Bab 2

“Argh…” Kepala Scarlet terasa seperti dipukul palu. Ia membuka mata sambil menekan pelipisnya dengan kedua tangan.

“Ini di mana?” batinnya. Bukankah katanya kalau sudah mati, orang tak bisa merasakan sakit? Lalu kenapa ia masih bisa kesakitan begini?

Ia menatap kedua telapak tangannya—dan tubuhnya mendadak kaku. Tidak ada kapalan. Kulitnya halus, pucat, dan jari-jarinya kecil. Ia juga menyadari dirinya mengenakan gaun sederhana yang ukurannya pas di badan remajanya. Ia buru-buru memandangi sekeliling, lalu tertegun.

Scarlet menatap ruangan itu dengan wajah kosong, otaknya bekerja keras menyusun potongan-potongan kenyataan.

Ia meloncat turun dari ranjang dan melangkah cepat ke cermin. Di sana—pipi yang tidak cekung, tidak ada bekas luka, tidak ada jejak “hukuman” Ann. Matanya pun tidak kusam. Ini dirinya yang berusia tujuh belas tahun—belum tersentuh, sehat, dan masih utuh; hidup yang belum sempat dirampas.

Kamar ini… kamar tempat ia tinggal sebelum dijemput kembali oleh ayahnya.

Ia… terlahir kembali.

Menatap wajah mudanya yang begitu familiar, dada Scarlet dipenuhi rasa nyeri sekaligus hangat. Nyeri karena ia harus melewati semua yang dulu ia lalui hanya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi; hangat karena ia diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.

“Scarlet, kok masih tidur? Orang-orang ayahmu sudah datang,” suara seseorang terdengar dari luar kamar, membuatnya tersentak.

Dari kalimat itu, Scarlet tahu persis: ia terlahir kembali pada hari ketika ia dibawa pulang ke keluarga Jenkins.

Tapi ia sama sekali tidak ingin pergi. Ia sudah tahu alasan mereka menjemputnya. Dalam hidup ini, ia hanya ingin hidup tenang tanpa drama. Artinya, ia harus lepas dari keluarga itu.

Scarlet mondar-mandir di kamar dengan gelisah, tak tahu harus mulai dari mana. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bangun lebih cepat agar bisa menyusun rencana.

“Aunt, aku nggak mau pergi,” teriaknya sambil kembali duduk di tepi ranjang.

Perempuan di luar sana terdiam, jelas terkejut. Ia sudah memberi tahu Scarlet bahwa keluarga itu datang menjemput, dan semalam Scarlet terlihat… bahkan seperti senang. Ia tak mengerti kenapa semuanya berubah hanya dalam semalam.

Tanpa menunggu izin, ia membuka kunci pintu dan masuk. Ia mendapati Scarlet duduk dengan kening berkerut, wajah tegang. Perempuan itu mengembuskan napas panjang.

“Scar, ada apa?” tanyanya, mengusap kepala Scarlet dengan lembut.

“Aunt, kenapa aku harus ikut mereka? Bukannya dia ninggalin aku pas Mama meninggal? Dia ngusir kita. Jadi kenapa aku harus balik? Dia sudah punya keluarga lain di luar sana,” tanya Scarlet, menatap tajam perempuan itu.

“Scar… semua yang terjadi pasti ada alasannya. Kamu juga tahu kita di sini susah. Tante takut nggak akan sanggup bayar biaya sekolahmu. Paling tidak, kalau kamu sama dia, kamu bisa dapat pendidikan terbaik,” bujuk tantenya, berusaha meyakinkan. Namun Scarlet menggeleng, menolak menelan kata-kata itu bulat-bulat.

“Aunt, kita pasti bisa cari cara. Lagian aku nggak bisa ninggalin Aunt sendirian di sini,” ujar Scarlet. Matanya mulai berkaca-kaca.

Di kehidupan sebelumnya, ia pergi meninggalkan satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya.

Perempuan yang duduk di sampingnya ini bahkan bukan bibi kandungnya. Dulu, suatu malam Scarlet kecil merengek minta dibelikan camilan manis. Ia dan ibunya keluar rumah untuk membeli. Di jalan, mereka menemukan perempuan muda itu dikepung sekelompok lelaki. Mereka menolongnya—lalu tahu bahwa ia yatim piatu. Saat itu Scarlet baru lima tahun, sementara perempuan itu baru lima belas. Scarlet memanggilnya “Aunt” karena ibunya menerimanya sebagai adik, bukan sebagai anak.

Namun langit seakan tak berpihak. Beberapa bulan kemudian, ibunya meninggal.

Begitu pemakaman selesai, ayah Scarlet membawa perempuan simpanannya beserta anak-anaknya masuk ke rumah besar itu, lalu mengusir Scarlet dan “Aunt” keluar. Tak punya tempat tujuan, “Aunt” membawa Scarlet kembali ke tempat tinggalnya yang dulu. Lelaki itu—yang disebut ayah—tak pernah mengirim uang sepeser pun. Mereka bahkan sampai terkejut ketika ia menelepon dan mengatakan Scarlet akan “pulang”.

Scarlet tidak mau kembali. Dan kalau persoalannya uang, sebagai seseorang yang sudah diberi kesempatan kedua, ia tahu banyak hal tentang masa depan. Ia bisa memakai itu untuk mencari penghasilan.

“Itu nggak bisa, Sayang,” kata tantenya pelan. “Kamu anak sah dan satu-satunya pewaris semua harta itu. Jangan lupa apa yang Kakak bilang sebelum pergi. Kakak bilang, kita nggak boleh biarin warisan itu jatuh ke tangan mereka. Di rumah itu banyak barang milik ibumu. Kamu mau mereka pakai seolah-olah itu milik mereka?”

Kata-kata itu membuat Scarlet terpaku.

Begitu itu disebut, Scarlet baru teringat: ibunya dulu justru pendiri perusahaan milik ayahnya. Kepemilikan saham ditinggalkan atas nama Scarlet dan atas nama Sophia. Namun setahun setelah ibunya pergi dan Scarlet dibawa keluarga Jenkins, kabar yang sampai ke telinganya hanyalah: Sophia sudah meninggal. Kalau bukan karena Ann yang membuka mulut, Scarlet takkan pernah tahu kebenaran di balik kematian bibinya itu.

“Ya sudah, setidaknya kita turun dulu. Kepala pelayan sudah menunggu. Dia masih orang yang sama seperti dulu. Kita nggak bisa menghukum dia cuma karena ulah orang-orang itu, kan?” kata Sophia, meski ia sendiri tak yakin Scarlet masih mengingat pria itu. Mereka diusir saat Scarlet masih terlalu kecil; mungkin saja ingatannya sudah kabur.

Scarlet mengangguk. Nanti ia akan memikirkan langkah berikutnya. Mereka keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Di sana seorang pria yang tampak sudah lewat enam puluh tahun berdiri menunggu.

Begitu melihat Scarlet, mata pria itu langsung berkaca-kaca.

“Astaga… Nona sudah sebesar ini,” ucapnya, lalu menarik Scarlet dalam pelukan. Scarlet membiarkannya. Ia masih ingat, pria itu dan istrinya adalah satu-satunya orang yang pernah memberinya kehangatan saat ia sempat kembali ke rumah keluarga itu dulu. Ia tak ingin membalas kebaikan dengan pura-pura lupa dan kebencian.

“Nona, Tuan sudah memerintahkan saya menjemput Nona,” kata kepala pelayan itu setelah mereka turun, dan Scarlet hanya menatapnya.

Mulut Scarlet sempat terbuka—ia ingin bilang ia tidak akan ikut. Namun ia teringat pengaruh keluarga Jenkins di kota ini. Jika ia menolak, mereka pasti punya cara lain untuk memaksanya. Ia mengembuskan napas, kesal, seperti seseorang yang diberi kesempatan membenahi segalanya, tetapi ternyata tak punya kendali apa pun.

“Kalau memang kalian memaksa, aku ikut. Tapi kalau bibiku nggak ikut denganku, aku juga nggak ikut,” kata Scarlet, membuat kepala pelayan dan Sophia sama-sama tertegun. Mereka jelas tak menyangka ia akan berkata begitu.

Mata Sophia mendadak berair. Ia mengira Scarlet menolak pergi karena tak ingin meninggalkannya. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.

“Itu nggak perlu, Sayang. Bibi tetap di sini,” ujar Sophia, menepuk pelan kepala Scarlet.

Sophia tak pernah menceritakan soal ibunya kepada Scarlet karena ia tak ingin gadis itu hidup dengan kebencian. Karena itu pula, ia tahu Scarlet tak paham bagaimana ia dan ibunya dulu saling mengenal. Scarlet selalu mengira Sophia hanya kerabat jauh. Padahal Sophia tahu alasan sebenarnya mengapa ibu Scarlet pernah membiarkannya tinggal bersama mereka.

“Ehm, Nona… saya rasa itu tidak mungkin,” ucap kepala pelayan, saat melihat Scarlet sama sekali tak bergeming meski Sophia sudah bicara.

“Telepon dia dan tanya,” sahut Scarlet, bibirnya melengkung tipis. “Kalau dia menolak, bilang saja aku nggak akan pulang dan tinggal dengan mereka.”

Scarlet yakin mereka tak akan membiarkannya tetap di luar. Ia tak mau mereka selalu menang di hidupnya yang kali ini. Kalau mereka memaksa ia tinggal bersama mereka, ia akan memastikan mereka menelan kerugian—dan ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Lagi pula, ia berpikir, ia bisa mulai dengan menyelamatkan nyawa bibinya lebih dulu. Sisanya akan menyusul.

Kepala pelayan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk ketika memahami keseriusannya.

Begitu sambungan tersambung, suara dingin dari seberang langsung menerjang.

“Kenapa telepon saya jam segini? Kamu nggak tahu saya lagi di kantor? Kamu mengganggu.”

“Maaf, Tuan. Nona besar menolak kembali. Nona bilang kalau Nona harus pulang, Nona harus pulang bersama Sophia,” lapor kepala pelayan, membuat pria di seberang terdiam, seolah semua pekerjaannya mendadak berhenti.

Scarlet mengamati wajah kepala pelayan itu saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, ayahnya adalah gunung es—dingin, tak bergeser oleh apa pun. Membuatnya setuju membawa Sophia seharusnya bukan sekadar sulit—melainkan mustahil. Kalau ia setuju sekarang, itu berarti ia benar-benar putus asa agar Scarlet kembali. Dan kalau ia putus asa, berarti Scarlet memegang kendali lebih besar daripada yang pernah ia sadari.

Kepala pelayan menutup telepon. Tangannya bergetar kecil—entah karena racun dalam suara Tuan barusan, atau karena tatapan muda sang Nona yang mendadak dingin, tajam, seperti orang asing.

Scarlet menatap balik. Suaranya tenang, datar.

“Jadi? Dia bilang apa?”

Saat menunggu jawaban, tangan Scarlet tanpa sengaja menyentuh tangan Sophia. Dalam kehidupan sebelumnya, perempuan ini mati sendirian, hancur, karena Jenkins. Kali ini, aku bukan cuma akan menjaganya tetap di sisiku—aku akan memastikan dialah yang memegang kerikil saat kerajaan Jenkins runtuh.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya