Bab 2 Saya Selesai!

Citra menatap betapa kejam perlakuan laki-laki itu terhadapnya, sangat kontras dengan kelembutannya saat melindungi Bella. Perlahan, seulas senyum tersungging di bibirnya—senyum yang dingin dan menyiratkan akhir dari segalanya.

Sesaat kemudian, dia mengangguk. "Oke, Rangga. Kalau memang ini maumu, silakan sama dia. Gue capek main drama kayak gini!"

"Ya udah, pergi aja sana! Nggak usah pakai rutinitas minta putus terus ujung-ujungnya ngemis minta balikan lagi. Menyedihkan banget tahu nggak!"

Kesabaran Rangga sudah mencapai batasnya, hingga ia akhirnya melontarkan apa yang sebenarnya ada di kepalanya. Sedikit pun ia tidak percaya Citra akan benar-benar meninggalkannya.

Citra menatap laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar.

Suasana di dalam ruangan VIP itu mendadak beku. Teman-teman mereka buru-buru berusaha mencairkan suasana: "Ngga, Citra tuh cuma ngomong karena lagi emosi aja. Dia terlalu cinta sama lo, mana mungkin beneran pergi."

"Iya, Ngga. Satu tongkrongan juga tahu kalau Citra nggak bisa hidup tanpa lo. Biarpun dia bilang putus pas lagi panas, paling lama tiga hari juga udah balik lagi."

"Tapi jujur aja, menurut gue kali ini lo kelewatan, Ngga."

Komentar itu datang dari Dimas, yang paling muda di sirkel mereka dan orang yang diam-diam mengirim pesan pada Citra tadi.

Wajah Rangga langsung mengeras. Teman-temannya yang lain cepat-cepat menengahi: "Ngawur lo, Dim. Lo tuh masih terlalu bocah buat ngerti seberapa bucinnya Citra ke Rangga. Gue taruhan, dua hari lagi juga dia udah nempel lagi di sebelah Rangga."

"Gue taruhan Maserati baru gue—tiga hari."

"Gue taruhan vila gue di Canggu—empat hari."

"Kalau gue, yacht pribadi gue taruhannya—paling lama seminggu."

Rangga melirik ke arah pintu yang belum tertutup rapat dan menyeringai remeh. "Buat apa taruhan? Dia pasti lagi di rumah nungguin gue. Malam ini gue nggak bakal pulang—biar dia mikir."

Di balik pintu, langkah Citra sempat terhenti, cukup lama untuk mendengar setiap kata yang terucap. Ia juga mendengar jelas ucapan Rangga.

Inikah laki-laki yang demi dirinya ia rela melepaskan bisnis keluarga, membuang hak warisnya, memutus hubungan dengan kerabatnya, membatalkan pertunangannya, dan menyinggung harga diri Keluarga Laksmana—laki-laki yang ia cintai tanpa syarat selama tujuh tahun terakhir?

Pada detik itu, rasa hampa yang tak berujung menjalar di hati Citra. Ia menarik gagang pintu dengan kasar hingga tertutup rapat, lalu melangkah pergi meninggalkan kelab malam tersebut.

Duduk di balik kemudi mobilnya, setelah terdiam beberapa saat, ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan: [Mbak Sari, omongan Mbak benar. Rangga nggak pantas dibela sampai aku harus ngorbanin segalanya. Aku nggak jadi nikah. Aku udah mutusin—aku mau pulang.]

Mbak Sari: [Dia nyakitin kamu?]

Citra tidak ingin kakaknya khawatir dan belum tahu harus membalas apa, saat satu pesan lagi masuk.

Mbak Sari: [Kalau memang itu keputusanmu, pulanglah. Mbak kasih waktu satu bulan buat beresin semua urusanmu di sana. Kalau dalam sebulan kamu belum balik, nggak usah panggil aku Mbak lagi.]

Citra: [Aku ngerti, Mbak.]

Ia melempar ponselnya ke dalam tas dan melajukan mobilnya pulang. Gaun pengantin putih yang belum sepenuhnya jadi itu masih tergeletak bisu di sofa ruang tamu. Gaun yang telah menyerap seluruh hati dan jiwa Citra ini sekarang tak ubahnya seorang pengamat berdarah dingin, yang diam-diam menyaksikan betapa kejamnya dunia, menertawakan semua kenangan manis mereka yang kini tak tersisa.

Gaun itu hanya butuh satu sentuhan terakhir untuk selesai. Persis seperti kisah cinta Citra dan Rangga—tinggal selangkah lagi menuju garis akhir.

Mata Citra perlahan berkaca-kaca. Namun tanpa ragu, ia meraih korek api dan membakar gaun tersebut hingga hangus.

Setelah itu, ia mulai membereskan barang-barangnya. Tiga tahun sudah ia tinggal di rumah ini bersama Rangga, dan hampir semua perabotan di sini mereka beli berdua. Karena sekarang ia sudah tak sudi lagi dengan pria itu, ia pun tak sudi menyimpan barang-barang ini.

Ia langsung menghubungi tiga pihak: layanan jasa kebersihan, agen penjual barang branded bekas, dan jasa ekspedisi. Citra rela membayar tarif lipat ganda untuk layanan kilat, sehingga meski hari sudah larut malam, orang-orang tetap datang ke rumahnya.

Hanya dalam waktu tiga jam, seluruh barang pribadinya sudah dikirim kembali ke kediaman keluarga Wibowo. Barang-barang mewah pemberian Rangga ia jual rugi dengan harga miring. Sementara itu, pakaian dan kebutuhan sehari-hari yang paling mendesak cukup ia masukkan ke dalam satu koper.

Citra menyeret kopernya turun ke lantai satu. Ia mengedarkan pandangan untuk yang terakhir kalinya ke sudut-sudut ruangan yang selama tiga tahun ini ia sebut sebagai rumah. Segala jejak keberadaannya di sana telah terhapus bersih. Sempurna.

Tanpa berlama-lama lagi, ia meletakkan kunci vila di atas meja dekat pintu masuk, lalu melangkah pergi menembus pekatnya malam tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.


Pukul lima pagi, Rangga pulang dengan langkah gontai. Ia mabuk berat dan harus dipapah oleh Alya. Mata Alya berbinar menatap taman yang asri, lalu beralih ke vila tiga lantai dengan ruang tamunya yang begitu megah. Akhirnya, ia berhasil menyingkirkan perempuan itu. Akhirnya, ia bisa bersama Rangga secara terang-terangan.

Memikirkan hal itu, pelukannya di lengan Rangga semakin erat. Dengan suara yang dibuat semanja mungkin, ia berbisik, "Mas Rangga, aku antar ke kamar atas buat istirahat, ya?"

"Kamu pulang aja sana." Rangga menepis tangan Alya dan berjalan sempoyongan menaiki tangga sendirian. Ia harus mencari Citra. Setelah semalaman berlalu, perempuan itu pasti sudah capek ngambek. Asal Citra mau minta maaf baik-baik, Rangga janji akan tetap bersikap manis padanya.

Dengan pikiran yang masih berkabut karena alkohol, ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan langsung tertidur pulas.

Saat ia terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Rangga terduduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Tangannya secara refleks meraba nakas di sebelah ranjang. Biasanya, setiap kali ia mabuk berat, Citra selalu sudah menyiapkan secangkir kopi hangat di sana.

Namun kali ini, tangannya tak menemukan apa-apa. Ia menoleh ke arah nakas—bukan cuma tak ada kopi, gelas air putihnya pun raib. Gelas itu adalah bagian dari set gelas couple yang sangat disayangi Citra.

Sekarang gelas itu hilang? Tunggu, bukan cuma gelasnya—ada banyak barang yang lenyap. Kamar tidur yang luas itu mendadak terasa begitu melompong ke mana pun matanya memandang.

Raut wajah Rangga langsung berubah keruh. Perempuan itu berani-beraninya tidak menunggunya pulang?

Wajahnya semakin masam. Namun tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara dentingan alat makan dari arah ruang makan di lantai bawah. Suaranya persis seperti saat Citra sedang menyiapkan sarapan setiap paginya.

Raut kaku di wajah Rangga seketika mencair, berganti dengan senyum penuh percaya diri. Ia sudah menduga—Citra tidak mungkin benar-benar pergi. Perempuan itu terlalu mencintainya. Lagipula, sebulan lagi mereka akan menikah. Citra sudah bertahun-tahun menantikan pernikahan ini—mana mungkin ia rela melepaskannya begitu saja?

Dengan langkah penuh kemenangan, Rangga berjalan keluar dari kamarnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya