BAB 4: KONTRAK PERKAWINAN

Celine

“Aku bakal bayar apa pun yang dia utang, dan kalian lepasin cewek itu ke aku,” ulangnya, fokusnya kembali ke pemimpin mereka, sementara aku dibuat bengong setengah mati. “Bos kalian, Edwardo, teman baik. Aku yakin dia nggak keberatan.”

Anak buah itu saling pandang dengan tegang, bahu mereka tetap kaku, tapi si pemimpin seolah punya rencana lain. “Saya nggak tahu ya, Mr. Gray.” Bibirnya mengerucut pura-pura menimbang, mata berkilat seperti menyimpan syarat yang tak diucapkan. “Pembeli kami dari Cina bakal nawar jauh lebih tinggi dari €170.000 untuk—”

“€400.000,” potong Antonio, membuatnya bungkam.

“Apa?” bisikku dengan mata membelalak, gelombang kaget menjalar ke sekujur tubuh.

Senyum puas perlahan merekah di bibir si pemimpin, kemenangan jelas menyala di matanya. Di sampingnya, aku menangkap seringai oportunis di wajah Armando, matanya nyaris berkilau. Bahkan di situasi begini pun dia masih nggak bisa menyembunyikan kerakusannya.

“Kalau begitu, deal, signore,” kata si pemimpin, nyengir lebar.

Antonio memberi isyarat singkat pada salah satu pengawalnya. Seorang pria tinggi melangkah maju. Antonio membisikkan sesuatu dan pria itu keluar dari gedung, kembali beberapa menit kemudian membawa dua koper.

Begitu koper itu sampai di tangan Antonio, dia menyerahkannya pada si pemimpin. Si pemimpin membuka salah satunya—senyum makin lebar saat menatap tumpukan lembaran uang yang mengilap. Tanpa buang waktu, dia mengangguk memberi sinyal. Para anak buah langsung melepaskan cengkeraman mereka dariku. Setelah itu mereka beringsut keluar, meninggalkan aku, Armando, Mr. Gray, dan pasukan pengawalannya.

Aku mengembuskan napas panjang, lega karena semua ini tidak berakhir jadi mandi darah. Kalau cerita tentang Antonio Gray yang pernah kudengar itu benar, ada banyak sekali cara situasi ini bisa berakhir buruk.

Dengan ragu, aku melangkah mendekat ke Antonio, tetap menjaga jarak aman. Aku tak paham kenapa dia memutuskan menolong, atau bagaimana dia bisa muncul di sini, tapi dia sudah menyelamatkan nyawaku dan aku bersyukur. Mungkin—mungkin saja—media sedikit berlebihan soal dirinya. Mereka memang hobi membesar-besarkan.

“Mr. Gray,” ucapku hati-hati, menelan rasa takutku. “Grazie. Aku nggak tahu gimana caranya berterima kasih untuk…” Aku berhenti, dada sesak oleh rasa campur aduk. “Gimana aku bisa membalas kebaikan Anda?”

“Kebaikan?” Dia mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit, mengejek. “Siapa bilang ini gratis?”

Bingung, pandanganku gelisah berputar dari dia ke Armando. Armando cuma mengangkat bahu, sama sekali tidak terlihat terganggu.

“Matteo,” panggil Antonio. Pria tinggi yang tadi maju. “Kawal mereka,” perintahnya, sudah berbalik ke arah pintu keluar.

“Tunggu, apa?!” seruku, jantung seperti meloncat ke tenggorokan.

Matteo bersama dua pria lain mendekat. Dua orang langsung mencengkeram lengan Armando, sementara si pria tinggi berdiri di belakangku. Dia tidak menarikku, tidak menyentuhku—hanya mengulurkan tangan, memberi tanda agar aku berjalan. Dan yang lebih mengejutkan, Armando tidak berusaha melawan. Dia menyerah begitu saja, seperti paham lebih baik untuk tidak cari mati, membiarkan mereka menyeretnya.

“Jangan begini,” pintaku, mataku membesar panik, sementara aku ikut bergerak karena tak punya pilihan selain menuruti. “Setidaknya bilang kalian mau bawa kami ke mana.”


Aku duduk kaku, alis mengernyit penuh tak percaya dan syok, menatap dokumen di depanku seolah-olah tulisan itu akan berubah kalau kutatap lebih lama. Aku berusaha memahami sesuatu yang otakku menolak terima.

Kami sekarang ada di ruang kerja Antonio di Gray Villa yang mewah. Aku dan Armando duduk di depan meja kayu mahoni yang mengilap, sementara Antonio duduk berseberangan, mengisap rokok di sela jari.

Aku praktis dipaksa—tidak, diculik—ke sini; semua pertanyaan dan perlawanan tak ada artinya.

“Apa ini?” akhirnya suaraku keluar, kepalaku terangkat pelan menantang tatapan dingin Antonio.

Dia menghembuskan asap, lalu mematikan puntung rokok di asbak. “Jelas-jelas ditulis dalam bahasa Inggris,” katanya dengan kerutan tajam di wajah. “Kamu perlu penerjemah biar lebih paham?”

