Melanggar Aturan
Aku memandang sekeliling area VIP, mengamati orang-orang yang bersenang-senang, termasuk teman-temanku, dan rasa bahagia yang tulus langsung mengembang di wajahku. Ini pertama kalinya aku bepergian bareng teman-teman dan benar-benar larut dalam euforia karnaval.
Saat dentuman musik dari panggung berjalan menggelegar, sebuah suara menembus kebisingan.
“Isadora!”
Suara Jennifer, sahabatku, paling jelas terdengar. Aku mendekat supaya bisa mendengarnya, dan dia mengangguk ke arah tertentu, memberi isyarat agar aku menoleh. Aku mengikuti arah pandangannya dan nyaris tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Professor Lucchese?!” Suaraku memantulkan keterkejutanku sendiri.
“Susah dipercaya, ya. Aku juga gitu, padahal lihat pakai mata sendiri,” Jennifer mengiyakan pikiranku.
Kami saling melempar senyum konyol, sama-sama terpaku pada situasi itu. Lucchese adalah salah satu dosen kami di kampus. Kelas Ekonomi jadi jauh lebih menarik sejak dia mengambil alih, dan aku tak pernah absen sekali pun. Pandanganku terus menempel pada pria di seberang area VIP itu, dan ada dorongan nakal dalam diriku untuk melakukan sesuatu.
Namun perhatian kami keburu buyar ketika teman-teman lain merapat, membagikan minuman dan menyeret kami kembali ke suasana pesta.
Kami semua kuliah di universitas yang sama. Tahun ini, kami memutuskan merasakan karnaval Salvador bareng-bareng—aku, Jennifer sahabatku, Benny, dan Johnny. Ini hari pertama perayaan, dan kami dibuat melambung oleh energi yang menular dari keramaian.
Aku menoleh lagi ke arah dosen itu—dan tatapanku bertemu dengan mata hijau Lucchese yang terkunci tepat padaku. Dia selalu tersenyum dengan cara yang membuat bagian dalam diriku seperti diguncang, sampai-sampai kakiku terasa lemas. Rasanya tidak nyata melihat sosok dosen yang serius dan rapi di kampus ada di sini, di tengah karnaval Salvador.
Sambil menari dan tertawa dengan teman-teman, aku terus meliriknya, berusaha mempertahankan kontak mata dan menyampaikan ketertarikan yang kupendam. Setiap kali mata kami bertemu, gelombang perasaan baru menyapu dadaku—campuran gugup dan berdebar yang memabukkan. Aku paham betul artinya, tapi mengumpulkan nyali untuk mewujudkannya adalah tantangan lain sama sekali.
Lucchese laki-laki yang membuat napas mudah tersangkut, dan aku takut dia menyadari betapa tatapannya mengacak-acakku. Selain tinggi dan tegap, senyumnya bisa membuat perempuan mana pun jatuh—apalagi aku, yang tiap kelas hampir seperti… memandangi dia tanpa malu.
Kulitnya kecokelatan, matanya hijau, rambutnya hitam—kombinasi yang sanggup membuat perempuan mana pun meleleh; terutama aku, yang sering kesulitan fokus saat dia mengajar. Sementara dia tampak santai menikmati suasana, segelas minuman di tangan, aku justru dipenuhi pikiran-pikiran berdosa, tak sanggup mengalihkan mata dari sosok yang terasa seperti hasil pahatan paling sempurna.
Setelah menimbang peluangku, aku memutuskan: kalau tak dicoba, tak akan tahu. Ini bukan kampus. Di sini, dia bukan dosenku, dan aku bukan mahasiswinya. Aku tahu aku cantik, dan meski aku mungkin tidak terlalu berpengalaman dalam urusan menggoda, aku tahu bagaimana memanfaatkan pesonaku. Aku mulai mengunci mata dengan dosenku setiap ada kesempatan, mencoba mengirim pesan bahwa aku sangat tertarik mengenalnya lebih dekat—jauh lebih dekat.
Aku sempat mengalihkan pandangan dari dosen itu—yang sejauh ini belum melakukan apa pun untuk mendorongku—dan baru sadar Jennifer sedang berciuman dengan Johnny. Kami semua bersandar di pagar depan area VIP, dan mereka seperti tak peduli jadi tontonan: ciuman panas, lidah saling mencari, tangan Johnny bergerak liar menyusuri tubuh Jennifer.
Kami sudah hampir dua tahun kuliah bareng, dan sebelumnya mereka tak pernah menunjukkan ketertarikan satu sama lain. Rupanya itu berubah, dan sekarang akulah yang bakal jadi orang aneh sendirian—apalagi Benny juga sedang terbawa suasana romantis dengan seorang gadis yang berdiri tepat di sebelahku.
Aku mencari Professor Lucchese lagi, menyapu kerumunan dengan mata, tapi kali ini aku tak menemukannya. Aku menoleh ke segala arah, menahan rasa tidak enak yang mengendap—takut kalau dia juga sudah menemukan seseorang untuk menghabiskan malam ini.
Semangatku menyambut hari pertama karnaval yang tadi meledak-ledak perlahan mengendur, ketika tiba-tiba ada seseorang memelukku dari belakang. Seketika tubuhku menegang. Meski aku sempat menenggak beberapa gelas, aku bukan tipe yang membiarkan sembarang orang melekat sedekat ini—apalagi dengan cara seperti itu.
Aku berusaha menoleh untuk melihat siapa pria yang memelukku begitu intim, tapi sebelum sempat bergerak, aroma yang menyelimuti tubuhku lebih dulu menyalakan harapan. Wangi yang sama—wangi yang selalu dipakai Profesor Lucchese. Jantungku berdegup kencang, namun aku masih belum bisa memastikan, karena ia menahan kepalaku dengan lembut, mencegahku menoleh dan menatapnya.
Aku sempat terpikir untuk melepaskan diri, tapi kemudian ia merapat, bibirnya menyentuh pinggir telingaku seolah hendak berbisik. Sensasi mulutnya yang sekilas menyapu cuping telingaku mengirimkan gelombang merinding ke seluruh tubuhku.
“Lagi menikmati pestanya?” tanyanya.
Tak mungkin salah. Suara itu—dalam, menggoda, dan selalu mengusik sesuatu dalam diriku setiap kali ia berbicara di ruang kuliah.
“Lucchese?” helaku, antusiasme nyaris tumpah.
“Memangnya siapa lagi?”
Aku hampir tak percaya ketika ia mulai menanamkan ciuman-ciuman lembut di leherku sebelum aku sempat pulih dari kaget. Tapi rasa yang menjalari tubuhku segera mengambil alih, dan aku menyerah. Ciumannya berubah menjadi gigitan kecil yang halus di cuping telingaku, membuatku sepenuhnya berada dalam cengkeraman hasrat.
Seberapa pun seringnya aku membayangkan adegan seperti ini, tetap saja sulit menyatukan sosok pria penuh gairah yang sedang menciummu dengan nakal di tengah pesta karnaval, dengan Profesor Lucchese di kampus yang serius dan menuntut itu. Namun ia ada di sini, membuatku kehilangan kendali, dan aku sama sekali tak berniat menghentikannya.
“Aku sudah nggak bisa nolak kamu lagi,” gumamnya, bibirnya tak pernah lepas dari kulitku.
Ciumannya makin panas, bergantian dengan gigitan dan sentuhan kecil yang membuatku bertanya-tanya apa aku sedang bermimpi. Rasanya terlalu nikmat untuk jadi kenyataan. Meski begitu, aku membiarkan diriku hanyut, membiarkan sensasi itu melumatku sampai habis.
Walau sejak pertama kali melihatnya di area VIP aku sudah berkali-kali bertatapan dengannya, aku tak sungguh-sungguh percaya aku punya peluang dengan profesor paling tampan—dan paling galak—di kampus. Ternyata aku salah besar.
“Aku masih nggak percaya ini beneran terjadi,” aku mengaku, tak mampu menahan diri.
“Gimana kalau kita nikmati aja momen ini, dan lupain semua alasan kenapa kita seharusnya nggak ngelakuin ini?” usulnya, senyum yang begitu memikat terukir di wajah tampannya.
Masuk akal. Aku mahasiswinya, dan usianya dua kali lipat dariku. Tapi malam ini, semua itu terasa tak berarti. Aku tak akan membiarkan apa pun menghalangiku menikmati malam ini bersamanya.
“Kalau begitu,” godaku, menarik diri sedikit lalu mengulurkan tangan seolah sedang perkenalan resmi, “kayaknya kita belum diperkenalkan dengan benar… Aku Isadora.”
“Dan aku Matteo,” jawabnya, ikut bermain. “Senang bertemu denganmu, Isadora.”
Baru saja kalimat itu keluar, ia menarikku kembali ke dalam pelukannya dan merengkuh bibirku dalam ciuman yang membakar.
“Aku mau lagi,” kataku, masih merasa kurang dan terus menginginkannya.
Momen-momen curian di tengah kerumunan itu tak cukup untuk memadamkan hasratku pada profesorku. Aku butuh jauh lebih banyak.
“Aku mau habiskan malam ini sama kamu. Aku janji, kamu nggak bakal nyesel nunggu,” bisik Matteo di telingaku, napas hangatnya mengirimkan getar merinding di sepanjang tulang punggungku.
“Aku nggak ragu,” jawabku, jantungku berlari kencang ketika ia menggandengku ke lantai dansa.
Tubuh kami bergerak serasi, tangan kami menelusuri lekuk satu sama lain seolah sedang menghafal setiap garis.
Semakin larut, musik makin bising, dan tarian kami kian lepas. Matteo dan aku pun tak terkecuali—semua ragu dan batasan luruh saat kami bergerak bersama. Ini sisi dirinya yang tak pernah kulihat di kelas: santai, ringan, dan begitu hidup.
Di satu momen, Matteo merapat, bibirnya menyapu telingaku.
“Kamu gimana kalau ikut ke apartemenku?” tanyanya, suaranya serak menggoda, membuatku kelu tak bisa menjawab.
