama.
Ia menatap takjub pada dua bocah di depannya yang bahkan bisa mengatur tempo tangisan mereka.
Saat yang satu menangis kencang, yang lain akan menangis pelan.
Kalau yang satu capek, mereka bergantian.
Benar-benar tidak memberi celah sedikit pun untuk keheningan.
Bima berharap tangisan mereka bisa membuat Pak Wibowo jengkel dan mengusir mereka, tapi pria itu justru merasa makin penasaran.
Menangis itu menguras tenaga.
Kedua anak itu masih sangat kecil, dan setelah menangis heboh begitu lama, tenaga mereka benar-benar terkuras habis.
Citra sudah tidak sanggup menangis lagi. Gadis kecil itu menarik-narik ujung kaus Bima.
Bima buru-buru menoleh ke arah Citra.
Mata mungilnya sudah memerah sepenuhnya.
Sambil menggertakkan gigi, Bima pun menghentikan tangisannya.
"Maafin kami, Om. Kami salah."
Bima meminta maaf dengan tegas, meski dalam hati ia terus mengumpat dan mengatai Pak Wibowo sebagai om-om jahat.
Citra tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mencengkeram kaus Bima erat-erat, bibirnya mengerucut menahan isak.
Mata anak-anak itu berbinar terang dan polos.
Namun, tatapan kedua bocah itu menyiratkan sumpah serapah yang tak terucapkan, tertuju langsung padanya.
Rangga mengangkat sebelah alisnya, lalu mengulurkan tangan ke arah Citra.
Citra seketika menyusut ketakutan. Bima dengan sigap pasang badan, melindungi adiknya.
"Jangan berani-berani pukul Citra, Om Jahat!"
Rangga mengabaikan Bima. Ia malah menarik Citra ke dalam pelukannya.
Tatapannya menyapu lutut Citra yang agak kotor—bekas lukanya masih baru, sepertinya anak ini baru saja terjatuh.
Tono memperhatikan bosnya dengan tatapan tak percaya.
Rangga tidak suka anak kecil, apalagi yang dekil begini.
Citra baru saja menangis sesenggukan sampai wajahnya belepotan.
Namun, Rangga bersikap seolah tak peduli dan tetap mendekap anak itu erat-erat.
Citra terpaku. Otaknya mendadak kosong saat berada dalam pelukan pria dewasa itu.
Rasanya seperti... dipeluk Ayah!
Di usianya yang masih sekecil ini, baik secara fisik maupun batin, Citra sangat mendambakan sosok seorang ayah.
Sebaliknya, Bima makin panik. "Lepasin adikku! Lepasin sekarang juga!"
Bima menerjang maju dengan penuh amarah, tetapi malah menabrak dada Rangga dengan keras.
Pupil mata Rangga seketika mengecil.
Ada desir aneh yang tiba-tiba menyelinap di relung hatinya.
Hanya Tono yang masih berdiri dengan perasaan waswas.
"Cari tahu siapa orang tua anak-anak ini!" perintah Rangga dengan nada rendah.
Tono langsung bernapas lega dan bergegas menelepon untuk mengurus perintah tersebut.
Sementara ruang VIP itu sibuk dengan berbagai urusan, Alya berdiri mematung di ruang tunggu pribadinya, merasa seolah terjebak di dalam gua es.
Melihat ruangan yang melompong, jantung Alya serasa mencelos.
Rasa panik mulai merayap, dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya.
Kedua anaknya itu memang selalu mandiri.
Dan mereka tahu bahwa Rangga adalah ayah kandung mereka.
Anak-anak itu sangat menyayanginya dan tergolong cerdik.
Alya takut mereka nekat mencari pria itu untuk balas dendam demi dirinya.
Ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi...
Menarik napas dalam-dalam, ia buru-buru memanggil Sari.
Begitu Sari melangkah masuk, ia langsung tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
Perasaan Sari ikut tidak enak.
"Zoya, ada apa?"
"Sar, Bima sama Citra hilang. Mereka nggak ada."
Mata Alya memerah. Ia berpegangan pada lengan Sari untuk menopang tubuhnya yang lemas.
Sari terkesiap—Bima dan Citra adalah nyawa Alya.
"Zoya, jangan panik dulu. Mungkin mereka cuma keluar main. Di lorong dan ruangan kan ada CCTV, kita bisa cek rekamannya."
"Oh iya, jam tangan mereka! Jam tangan mereka ada pelacak GPS-nya."
Kata-kata Sari bagaikan pencerahan bagi Alya.
Sambil mengatur napas, ia buru-buru meraih ponselnya dan membuka aplikasi pelacak.
"Lihat, Zoya, dua titik merahnya ada di peta."
"Pojok tenggara, jaraknya sekitar tiga puluh meter," ucap Alya membaca keterangan di layar. "Ruang keamanan di mana?"
"Di ujung lantai ini."
Sari segera memapah Alya, berjalan setengah berlari menuju ruang keamanan.
Ketika melihat ruangan di pojok tenggara itu dan mengetahui siapa yang ada di dalamnya, wajah Alya menegang, lalu seketika berubah pucat pasi.
Rangga! Bagaimana mungkin?
Kenapa bisa secepat ini?
"Zoya, kamu nggak apa-apa?"
Sari menahan tubuh Alya tepat waktu sebelum wanita itu ambruk.
"Bima sama Citra ada di ruang tunggu Pak Wibowo. Setidaknya mereka nggak hilang."
Sari sudah mencari tahu sebelumnya dan tahu betul siapa Rangga Wibowo itu.
"Ayo kita jemput anak-anak sekarang."
Butuh waktu lama bagi Alya untuk menemukan suaranya kembali. Tiba-tiba, ia mencengkeram pergelangan tangan Sari erat-erat.
"Nggak, kamu aja yang pergi!"
"Sar, aku nggak bisa ketemu Rangga sekarang!"
Ia tidak mau bertemu pria itu.
Ia takut dikenali.
Alya sudah menghabiskan waktu lima tahun penuh untuk mengubur masa lalunya.
"Sar, tolong aku ya. Maaf banget ngerepotin kamu, tapi tolong bawa anak-anak kembali."
Alya benar-benar tidak sanggup pergi ke sana.
