Bab 3

Scarlet menatap keluar jendela mobil, memaksa otaknya mengingat satu per satu kejadian di hidupnya yang dulu. Ia tahu, karena ia tak bisa menghindari kembali ke rumah keluarga Jenkins, ia harus punya cukup kuasa untuk membuat mereka gentar—supaya tak ada yang berani menyusun rencana kotor terhadap dirinya dan bibinya.

Mobil melaju pelan memasuki halaman. Bibir Scarlet melengkung tipis begitu melihat tempat yang begitu ia kenal. Ia mengembuskan napas, menggeleng kecil, lalu tetap turun ketika mobil berhenti.

“Selamat datang di rumah, Nona Besar,” ujar sang kepala pelayan. Scarlet mengangguk singkat.

Ia menggenggam tangan bibinya dan melangkah menuju pintu masuk.

“Pak, jadi benar dia ngotot datang bareng pembantu itu?” Ann bertanya pada ayahnya yang baru pulang kerja.

“Jangan ngomong sembarangan. Mereka sudah sampai. Jangan sampai mereka dengar,” bisik ibunya, membuat seisi keluarga menoleh ke arah itu.

“Kakak, kamu sudah datang,” seru Ann, lalu berlari menghampiri Scarlet.

Scarlet diam saja, menatap Ann yang seolah sedang memainkan peran. Ia menangkap rasa jijik di mata gadis itu, dan seketika ia bertanya dalam hati—sebodoh apa dirinya dulu sampai percaya Ann benar-benar menyambutnya, sampai tak sanggup membaca emosi yang jelas-jelas terpampang?

Scarlet menatapnya tanpa berkedip. Saat Ann hendak memeluk, Scarlet melangkah mundur satu tapak.

Ann berhenti mendadak. Kebencian melintas di wajahnya, namun buru-buru ia sembunyikan.

“Kak, kamu nggak mau peluk aku? Aku bersih, kok,” ujar Ann lirih—tapi cukup keras untuk terdengar oleh semua orang di ruangan itu.

Nyonya Jenkins dan putranya terkekeh ketika mendengar kalimat itu. Dalam hati mereka malah heran—kok Ann yang disebut “bersih”, bukan Scarlet yang mereka anggap datang dari kampung. Tatapan mereka pada Scarlet seperti menatap penyakit berjalan dari kawasan kumuh.

“Aku minta maaf, tapi aku nggak kenal kamu,” kata Scarlet sambil mengedipkan mata, memasang wajah polos. “Gimana aku bisa membiarkan orang yang nggak aku kenal memeluk aku? Apa nggak seharusnya kamu kenalan dulu?”

Kalimat itu membuat semua orang terpaku.

Scarlet berpikir, kalau Ann mau bermain jadi gadis polos, maka ia akan menunjukkan seperti apa kepolosan yang benar-benar dimaksimalkan.

“Ann, dia pergi waktu masih kecil. Wajar kalau dia nggak ingat kamu,” kata Tuan Jenkins. Sejak tadi ia memperhatikan putrinya, menanti bagaimana Scarlet akan bersikap. Namun ia tak menyangka, tak ada setitik pun ketakutan dalam cara bicaranya—yang ada justru keyakinan yang tenang. Bahkan aura yang ia pancarkan seakan menuntut dihormati.

Tuan Jenkins berdiri dan berjalan mendekat. “Scarlet. Aku ayahmu. Sudah lama sekali aku nggak melihatmu. Kamu sudah besar… sudah tinggi,” ucapnya dengan senyum.

Scarlet menatapnya lama.

“Bapak benar ayahku?” tanya Scarlet, mata berkedip cepat, wajah penuh tak percaya. “Kalau begitu kenapa Bapak nggak pernah menjenguk kami? Bahkan menelepon? Selama ini aku pikir aku yatim piatu… sampai Bapak menelepon,” lanjutnya.

Tatapan si pria mendadak dingin. Ruangan seperti menegang. Tuan Jenkins mengalihkan pandangannya, menoleh pada Sophia yang berdiri di samping Scarlet.

“Kamu nggak pernah bilang ke dia tentang aku?” tanyanya ketus.

Sophia menatap Scarlet, bingung kenapa keponakannya berkata seperti itu—seolah sedang berbohong.

“Kenapa Bapak menyalahkan bibiku?” Scarlet memotong, suaranya tetap lembut tapi jelas. “Bibi selalu sibuk bekerja supaya aku bisa makan, punya baju, dan bayar sekolah. Kami bahkan jarang punya waktu untuk ngobrol. Kalau aku tahu keluargaku sekaya ini, dari dulu aku sudah menelepon—karena aku hidup seperti anak yang nggak punya keluarga untuk menopang hidupnya.”

Scarlet menunduk. Ada getir yang sengaja ia biarkan mengambang.

Tuan Jenkins merasa dadanya tertusuk rasa bersalah. Ia tak pernah membayangkan hidup mereka sesulit itu. Ia hanya ingin menyingkirkan gadis itu—karena wajahnya selalu mengingatkan pada ibu Scarlet, sesuatu yang tak ingin ia hadapi.

“Bukannya kamu punya kartu tunjangan yang aku kirim tiap bulan?” tanya Tuan Jenkins, alisnya mengerut, sungguh-sungguh bingung.

