Bertemu Don - I

Saat Bima menggeser tubuhnya ke kursi yang baru saja ditinggalkan Alya, gadis itu menimbang-nimbang untuk lari ke lift, menyambar barang-barangnya, dan menghilang begitu saja dari muka bumi. Namun, satu lirikan ke arah ruang rapat dan ruangan direktur utama menyadarkannya bahwa Bastian Wirawan sedang mengawasi setiap gerak-geriknya atas perintah sang Tuan Besar. Lukman memang bukan pemimpin sindikat keluarganya, tetapi Alya tahu ia tidak punya pilihan selain menuruti sekutu keluarga ayahnya itu.

Alya menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahinya, lalu melangkah pasrah menuju tempat yang ia yakini sebagai akhir riwayatnya.

"Celana jins itu bukan pakaian yang pantas buat di kantor." Gina melongokkan kepalanya dari ruang rapat, menatap Alya dengan tajam.

"Kerjaanku itu merangkak di bawah meja, masuk ke lorong-lorong sempit, dan berurusan sama ruangan-ruangan kotor berdebu. Apa Mbak mau aku pakai rok buat ngelakuin itu semua?" balas Alya tak mau kalah.

"Heh, kamu ya!"

"Mbak, aku udah resign. Nggak ada satu pun omongan Mbak yang bakal ngaruh ke aku sekarang. Aku masih di sini cuma sebagai bentuk bantuan dan buat ngambil surat rekomendasi dari Pak Direktur. Pendapat Mbak tentangku, tentang pakaianku, atau cara kerjaku udah nggak ada urusannya lagi."

Saat perempuan itu mengangkat tangan dan baru saja hendak membuka mulut, Bastian mencengkeram pergelangan tangannya dan menahannya ke bawah. "Kamu tahu siapa dia?"

Gina mengangkat bahu acuh tak acuh. "Cuma anak IT culun."

"Anak culun yang kamu bilang ini adalah putri satu-satunya dari Keluarga Kusuma. Terus saja panggil dia dengan sebutan macam-macam dan hina dia, lalu lihat berapa lama waktu yang dibutuhkan Tuan Besar Kusuma atau putranya, Raka, untuk mengirim orang menghabisimu tanpa bisa kita cegah."

Perempuan itu menatap Alya dengan syok. "Nggak mungkin! Nggak mungkin dia kerja di sini dengan pakaian seperti... seperti..." ia bergidik ngeri, "itu." Gina lalu berbisik kepada kakaknya, "Mereka kan kaya raya!"

Alya memutar bola matanya malas. "Dia udah bisa ditemui belum?"

Bastian memberi isyarat ke arah ruangan direktur utama. "Ayo masuk. Dia sedang ganti baju di kamar mandi Kevin. Dari tadi kami menunggu kopernya datang, dan barangnya baru saja sampai."

Di dalam ruangan direktur utama—tempat yang belum pernah Alya injak lagi sejak Pak Tirta pensiun—ia mengedarkan pandangan. Ruangan Kevin terasa kaku dan dingin, tanpa ada satu pun kenang-kenangan, pajangan, atau bingkai foto. Hanya ada sebuah meja kerja, satu sofa, beberapa kursi, dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik jendela di belakang mejanya. Sebagai mantan prajurit Kopassus dan spesialis keamanan, pria itu kemungkinan besar menyembunyikan tas darurat di suatu tempat, dan Alya sangat menyadari hal itu.

Pintu kamar mandi sedikit terbuka. Alya melangkah ke arah jendela sambil membuang muka, merasa sangat canggung. Berada di ruangan yang sama dengan pria yang sedang berganti pakaian terasa sangat aneh baginya. Keluarganya bukanlah tipe orang-orang kelewat bebas yang terbiasa dengan hal-hal vulgar seperti itu.

"Alya," suara dari arah kamar mandi itu membuatnya bergidik. Suara itu sama mengerikannya dengan reputasi si empunya nama. Alya mendapati dirinya bertanya-tanya, apakah pria itu benar-benar penuh luka dan cacat seperti yang digembar-gemborkan media dan desas-desus di luaran sana. Ia tahu pria itu kejam. Pria itu mengambil alih kekuasaan ayahnya dengan bersarangnya sebuah peluru di paha, tepat setelah ia menghabisi nyawa tangan kanan ayahnya dengan darah dingin. Alya tahu betul segala intrik dan drama dari keluarga-keluarga penguasa dunia gelap di Jakarta, Surabaya, dan Medan, meski sejujurnya ia lebih memilih untuk tidak tahu-menahu. Kisah pria itu begitu luar biasa—mengerikan, memang, tapi luar biasa.

"Ya, Tuan?" sahutnya, melangkah lebih dekat ke pintu.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi di hari aku membatalkan pertunangan kita."

Itu sama sekali bukan pertanyaan yang ia duga.

"Aku pulang pagi itu. Ibu mencegatku di depan pintu dan mengurungku di kamar selama satu jam sampai Ayah tiba. Dalam kurun waktu satu jam itu, Ayah mendapat kabar bahwa Anda membatalkan pertunangan. Sejujurnya, aku terkejut betapa cepatnya berita itu sampai ke telinga Anda."

"Berita apa?"

"Bahwa aku sudah tidak perawan lagi."

"Apa?"

"Aku tidur dengan orang lain malam sebelumnya. Bukankah itu alasan Anda membatalkan kontrak perjodohan kita?" Apakah ini saatnya ia akan mendapat timah panas di kepala karena dianggap tidak sopan?

"Kau tidur dengan laki-laki lain?"

"Ya." Kata itu meluncur bagai bisikan. "Anda tidak tahu?"

"Tidak. Sejujurnya aku sama sekali tidak tahu. Aku membatalkan pertunangan itu karena aku tidak punya keinginan untuk menikahimu. Aku bertemu perempuan lain yang ingin kunikahi, jadi aku membatalkan kesepakatan dengan keluargamu."

"Hah," Alya mengetukkan dahinya ke pintu kaca. "Konyol sekali."

"Apa maksudmu?"

Suara pria itu dari balik pintu diselingi bunyi gerakan terburu-buru, sepertinya ia sedang memakai celana. Setidaknya, Alya harap itu celana panjangnya, bukan celana dalam. Membayangkan pria itu mungkin sedang telanjang bulat di balik pintu benar-benar membuatnya salah tingkah.

"Maksudku, aku sengaja pergi keluar malam itu dan menyerahkan keperawananku demi menghindari pengumuman pertunangan kita. Anda sungguh tidak tahu apa yang kulakukan?"

"Tidak. Aku tidak tahu."

"Ayah bersikeras bahwa itu adalah bentuk pelecehan terhadap nama baik keluarga, dan menghukumku karena melanggar perjanjian." Alya berdoa dalam hati agar pria itu berhenti bertanya sampai di situ.

"Apa yang ayahmu lakukan padamu?"

"Mengusirku."

"Itu sebabnya kau bekerja di sini?"

"Aku magang di sini saat kuliah dan langsung diterima bekerja setelah lulus."

"Apa lagi hukuman dari ayahmu selain mengusirmu? Dia memang benar. Tidur dengan sembarang pria adalah bentuk ketidakhormatan terhadap perjanjian kita, meski sebenarnya aku sama sekali tidak peduli. Apa yang dia lakukan padamu?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya