Anjing Lapdog

Catatan Penulis

Untuk para pembaca,

Terima kasih sebesar-besarnya karena sudah memilih buku ini untuk kalian baca. Dukungan kalian benar-benar berarti segalanya.

Aku ingin minta maaf dari awal kalau nanti kalian menemukan kesalahan saat membaca. Buku ini belum melewati proses penyuntingan profesional, dan selama menulis aku mungkin saja kelewat beberapa detail di sana-sini. Kalian juga mungkin akan melihat sedikit ketidakkonsistenan pada beberapa nama tokoh atau perubahan kecil di sepanjang cerita; itu semata-mata karena kelalaianku sendiri saat menyusun kisahnya.

Tolong maklumi kekeliruan itu dan coba fokus pada inti ceritanya. Aku sungguh berharap hal-hal itu tidak mengurangi pengalaman membaca kalian, karena buku ini kutulis dengan begitu banyak gairah, emosi, dan cinta pada bercerita.

Terima kasih sudah mengerti, sudah mendukung, dan sudah ada di sini bersamaku.

Dengan cinta, selalu,

Astrid

Bayangan-bayangan itu bergerak lebih dulu sebelum aku sempat apa-apa.

Mereka melata di antara batang-batang pohon, memanjang tak wajar melintasi lantai hutan. Udara terasa pekat, lembap, dan—entah kenapa—salah. Kakiku menghantam tanah saat aku berlari, napas tersengal-sengal, tajam dan tak beraturan. Ranting-ranting mencabik lenganku, tapi aku tidak berhenti. Aku tidak bisa.

Ada sesuatu di belakangku. Mengawasi. Mengejar.

Aku tak berani menoleh.

Lalu bisikan itu datang. Semula rendah dan jauh, tapi kian lama kian jelas, melingkari tubuhku seperti hembusan dingin yang menempel di kulit.

“Astrid.”

Aku menelan ludah keras-keras, memaksa diri terus maju, jantung membentur tulang rusukku. Pepohonan membentang tanpa ujung di depan, labirin gelap yang tak berbelas kasihan. Paha dan betisku terasa terbakar, tapi aku tetap berlari, didorong rasa takut yang mencakar-cakar dadaku.

Lalu aku melihatnya.

Seekor serigala raksasa berdiri di tanah lapang di depan, memblokir jalanku. Bulunya gelap seperti tengah malam, menyatu dengan bayangan seolah ia lahir dari sana. Sepasang mata berwarna bara menyala mengunci tatapanku, berpendar dengan sesuatu yang tak kumengerti.

Aku mengerem mendadak, dada naik turun, napas memburu.

Seharusnya ia menyerang. Seharusnya ia menerjangku, memperlihatkan taring, melakukan apa pun.

Tapi tidak.

Serigala itu justru menundukkan kepalanya.

Bukan sebagai ancaman.

Bukan sebagai peringatan.

Ia… membungkuk.

Seperti pelayan di hadapan ratu.

Rasa dingin merayap di sepanjang tulang punggungku. Detik itu memanjang, menebal oleh ketegangan, oleh sesuatu yang purba, sesuatu yang kuat. Napasku tercekat.

Lalu semuanya lenyap.

Aku terbangun dengan terengah, jantung masih menghantam-hantam dadaku. Kamarku gelap, tapi mimpi buruk itu masih menempel, berat dan pekat. Kulitku basah oleh keringat, napasku gemetar saat aku duduk.

Cuma mimpi. Cuma—

Aku membeku.

Aroma tanah basah memenuhi hidungku, bau hutan yang kaya dan tak mungkin keliru itu masih menggantung di udara. Jari-jariku mencengkeram seprai, lalu aku merasakannya: perih tajam di lengan.

Aku menyingkap selimut dengan cepat. Napasku tertahan di tenggorokan.

Di sana, di kulitku, ada tiga goresan panjang dan tipis.

Masih baru.

Nyata.

Aku menarik napas pelan dan menghembuskannya, memaksa detak jantungku mereda. Itu cuma mimpi buruk. Mimpi buruk yang bodoh, yang terlalu nyata.

Goresan itu? Pasti aku yang membuatnya sendiri waktu tidur. Mungkin aku punya kebiasaan mengigau, berjalan dalam tidur, atau tersandung benda-benda entah apa. Ya, itu masuk akal. Aku tidak mau tiba-tiba mulai percaya mimpi bisa menjulur dan menyentuhku di dunia nyata.

Menepis rasa tak enak itu, aku mengayunkan kaki turun dari ranjang dan berdiri. Tubuhku kaku, seperti aku benar-benar menghabiskan malam berlari di dalam hutan. Aku memutar bahu, menyingkirkan pikiran itu, lalu melangkah ke kamar mandi.

Saat menyalakan shower, aku sempat menangkap bayanganku di cermin—rambut cokelat bergelombang yang sama, mata gelap yang sama, gadis yang sama yang selama ini menjalani hidupnya pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Aku delapan belas tahun, anak kelas tiga SMA, dan menjalani hidup yang seharusnya… cukup normal.

Kecuali kata normal rasanya tidak pernah benar-benar pas untukku.

Aku tidak ingat banyak hal sebelum diadopsi saat usia delapan. Hanya kilasan-kilasan—malam yang dingin, wajah-wajah buram, suara seseorang memanggil namaku dengan nada yang tak bisa kuletakkan dari mana. Orang tua angkatku, Tom dan Renee Monroe, menerimaku, memberiku rumah, memberiku hidup. Mereka orang baik, dan aku mencintai mereka.

Tapi selalu ada sesuatu yang terasa kurang. Ada lubang dalam masa laluku yang tak bisa diisi siapa pun.

Aku berpaling dari cermin dan melangkah masuk ke kamar mandi, membiarkan air panas menghapus rasa gelisah yang masih menempel. Saat selesai, aku merasa sedikit lebih jadi diriku sendiri. Aku mengenakan celana jeans dan hoodie pas badan, mengikat rambut jadi kuncir kuda asal-asalan, lalu meraih tasku sebelum keluar kamar.

Aroma kopi dan roti panggang langsung menyergap begitu aku masuk dapur.

“Pagi, Nak,” sapa Ayah dari balik koran, melirik cepat lewat atas kacamata. “Kamu kelihatan kayak hampir nggak tidur.”

“Wah, makasih ya, Yah,” gumamku, mengambil selembar roti panggang.

Ibu sudah di meja dapur, meracik kopinya seperti biasa—kebanyakan gula, kurang susu. “Belajar sampai malam?” tanyanya, satu alis terangkat.

“Kurang lebih,” jawabku pelan, malas menjelaskan kenapa mukaku seperti habis selamat dari film horor.

Aku jelas nggak akan cerita soal mimpi itu. Atau soal bekas cakaran itu.

“Pokoknya makan dulu sebelum berangkat,” kata Ibu sambil menyeruput kopi. “Dan ingat, malam ini kita makan malam bareng. Nggak ada latihan, nggak ada rencana dadakan. Waktu keluarga.”

“Iya,” kataku dengan mulut masih penuh roti, lalu menyambar tas dan buru-buru keluar.

Perjalanan ke sekolah cepat. Playlist langgananku menggelegar dari speaker, sementara aku memaksa diri menyingkirkan sisa-sisa mimpi tadi. Begitu mobil masuk area parkir, pemandangan Eastwood High yang sudah akrab bikin dadaku agak tenang.

Normal.

Aku cuma perlu fokus ke yang normal.

Aku menyampirkan tas di bahu dan masuk, menyusuri lorong yang penuh orang sampai ke kelas pertama. Tapi detik aku mendorong pintu, perutku langsung jatuh.

Di sana, menempel di sisi meja Jason, ada Bianca.

Pacarnya Jason.

Atau apa pun statusnya buat Jason.

Jari-jarinya yang kukunya rapi itu menyusup di rambut Jason, tubuhnya nyaris melekat seperti dicetak pas, dan Jason—Jason juga sama sekali nggak terlihat berusaha menjauh.

Aku membeku setengah detik, mencengkeram tali tas lebih kuat, sebelum memaksa kaki melangkah masuk seolah aku tidak baru saja memergoki sesuatu yang jelas-jelas nggak ingin kulihat.

Jason dan Bianca. Aku nggak tahu bagaimana, tapi entah kenapa mereka jadi bersama.

Jason sahabatku sejak kecil, dan meski dulu aku sempat punya rasa, aku nggak pernah tahu apa dia pernah merasakan hal yang sama.

Sampai suatu hari dia mengajakku ke rumahnya—aku kira cuma berdua—lalu dengan santainya dia bilang pacarnya juga bakal datang.

Pacar???

Orang macam apa yang ngomong begitu santai?

Seharusnya aku sudah tahu. Jason selalu ramah, santai, tipe cowok yang gampang disukai orang. Jadi ya tentu saja Bianca melilit dia seperti ular sialan begitu dapat kesempatan pertama.

Aku memutar mata, melewati mereka dan langsung menuju bangkuku, memaksa diri mengabaikan cara bibir Bianca melengkung jadi senyum kecil yang puas.

Aku benci melihatnya. Dia persis tipe cewek yang merasa dunia berputar untuknya—kaya, cantik, dan ratu jahat yang sudah tersertifikasi. Dan tentu saja, dia punya geng kecilnya.

Di sisi lain kelas, para pengikutnya duduk bareng pacar masing-masing, cekikikan melihat sesuatu di ponsel. Mantap.

Hari ini bakal panjang banget.

Sampai jam pelajaran berakhir, aku berhasil tidak bikin masalah, tapi Bianca jelas nggak bisa menahan diri.

Saat aku meraih tasku, suaranya melengking, manis menyakitkan tapi penuh racun.

“Hati-hati, Astrid. Cara kamu ngintil Jason begitu, nanti orang-orang bisa ngira kamu itu anjing pangkuannya.”

Aku berhenti di tempat.

Apaan barusan?

Pelan-pelan aku menoleh ke arahnya, ekspresiku kosong, tapi jariku bergerak-gerak gelisah di sisi tubuh.

Jason ada di situ. Dia dengar. Dia lihat Bianca menyeringai, menunggu reaksiku.

Dan dia cuma berdiri.

Nggak bilang apa-apa. Nggak satu kata pun.

Darahku mendidih.

Tanpa melirik mereka lagi, aku berputar dan menghentak keluar dari kelas.

Bab Selanjutnya