Bab [3] Melayani Hakim Hananto dengan Baik

Aisyah Nurhaliza masih gemetar, jantungnya berdegup kencang karena syok yang belum reda, ketika telinganya menangkap nada bicara Arya Gunawan yang terdengar main-main.

Secara refleks, ia membantah, "Aku nggak sengaja, ada orang yang mendorongku!"

Begitu kalimat itu meluncur, para pemuda kaya di sekeliling mereka serentak mengangkat kedua tangan, gestur melebih-lebihkan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah.

"Kami nggak ngapa-ngapain, lho. Mana berani kami menyentuh wanita incaran Mas Gunawan? Seujung kuku pun nggak berani!"

"Lagian kalaupun didorong, di sini kan banyak orang, kenapa jatuhnya pas banget di pelukan Mas Gunawan? Modus banget, sih."

Arya Gunawan terkekeh pelan tepat di telinga Aisyah, "Kenapa harus takut? Naksir sama aku itu bukan hal yang memalukan, kok."

Aisyah Nurhaliza tersentak menyadari betapa intim posisi mereka saat ini. Ia segera meronta, berusaha bangkit.

Namun, tangan Arya Gunawan dengan kuat menahan pinggangnya. Telapak tangan pria itu menekan kain tipis gaunnya, merasakan lekuk tubuh Aisyah.

Arya mengakui, ia sudah sering bermain dengan banyak wanita, tapi wanita di pelukannya ini berbeda. Pinggangnya terasa begitu ramping, seolah-olah jika ia meremasnya sedikit lebih kuat, ia bisa melingkarinya hanya dengan satu tangan.

Penasaran, Arya Gunawan benar-benar merenggangkan jari-jarinya, berniat membuktikan pikirannya.

Tiba-tiba, tekanan di pinggangnya melonggar. Aisyah Nurhaliza tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencoba berdiri.

Namun detik berikutnya, pintu ruang VIP terbuka lebar. Seorang pemuda masuk dengan senyum lebar, diikuti oleh sosok lain di belakangnya.

"Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Hakim Hananto sudah datang, masa nggak ada sambutan?"

Ruangan itu mendadak hening. Semua mata tertuju pada Arya Gunawan, menunggu reaksi sang tuan rumah.

Arya Gunawan mengangkat tangan, bertepuk dua kali dengan tempo lambat. "Suatu kehormatan besar Hakim Hananto bersedia mampir ke tempat kami."

Mendengar itu, barulah orang-orang lain ikut menyapa dengan riuh.

Aisyah Nurhaliza, yang masih tertahan di sisi Arya Gunawan, membeku seketika.

Hakim Hananto? Handi Hananto? Mungkinkah kebetulan?

Dengan perasaan tidak percaya, ia menoleh kaku ke arah pintu.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri seorang pria dengan postur tinggi tegap. Cahaya dari lorong di belakangnya membiaskan siluet tubuhnya, mempertegas garis rahangnya yang tajam dan sempurna.

Itu benar-benar Handi Hananto. Siapa lagi kalau bukan dia?

Aisyah tidak menyangka mereka akan bertemu secepat ini.

Dada Aisyah Nurhaliza bergemuruh menahan emosi.

Pria itulah yang menyebabkan ia harus mendekam di penjara selama tiga tahun, membuatnya kehilangan tempat tinggal, dan hidup terlunta-lunta!

Bagaimana nasib keluarga Nurhaliza yang lain sekarang, ia bahkan tidak tahu...

Entah karena tatapan kebencian Aisyah yang terlalu tajam, Handi Hananto tiba-tiba menoleh ke arahnya.

Satu detik sebelum mata mereka bertemu, Aisyah menggertakkan gigi dan membenamkan wajahnya ke dada Arya Gunawan, menyembunyikan dirinya sepenuhnya.

Sekarang belum waktunya. Ia tidak ingin muncul di hadapan pria itu dengan keadaan menyedihkan seperti ini.

Arya Gunawan, yang mengira Aisyah sedang mencari perlindungan atau bermanja-manja, tersenyum puas sambil memainkan anak rambut wanita itu.

"Hakim Hananto memang agak mengintimidasi, tapi nggak perlu sampai ketakutan begitu, Sayang."

Aisyah Nurhaliza menunduk dalam-dalam, tidak menjawab. Tubuhnya tegang bukan main.

Ia bisa merasakannya. Handi Hananto sedang menatap ke arah mereka.

Arya Gunawan pun menyadarinya.

"Wah, Hakim Hananto sedang memperhatikan wanitaku? Sayang sekali, kekasihku ini sepertinya tidak suka padamu. Dia pikir kau menakutkan."

Arya Gunawan mempererat rangkulannya di pinggang Aisyah, lalu mengangkat wajah menatap Handi dengan tatapan provokatif.

Handi Hananto tidak terpancing. "Saya sudah punya tunangan," jawabnya datar, bahkan terdengar sedikit meremehkan.

Setelah berkata demikian, ia melangkah masuk.

Keluarga Gunawan dan Keluarga Hananto adalah dua kekuatan besar yang bersaing di Jakarta. Sudah sewajarnya posisi duduk Handi Hananto berada tepat di sebelah Arya Gunawan.

Saat hendak duduk, ekor mata Handi sekilas menyapu wanita yang meringkuk di pelukan Arya. Langkahnya terhenti sejenak.

Postur tubuh wanita itu... memberinya rasa familiar yang aneh. Seperti—

Aisyah Nurhaliza.

Menyadari dirinya teringat pada wanita itu, Handi Hananto mengernyit tidak suka.

Masa hukuman wanita itu masih tersisa beberapa bulan lagi. Seharusnya dia masih membusuk di penjara.

Handi menepis pikiran itu.

Begitu ia duduk, seseorang dengan sigap menyodorkan gelas berisi minuman keras.

Handi Hananto menerimanya, tapi tidak meminumnya. Ia tidak pernah menyukai acara hura-hura seperti ini. Kedatangannya hari ini murni karena urusan bisnis.

"Saya datang hari ini untuk bertanya langsung pada Mas Gunawan. Bagaimana kelanjutan proyek wisata pulau milik Keluarga Gunawan?"

Beberapa waktu lalu, Keluarga Gunawan mengembangkan proyek resor di sebuah pulau, namun digugat oleh warga setempat. Pengadilan telah memanggil perwakilan Grup Gunawan untuk hadir, tetapi saat sidang digelar, kursi tergugat kosong melompong.

Arya Gunawan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.

"Hakim Hananto ini saking lamanya jadi pejabat, apa sudah lupa caranya berbisnis? Kita ini pengusaha, bukan yayasan amal."

"Warga pulau itu cuma serakah, mereka merasa uang ganti ruginya kurang. Kalau Grup Gunawan menuruti kemauan mereka, siapa yang bisa jamin mereka nggak bakal minta lebih banyak lagi?"

Handi Hananto menyilangkan kakinya yang jenjang, jari-jarinya mengetuk lutut dengan tempo pelan namun memberikan tekanan yang tidak kasat mata.

"Kalau Grup Gunawan menginginkan lahan di pulau itu, tentu harus menunjukkan itikad baik yang setimpal. Saya tidak peduli bagaimana cara kalian bernegosiasi dengan warga, tapi martabat pengadilan tidak boleh diabaikan. Sidang berikutnya, kalau Grup Gunawan masih mangkir, proyek itu bisa saya bekukan secara legal."

Hampir semua orang di ruangan itu menangkap ancaman tersirat di balik kalimat halusnya.

Dia sedang mengancam Arya Gunawan.

Jika Arya tidak kooperatif, Handi Hananto punya seribu satu cara hukum untuk mematikan proyeknya.

Tidak ada yang menyangka Handi Hananto akan mempermalukan Arya Gunawan secara terbuka di kandangnya sendiri.

Suasana di ruang VIP itu mendadak tegang dan serius, seolah perang besar akan segera meletus.

Aisyah Nurhaliza, yang masih bersembunyi di pelukan Arya, merasakan ironi yang luar biasa menusuk hatinya.

Betapa lucunya. Bahkan untuk warga pulau yang tidak dikenalnya, Handi Hananto bersedia memperjuangkan keadilan bagi mereka.

Tapi untuk dirinya? Satu kesempatan untuk menjelaskan pun tidak pernah diberikan. Pria itu langsung menjebloskannya ke neraka.

"Hakim Hananto benar-benar pahlawan keadilan, ya."

Arya Gunawan menyuarakan isi hati Aisyah, sambil bertepuk tangan dengan nada mengejek.

"Orang yang nggak tahu, pasti mengira Keluarga Hananto punya kesepakatan rahasia di bawah meja dengan warga pulau itu."

Handi Hananto menjawab dingin, "Itu hanya tugas dan kewajiban saya."

"Tugas dan kewajiban. Bagus sekali."

Arya Gunawan tersenyum sinis, matanya berkilat licik saat melirik Aisyah Nurhaliza.

"Pekerjaan Hakim Hananto bisa saya bantu. Tapi, karena Anda hari ini sudah datang ke wilayah saya, bukankah seharusnya Anda juga menghormati aturan main saya?"

Perasaan tidak enak langsung menyergap hati Aisyah Nurhaliza.

Benar saja, detik berikutnya, tangan Arya Gunawan mencengkeram bahunya, menariknya paksa dari pelukan.

"Sayang, kamu dengar sendiri kan kata-kata Hakim Hananto tadi? Nasib proyek Grup Gunawan ada di tanganmu sekarang. Sana, layani Hakim Hananto dengan baik."

Tanpa aba-aba, Arya Gunawan mendorong tubuh Aisyah dengan kasar ke arah Handi Hananto.

"Tenang saja, Hakim Hananto. Gadis ini masih bersih, kok. Aku bahkan belum sempat mencicipinya. Biar dia melayanimu dulu."

"Soal Nona Wijaya, tenang saja, mulut kami semua di sini terkunci rapat."

Arya Gunawan menatap Handi Hananto dengan senyum miring.

Ia yakin ada sesuatu antara dua orang ini. Kalau tidak, wanita kecil ini tidak akan bereaksi sepanik tadi.

Jelas sekali, wanita ini mengenal Handi Hananto, dan dia sangat takut padanya.

Aisyah Nurhaliza yang didorong secara tiba-tiba, jatuh terjerembap dengan posisi berlutut yang menyedihkan tepat di depan kaki Handi Hananto.

Tatapan tajam Handi terasa menusuk ubun-ubunnya. Aisyah menggigit bibir kuat-kuat, menundukkan kepalanya serendah mungkin, nyaris menyentuh lantai.

"Hakim Hananto sangat setia pada tunangannya, saya tidak berani mengganggu, saya..."

Otaknya berputar cepat mencari alasan untuk kabur.

Tiga tahun di penjara telah menghancurkan mentalnya dan merusak pita suaranya. Suaranya kini parau dan berbeda. Ia yakin, selama ia tidak menatap mata pria itu, Handi Hananto tidak akan mengenalinya.

Namun di luar dugaan, Handi Hananto justru mengulurkan tangan ke arahnya.

"Bangun."

Nada bicaranya terdengar sangat sopan, layaknya seorang pria sejati.

Jantung Aisyah Nurhaliza seakan berhenti berdetak. Ia semakin menundukkan kepalanya.

Handi Hananto menatap wanita di hadapannya, perasaan aneh di dadanya semakin kuat.

Cahaya lampu sorot di ruangan itu berkedip, menyinari bagian leher wanita itu. Sebuah tahi lalat merah kecil di tulang selangka wanita itu tertangkap oleh matanya.

Seketika, tatapan Handi Hananto berubah gelap. Dengan kasar, ia mencengkeram dagu Aisyah Nurhaliza, memaksanya mendongak dan menatap matanya.

Wajah pucat pasasi Aisyah Nurhaliza terpampang jelas di hadapannya.

Ketenangan di mata Handi Hananto lenyap seketika, digantikan oleh tatapan penuh kebencian.

"Kenapa kamu ada di sini?!"

Setelah membentak, ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, seolah baru saja menyentuh sampah yang menjijikkan.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya