Bab 6 Menjijikkan
Bima tidak mengambil pulpen itu. Ia menatap lekat senyum di wajah Citra. Bagaimana bisa perempuan itu berbicara padanya setenang ini? Apa dia benar-benar tidak marah?
Rasa kesal tiba-tiba menyelinap di dadanya. Berusaha menekan emosi itu, ia menoleh pada Bella, "Kamu boleh keluar."
"Baik, Pak." Bella menggigit bibir bawahnya dengan raut memelas, lalu melangkah gontai menuju pintu.
Citra menghentikannya. "Nggak perlu merasa bersalah begitu, Mbak Bella. Saya di sini cuma butuh tanda tangan—nggak akan menyita waktu kalian lama-lama. Tolong tunggu sebentar." Dengan cekatan, Citra membalik dokumen itu ke halaman tanda tangan. "Tanda tangan di sini, Pak Bima. Tolong agak cepat."
Bima masih bergeming, matanya tak lepas dari wajah Citra. Ia merendahkan suaranya. "Kamu marah, kan?"
"Tanda tangan dulu. Ini mendesak."
Dengan perasaan jengkel, Bima tak repot-repot membaca dokumen itu dan langsung membubuhkan tanda tangannya dengan cepat. Ia melempar pulpen itu ke atas meja. "Puas? Bella, keluar!"
"B-baik, Pak!" Bella bergegas keluar dari ruangan itu dengan langkah-langkah kecilnya yang terburu-buru.
Citra merapikan dokumennya dan bersiap pergi, tetapi Bima menghalangi jalannya. "Cit, kamu masih marah? Aku kan sudah bilang—Bella itu utusan dari rekan bisnis kita. Proyek ini penting banget. Nggak bisakah kamu mengerti sedikit saja?"
Lihatlah, begini kelakuan laki-laki kalau sudah tidak peduli—bahkan saat mencoba membujuk pun mereka tidak sabaran, dan malah memutarbalikkan fakta, menyalahkan si perempuan karena dianggap terlalu kekanak-kanakan.
Citra merasa ini sangat menggelikan. Bagaimana bisa selama ini dia buta dan tidak melihat bahwa Bima sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya? Citra mengangguk santai. "Jadi dia sebegitu pentingnya? Sampai-sampai proyek ini nggak bisa jalan tanpa dia? Dia pasti sangat berbakat sampai-sampai seorang Bima Wirawan rela menjajakan diri seperti ini."
"Citra, bisa nggak pikiranmu jangan sekotor itu?"
Bima kini benar-benar marah. Perempuan ini jelas-jelas tidak bisa melepaskannya—dia bahkan sampai datang ke kantor, dan Bima sudah memberinya jalan keluar, sudah bersedia membujuknya, jadi kenapa dia terus-terusan bikin ribut?
Kesabarannya yang tipis mulai habis. "Aku sudah bilang, Bella itu khusus dikirim oleh rekan bisnis kita. Apa aku harus menolak dan bikin mereka tersinggung? Lagipula, kalau laki-laki sudah berada di posisi tertentu, bukannya basa-basi seperti ini hal yang wajar?" Bima semakin terbawa emosi. "Aku kan sudah janji, nggak akan ada yang bisa mengancam posisimu sebagai Nyonya Wirawan. Sampai kapan kamu mau terus-terusan begini? Kamu nggak sadar kalau cemburumu itu menjijikkan?"
Kata terakhir itu menggantung di udara, membuat seluruh ruangan seketika hening.
Senyum di wajah Citra pun memudar. Ia bergumam pelan, "Pikiranku kotor? Aku menjijikkan?"
Bima akhirnya sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya dan langsung didera rasa sesal. Ia buru-buru menarik Citra ke dalam pelukannya untuk menjelaskan. "Maaf, aku nggak bermaksud begitu. Kamu yang memancing emosiku." Suaranya melembut, mencoba menenangkan—setidaknya menurutnya begitu. "Kita jangan berantem lagi, ya? Aku tahu kamu nggak akan sanggup ninggalin aku—kalau nggak, kamu nggak mungkin datang ke kantor hari ini. Tolong ngertiin aku dan jangan cari gara-gara lagi sama Bella. Sebulan lagi kita menikah, oke?"
Citra tidak menjawab. Ia mendorong tubuh pria itu dengan tenang. Tatapan matanya yang sedingin es membuat jantung Bima seakan berhenti berdetak.
Bima baru saja hendak membuka mulut lagi, tetapi Citra tiba-tiba tertawa—tawa yang terdengar begitu hampa dan dingin. "Bima, apa yang bikin kamu berpikir aku sebegitu mengemisnya untuk jadi Nyonya Wirawan?"
Apa laki-laki ini benar-benar sebegitu besar kepala? Kalau dia memang peduli pada status dan kedudukan, untuk apa selama ini dia mengorbankan segalanya demi merintis semuanya dari nol bersama Bima? Citra sudah muak berdebat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Tepat di belakangnya, terdengar suara asbak yang dilempar Bima hingga hancur menghantam tembok.
Di luar, semua mata tertuju pada mereka. Meski raut wajah Bella nyaris tak bisa menyembunyikan rasa puasnya, Tono dan dua sekretaris lainnya justru menatap Citra dengan cemas. Citra tersenyum pada mereka, lalu menatap tajam ke arah Bella dengan tatapan sedingin es.
"Pak Bima lagi marah tuh. Kesempatan bagus buat kamu cari muka—sana masuk, hibur dia."
"Bu Citra, Ibu salah paham..." Bella mencoba menjelaskan dengan nada memelas.
Citra malas meladeni. Ia meninggalkan lantai eksekutif itu dan kembali ke ruangannya sendiri. Sesampainya di sana, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, benar-benar kehabisan tenaga. Ia mengeluarkan dua dokumen yang baru saja ditandatangani. Satu berkas proyek yang tak seberapa penting. Satunya lagi adalah surat persetujuan pengalihan saham.
Ia berhasil mengelabui Bima untuk menandatanganinya.
Benar—semua kejadian hari ini sudah ia rencanakan matang-matang. Ia sengaja mempermalukan Bella di depan umum, memaksa perempuan itu lari sambil menangis mengadu pada Bima. Lalu, di saat Bima sedang kalut dan lengah, ia berhasil membuat pria itu menandatangani dokumen tersebut. Walaupun ia harus mengorbankan sebuah kalung dalam prosesnya. Biarlah. Pengorbanan yang sepadan. Ia sudah mendapatkan apa yang ia mau.
Sekarang, tak ada alasan lagi baginya untuk bertahan di sini.
Ia mengambil sebuah kardus dan mulai mengemasi barang-barang pribadinya. Maya berdiri tak jauh darinya dan bertanya ragu-ragu, "Bu Citra, Ibu mau pergi?"
"Iya."
"Apa Ibu... bakal balik lagi?"
"Ngapain balik lagi?" jawab Citra datar.
Maya terdiam. Saat Citra berbalik, ia melihat mata gadis itu sudah memerah. Citra tersenyum tipis. "Dasar cengeng. Saya cuma mau resign, bukan mau mati. Ngapain nangis segala?"
"Saya ikut Ibu."
Kata-kata itu meluncur tanpa ragu. Sedikit rasa hangat menjalar di dada Citra. Maya melanjutkan, "Kita semua mulai dari anak magang yang nggak tahu apa-apa, dan bisa sampai sejauh ini bareng Ibu. Kalau Ibu pergi, saya yakin banyak anak-anak yang rela ikut Bu Citra."
Citra memeluknya. "Saya tahu. Udah, kerja aja yang bener, nggak usah mikir macam-macam."
Akhirnya, di bawah tatapan seluruh karyawan, Citra melangkah keluar dari pintu utama. Ia menoleh sekali lagi ke arah gedung itu—kerajaan bisnis yang ia bangun dengan mengorbankan seluruh masa mudanya. Berjalan pergi hari ini entah kenapa terasa begitu menyedihkan.
Di ruangannya, Bima mendengar kabar kepergian Citra, dan raut wajahnya langsung mengeras menahan amarah. Ia sudah menurunkan gengsinya untuk membujuk perempuan itu, tapi Citra terus saja mencari gara-gara. Sekarang dia malah nekat angkat kaki dari perusahaan?
Bella yang sedang membersihkan pecahan asbak mencoba menenangkannya. "Pak Bima, saya udah reservasi meja di restoran baru yang lagi viral itu. Gimana kalau Bapak ajak Bu Citra makan malam ke sana buat baikan?"
Bima tertawa sinis. "Baikan? Terus ngedukung dramanya? Saya pengin lihat sejauh mana dia berani main-main."
Malam itu, Bima justru mengajak Bella pergi makan malam.
Bella kegirangan dan langsung update status di Facebook dengan foto hidangan mewah di atas meja: [Enak banget, seneng deh. Makasih ya Bos udah selalu mau ngajak aku ke mana-mana.]
Bima me-like postingan itu. Aksi pamer kemesraan yang terang-terangan ini sontak membuat teman-temannya kebingungan.
Aldi ikut berkomentar: [Ada apa nih, Bim? Udah go public?]
