Bab 3

Saat aku sampai rumah, rumah besar itu sudah seperti sarang lebah yang disiram air panas.

Vendor katering membatalkan pesanan. Para tamu menuntut penjelasan. Ibuku nyaris menangis karena skandal itu.

Aku mengabaikan semuanya.

Aku langsung naik ke kamar, mengunci pintu, lalu membentangkan buku catatan lamaku di atas ranjang. Halaman demi halaman penuh coretan: nama, tanggal, potongan informasi, semua yang dulu diam-diam kuamati dan kusimpan rapat-rapat. Waktu itu, cuma obsesi kecil yang tidak membahayakan siapa pun.

Sekarang, itu amunisi.

Saat matahari sore mulai pudar, aku melingkari tiga nama. Orang-orang di lingkaran dalam Ethan yang diam-diam membencinya. Seorang pemasok yang pernah ia peras. Seorang pengacara yang ia bayar tidak sepadan. Seorang selingkuhan yang ia simpan di Singapura.

Aku tersenyum tanpa tawa.

Biar saja mereka bilang aku gila. Biar saja mereka bergosip soal renda yang tercabik dan pengantin yang “kolaps” di hari pernikahan.

Saat mereka berbisik, aku akan membakar kerajaannya sampai habis.

Lucien Feng bukan tipe orang yang mau bertemu dua kali.

Dia tidak mengulang perkataannya. Tidak membuang waktu. Dan jelas tidak membiarkan siapa pun masuk ke penthouse pribadinya kecuali orang itu siap berdarah demi ambisinya.

Malam itu, asistennya sendiri yang mengantarku naik lewat lift kaca.

“Silakan lewat sini, Nona Lin,” katanya, menempelkan kartu akses ke panel privat. “Tuan Feng sudah menunggu.”

Pintu lift bergeser terbuka, memperlihatkan pemandangan yang membuat napasku tercekat—bukan semata karena kemewahannya, meski itu ada di mana-mana, melainkan karena tempat ini berdiri di atas kota seolah-olah memang pemilik langitnya.

Jendela dari lantai sampai langit-langit menampilkan panorama tak berujung: kota berkilau seperti bintang-bintang jatuh lalu membangun kerajaan dari baja. Furnitur serba ramping, garis-garis bersih, tak ada yang berlebihan.

Lucien berdiri di dekat kaca, segelas whiskey gelap di satu tangan, lengan kemeja digulung, kerah terbuka.

Dia tidak menoleh saat aku masuk. Hanya berkata, “Kamu cepat.”

“Aku kira Anda tidak suka orang yang membuang waktu.”

Ujung bibirnya bergerak, nyaris seperti senyum. “Bagus. Duduk.”

Aku tidak duduk.

Aku meletakkan map tebal di meja di antara kami.

“Semua yang kubilang. Kejanggalan finansial, faktur palsu, rekening luar negeri atas nama Lila, semuanya bisa ditarik ke Zhao Corporation. Ethan sudah mengalirkan uang lewat perusahaan cangkang buat membeli saham para pemegang saham kecil diam-diam, tanpa sepengetahuan dewan direksinya.”

Lucien akhirnya menoleh.

Secara langsung, dia lebih tajam daripada foto mana pun: tulang pipi tinggi, rahang keras, mata seperti bilah yang dicelup tinta. Tampan dengan cara yang paling berbahaya. Orang tidak menatap Lucien Feng. Orang menakar dia seperti senjata dan berharap senjata itu tidak sedang diarahkan ke dirinya.

Dia membuka map itu, membalik beberapa lembar, lalu bersiul pelan.

“Wah, wah. Kukira kamu cuma gertak.” Dia mengangkat pandangannya. “Ternyata kamu lebih bagus daripada analis-analis saya.”

“Aku tunangannya,” kataku. “Aku tahu apa yang dia sembunyikan bahkan sebelum dia sadar itu bisa ketahuan.”

Dia melangkah mendekat perlahan, sengaja, seolah setiap langkah sudah dihitung. “Dan sekarang kamu mau balas dendam.”

Aku mengangguk sekali. “Aku mau lihat semua yang dia bangun runtuh menimpa dirinya sendiri. Aku mau dia kehilangan perusahaan, uang, nama baik. Aku mau dia tahu rasanya tidak punya kuasa.”

Kilau di mata Lucien mengeras. “Kamu akan cocok.”

Dia melewatiku, menuang gelas whiskey kedua, lalu menyerahkannya. Aku menerimanya, tapi tidak minum.

“Jadi, coba bilang,” katanya, bersandar di meja dapur di sampingku. “Ini murni soal pengkhianatan? Atau ada bagian dari dirimu yang masih berusaha menarik perhatiannya?”

Aku menoleh padanya pelan. “Bagian mana dari ‘tolong bantu aku hancurin hidupnya’ yang kedengarannya kayak aku pengin dapat perhatian dia?”

Dia mengangkat bahu. “Orang itu ruwet. Kadang dendam cuma patah hati yang nyamar.”

“Kali ini enggak.”

Hening.

Lalu dia menggapai daguku—terlalu cepat buat kuhindari—dan memiringkan wajahku ke arahnya.

“Kamu ngapain?” kataku, mata menyipit.

“Ngetes sesuatu.”

Dia mendekat.

Bibirnya menyentuh bibirku, bukan ciuman, bukan juga. Lebih seperti bayangan ciuman. Sekilas saja—cukup buat bikin tubuhku membeku, seperti rusa yang tiba-tiba sadar pemangsa bisa menerkam kapan pun.

Aku tersentak mundur, menepis tangannya, lalu melangkah mundur seolah dia panas membakar.

“Jangan,” kataku dingin. “Aku ke sini buat perang, bukan romansa.”

Lucien tertawa. Beneran tertawa. Dalam, tanpa merasa bersalah.

“Itu bagus,” katanya. “Bagus sekali.”

“Apa-apaan barusan itu?” bentakku.

“Aku harus yakin,” jawabnya, matanya menari-nari menahan geli. “Ada perempuan yang pakai dendam sebagai alasan buat nyungsep lagi ke ranjang sama kesalahannya—atau lebih parah, sama orang baru. Aku perlu tahu kamu bakal menghindar apa enggak.”

“Aku enggak menghindar. Aku nolak kamu.”

“Justru itu.”

Aku menaruh gelas dan menatapnya, suaraku mantap. “Kita lurusin dulu, Mr. Feng. Aku enggak di sini buat menggoda kamu atau digoda. Aku di sini buat menghancurkan Ethan Zhao. Habis itu aku hilang. Jelas?”

Dia mengangkat gelasnya seperti bersulang main-main. “Jelas banget.”

Tapi ada sesuatu yang berubah di udara di antara kami.

Setengah jam kemudian, saat aku meninggalkan penthouse-nya dengan rahang mengeras dan jantung stabil, aku bilang ke diri sendiri: enggak ada apa-apa di antara kami. Enggak ada tarikan. Enggak ada percikan. Enggak ada.

.............

Begitu aku turun dari mobil mewah yang disiapkan Lucien, udara di sekitar rumah besar itu terasa…aneh.

Terlalu diam. Terlalu sunyi.

Lampu teras menyala, dan aroma kacapiring yang ibuku ngotot tanam di sepanjang jalan setapak mengambang di udara malam, tapi ada yang salah.

Begitu aku masuk, aku melihat dia.

Ethan.

Dia berdiri di tengah foyer yang megah seolah rumah itu miliknya—jasnya terbuka, dasinya longgar, rambutnya rapi-berantakan dengan gaya effortless yang selalu dia pelihara. Tapi ini bukan Ethan yang menawan dan licin seperti tunangannya yang semua orang kenal. Ethan yang ini menyimpan bara amarah di balik ketenangannya.

“Kamu dari mana saja?” tuntutnya, suaranya rendah tapi tajam sampai terasa bisa membelah batu.

Aku tidak gentar. “Keluar.”

“Keluar?” Dia melangkah mendekat, mata menyipit. “Serena, ini jam satu pagi. Kamu hilang seharian, kamu batalin pernikahan kita, kamu hancurin gaun seratus ribu dolar, dan sekarang kamu masuk santai kayak enggak terjadi apa-apa?”

Aku melewatinya sambil melepas mantel. “Oh, jadi sekarang kamu peduli aku pergi ke mana?”

“Jangan diplintir.”

Aku berbalik pelan menatapnya. “Plintir apa? Fakta kalau akhirnya aku berhenti jadi boneka kamu? Atau kalau aku enggak bakal nikah sama laki-laki yang cintanya ada syarat-syarat kecilnya?”

Dia bergerak cepat mendekat. “Kamu jelasin. Aku setidaknya pantas tahu.”

Aku tertawa singkat, hambar. “Pantas? Kamu enggak pantas dapat apa pun dariku.”

Rahangnya mengeras, dan sedetik ada sesuatu melintas di matanya. Bukan sakit. Bukan sesal. Mungkin kendali yang mulai lepas. Mungkin takut.

“Kamu bareng seseorang,” katanya tiba-tiba. “Iya, kan?”

Pertanyaan itu seperti pukulan yang dilempar dalam gelap. Aku memiringkan kepala. “Emangnya penting?”

“Siapa? Bilang.”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya