Bab [4] Tidak Cukup
Aisyah Nurhaliza jatuh terjerembab ke lantai dengan menyedihkan, persis seperti kejadian tiga tahun lalu.
Tatapan Handi Hananto menghunjamnya, seolah ia hanyalah sampah yang tak layak dipandang, membuat Aisyah semakin tak berani mengangkat wajahnya.
Tatapan itu... tatapan yang menghantuinya setiap malam di awal masa hukumannya di penjara, membuatnya terbangun dengan napas tersengal.
Ia mengira seiring berjalannya waktu, ia akan lupa.
Namun, setiap kali ia menerima siksaan tak manusiawi di balik jeruji besi, ingatan itu justru semakin terpatri dalam benaknya.
Ketakutan terhadap Handi Hananto sudah mendarah daging, merasuk hingga ke sumsum tulangnya.
Kini, dengan posisi yang sama persis mengulang adegan tiga tahun silam, Aisyah Nurhaliza merasa seolah ia kembali terlempar ke dalam penjara itu. Ia berharap semua yang dialaminya hari ini hanyalah mimpi buruk belaka.
Detik berikutnya, Handi Hananto pasti akan menjatuhkan vonis hukuman dengan suara dinginnya, lalu ia akan terbangun dari mimpi buruk ini dan kembali menghadapi siksaan nyata.
Memikirkan kemungkinan itu, seluruh tubuh Aisyah gemetar hebat dilanda ketakutan, jari-jemarinya kejang tak terkendali.
Dari samping, terdengar suara gelak tawa dan obrolan para pria muda dari kalangan elit itu.
"Wah, Pak Hakim Hananto memang beda, auranya penuh wibawa. Gadis rendahan macam ini sampai tidak berani angkat kepala melihatmu."
"Benar juga. Tadi dia sok jual mahal, sekarang malah tiarap di lantai seperti anjing. Membosankan."
Seseorang maju dan menendangnya. Aisyah yang tidak siap langsung terguling jatuh tepat di dekat kaki Handi Hananto.
"Bangun! Jangan pura-pura mati. Begini cara bosmu mengajarimu? Tidak bisa menyenangkan tamu, setidaknya jangan bikin tamu marah!"
"Mas Hananto masuk sini baik-baik, tapi begitu lihat mukamu langsung emosi. Cepat minta maaf!"
Suara perintah dari pria itu terdengar di atas kepalanya. Begitu ia selesai bicara, para pria lain di ruangan itu ikut memprovokasi.
Ruang VIP itu menjadi riuh.
Namun, tatapan mata yang tertuju padanya itu tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Yang ada hanyalah rasa jijik dan dingin yang menusuk.
Aisyah Nurhaliza akhirnya tersadar dari lamunannya.
Dia sudah bebas. Semua ini nyata.
Handi Hananto masih membencinya, dan itu juga nyata.
Tiga tahun lalu, ia bersikeras tidak mau mengaku salah, hingga akhirnya berakhir di penjara.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan.
Ia harus bertahan hidup, bekerja keras mencari uang, dan menemukan kembali keluarganya.
Aisyah menarik napas dalam-dalam, menekan rasa takut yang menyeruak dari dasar hatinya, lalu perlahan bangkit dan bersimpuh di kaki Handi Hananto.
"Maafkan saya, Pak Hananto. Saya tahu saya salah, mohon ampuni saya."
Jawabannya hanyalah keheningan yang panjang.
Ujung jari Aisyah berkedut, kepalanya tertunduk semakin dalam.
"Pak Hananto, saya mohon..."
Ia tidak pernah memohon apa pun pada pria ini, bahkan saat kejadian tiga tahun lalu.
Di bawah pencahayaan remang-remang, sorot mata Handi Hananto semakin gelap. Ia menatap wanita di hadapannya itu dan merasa asing.
Mengenakan seragam pelayan murahan yang agak terbuka, tetap tidak bisa menutupi tubuhnya yang tinggal tulang berbalut kulit. Pergelangan tangan yang terekspos itu tampak begitu rapuh, seolah akan patah jika diremas sedikit saja.
Dalam ingatannya, kepala itu selalu tegak menantang. Kini, kepala itu tertunduk begitu mudah, punggung yang membungkuk itu bahkan terlihat sedikit gemetar.
Sikap rendah diri dan menjilat ini entah mengapa justru menyulut amarah di dada Handi.
"Memohon? Begini sikapmu saat memohon pada orang lain?"
Jari-jari lentik Handi mengambil gelas anggur dari meja, menunduk sedikit untuk menyesap isinya. Gelas itu menutupi matanya, membuat emosinya tak terbaca.
Keringat dingin menetes dari dahi Aisyah.
Ia tahu Handi Hananto tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Tapi dengan kondisinya sekarang, apa lagi yang bisa ia lakukan?
Ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Apa yang harus ia lakukan agar Handi Hananto puas?
Terdengar suara cairan dituang ke dalam gelas.
Sesaat kemudian, segelas minuman keras beralkohol tinggi disodorkan ke hadapannya.
Aisyah mendongak. Itu adalah Devi, rekan sesama pemandu lagu, senior di kelab malam ini.
"Kakak-kakak jangan marah ya, adik ini baru kerja, belum paham aturan. Biar saya ajari dia cara minta maaf yang benar."
Setelah bicara, Devi menjejalkan gelas itu ke tangan Aisyah sambil memberi kode mata.
Ini adalah cara paling umum di dunia malam, dan juga cara yang paling ampuh untuk meredakan situasi.
Aisyah menggenggam gelas itu, namun ia ragu.
Jika ini Aisyah yang dulu, minum sebanyak apa pun bukan masalah. Ia bahkan sangat suka minum.
Tapi sekarang...
Secercah rasa sakit melintas di mata Aisyah.
Hatinya rusak parah akibat pukulan bertubi-tubi di penjara, ia bahkan sempat muntah darah. Minum alkohol hanya akan membuat luka lamanya kambuh.
"Tidak mau? Atau sebenarnya, kamu merasa tidak bersalah sama sekali?"
Suara Handi Hananto terdengar seperti iblis yang mencabut nyawa, membuat nyali Aisyah ciut.
Seolah jika ia menunda sedetik saja, pria itu akan mengirimnya kembali ke neraka itu sampai ia benar-benar bertobat.
Aisyah tidak punya pilihan untuk menolak.
Ia menengadah, menenggak habis gelas berisi alkohol keras itu dalam sekali teguk.
Rasa panas membakar segera menjalar di perutnya, membuat organ dalamnya terasa perih.
Wajah Aisyah memucat. "Maafkan saya, saya tahu saya salah."
Nada bicara Handi terdengar dingin dan datar. "Kurang."
Ia pernah melihat Aisyah minum dulu. Sedikit alkohol ini bagi wanita itu sama sekali bukan apa-apa.
Aisyah mengertakkan gigi, menahan rasa sakit di perutnya, lalu menuang lagi segelas penuh untuk dirinya sendiri.
Sambil minum, ia terus mengulang permintaan maafnya.
Satu botol minuman keras tandas masuk ke perutnya, namun jawaban Handi Hananto tetaplah dua kata yang dingin itu.
"Kurang."
Aisyah sudah mati rasa, hanya sisa kewarasan terakhir yang membuatnya bertahan. Tangannya terulur mengambil botol baru yang baru saja dibuka di sebelahnya.
Handi Hananto hanya ingin menyiksanya, kalau begitu ia akan membiarkan pria itu puas sekalian!
Setelah ini, mereka tidak akan berurusan lagi.
Baru saja tangannya menyentuh botol, tiba-tiba sebuah tangan lain menahan pergelangan tangannya.
Kemudian, terdengar suara Arya Gunawan yang terdengar santai namun tajam.
"Pak Hakim Hananto ini sedang apa? Kalau ada masalah denganku, bicara langsung saja. Kenapa melampiaskan amarah pada gadis kecil ini?"
Setelah bicara, Arya menatap Aisyah.
"Sepertinya Pak Hakim Hananto kurang menyukaimu. Kebetulan sekali, sini layani aku saja."
Mata Aisyah berkedip lemah, dengan patuh ia meletakkan kembali botol itu.
Ia sungguh merasa sangat sakit, ia sudah tidak sanggup minum lagi.
Entah pria di hadapannya ini tulus atau hanya berpura-pura, ia tidak tahu dan tidak berani benar-benar mendekat. Ia hanya diam menunggu perintah Handi Hananto.
Ia tetap berlutut di tempatnya, tak bergerak. Seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya.
Tatapan Arya Gunawan beralih dari Aisyah ke Handi Hananto.
"Pak Hakim, kau menakuti orangku."
Handi Hananto menatap tangan mereka yang bersentuhan, matanya menyipit berbahaya. Bayangan saat mereka masuk tadi kembali muncul di benaknya.
Ia menatap wanita yang berlutut di lantai itu.
Padahal tadi wanita itu dengan manja bersandar di pelukan Arya Gunawan, tapi begitu melihatnya, ia menghindar seperti melihat wabah penyakit.
Arya Gunawan melarangnya minum, dia pun langsung patuh berhenti.
Aisyah Nurhaliza yang penurut seperti ini, benar-benar... menjijikkan.
Tiba-tiba Handi Hananto ingin melihat, di hadapannya, sejauh mana Aisyah bisa bersikap dengan Arya Gunawan.
"Mengaku salah tidak bisa, berterima kasih pun tidak bisa? Mas Gunawan sudah membelamu, kau harus berterima kasih padanya dengan benar."
Nada bicaranya penuh perintah. Semua orang bisa mendengar bahwa ia sedang menyangkal ucapan Arya Gunawan tentang "orangku" tadi.
Jelas sekali, wanita ini sekarang hanya berani menuruti perintah Handi Hananto. Daripada disebut wanitanya Arya Gunawan, ia lebih terlihat seperti anjing peliharaan Handi Hananto.
Aisyah Nurhaliza sudah tidak punya tenaga untuk memikirkan makna di balik setiap kalimat Handi. Ia hanya mematuhi setiap perintahnya dengan patuh.
Handi menyuruhnya berterima kasih, maka ia pun berputar dengan tenang, bergeser dengan lututnya menghadap Arya Gunawan.
"Terima..."
Baru saja mulutnya terbuka, kakinya yang sudah terlalu lama berlutut terasa kesemutan hebat. Tubuh Aisyah goyah, dan secara refleks ia mencengkeram orang di hadapannya.
