Bab Dua - Tersingkir di altar
Di keluarga besar Wiratama, ada seorang wanita paruh baya bernama Maryam yang sedang sibuk mencarikan istri untuk keponakannya, Bima.
Kabar ini sampai ke telinga Ratih, ibu tiri Alya. Tanpa pikir panjang, ia memanfaatkan kesempatan itu. Alya dijualnya begitu saja kepada keluarga Wiratama, seolah-olah ia hanyalah seonggok daging. Di balik kepura-puraan sedihnya, Ratih tahu tujuannya hanya satu: mendapatkan uang, bukan karena terpaksa.
Namun, Alya tidak sebodoh itu. Ia sadar ibu tiri dan saudari tirinya, Putri, sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Duo itu ingin menyingkirkannya dari keluarga Suryo dan rela melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Tapi yang benar-benar membuatnya terpukul adalah pengkhianatan kekasihnya, Rangga.
Selama ini, Rangga hanya mempermainkan hatinya. Sekarang semua menjadi masuk akal mengapa pria itu tidak pernah mengajaknya kawin lari dan malah dengan tega berkata, "Nikahi saja Bima dulu. Nanti kalau dia sudah lewat, kamu akan jadi istriku."
Kenyataan itu menghantamnya seperti ribuan batu bata. Pria itu hanya menggantungnya, sementara di belakangnya ia berselingkuh dengan Putri. Alya merosot ke lantai, bersandar di dinding, hatinya hancur berkeping-keping.
Hidupnya pasti sudah seperti sinetron, terlalu dramatis. Ayahnya sakit keras, kekasihnya berkhianat, dan sekarang ia akan diserahkan untuk menikahi pria yang sekarat. Apa mungkin ada yang lebih buruk dari ini?
Dengan nada sombong, Putri bertanya, "Rangga, lebih hebat siapa, aku atau Alya?"
"Jangan sebut-sebut perempuan kampungan itu. Dia terlalu kurus, bukan seleraku. Kalau kamu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya," sahut Rangga.
Putri mendesah manja memanggil namanya, "Kamu nakal banget, sih."
Suara mereka bergema di telinga Alya, bagai garam yang ditaburkan di atas luka. Ia menguatkan diri, berdiri tegak dengan kepalan tangan terkepal dan tatapan mata yang dingin. Dulu ia percaya Rangga adalah sandarannya, tak pernah terbayangkan pria itu akan mengkhianatinya. Ia menahan diri untuk tidak mendobrak pintu dan memilih pergi ke ruang rias.
Kenaifan selalu menjadi kelemahannya. Selama ini ia bersabar menghadapi Ratih dan Putri demi ayahnya, Pak Suryo. Demi nama baik keluarga Suryo, ia menelan semua ketidakadilan. Tapi sekarang, ia sadar, cukup sudah. Ia akan merebut kembali semua yang menjadi haknya. Melangkah ke ruang rias, ia merapikan penampilannya. Matanya yang dingin menatap tajam pantulan dirinya di cermin. Pada saat itulah, ia membulatkan tekad. Pernikahan akan segera dimulai, dan pertunjukan harus segera dimulai.
Saat alunan musik mengalun, Alya berjalan menyusuri altar. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang indah, memegang buket bunga, dengan tudung menutupi wajahnya. Setelah mengucapkan janji suci, ia mengenakan cincin kawinnya. Para tamu di pesta itu berbisik-bisik sambil melirik aneh ke arahnya. Tak peduli, ia menjalani pernikahan itu seorang diri.
Mulai hari ini, ia adalah Nyonya Bima, istri pria terkaya di Kota Mutiara. Ironisnya, suaminya yang terhormat itu hanya bisa terbaring kaku di ranjang rumah sakit.
Pernikahan usai, dan ia segera dibawa ke istana megah suaminya.
Setibanya di sana, ia bertemu dengan asisten rumah tangga, Ibu Wati. Bu Wati mengantarnya ke kamar tidur suaminya, tempat Bima terbaring kaku tak bergerak di atas ranjang.
Bahkan dalam tidurnya, pria itu sangat tampan. Meskipun wajahnya pucat pasi, ia tetap seorang pria yang menawan. Jika saja Bima tidak dalam keadaan koma dan sekarat, Alya mungkin tidak akan pernah punya kesempatan menjadi istrinya.
Bima adalah pemimpin Bintang Abadi Group sebelum kecelakaan menimpanya. Dengan kekuasaan sebesar itu di tangannya, wanita mana pun di Kota Mutiara rela melakukan apa saja untuk menjadi kekasihnya. Tapi semua orang tahu, ia adalah pria yang kejam dan tanpa ampun. Siapa pun yang berani melawannya akan berakhir tragis. Alya tak pernah bermimpi akan berakhir menikahi Bima.
Saat ia menatap pria yang koma itu, pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Di ambang pintu, berdiri mantan kekasihnya, Rangga.
Ia bergegas menghampiri Alya dan mencengkeram pergelangan tangannya.
"Alya, maafkan aku! Aku diawasi dan tidak bisa menemuimu," bujuknya.
Alya pernah termakan oleh kata-katanya, tapi tidak lagi. Ia menyentakkan tangannya hingga terlepas. Dengan tatapan dingin, ia mencibir, "Rangga, aku sekarang istri pamanmu, Bima. Jaga bicaramu."
"Alya, jangan begini. Aku melakukan ini demi keselamatan dan kebahagiaanmu. Kalaupun kita kawin lari, kita tidak akan bisa hidup bahagia. Pengawalku akan mengejarku dan keluargaku tidak akan mau membantu kita."
Sambil bersedekap, Alya berkata, "Lanjutkan."
Rangga menyadari betapa sulitnya membaca pikiran wanita di hadapannya sekarang.
Ia menelan ludah dengan susah payah. "Bima koma dan tidak bisa melakukan apa-apa padamu. Karena kamu istri sahnya, saat dia meninggal nanti, kamu akan mewarisi seluruh kekayaannya." Ia meraih tangan Alya dengan nada penuh semangat, "Lalu semua miliknya akan menjadi milik kita. Kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Mendengar kata-katanya, Alya teringat perselingkuhan Rangga dengan Putri. Matanya menyipit, dan bibirnya membentuk seringai dingin.
