Dipecat? Bagian I
Alya bergegas menyiapkan meja kerja itu. Ia memasang dua monitor sekaligus, keyboard ergonomis, laptop mutakhir dengan segala kelengkapannya—mulai dari printer, speaker, hingga pernak-pernik canggih lainnya.
Semakin lama bekerja, semakin kuat keinginannya untuk resign. Tiga tahun bertahan di perusahaan ini rasanya sudah terlalu lama. Seharusnya, sejak perusahaan ini berpindah tangan, ia sudah mencari pekerjaan di tempat lain. Masa bodoh dengan rumor yang bilang CEO baru mereka menetap di Italia dan akan memimpin dari sana. Selama ini, Alya terlalu naif, mengira ia bisa berlindung dengan aman tepat di bawah hidung musuh.
Suara ketukan sepatu hak tinggi di atas lantai granit yang mengarah kepadanya membuat Alya meringis. Samar-samar, ia mendengar Bima mengumpat tertahan, "Mampus gue." Alya melongok ke arah pintu ruang CEO yang terbuka, tempat pria bertubuh raksasa itu sedang bekerja. Ia bisa melihat Bima bergidik ngeri mendengar langkah wanita itu mendekat, bahkan sebelum sosoknya terlihat.
Wanita itu menggerutu dalam bahasa Italia, merutuki betapa leletnya staf di sini dan betapa tidak berbudayanya orang-orang Jakarta. Celotehan itu membuat kepala Alya berdenyut nyeri. Ia harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak keceplosan dan membongkar fakta bahwa ia sangat fasih berbahasa Italia. Alih-alih merespons, Alya tetap menunduk dan sibuk mengurai gulungan kabel yang panjang. Ia pikir, kalau ia tidak meladeni wanita itu, mungkin ia akan dibiarkan bekerja dengan tenang. Sayangnya, harapan itu langsung pupus.
"Pastikan kabel-kabel itu nggak berserakan. Saya nggak mau tersandung." Suara melengking wanita itu membuat bulu kuduk Alya meremang.
"Baik, Nyonya," angguknya, sama sekali tidak mendongak untuk menatap mata wanita itu. Ia mengangkat sebuah klip penjepit yang akan menyembunyikan dan menahan kabel-kabel itu di bawah meja. "Ini akan menahan kabelnya biar nggak menghalangi jalan Anda."
"Ugh, berapa lama lagi kamu selesai?"
"Sekitar tiga puluh menit lagi. Paling lama empat puluh."
"Nggak bisa. Saya mau semuanya selesai dalam lima belas menit."
Alya melirik Bima di meja seberang. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena frustrasi. Alya merasakan firasat buruk yang sama saat mendengar nada bicara wanita itu, dan ia tahu wanita ini tidak akan menyukai jawabannya. "Maaf, tapi itu mustahil."
"Pokoknya harus bisa."
"Dan kalau saya nggak bisa?"
"Kalau begitu, kamu dipecat."
Kali ini, tatapan yang dilemparkan Alya membuat Bima langsung tegak dari kursinya dan bersiap menghampirinya. Alya tahu Bima pasti menyadari kilatan di matanya. Wanita angkuh ini baru saja memberinya 'kartu bebas penjara', dan seumur hidupnya, Alya belum pernah kalah main Monopoli. Ia akan mengambil kartu itu dan memanfaatkannya untuk angkat kaki dari sini.
"Jangan, jangan, Al, biar gue bantu." Bima bergerak jauh lebih gesit dari yang seharusnya bisa dilakukan pria sebesar dirinya. Ia meninggalkan meja yang sedang dikerjakannya dan bergegas menghampiri Alya.
"Kamu nggak boleh bantu dia. Kamu harus selesaikan meja Pak Lozano. Beliau sudah harus masuk ke ruangannya dari beberapa jam yang lalu. Gara-gara kalian, beliau terpaksa kerja di meja yang nggak nyaman."
Logat kebarat-baratannya sangat kental, dan Alya yakin perempuan itu sengaja melebih-lebihkannya karena dia tahu Alya juga bisa melakukan hal yang sama persis kalau mau. Padahal, meski sehari-hari gaya bicara Alya sangat lokal bak warga asli Jakarta, kalau dia sedang berada di Eropa sekarang, dia pasti sudah membaur dengan keluarga besarnya seolah tak pernah menetap di sini. Perempuan itu hanya berusaha bersikap seolah dia lebih hebat dari mereka semua hanya karena darah campurannya. Hal itu malah membuat Alya semakin muak dan ingin segera pergi. Dasar perempuan munafik.
"Waktumu cuma lima belas menit, atau kamu saya pecat." Perempuan itu menatapnya tajam.
Alya bangkit dari meja, mengabaikan erangan Bima, lalu menjatuhkan gulungan kabel di tangannya. "Anda tidak perlu memecat saya. Saya resign. Bye, Nenek Sihir." Alya membungkuk hormat dengan gaya mengejek, lalu menoleh pada Bima dengan seringai puas. "Tolong panggilkan satpam untuk menemuiku di loker, karena sudah jadi protokol perusahaan untuk mengawal semua karyawan yang dipecat atau resign sampai keluar gedung." Rasanya Alya ingin melompat-lompat kegirangan menuju lokernya.
"Jangan, Al, lo nggak boleh resign!" Bima bergegas mengejarnya.
Perempuan tadi mengerjap tak percaya, seolah dia berharap Alya akan berdebat dan memohon-mohon demi mempertahankan pekerjaannya. Apa perempuan itu benar-benar mengira Alya akan mengemis? Yang benar saja. Dia ini seorang Maharani. Keluarga Maharani tidak pernah mengemis. Dia mungkin bukan tuan putri kesayangan ayahnya, tapi nama belakang di akta kelahirannya sudah mendarah daging dalam DNA-nya. Harga dirinya mengalir di dalam nadi, lebih kental dari sifat apa pun yang dia miliki.
Kebetulan Kevin baru saja keluar dari ruang rapat saat Alya menekan tombol lift. "Bim, kalian berdua mau ke mana? Pemasangan komputernya pasti belum selesai, kan?"
"Si ratu es di sana itu memecat Alya cuma gara-gara Alya bilang butuh waktu tiga puluh sampai empat puluh menit untuk menyelesaikan pemasangan di meja. Ini gue lagi berusaha memohon supaya dia nggak pergi. Gisela minta semuanya beres dalam lima belas menit, dan itu mustahil. Lagipula, pemasangan perangkat kerasnya memang bisa selesai dalam tiga puluh atau empat puluh menit, tapi setelah itu gue harus masuk ke sistem komputernya dan mengatur semuanya sesuai standar perusahaan. Kalau saja laptop mereka tidak hancur, kita nggak bakal ada di situasi begini. Tapi Pak Lazuardi sudah menegaskan kalau komputer pribadinya tidak boleh dipakai untuk urusan bisnis, dan laptop yang dia bawa dari luar negeri hancur dalam kecelakaan mobil siang tadi." Bima bergumam pelan soal bekas tembakan di laptop itu, yang seketika membuat punggung Alya menegang. "Kita sedang memasang sistem yang benar-benar baru untuk mereka berdua, dan perempuan itu malah menuntut hal yang nggak masuk akal. Padahal kita sudah ngebut secepat mungkin. Lagian, Alya seharusnya mengurus upgrade sistem departemen marketing sore ini, dan terpaksa kita tunda sampai besok. Gue sampai harus mengatur tim untuk datang jam enam pagi besok buat ngerjain tugas di lantai bawah yang terpaksa ditinggalkan Alya gara-gara urusan ini."
