Bab 2 Pagi Setelahnya

Alya melirik ke arah kamar mandi. Lampunya menyala, dan suara air mengalir menandakan Bima masih mandi. Di luar, ketukan Rangga yang tak kenal ampun memantul-mantul di daun pintu.

Pengkhianatan Rangga sudah menghapus sisa-sisa rasa yang sempat Alya punya. Ia menolak dijadikan alat permainan—dipelintir, dimanfaatkan sebagai umpan untuk fantasi murahan lelaki lain.

Tapi sekarang bukan waktunya ribut. Ia baru akan puas kalau ia sendiri yang menyusun kehancuran Rangga sampai tak bersisa di pergaulan elit Teluk Cemara. Saat ini, yang paling penting: kabur.

Gaunnya sudah tercabik oleh Bima. Ia tak mungkin keluar lewat pintu utama tanpa menabrak Rangga tepat di depan. Saat matanya menangkap jas Bima yang tergeletak di sofa, sebuah rencana langsung terbentuk.

Beberapa menit kemudian, sesosok tubuh ramping yang tenggelam di balik jas kebesaran menyelinap keluar lewat pintu kaca geser. Alya menaksir jaraknya, lalu pelan-pelan memanjat melewati pagar pembatas ke balkon sebelah. Begitu ia mendapati kamar di sebelah kosong, jantungnya yang sejak tadi balapan akhirnya mulai tenang.

Di belakangnya, ketukan itu mendadak berhenti. Takut ketahuan, Alya mempercepat langkah, pikirannya cuma satu: keluar dari sini.

Di koridor, Rangga membeku saat pintu akhirnya terbuka. Begitu melihat pria yang berdiri di sana, suaranya bergetar. “Bima?”

“Iya.” Jawaban Bima pendek. Hilangnya Alya tiba-tiba membuat nada bicaranya makin dingin. “Ada apa? Jangan bilang ini nggak penting.”

Rangga tergagap, “Aku… aku nyari pacarku.”

Sorot Bima menggelap. “Lo berharap gue bantu nyari pacar lo yang hilang? Lihat diri lo, nggak becus banget. Buat acara gala besok, mending lo cari sendiri dan bawa dia.”

“I-iya! Pasti!” Rangga mengangguk cepat. “Siap! Aku nggak ganggu lagi!”

Saat Rangga buru-buru pergi, Alya sudah lebih dulu sampai rumah.

Ia mandi, lalu ganti baju dengan gaun berkerah tinggi yang menutup bekas-bekas di kulitnya. Setelah itu, ia melempar jas Bima ke tong sampah luar.

Cuma kejadian singkat. Mereka tak akan berpapasan lagi.

Alya mengernyit, memikirkan cara membatalkan perjodohan antara keluarga Prasetyo dan keluarga Montara. Ia belum sempat menyusun rencana ketika kunci pintu depan berputar.

Rangga masuk dan mendapati Alya berdiri anggun. Gaun formalnya membingkai tubuhnya dengan sempurna. Dalam hati, Rangga memaki temannya yang memberinya kabar ngawur. Alya jelas ada di rumah, aman sentosa. Syukurlah tadi ia nggak nekat menerobos masuk ke kamar Bima.

Terbayang semalam ia habiskan dengan minum-minum dan bersenang-senang dengan perempuan bayaran tepat di hari ulang tahun Alya, rasa bersalah sempat menyambar sebentar.

“Alya, tadi malam macet parah,” kata Rangga, memasang wajah menyesal sambil melangkah mendekat untuk merangkul pinggangnya.

“Macet semalaman?” Astrid melangkah ke samping, sengaja menjaga jarak. Wajahnya dingin seperti es.

“Mana mungkin.” Oliver tetap memasang senyum, lalu mengeluarkan kotak beludru dari saku. “Aku ketahan buat ngambil hadiah kamu. Nih, lihat.”

Kotaknya dibuka. Di dalamnya terbaring kalung berlian merah muda yang berkilau.

“Aku tahu kamu suka berlian pink. Sini, aku bantuin pasang.”

Oliver maju setapak.

Sekejap, bayangan-bayangan menjijikkan dari ponselnya semalam menubruk benak Astrid. Tubuhnya menegang. Setiap inci Oliver mendekat, perutnya makin mual, seolah ada sesuatu yang berputar di dalam.

Tapi dia belum boleh membuat Oliver curiga. Dia harus menunggu momen yang tepat, lalu menghantamnya sampai mati sekali pukul.

Menelan jijik yang naik ke tenggorokan, Astrid mengambil kalung itu dengan lembut, lalu memasang tatapan manja yang mengandung peringatan.

“Lain kali kamu berani kelewatan ulang tahunku, siap-siap nyesel!”

Mengira Astrid cuma ngambek karena dia telat, Oliver mengembuskan napas lega. “Besok malam ada gala penting di rumah keluarga Montgomery. Ikut aku,” katanya, lalu mencondongkan badan, rakus menghirup aroma tubuhnya.

Astrid diam.

Selama tiga tahun, atas permintaan Oliver, hubungan mereka disembunyikan rapat-rapat. Apa dia akhirnya berniat mengenalkan Astrid ke keluarganya?

“Kamu beda hari ini,” bisik Oliver, terpukau. “Makin... bikin candu.”

Astrid memaksa tersenyum. “Aku kan udah sering bilang, minum itu nggak bagus. Kamu minum semalam?”

Oliver berdehem, pura-pura polos. “Nggak, lah.”

Dia meraih tangan Astrid, tapi Astrid menghindar mulus. Merasa Astrid sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya, Oliver sabar melanjutkan bujukannya.

“Udah, jangan marah. Di gala besok, aku bakal mengakui kamu secara resmi. Kamu kan dari dulu pengin semua orang di Teluk Cypress tahu kalau kamu perempuan aku, iya nggak?”

Kedengarannya seolah-olah jadi pacarnya itu semacam sedekah besar. Lucu.

Semakin muak dengan keberadaannya, Astrid hampir saja bilang dia nggak enak badan, ketika ponsel Oliver berdering. Oliver melirik layar, lalu buru-buru menuju pintu.

“Urusan mendesak. Besok aku kirimin mobil buat jemput kamu,” lemparnya singkat, sebelum menghilang.

Begitu sendirian, nyeri tajam di bawah perut membuat Astrid meringis. Dia cepat-cepat masuk kamar mandi dan memeriksa. Ada darah.

Mengumpat dalam hati atas kekasaran Silas, Astrid langsung menyetir ke rumah sakit.

Selesai diperiksa, dokter mengernyit melihat lembar hasilnya. “Anda harus lebih bisa mengendalikan aktivitas intim Anda.” Melihat Astrid datang sendirian, dokter menambahkan dengan nada tak suka, “Pacar Anda mana? Dia harus bisa menahan diri dan memikirkan kondisi Anda. Ini keterlaluan dan tidak bertanggung jawab.”

Untuk pertama kalinya, ketenangan Astrid terasa retak. Pipi dan telinganya panas.

“Itu... suami baru saya,” Astrid mengarang cepat. “Baru pertama kali... nanti kami lebih hati-hati.”

Ingin kabur dari ceramah memalukan itu, Astrid mendorong pintu poli dan bergegas keluar.

Karena terlalu terburu-buru, dia menabrak dada seseorang yang keras dan kokoh.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya