Prolog Bagian I

Alya terbangun tersentak dan langsung memegangi dadanya saat suara keras perabotan yang terbanting memaksanya duduk tegak.

Teriakan dari ruangan sebelah dibarengi dengan suara baku hantam, membuatnya buru-buru merangkak turun dari ranjang. Sambil mengais-ngais pakaian dan mantel panjang yang ia kenakan saat datang ke kamar hotel ini, ia menyadari bahwa pakaiannya kembali membalut tubuhnya jauh lebih cepat ketimbang saat pria yang bersamanya semalam melucutinya.

Suara seorang pria yang memohon agar tidak dibunuh membuat bulu kuduknya berdiri. Sambil melihat sekeliling dengan panik, dia tahu hanya ada satu pintu dari kamar tidur menuju pintu utama hotel. Namun, saat menatap pintu kaca geser yang mengarah ke luar, dia menimbang-nimbang apakah balkon itu terhubung dengan ruangan lain yang ia lewati semalam.

Sambil menyambar ponsel, tas tangan, dan sepatunya, dia berjinjit pelan ke balkon, lalu tersentak kaget ketika suara tembakan dari pistol berperedam terdengar jelas. Dia sangat mengenali suara letupan itu, seyakin nama belakangnya adalah Maharani.

"Sial, sial, sial, Alya bodoh!" rintihnya pada diri sendiri saat melangkah ke teras. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, dan pemandangannya pasti akan sangat memukau andai saja dia tidak baru saja mendengar seseorang dibunuh di kamar sebelah. "Tolong, jangan sampai mereka anak buah Ayah."

Dengan putus asa, dia mencondongkan tubuh ke luar balkon, menyadari betapa tingginya kamar tempatnya berada, dan merutuki dirinya sendiri dalam hati karena ketiduran. Berbalik untuk beringsut menyusuri dinding beton balkon yang dingin, dia mengintip melalui celah tirai ke dalam ruangan. Di sana, ia melihat pria yang menghabiskan malam bersamanya sedang melepas peredam dari pistol di tangannya, menatap tajam ke arah mayat yang terkapar di lantai.

Dia sama sekali tidak mengenali pria itu. Dan saat dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, dia harus mengakui bahwa tiga pria lain yang sedang berlutut di depan kekasih semalamnya, serta dua pria berbadan besar yang berdiri menjulang mengawasi mereka, juga tidak ia kenal. Bukan berarti dia mengenal semua anak buah ayahnya, tetapi jika ada yang datang untuk menyeretnya pulang, ayahnya pasti akan mengirim orang yang ia kenal.

Itu artinya, dia sedang berada di kamar hotel bersama seorang pria yang baru saja melakukan pembunuhan beberapa menit lalu. Dia adalah saksi mata. Jika ayahnya tahu, pria tua itu pasti akan memerintahkan pembantaian bersih terhadap seluruh kelompok ini. Belum tentu juga dia masih hidup untuk menyaksikannya jika ayahnya tahu apa yang telah ia lakukan sebelum melarikan diri. Atau yang lebih parah, bagaimana jika pria di kamar sebelah itu memutuskan untuk melenyapkan saksi mata yang baru saja ditidurinya semalam?

Dia melihat sekeliling lagi dan meringis saat menatap ke atas. Mereka berada di penthouse. Pria yang telah membeli keperawanannya seharga lima belas miliar Rupiah semalam itu benar-benar hidup bergelimang harta. Alya menjatuhkan mantelnya, menyadari bahwa jika dia harus memanjat ke atap balkon dan mencoba mencapai atap hotel, dia tidak akan bisa melakukannya dengan pakaian panjang yang ribet. Kemudian matanya kembali menatap jurang di bawah sana, dan dia tahu, tidak ada jalan keluar dari balkon ini.

Dia harus mencari cara lain. Dia ini cuma kutu buku, bukan atlet. Memanjat turun dari balkon gedung tinggi ini sama saja dengan cari mati. Lagipula, dia tidak dengan nekat menentang ayah dan kakeknya—menyerahkan keperawanannya pada pria asing alih-alih pada laki-laki yang dijodohkan dengannya sejak remaja—hanya untuk mati konyol jatuh dari gedung.

"Hebat banget lo, Alya," rutuknya pelan. "Bisa-bisanya lo berhasil kabur dari cengkeraman keluarga Martadinata, tapi malah bodohnya berakhir di ranjang seorang pembunuh. Sialan."

Ia menendang sebuah kursi, lalu meringis ngeri saat kaki besi kursi itu bergesekan dengan lantai beton balkon dan membentur pintu kaca.

Ketika pintu kaca itu bergeser terbuka dan kekasih satu malamnya melongokkan kepala ke luar, Alya refleks meringkuk di kursi yang lain. Bima itu tampan bukan main, sekaligus bertubuh sangat raksasa. Tingginya nyaris dua meter dengan bahu selebar atlet binaraga, dan telapak kakinya dua kali lipat lebih panjang dari kaki Alya. Tubuhnya menegang saat teringat bagian tubuh pria itu yang juga berukuran raksasa, dan ia pun bergidik. Kalau saja saat ini dia tidak sedang ketakutan setengah mati, dia pasti sudah membuka kedua pahanya lebar-lebar layaknya Nabi Musa membelah lautan.

"Ngapain kamu di luar sini?"

"Lagi lihat matahari terbit," Alya membalas tatapan pria itu dengan takut-takut, menelan bulat-bulat kengerian yang menggelegak bagai adonan ragi di dalam perutnya. "Tadinya aku mau pulang, tapi sepertinya kamu lagi ada tamu." Kedua tangannya tampak jelas gemetar.

"Aya," Bima menyebut nama samaran perempuan itu dengan lembut. Ia melangkah maju dan berlutut di hadapannya, tangannya menyeka ikal rambut gelap dari dahi Alya sebelum menggenggam jemarinya. "Harusnya kamu masih tidur. Apa semalam aku kurang bikin kamu kelelahan?"

Alya menggeleng, tak sanggup menatap mata pria itu. "Itu, eum... tadi ada suara orang teriak-teriak. Aku nggak suka keributan, jadi aku keluar ke sini sampai teriakannya berhenti."

"Kamu ngintip dari jendela?" Bima menunjuk ke arah pintu tempatnya baru saja keluar.

"Nggak. Aku langsung keluar waktu teriakannya makin kencang, dan cuma duduk di sini." Alya menumpukan dagu di atas lututnya, berdoa dalam hati semoga pria itu memercayai alasannya.

"Pintar," Bima mencondongkan tubuh dan mengecup dahi Alya. "Aku masih pengin banget kita bisa ketemu lagi, tapi aku nggak bisa ngelakuin itu kalau kamu mulai ikut campur urusan yang bukan tempatmu."

"Aku ngerti, Bima," bisiknya seraya menggigit bibir.

"Sumpah, kamu cantik banget," bisik Bima seraya mencondongkan tubuh lebih dekat, mengusap pipi Alya. Matanya yang berwarna cokelat madu nan hangat dengan bintik-bintik keemasan menatap lurus ke mata Alya, seolah pria itu sedang menembus langsung ke dalam jiwanya.

Bau mesiu menguar dari jemari pria itu, membuat jantung Alya berdebar kencang karena panik. Namun, ia berpura-pura tidak tahu apa-apa dan memejamkan mata saat bibir Bima menempel pada bibirnya.

Bab Selanjutnya