“Aku paham kok,” balasku ketus. “Aku nggak buta. Juga nggak bodoh. Yang mau kutahu, kenapa Anda ngasih aku kontrak pernikahan.”

“Simpel,” jawab Antonio. “Kamu jaminan sampai kakakmu melunasi setiap sen yang dia utang ke aku.”

Aku tertawa pendek, tak percaya. “Ini pasti lelucon sakit.”

“Udah, tanda tangan aja surat sialan itu, Celine,” sela Armando, jelas-jelas kesabarannya habis. “Nggak susah.”

“Kamu masih punya muka ngomong begitu setelah nyoba ngejual adik kamu sendiri?” semburku, wajahku menegang menahan amarah.

“Ya ujung-ujungnya semua jadi yang terbaik. Kamu sekarang aman, kan?!” bentaknya.

Aku mendengus, mataku menyipit. “Keterlaluan. Kamu pikir aku gila bakal setuju sama pengaturan konyol ini. Aku nggak mau nikah sama orang asing cuma jadi jaminan utang kamu. Aku muak kalian lempar-lempar aku kayak barang!” suaraku meledak, dadaku penuh sesak. “Mampus aja kamu, Armando! Ini ulah kamu. Aku nggak mau ikut tenggelam!”

“Cukup.” Antonio menyela, suaranya rendah, berat, dan seketika membuat kami diam. Tatapannya menahan tatapanku yang membara, nadanya dingin. “Kamu sudah keburu terseret.” Ia mengeras. “Aku bayar untuk nyawamu. Urusan keluargamu aku nggak peduli. Aku pebisnis, bukan orang suci.”

“Kamu yang maju sendiri dan nawarin bantuan!” aku memotong, kegilaan situasi ini bikin kepalaku mau pecah. “Lagipula dia yang bikin semua berantakan. Kenapa aku yang harus menanggungnya dengan nikah sama kamu?”

Antonio berdiri pelan dari kursinya, mata kelam. “Anggap aja ini caraku memastikan kalian berdua nggak bisa kabur tanpa bayar.”

“Kamu buang-buang waktu,” kataku, suaraku sedikit bergetar. “Semua ini,” aku mengangkat dokumen itu, “kontrak nikah ini,” lalu kubanting kembali ke meja. “Nggak akan jadi apa-apa. Lihat aja dia.” Aku menunjuk Armando, mataku menyala penuh jijik. “Penipu. Pecandu nggak guna. Ini orang yang kamu mau aku titipin hidupku? Dia nggak bakal bisa balikin empat ratus ribu euro seumur hidupnya yang menyedihkan itu.”

“Diam, Celine!” Armando menggeram.

“Sekalian aja serahin aku ke preman-preman itu,” lanjutku, penglihatanku mulai kabur oleh air mata. “Aku mending mati daripada ngejalanin kegilaan ini.”

“Itu bukan ide yang buruk,” kata Antonio—dan sebelum otakku sempat mencerna, ia sudah mengeluarkan pistol, mengarahkannya ke kami.

Napas refleks tertahan di tenggorokan, jantungku menghantam dada. Tangan Armando langsung terangkat, matanya membelalak ketakutan yang nyaris konyol. Tapi aku tetap menatap Antonio, menolak berkedip meski rasa takut seperti mencekik.

“Kita coba sekali lagi, ya?” ujar Antonio, jarinya menonaktifkan pengaman dengan bunyi klik tajam. “Siapa yang mau tanda tangan duluan?”

Armando buru-buru membungkuk, menyambar pulpen di meja, mencoretkan tanda tangannya di kolom bertuliskan ‘debtor’. Lalu dia meraih tanganku, memaksa pulpen ke bagian namaku. Aku menarik tanganku keras-keras sampai lepas, meninggalkan noda tinta kecil di kertas.

Dengan gigi terkatup, aku menatap Antonio garang, bibirku bergetar saat menahan tangis. Menyadari aku tak punya jalan keluar, aku mengambil pulpen itu dan menunduk. Tanganku gemetar ketika perlahan menuliskan tanda tanganku. Semua air mata yang kutahan akhirnya tumpah, meninggalkan bercak basah di halaman.

Setelah terasa seperti selamanya, aku meletakkan pulpen. Antonio meraih dokumennya, lalu menyelipkan pistol kembali ke dalam jasnya.

“Kontrak nikah ini berlaku sampai setiap sen dibayar,” katanya sambil membubuhkan tanda tangannya sendiri. “Begitu utang lunas, pernikahan kita otomatis dibatalkan.” Ia menyelusupkan tangan ke saku, mengeluarkan kotak merah, memperlihatkan dua cincin. Ia mengambil satu, menyelipkannya ke jari tengahnya, lalu melemparkan yang satunya ke hadapanku. “Sampai saat itu, secara hukum kamu istriku.”

Setelah itu ia membawa kontrak tersebut dan berdiri, melangkah menuju pintu keluar. Armando ikut pergi, sempat melirikku sekali lagi tanpa sesal sebelum lenyap dari pandangan.

Kakiku lemas, membuatku jatuh perlahan ke lantai. Aku menjerit marah dan mencengkeram dadaku erat-erat, tubuhku gemetar tak terkendali saat tangis berat meledak begitu saja, membuatku terengah mencari udara.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya