Bertemu Don - II
"Setelah dikurung sejam di kamar, saya diseret ke salah satu sel tahanan bawah tanah miliknya selama seminggu. Saya cuma diberi makan roti dan air putih sampai saya mau menyebutkan nama laki-laki yang saya biarkan merenggut kesucian saya." Alya meringis mengingat kejadian itu. "Sialnya bagi mereka, saya sudah memastikan tak ada satu pun jejak yang tersisa. Saya bertemu laki-laki itu lewat internet. Cuma cinta satu malam. Semua saya atur secara daring supaya Ayah dan anak buahnya tidak bisa ikut campur. Boleh dibilang, saya cukup jago soal komputer. Semua data langsung terhapus otomatis begitu urusan saya selesai. Bahkan pakar IT terbaik Ayah pun tidak bisa melacak jejak saya. Ayah berniat membunuh laki-laki yang tidur dengan saya tepat di depan mata saya sebagai hukuman, tapi dia gigit jari. Saya sendiri bahkan tidak tahu siapa nama laki-laki itu."
"Kamu beruntung kepalamu tidak ditembus peluru karena ulahmu itu," suara pria itu terdengar makin dekat seiring langkahnya keluar dari kamar mandi.
Rasa penasaran sebenarnya memancing Alya untuk menoleh dan menatap pria itu, tapi insting bertahan hidup memaksanya tetap mematung di tempat. Pandangannya lurus ke bawah, menatap hamparan kota dan orang-orang yang berlalu-lalang sekecil semut.
"Semua itu sepadan," ucapnya pelan. "Kalaupun Ayah menembak kepala saya, setidaknya saya mati dengan cara saya sendiri. Daripada dipaksa menikah dengan pria yang kabarnya kasar, biadab, dan tega membunuh kekasihnya sendiri."
"Pedas juga," sahut pria itu, nada suaranya menyiratkan sedikit rasa geli.
Alya sempat lupa dengan siapa ia bicara. Matanya seketika membelalak. "Maafkan saya, Tuan Wijaya. Saya—"
"Tidak apa-apa. Kamu tidak salah. Saya memang membunuh kekasih saya sebelum membatalkan pertunangan kita. Dia berselingkuh dengan penari telanjang di kelab malam, dan gara-gara itu saya harus disuntik antibiotik berdosis tinggi. Saya cuma memastikan dia tidak akan pernah bisa menularkan penyakitnya, atau mengangkang untuk orang lain lagi."
Alya tersentak, tapi kata-kata itu malah mengingatkannya pada Bima. Pria itu juga memberinya alasan serupa saat membeli keperawanannya.
"Waktu ayahmu membuangmu dari keluarga, apa dia sekadar mengusirmu dari rumah, atau...?"
"Dia memutus semuanya. Tidak ada dana perwalian. Tidak ada kartu kredit. Semua rekening diblokir. Saya dilarang menghubungi keluarga untuk alasan apa pun. Untungnya saya sudah lulus kuliah seminggu sebelumnya, dan sudah dapat tawaran kerja. Saya juga sudah menyembunyikan sedikit tabungan, cukup untuk menyewa tempat tinggal."
"Kamu menyembunyikan uang? Bagaimana caranya? Kamu mencuri dari ayahmu? Memakai keahlian komputermu untuk menggelapkan dana?"
Tuduhan itu membuatnya meringis. "Tidak, saya tidak mencuri. Saya menjual sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang sepenuhnya milik saya pribadi, dan berhasil menyimpan uangnya. Saya sudah menduga Ayah pasti akan mengusir saya begitu dia tahu, jadi saya pastikan sudah punya pegangan uang sebelumnya. Saya dan Ayah tidak pernah sependapat soal hak perempuan atas tubuhnya sendiri, Tuan Wijaya," Alya berusaha menjaga nada bicaranya tetap sopan agar kepalanya tak berpisah dari lehernya. "Bahkan keputusan saya kuliah mengambil jurusan ilmu komputer di PTN pun ditentang habis-habisan, tapi saya nekat dan dia marah besar. Dia bilang kalau saya tetap mau kuliah, saya harus bayar sendiri, dan akhirnya saya membiayainya dari pinjaman bank. Dia cuma mau saya pasrah di ranjang melayani calon penguasa Keluarga Wijaya kelak, lalu melahirkan anak-anak laki-laki yang tangguh. Menurutnya, pendidikan saya itu cuma buang-buang uang."
Perempuan itu menoleh ke belakang dan melihat pria tersebut sedang membongkar-bongkar kopernya di atas sofa. Bahu pria itu bidang dengan pinggang yang ramping. Kakinya luar biasa panjang; batas pinggang perempuan itu bahkan baru sejajar dengan pangkal paha pria tersebut. Satu-satunya pria yang pernah ia temui setinggi laki-laki di hadapannya ini hanyalah pria yang dulu membeli kesuciannya. Ia kembali memalingkan wajah saat perutnya mendadak terasa mual.
"Aku sempat membaca berkas kepegawaianmu waktu kami mengambil alih perusahaan tiga tahun lalu. Kukira kamu bakal resign, atau ayahmu yang akan memaksamu keluar, tapi ternyata pria tua itu benar-benar sudah masa bodoh soal dirimu. Aku tidak menyadari dampak dari keputusanku membatalkan pertunangan kita waktu itu. Meskipun sepertinya kamu juga ikut andil di dalamnya. Seharusnya aku bisa menegaskan pada ayahmu kalau keputusanku sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, tapi ya, penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan sejujurnya, aku tidak pernah memikirkanmu lagi setelah aku membatalkan semuanya."
Umpatan "Bajingan" sudah berada di ujung lidahnya, tapi ia kembali memalingkan wajah dan menatap pemandangan kota di bawah sana. "Yah, lagipula aku sudah resign sekarang."
"Aku lebih suka kalau kamu tidak keluar. Jelas kamu tidak punya niat terselubung untuk membantu ayahmu, dan menurut Bima dan Rangga, kamu itu aset yang tak ternilai harganya. Mereka bilang, kamu tidak cuma diandalkan untuk menjaga operasional internal sehari-hari, tapi kamu juga ikut membantu beberapa urusan bisnis kita yang lebih..." pria itu mencari kata yang tepat, "...sensitif."
"Maksudmu mereka memanfaatkan keahlian hacking-ku. Ya, memang. Kemampuanku memang tidak selevel Bima, tapi kami bisa bekerja sama dengan baik untuk proyek-proyek khusus."
"Kamu ada main sama Bima?"
"Nggak!" Ia meringis jijik. "Sama sekali nggak."
"Bukan tipemu?"
Perempuan itu bergidik. "Aku pernah lihat dia melahap separuh roti lapis utuh sekaligus, mengunyah dan menelannya bulat-bulat macam burung pelikan."
"Kamu menilai calon pacarmu dari cara makan mereka?"
"Aku menilai calon pasanganku dengan pemikiran kalau aku bakal terjebak sama dia seumur hidup sampai maut memisahkan. Aku punya masa lalu yang berat dan aku nggak mau main-main soal hubungan. Kalau aku mau membuka hati, orang itu setidaknya bukan laki-laki yang bikin aku ilfeel sejak pandangan pertama."
Pria itu terkekeh. Suara itu memancing rasa penasarannya, membuatnya melirik dari sudut mata. Pria itu kini sedang membenarkan dasinya, tapi posisinya masih membelakangi perempuan itu. Sialan, dia tinggi banget. Kenangan lama yang selama ini susah payah ia kubur di sudut tergelap benaknya mendadak muncul kembali.
Semua kenangan manis tentang percintaan lembut mereka di awal, yang kemudian disusul dengan pergumulan liar berjam-jam, selamanya ternoda oleh pembunuhan dan kekacauan. Kini, setiap kali ia teringat pada pria yang telah membuatnya tak bisa lagi menikmati sentuhan laki-laki lain itu, yang terbayang hanyalah sosoknya yang berdiri tegak di atas sesosok mayat, tengah melepas peredam suara dari pistol revolver-nya. Ia menggelengkan kepala, memaksa kenangan itu pergi.
"Dengar, Rangga ingin kamu tetap di sini. Citra juga sudah diperingatkan untuk tutup mulut soal urusanmu. Sebaiknya kamu tetap tinggal."
Pria itu melangkah kembali ke kamar mandi, yang ia duga untuk merapikan dasinya di depan cermin. Perempuan itu menangkap pantulan wajah sang pria di kaca jendela di hadapannya, dan seketika lututnya terasa lemas.
Bram.
