Bab 1
“Tidak. Jangan mendekat,” kata Scarlet, takut merambat sampai ke tulang-tulangnya saat melihat pelayan Ann melangkah ke arahnya.
Ia mundur selangkah ketika mereka semakin dekat, tapi ketakutan itu justru kian mencekik. Mereka ada di atap. Bagaimana kalau ia terpeleset? Ia melirik kakaknya; Ann mengamati semuanya dengan wajah tenang, seolah yang terjadi tak ada artinya.
“Ann, suruh mereka mundur! Kalau aku jatuh gimana?” teriak Scarlet.
Ann menyeringai, lalu ikut melangkah mendekat. “Kenapa kamu takut sekali jatuh, Dek?” tanyanya, membuat punggung Scarlet serasa disiram es.
“Kamu… kamu mau aku mati?” tanya Scarlet tak percaya. Ia bahkan tak berani berkedip, menatap Ann tanpa putus, menunggu jawaban.
“Kamu ngomong apa sih?” Ann menukas, pura-pura tidak paham.
“Turun. Aku mau ngobrol sebentar sama adikku,” perintah Ann pada para pembantunya. Mereka mengangguk lalu pergi tanpa menoleh. Mereka tak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi.
Namun begitu mereka pergi, tatapan Ann yang semula lembut mendadak membeku. Ia memandang Scarlet dengan kebencian yang telanjang.
“Kamu… kamu mau ngapain?” tanya Scarlet, firasat buruk menampar-nampar dadanya.
“Mau ngapain aku sama kamu, adikku yang manis?” balas Ann dingin.
“Bayangkan, dulu waktu kecil aku sempat iri sama kamu,” lanjut Ann, menatap Scarlet dengan jijik.
“Iri karena aku bisa hidup enak, dapat apa pun yang aku mau, sementara kamu nggak?” Scarlet menyahut, tiba-tiba teringat percakapan yang pernah tak sengaja ia dengar antara ibu dan anak itu.
“Diam!” bentak Ann sambil menampar Scarlet.
Tubuh Scarlet terlalu lemah—ia jarang diberi makan layak dan terbiasa disuruh kerja rumah—tamparan itu membuatnya oleng dan jatuh.
“Adikku sayang, nggak kepikiran kamu sudah waktunya menemani ibu dan bibimu?” tanya Ann. Scarlet mengangkat kepala, menatap perempuan di hadapannya dengan mata melebar.
“Bibiku nggak mati,” ucap Scarlet, tetapi Ann justru menyeringai.
“Kamu pikir setelah kamu ninggalin dia, dia bakal hidup lama?” jawab Ann. Dingin menjalar ke sekujur tubuh Scarlet.
“Apa yang kamu lakukan ke bibiku?” tanya Scarlet geram, langsung berusaha berdiri. Saat itu ia bahkan lupa kalau tubuhnya sakit.
“Hahaha.” Ann tertawa. “Dia sudah mati bertahun-tahun. Kamu mau apa? Orang tua angkatmu mati gara-gara kamu. Anak-anak mereka benci kamu setengah mati, berharap yang mati itu kamu, bukan orang tua mereka. Anak perempuannya bahkan menikah sama kakakku cuma buat nginjek kamu. Hahaha. Kalau kamu mati di sini hari ini, menurut kamu ada yang bakal nangisin? Ada yang peduli?”
Mata Ann dingin, tajam, seperti orang yang siap membunuh.
“Kenapa? Kenapa kamu lakukan semua ini? Bukannya aku sudah kasih semua yang aku punya?” tanya Scarlet, menatap Ann seolah tak mengenalinya lagi.
Sekarang Scarlet benar-benar yakin perempuan itu berniat membunuhnya. Namun bukankah selama ini ia sudah menyerahkan semua yang ia punya—dan itulah yang membuat hidupnya sehancur ini? Beberapa menit yang lalu, ia masih percaya kakaknya tak mungkin sampai membunuhnya, tapi ternyata ia keliru. Ia menyesal sudah membiarkan para pelayan pergi.
“Kenapa? Kamu kira ibumu cuma perempuan biasa?” Ann menatapnya tajam. “Kalau kamu nggak mati hari ini, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi sama kita semua?” Karena toh Scarlet akan mati, Ann merasa tak ada lagi yang perlu disembunyikan.
“Kamu nggak takut masuk penjara kalau orang-orang tahu kamu yang membunuh aku?” tanya Scarlet tenang. Ia tahu ia tak bisa menghindari kematian ini. Meski begitu, dadanya sudah membeku, penuh kebencian. Ia membenci keluarganya dan para wali yang dulu katanya akan melindunginya. Orang-orang yang dipercaya ibunya malah berpihak pada mereka yang membencinya.
“Orang tuaku yang bunuh ibumu, tapi nggak ada yang pernah tahu.” Ann terkekeh. “Belum lagi bibimu. Hahaha. Kamu pikir ada yang bakal tahu aku dalang kematianmu? Nanti ditulisnya bunuh diri.”
Ann tersenyum bangga. Tapi tiba-tiba kepala Scarlet terasa ringan, pandangannya berputar, dan tubuhnya ambruk.
Air mata mengalir deras. Ayahnya. Itu ayahnya. Kenapa membunuh ibunya? Mereka membuatnya menderita selama ini. Kenapa? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya tanpa jawaban. Ia mengangkat kepala, melihat wajah Ann yang pongah, mengingat bagaimana mereka menipu dan merampas semua miliknya—dan kata-kata Ann bahwa kalau ia tidak mati, mereka semua akan kena masalah. Apa itu berarti keluarga dari pihak ibunya masih hidup dan sudah mencium sesuatu?
“Sekalipun kamu bunuh aku, begitu mereka tahu aku mati, mereka nggak bakal ngelepas kalian!” ucap Scarlet.
Ann menggeleng. Sesaat ada kilat iba di matanya, tapi lenyap secepat datangnya.
“Kamu mati, aku ambil identitas kamu. Kalau mereka memang sekaya itu, aku bakal dimanja keluarga itu,” kata Ann.
Tak lama kemudian, mereka mendengar langkah kaki. Ann langsung panik.
“Kamu harus mati sekarang,” katanya, lalu cepat-cepat mendekati Scarlet dan menendangnya.
Sejak tadi, para pelayan Ann sudah memaksa Scarlet mundur sampai ke ujung. Jadi ketika tendangan itu menghantam, tubuh Scarlet langsung terlempar jatuh. Dalam jatuhnya, ia sempat menangkap wajah Ann yang puas.
“Aku akan memburumu… bahkan dari dalam kubur!” teriak Scarlet, namun jeritannya terputus saat tubuhnya menghantam tanah.
Darah mengalir dari mulut dan telinganya. Gelap merayap menelan kesadarannya.
“Tidak, Kak… bangun,” ia mendengar seseorang memanggil, tepat saat matanya terpejam.
Sakitnya tak tertahankan—seperti api dingin yang melahap seluruh tubuhnya. Di balik kabut darah dan kegelapan, ia mengenali suara yang memanggil namanya, tetapi ia tak bisa bergerak. Tak bisa berteriak. Dengan sisa tenaga terakhir, Scarlet mengepalkan tangan, dan di benaknya yang memudar menggema sumpah bisu, berlumur darah: Kalau memang ada kehidupan setelah mati, aku akan merampas semua yang kamu cintai.
