6 Book(s) Related to tuan mitchell cemburu

Tuan Walker, Bos Pelindungku

Tuan Walker, Bos Pelindungku

380 Dilihat · Sedang Diperbarui · Caroline moraes
Emily Harsa, mahasiswi Administrasi Bisnis yang keras kepala dan nggak mau kalah sama keadaan, merasa hidupnya akhirnya kasih celah ketika sahabatnya, Ema, berhasil nyelipin namanya buat magang di salah satu perusahaan paling berpengaruh dan disegani di Jakarta.

Emily datang di hari pertama dengan kemeja putih yang disetrika rapi, map berisi berkas, dan jantung yang berdebar campur antara gugup dan nekat. Kantor itu dingin, wangi kopi dan pendingin ruangan, lantainya mengilap, orang-orang berjalan cepat seolah semua punya arah yang lebih penting daripada dirinya.

Ema menyambutnya di lobi, wajahnya sumringah, rambutnya diikat asal.

“Lo beneran datang,” bisik Ema, nyenggol lengannya.

“Ya iyalah. Gue udah mau lulus, Ma. Ini kesempatan gue,” jawab Emily, berusaha terdengar santai padahal telapak tangannya basah.

Ema menuntunnya melewati pintu kaca menuju lantai atas, memperkenalkan dia pada beberapa orang HR, memberi tahu aturan-aturan dasar yang terdengar seperti mantra wajib: jangan telat, jangan banyak tanya di rapat, catat semua, dan satu hal yang diulang dua kali.

“Yang paling penting,” Ema menatapnya serius, “jangan bikin masalah sama Pak Noah.”

Emily mengernyit. “Siapa Pak Noah?”

Ema menarik napas, seolah menyebut nama itu saja bisa memanggil badai.

“Noah Wicaksana. CEO-nya. Umurnya tiga puluh empat. Dingin. Galak. Paling nggak suka orang lemot. Kalau dia udah ngomong, semua orang diam.”

Emily menelan ludah. “Oke.”

Namun semua peringatan itu ternyata nggak cukup mempersiapkan dirinya.

Pertama kali Emily melihat Noah Wicaksana bukan saat dikenalkan resmi, bukan di ruang rapat, tapi di koridor yang panjang, di antara pintu-pintu kaca buram dan suara langkah sepatu yang tajam. Ia berjalan sendirian, setelan jasnya jatuh pas di badan, wajahnya tegas, mata gelapnya seperti bisa menilai orang dalam sekali pandang.

Orang-orang yang dilewatinya otomatis menepi, menunduk, atau buru-buru menutup percakapan.

Noah berhenti tepat di depan Emily—seolah ia sengaja memilihnya dari keramaian. Tatapannya turun ke ID card magang yang masih menggantung kaku di leher Emily.

“Anak baru?” suaranya datar, rendah, tanpa basa-basi.

Emily berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Saya Emily. Baru mulai hari ini.”

Noah mengangguk tipis, nyaris bukan anggukan.

“Jangan bikin saya buang waktu,” ucapnya, lalu berjalan lagi.

Kalimat itu menempel di kepala Emily lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan cuma karena dinginnya, tapi karena cara Noah menatapnya—seperti ada sesuatu yang dia catat, sesuatu yang Emily sendiri belum paham.

Hari-hari pertama berjalan cepat. Emily mengerjakan tugas-tugas yang diberi Ema dan tim administrasi: merapikan data, menyusun laporan, menyiapkan bahan rapat, hal-hal yang terasa remeh tapi menuntut ketelitian. Ia belajar membaca ritme kantor itu: jam delapan orang sudah menyalakan laptop, jam sepuluh rapat-rapat kecil dimulai, jam makan siang cepat, dan sore menjelang malam masih banyak lampu yang menyala.

Sampai suatu siang, telepon meja Ema berdering. Ema mengangkat, mendengarkan, lalu matanya membesar sebelum menutup sambungan.

“Kenapa?” tanya Emily.

Ema menelan ludah. “Pak Noah minta lo.”

Emily tertawa kecil, refleks menolak kenyataan. “Bercanda, ya?”

Ema menggeleng. “Serius. Dia bilang, ‘Suruh anak magang yang baru itu ke ruangan saya. Sekarang.’”

Sekarang.

Emily berdiri, merapikan bajunya lagi, dan melangkah menuju lantai eksekutif dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Lorongnya lebih sunyi, karpetnya lebih tebal, dan pintu ruang CEO berdiri seperti batas yang seharusnya tidak dilewati sembarangan.

Sekretarisnya mempersilakan masuk.

Di dalam, Noah duduk di balik meja besar, layar laptop menyala, beberapa berkas terbuka. Ia bahkan tidak langsung menatap Emily.

“Duduk,” katanya singkat.

Emily duduk di kursi depan meja, punggungnya tegak, berusaha tidak terlihat terlalu kecil.

Noah akhirnya mengangkat kepala. “Saya baca ringkasan laporan yang kamu susun tadi pagi.”

Emily menahan napas. “Ada yang salah, Pak?”

“Salah tidak,” jawab Noah. “Tapi bisa lebih rapi. Dan kamu cepat.”

Itu bukan pujian, tapi terasa seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Saya butuh kamu bantu saya untuk beberapa hal. Mulai hari ini, beberapa tugasmu akan langsung dari saya.”

Emily tertegun. “Saya… anak magang, Pak.”

“Justru,” kata Noah, suaranya tetap datar. “Saya butuh orang yang nggak banyak drama dan bisa kerja. Kamu bisa?”

Emily mengangguk, meski tenggorokannya kering. “Saya bisa, Pak.”

Noah menyandarkan badan, menatapnya lebih lama.

“Bagus. Jangan bikin saya menyesal.”

Sejak hari itu, nama Emily mulai lebih sering disebut dalam pesan singkat sekretaris, dalam instruksi tiba-tiba, dalam permintaan rapat dadakan. Ia dipanggil ke ruangan CEO untuk merapikan materi presentasi, mengecek angka, menyiapkan catatan ringkas yang harus selesai sebelum malam.

Semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa dingin Noah bukan sekadar gaya. Ia tegas sampai ke detail yang melelahkan, suaranya nyaris tidak pernah naik, tapi setiap kata punya bobot yang membuat orang ingin patuh. Ia jarang tersenyum, jarang menyebut “tolong”, namun tidak pernah berbicara tanpa tujuan.

Emily mencoba melihatnya sebagai atasan—hanya atasan.

Tapi ada sesuatu yang sulit diabaikan: tatapan Noah yang sering tertahan sedikit lebih lama, keheningan di antara perintah dan jawaban, ruang kosong yang seolah dipenuhi sesuatu yang tidak bisa disebut.

Di luar kantor, Emily sering pulang larut. Ema menunggunya di pantry, menatapnya dengan campuran iri dan khawatir.

“Dia ngapain sih sama lo?” tanya Ema suatu malam.

Emily menyandarkan kepala ke lemari, lelah. “Kerja. Ya kerja.”

“Kerja kok tiap hari dipanggil terus. Hati-hati, Mil.”

Emily ingin menertawakan itu. Tapi justru karena ia tahu Ema tidak suka mengada-ada, kata-kata itu menancap.

Ada hari ketika Noah menegurnya karena salah memasukkan satu angka kecil. Emily merasa wajahnya panas, malu bercampur kesal. Namun setelah semua orang keluar dari ruangan rapat, Noah memanggilnya lagi.

“Kamu takut sama saya?” tanya Noah tiba-tiba.

Emily menatapnya, bingung. “Saya… menghormati Bapak.”

Noah menghela napas pelan, seolah jawaban itu tidak memuaskannya. “Kalau kamu mau bertahan di sini, jangan cuma mengandalkan takut. Pahami apa yang kamu kerjakan.”

Emily mengangguk, tapi mata Noah seperti menyimpan sesuatu—kelelahan yang disembunyikan, tekanan yang tidak pernah diceritakan, kesepian yang dibungkus disiplin.

Untuk pertama kalinya, Emily melihat celah di balik dinding itu. Dan celah itu membuatnya semakin sulit menjaga jarak.

Hari-hari bergulir, dan ketegangan yang awalnya cuma seperti listrik kecil berubah menjadi sesuatu yang mengganggu: muncul di cara Emily memperhatikan langkah Noah dari kejauhan, di cara ia menahan napas ketika Noah berdiri terlalu dekat untuk menunjukkan satu poin di layar, di cara Noah mengucapkan namanya tanpa nada, tapi tetap terdengar seperti panggilan.

Hubungan mereka masih profesional di permukaan. Tidak ada sentuhan, tidak ada kalimat manis. Tapi ada rahasia yang tumbuh di sela-sela kalimat singkat, dalam tatapan yang tidak selesai, dalam keinginan yang sama-sama ditahan sampai menjadi beban.

Dan ketika suatu malam Noah memintanya tinggal lebih lama—hanya mereka berdua di ruangan besar yang sunyi, lampu kota berkelap-kelip di balik jendela—Emily sadar ada batas yang semakin tipis.

Noah berdiri di dekat jendela, dasinya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Wajahnya tampak lebih manusiawi tanpa formalitas itu, tapi justru lebih berbahaya.

“Kamu capek?” tanya Noah tanpa menoleh.

“Sedikit, Pak,” jawab Emily jujur.

Noah tertawa kecil, pendek, suara yang jarang keluar dari dirinya. “Kamu selalu sopan. Bahkan saat kamu ingin kabur.”

Emily terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat.

Noah menoleh, kali ini menatapnya langsung. “Emily… kamu harus paham. Di kantor ini ada aturan. Ada batas.”

Emily merasa dadanya sesak. “Saya tahu.”

“Tapi kadang,” lanjut Noah, suaranya lebih rendah, lebih pelan, “orang tetap melewati batas itu.”

Keheningan turun seperti kain tebal. Emily bisa mendengar detak jam dinding, suara napasnya sendiri, dan sesuatu yang terasa terlalu jujur di mata Noah.

Perasaan yang selama ini disembunyikan—ditutup dengan tugas, dengan disiplin, dengan kalimat-kalimat singkat—mulai muncul ke permukaan. Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk berpura-pura.

Di titik itu, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama-sama tajam: patuh pada aturan yang menjaga semuanya tetap rapi, atau mengambil risiko untuk sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.
Tuan Muda Berpakaian Merah

Tuan Muda Berpakaian Merah

1.2k Dilihat · Sedang Diperbarui · Evelyn Blackwood
Usia sebelas tahun, dia menyembunyikan riasan merah untuk adiknya, seorang pemuda lemah, dengan sebilah pedang panjang, menjaga perbatasan utara. Usia tujuh belas tahun, dia mengikuti pangeran dalam berbagai pertempuran, menembus rintangan, sebagai putra sulung keluarga Tang, penerus setia. Usia dua puluh tahun, hadiah ulang tahunnya adalah dekrit dari kaisar: keluarga Tang dari kantor perdana menteri, menipu kaisar dan seluruh keluarga ditangkap. Dia menyerahkan pedang tajamnya, menyerahkan perbatasan utara, menyerahkan Da Zhao, menyerahkan semua yang dia anggap terbaik, yang seharusnya milik raja. Tapi Tang Qian tidak tahu, pangeran yang dulunya keras kepala dan manja menjadi dewasa dan bijaksana, setelah kaisar mendapatkan seluruh negeri, mengapa dia mencabut kekuasaan militer Tang Qian, lalu menekan terus-menerus, hampir menempatkan keluarga Tang dalam situasi tanpa harapan. Tang Qian berpikir itu karena kaisar takut akan kekuasaannya yang terlalu besar, mengulangi nasib Raja Zhenling di masa lalu. Dia berhati-hati dalam setiap langkah, melepaskan kekuasaan, mundur dari istana, Tang Qian hampir menjadi orang biasa, tetapi tetap tidak bisa menghindari malapetaka keluarga Tang. Setelah berlutut menerima dekrit itu, dia baru sadar, cara kaisar hanya untuk memaksa Tang Qian menyerahkan dirinya sendiri.

Semua orang mengatakan bahwa keluarga Tang dari Marquis Changning mendukung kaisar baru naik takhta, dihormati di Da Zhao, sangat mulia. Tapi orang-orang di sekitar Pangeran Ketujuh tahu, hati kaisar bisa memaafkan mantan musuh politik yang berpindah pihak, tapi tidak bisa mentolerir Tang Qian melihat orang lain. Kekerasan pangeran terhadap Marquis Changning membuat semua orang tidak bisa memahami. Cantik alami, namun terjebak dalam bencana keluarga, tidak pernah memakai gaun sehari pun; namun hari ini, dengan gaun panjang merah menyala, menyilaukan mata semua orang, hanya berlutut di depannya dengan rendah hati, hanya untuk mendengar satu kalimat, "Mau bebaskan keluarga Tang? Maka hibur aku, Tang Qian, dengan cara seorang wanita."
TERIKAT PADA TUAN BLACK

TERIKAT PADA TUAN BLACK

408 Dilihat · Sedang Diperbarui · saeedatak13
Tia tak pernah punya keinginan menikah dengan Adam Black. Tapi hidup memaksanya sampai ke titik di mana kata “tidak” terasa seperti kemewahan yang bahkan tak sanggup ia beli. Dan Adam sendiri jelas tidak menginginkannya—setidaknya, tidak pada awalnya.

Pernikahan itu terjadi bukan karena cinta, melainkan karena kehendak sang nenek yang tak bisa dibantah. Adam menatapnya seolah Tia hanya beban yang tiba-tiba diletakkan di pundaknya. Sejak hari pertama, ia memperlakukan Tia dengan dingin—dingin yang menusuk, kasar yang melukai, tanpa ruang untuk belas kasihan. Setiap kata Adam terasa seperti pagar tinggi yang sengaja ia bangun agar Tia tak pernah bisa mendekat.

Sementara itu, Tia yang lembut dan berhati lunak memilih bertahan. Ia menelan kecewa, menyembunyikan luka, dan memeluk sabar seerat-eratnya, seakan kesabaran bisa menjadi selimut untuk segala kebekuan yang ia terima.

Namun hati manusia bukan batu selamanya.

Di antara jarak yang diciptakan Adam dan keteguhan yang dijaga Tia, sesuatu perlahan tumbuh—diam-diam, tak terduga, dan semakin sulit diingkari. Mereka akhirnya jatuh cinta.

Tapi, apakah cinta itu akan bertahan selamanya?

Bersiaplah menyelami kisah Adam Black dan Tia Nelson—kisah yang cantik, getir, dan memaksa hati ikut berdebar sejak awal.
Tuan Rumah Wanita yang Memesona

Tuan Rumah Wanita yang Memesona

512 Dilihat · Sedang Diperbarui · Eldrin Blackthorn
Kita semua hidup di masa di mana keinginan berkembang dengan liar, namun kita tetap mencari kebenaran dalam keserakahan. Pertama kali bertemu, dia membawaku pulang. Awalnya, kami saling tidak suka. Namun kemudian, kunci rumahnya ada di sakuku, dan dia mulai memanggilku Tuan Pelangi.
Tuan Pemilikku, Sang Tawanan Cinta

Tuan Pemilikku, Sang Tawanan Cinta

498 Dilihat · Sedang Diperbarui · Maya Sujiman
Orang yang paling kucintai—Handi, hakim termuda sepanjang sejarah, justru menjadi orang yang menjebloskanku ke penjara.
Selama tiga tahun itu, seluruh harga diriku terkikis habis.
Setelah bebas, keadaan keluarganya sudah porak-poranda. Tanpa tempat tinggal, aku terpaksa menjadi seorang hostes kelab malam yang hina.
Takdir mempertemukan aku dan Handi lagi.
Dia memandangi rok miniku yang mengumbar dengan tatapan dingin, meremas erat pinggangku, dan berkata dengan suara bergetar penuh amarah, “Aisyah, siapa yang mengizinkanmu bekerja di tempat seperti ini?”
Aku menyunggingkan senyum menggoda, merayunya. “Tuan, mau beli sebotol anggur? Dan… malam ini aku sepenuhnya milik Tuan.”
Tuan Muda, Pangeran adalah Pelayan

Tuan Muda, Pangeran adalah Pelayan

1.2k Dilihat · Sedang Diperbarui · Lorraine Whitcombe
Dia, bocah pelayan termiskin di rumah bordil, adalah anak bungsu dari pangeran paling berkuasa. Hanya dia yang bisa memerintah di dalam rumah bordil besar itu. Hanya dia yang bisa melarikan diri lebih cepat dari kelinci setelah dipukuli. Hanya dia yang bisa membuat kakaknya yang terkenal di seluruh negeri marah sampai mulutnya berbusa.

"Mas, bukannya kamu bisu ya?"

"......"

"Mas, kamu mau jadi kaisar ya?"

"......"

"Mas......"

"Aku bukan kakakmu."

"Aku tahu. Teh putih, kebahagiaan yang tenang tanpa hal lain, aku menunggu angin dan juga menunggumu."
1