Sophia tertawa pendek—tajam dan pahit. “Kartu? Satu-satunya yang kami terima dari keluarga ini cuma surat somasi, menyuruh kami angkat kaki dalam dua puluh empat jam. Kalau memang ada uang yang Bapak kirim, berarti ada orang lain yang menikmatinya.”

Scarlet melihat tangan Nyonya Jenkins berkedut, refleks menuju untaian mutiaranya.

“Apa istrimu ngasih kita pulang bawa apa pun? Rasanya kayak dia yang beli semua isi rumah itu. Kita pulang tangan kosong. Cuma baju yang nempel di badan hari itu. Kamu juga ada di sana, kan? Terus ngapain nanya aku?” dengus Sophia, sinis, sampai sorot mata pria itu menggelap.

“Tante… maksud Tante, perempuan itu bukan ibu kandungku? Kalau dia bukan mamaku, mamaku ada di mana?” tanya Scarlet.

Suasana seketika membeku. Tak ada yang menyangka Scarlet bakal melontarkan pertanyaan seperti itu.

Sophia menatap Scarlet lekat-lekat, bertanya-tanya ada apa dengan keponakannya, tapi ia memilih diam. Nanti saja, pikirnya, kalau mereka tinggal berdua.

“E-eh…” Pak Jenkins tergagap, bingung harus menjelaskan dari mana. Mereka mengira Scarlet masih ingat beberapa hal, jadi ia sama sekali tak siap. Dalam kepalanya sempat terlintas: seandainya dari awal ia tahu Scarlet tak ingat ibunya, ia bisa saja bilang istrinya adalah ibu kandungnya—dan ibunya cuma dikirim ke kampung untuk pemulihan karena sakit.

“Aduh, Nak…” Bu Jenkins berdiri, melangkah mendekat ke Scarlet. “Saya ini istri ayahmu, dan ini adik-adikmu. Ann dan John.”

Scarlet memiringkan kepala. Matanya yang besar dan bening berkedip-kedip polos, membuat udara di ruangan terasa pengap. “Jadi Ibu menikah sama Ayah setelah ibu kandungku pergi? Atau…” Ia berhenti, bibirnya bergetar pelan. “Ibu yang bikin beliau ninggalin aku?”

“Ngomong apa kamu? Ibumu sudah meninggal,” kata Pak Jenkins dingin, tak suka cara Scarlet bicara.

“Oh,” gumam Scarlet, menunduk. Air mata mulai jatuh satu-satu.

“Aku bahkan nggak bisa ingat wajah Mama,” bisiknya. “Aku iri mereka masih punya ibunya.”

Pandangan Scarlet yang penuh iri dan cemburu melayang ke Ann dan kakaknya. Sepanjang itu, Ann hanya berdiri menyaksikan, tak menyangka Scarlet akan bersikap seperti itu.

“Omong kosong apa sih? Aku juga ibumu. Istri ayahmu ya ibumu juga,” kata Bu Jenkins sambil meraih tangan Scarlet. Senyum terpasang di wajahnya.

“Bener?” Scarlet menatap perempuan itu dengan mata polos. Namun baru saja Bu Jenkins hendak menjawab, Scarlet menyambung, “Di tempat aku tinggal dulu, orang kampung sering bilang, punya ibu tiri itu sama aja kayak punya bapak tiri. Ibu yakin bakal memperlakukan aku sama seperti anak-anak Ibu… dan nggak ngerebut Ayah dariku?”

Pak dan Bu Jenkins sama-sama terkejut. Ann mengertakkan gigi, merasa gadis itu benar-benar pintar berpura-pura. Tapi ia tak punya bukti. Wajah Scarlet terlalu tulus—tak tampak seperti orang yang sedang berakting.

“Soalnya… kenapa aku dikirim ke kampung waktu Mama meninggal dan Ayah menikah lagi? Itu kan nunjukin aku nggak diinginkan di sini. Setelah aku menderita bertahun-tahun, kenapa baru sekarang ada yang nyuruh orang jemput aku? Aku yakin kalian semua udah lupa aku!” suara Scarlet pecah. Ia tetap menunduk, seolah tak ingin ada yang melihat matanya. Tak seorang pun tahu, di balik kelopak yang basah itu ada kilat dingin yang disembunyikan rapat-rapat; bagi mereka, Scarlet cuma patah hati dan malu memperlihatkan tangis.

Di kehidupan sebelumnya, ia menerima perempuan itu dan anak-anaknya, percaya ia akan diperlakukan sama. Ia diam, tak pernah melawan, membiarkan mereka melakukan sesuka hati. Tapi di hidup ini, ia ingin mereka meragukan diri sendiri—mengusik sampai mereka muak, sampai mereka sendiri yang mengusirnya pergi.

Pak Jenkins berdehem, wajahnya menanggung rasa bersalah yang canggung. “Cukup. Ini istriku, jadi dia ibumu. Kamu harus memanggilnya begitu. Kamu pasti capek; Ayah antar ke kamarmu.”

Scarlet mengangguk patuh, kepala masih tertunduk. Namun saat ia berbalik mengikuti Pak Jenkins, ia menangkap bayangan Ann di cermin lorong. Gadis itu gemetar menahan amarah.

Kali ini, jantung Scarlet tak berdebar karena takut. Ia bernyanyi.

Baru sepuluh menit ia menjejakkan kaki di rumah itu, dan ia sudah mengubah ‘keluarga bahagia’ mereka jadi ladang ranjau. Ini bukan kepulangannya—ini hitungan mundur untuk mereka.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya