Bab [1] Pengadilan Pribadi

Di ruang sidang yang sunyi dan mencekam, suara palu hakim menghantam meja dengan keras.

Tok!

Suara itu diikuti oleh nada bicara seorang pria yang rendah, dingin, dan menusuk tulang.

"Berdasarkan hasil persidangan, Terdakwa Aisyah Nurhaliza terbukti secara sah dan meyakinkan telah menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan seksual terhadap korban, Indira Wijaya, yang mengakibatkan luka berat. Fakta kejahatan telah terbukti, dan berdasarkan undang-undang yang berlaku, Terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun."

"Terdakwa Aisyah Nurhaliza, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?"

Tatapan Handi Hananto menghunus tajam dari kejauhan, layaknya sebilah belati dingin.

Saat pandangan mereka bertemu, Aisyah merasa jantungnya seperti diiris sembilu hingga berdarah-darah.

Pria yang ia cintai selama tujuh tahun, kini dengan mulutnya sendiri membacakan vonis hukumannya.

Padahal, Handi tahu betul bahwa bukti-bukti yang menyudutkannya itu penuh kejanggalan. Namun, hanya karena kesaksian sepihak dari Indira Wijaya, wanita yang dicintainya, Handi tega menghukumnya!

Aisyah mencengkeram erat meja kayu di hadapannya hingga buku-buku jarinya memutih. Saat ia membuka mulut, suaranya terdengar sangat parau.

"Bukan aku... Aku tidak pernah melakukan hal-hal itu! Handi, tolong percayalah padaku..."

Tok!

Palu hakim kembali diketuk, memotong ucapannya.

Suara Handi kini terdengar lebih penuh kebencian dibandingkan sebelumnya.

"Jaga sikap Anda. Jangan panggil nama saya. Anda bilang Anda tidak melakukannya, apakah Anda punya bukti?"

"Atau, apakah Anda sedang meragukan integritas pengadilan ini?"

Begitu kalimat itu terlontar, hampir seluruh pasang mata di ruang sidang menatap sinis ke arah Aisyah.

Handi Hananto, Hakim Ketua termuda di seluruh Jakarta. Kasus yang ditanganinya tidak pernah meleset.

Keadilan? Dia duduk di sana, dialah personifikasi dari keadilan itu sendiri.

Kasus ini, sejatinya sudah berakhir bahkan sebelum Handi membacakan vonisnya. Aisyah mengatakan apa pun sekarang hanyalah sia-sia.

Bahkan tanpa perlu Handi memberi perintah lagi, petugas kejaksaan langsung maju, menyeret Aisyah keluar dari kursi terdakwa.

"Saya ingin bicara dengan Handi Hananto."

Sepanjang jalan menuju sel tahanan sementara, Aisyah membisu. Baru ketika gerbang besi penjara hendak ditutup, ia bersuara dengan serak.

Yang ia dapatkan hanyalah cibiran dari sipir penjara.

"Sekarang baru tahu rasa takut? Sudah terlambat."

"Nona Nurhaliza pasti pernah dengar bagaimana nasib pelaku kekerasan seksual di dalam penjara, apalagi dalang utamanya sepertimu. Cih."

Dengusan dingin itu menjadi pertanda buruk bagi kehidupan penjara yang akan dijalani Aisyah mulai hari ini.

Aisyah hanya bisa menggigit bibirnya, menahan gemetar.

"Saya harus bertemu Handi Hananto. Kalau tidak, saya akan membeberkan kepada seluruh dunia bahwa Hakim Handi Hananto telah melakukan malpraktik peradilan."

Ia tidak habis pikir, mengapa Handi tega melakukan ini padanya? Mengapa pria itu rela mempertaruhkan karier cemerlangnya hanya untuk menjebloskannya ke penjara?

Sebegitu cintanya dia pada Indira Wijaya?

Lalu bagaimana dengan dirinya? Dianggap apa dia selama ini?

Tiga jam kemudian, Aisyah akhirnya berhasil menemui Handi di ruang kunjungan khusus.

Pria itu sudah menanggalkan jubah hakimnya yang melambangkan keagungan hukum, kini ia mengenakan setelan jas bespoke yang dijahit sempurna, membuatnya tampak semakin tinggi, tegap, dan mengintimidasi.

"Kau mencariku, kuharap ini benar-benar penting."

Hati Aisyah kembali terasa nyeri.

"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau tahu betul, bukti-bukti itu hanya rekayasa..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Handi memotong dengan dingin.

"Maksudmu, aku telah memfitnahmu?"

"Saat Indira sadar, dia sendiri yang mengatakan bahwa para pelaku itu meneriakkan namamu saat menyiksanya. Bagaimana kau menjelaskan itu?"

Mata Aisyah terbelalak kaget. "Aku tidak melakukannya! Aku sama sekali tidak mengenal preman-preman itu! Dan lagi..."

Selama bertahun-tahun ini, ia selalu mengejar-ngejar Handi. Siapa di Jakarta yang tidak tahu bahwa putri keluarga Nurhaliza adalah pemuja setia Handi Hananto? Tidak heran jika orang-orang jahat itu tahu namanya. Itu sama sekali tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti hukum!

"Sudah sampai tahap ini, kau masih saja menyangkal."

Entah kapan Handi bergerak, tiba-tiba pria itu sudah berdiri di hadapannya. Tangan besarnya mencengkeram dagu Aisyah dengan kasar.

Aisyah terpaksa mendongak, menatap langsung ke dalam mata pria itu yang penuh kilatan amarah.

"Selama ini, kau terus menggangguku, cemburu pada perhatianku ke Indira, dan melakukan hal-hal licik di belakangku."

"Indira sudah memohon padaku untuk mengampunimu, makanya aku tidak mempermasalahkan gangguanmu sebelumnya. Tapi aku tidak menyangka, hatimu ternyata sebusuk ini!"

Setelah berkata demikian, Handi menghempaskan wajah Aisyah dengan jijik.

"Hal yang paling kubenci adalah orang-orang sepertimu. Orang yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi."

Dengan tangan dan kaki yang terbelenggu borgol, Aisyah jatuh terduduk di lantai dengan menyedihkan. Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan seperseribu rasa sakit di hatinya.

"Handi, jadi selama ini, begitulah caramu memandangku? Lalu kenapa kau setuju bertunangan denganku?"

Ia mengira, kesediaan Handi untuk bertunangan berarti pria itu memiliki sedikit perasaan khusus padanya.

Tapi sekarang, bahkan kesempatan untuk menjelaskan pun tidak diberikan...

"Itu hanya pernikahan bisnis. Aku hanya tidak menyangka, rekan bisnisku ternyata begitu merepotkan."

Nada bicara Handi penuh dengan kejenuhan.

"Setelah kejadian ini, sandiwara ini harus diakhiri. Aku tidak akan menikahi seorang kriminal."

"Dan beberapa hari lagi, anggota keluarga Nurhaliza yang lain akan masuk ke sini untuk menemanimu."

Aisyah belum sepenuhnya pulih dari pukulan batin sebelumnya, ketika kalimat terakhir itu menghantamnya seperti petir. Ia terpaku.

"Apa maksudmu?"

Handi menatapnya rendah, seolah melihat kotoran. "Keluarga Nurhaliza terlibat kejahatan finansial dan pencucian uang. Buktinya sudah lengkap. Tiga hari lagi, aku sendiri yang akan memimpin sidangnya."

"Handi Hananto!" Aisyah tertatih-tatih bangkit dari lantai, rasa tidak terima di hatinya berubah menjadi amarah yang meledak-ledak.

"Kalau kau benci padaku, lampiaskan saja padaku! Jangan bawa-bawa keluargaku! Keluarga Nurhaliza setiap tahun rajin beramal, kami membangun bisnis dengan jujur, mana mungkin terlibat kejahatan finansial?!"

"Kau hanya ingin aku mengaku dan menderita, kan? Perlu sampai menggunakan cara kotor seperti ini?"

Wajah Handi tetap datar tanpa ekspresi. Teriakan dan pertanyaan Aisyah bagaikan angin lalu baginya.

Aisyah mengertakkan gigi, lalu seperti orang gila, ia menerjang maju dan menarik kerah jas mahal pria itu.

"Kenapa?! Kenapa kau tega sekali padaku! Apa salahku? Hanya karena aku mencintaimu, aku harus dihukum seberat ini?"

"Handi Hananto, kau yang selalu membanggakan keadilan, kenapa khusus padaku kau begitu tidak adil!"

Dia hanya mencintai seseorang, apa itu sebuah dosa?

"Berhenti! Jangan bergerak!"

Pintu ruangan terbuka kasar dari luar. Dua orang sipir mendengar keributan dan bergegas masuk dengan siaga.

"Pak Hakim, Anda baik-baik saja? Kami akan segera membawa tahanan ini kembali."

Tanpa menunggu jawaban, kedua sipir itu langsung mencengkeram lengan kiri dan kanan Aisyah, menyeretnya keluar.

Ruangan itu kembali sunyi.

Handi Hananto berdiri sendirian di tengah ruangan. Tatapan mata Aisyah yang penuh amarah dan kepedihan masih terbayang-bayang di benaknya.

Perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba menyeruak di dadanya.

Tiba-tiba, pintu kembali terbuka.

Seorang pria paruh baya masuk. Dia adalah ayah kandung Indira Wijaya, sekaligus orang kepercayaan yang bekerja di bawah pengaruh Handi.

"Terima kasih banyak, Pak Handi, sudah membela Indira. Hanya saja... saya dengar Aisyah Nurhaliza hanya divonis tiga tahun..."

Pria itu tampak tidak puas dengan masa hukuman Aisyah.

Handi menyipitkan mata, menekan emosi yang sempat muncul tadi, lalu melirik pria itu dengan datar.

"Ada masalah?"

Mata pria itu memerah, "Kasus ini sudah tersebar luas, bagaimana nasib Indira nanti... reputasinya..."

Kening Handi sedikit berkerut, namun nadanya tetap tenang tanpa riak.

"Masalah ini terjadi juga karena saya. Saya akan menikahi Indira. Apa pun yang dia inginkan, akan saya berikan."

Wajah pria tua itu seketika cerah.


Penjara Wanita.

Baru saja Aisyah melangkah masuk ke dalam sel barunya, ia langsung dikepung oleh beberapa narapidana wanita.

"Wah, ini dia si anak baru. Kudengar dia masuk karena jadi otak pemerkosaan. Korbannya kekasih Hakim Handi pula. Nyalinya besar juga!"

Setelah melewati semua kejadian hari ini, hati Aisyah sudah mati rasa, sekeras baja. Ia berpura-pura tidak mendengar dan berjalan lurus menuju ranjang jatahnya.

"Heh, jangan sok suci kau! Berani-beraninya menyentuh wanitanya Pak Hakim! Ayo! Hari ini kita kasih dia pelajaran!"

Begitu pemimpin geng itu memberi aba-aba, para tahanan lain langsung menyerbu Aisyah.

Aisyah, yang juga memendam amarah yang tak tersalurkan, memilih untuk melawan meskipun ia tahu ia kalah jumlah.

Namun sayang, tenaga satu orang tidak bisa melawan keroyokan. Hanya sempat membalas dua kali dorongan, ia sudah dibanting ke lantai beton yang dingin oleh beberapa wanita bertubuh kekar.

Suara tamparan keras bergema silih berganti di dalam sel yang pengap itu.

Plak! Plak!

Kesadaran Aisyah perlahan mulai kabur.

Sebelum ia pingsan sepenuhnya, hanya ada satu tekad yang tersisa di benaknya—

Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan hidup. Masih ada Ayah, Ibu, dan Kakaknya yang menunggunya pulang...

Bab Selanjutnya