Bab [1] Menyukainya?
Hari ini keluarga besar Lukman mengadakan makan malam di rumah. Di meja makan, beberapa lelaki yang duduk mengelilingi meja tak henti-hentinya melirik ke arah Melati Handayani.
Di bawah meja, tanpa ada yang sadar, Adrian Lukman sudah mengait pelan betis Melati dengan ujung sepatunya.
Melihat Melati tersenyum basa-basi pada lelaki lain, pura-pura ramah seolah semuanya baik-baik saja, yang ada di benak Adrian cuma satu: kalau bisa, dia ingin menelanjangi perempuan itu saat itu juga dan menghabisinya sampai habis.
Melati tersentak kecil, hampir saja garpu di tangannya terjatuh ke piring.
Dia buru-buru berdiri, mencari alasan, berkata pelan kalau dia mau ke kamar mandi. Adrian juga langsung ikut berdiri, seolah hanya kebetulan, lalu menyusul ke lantai atas dan mengurungnya di salah satu kamar.
Melati menahan dadanya dengan telapak tangan, berdiri di depan Adrian, “Adrian, jangan.”
“Menurut kamu aku nggak bisa?”
Mata Adrian menyipit, sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang penuh makna dan sangat tidak sopan.
Di punggung Melati ada satu tahi lalat merah, tepat di bawah tengkuk. Setiap kali dia menunduk, tahi lalat itu akan tampak sebentar lalu menghilang lagi di balik kerah, dan tiap melihatnya, tenggorokan Adrian seperti kering kerontang.
“Pak Adrian, jangan di sini…”
“Diam.”
Menurutnya, Melati sudah terlalu banyak bicara. Dia menarik paksa kancing bajunya sampai berderet-deret terlepas, menekan tubuh Melati ke daun pintu, lalu membenamkan kepala dan menggigit keras tahi lalat merah itu, sementara pinggulnya menghantam tanpa ampun.
Mata Melati memerah, bibir bawah nyaris digigit sampai putus. Dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara apa pun.
Tapi malam itu Adrian seperti orang kalap. Tubuh Melati sampai terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar-putar, dan akhirnya, dari sela gigi dan bibirnya juga lolos desahan pelan yang tidak bisa dia kendalikan.
Begitu mendengar suara itu, Adrian bukan malah berhenti; justru makin menjadi-jadi. Dia kembali menghantamnya lagi.
Sampai tiba-tiba, dari bagian bawah perut Melati menjalar nyeri yang tajam, menusuk. Dia panik dan berusaha mendorong tubuh lelaki di belakangnya sekuat tenaga.
“Adrian, sakit!”
Suaranya bergetar, bercampur memohon. Tapi Adrian sama sekali tidak menghiraukan.
Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa Melati lakukan adalah menggigit.
“Ah—sial…”
Rasa perih di lidah membuat Adrian agak sadar. Dia mendelik tak terima ke arah Melati. “Kamu…!”
Belum sempat lanjut memaki, hidungnya tiba-tiba menangkap bau anyir. Melati memegangi perut, pelan-pelan berjongkok ke lantai.
Begitu mengikuti arah pandang, Adrian melihat darah mengalir di antara kedua kaki Melati. Dia mengklik lidah, terdengar jengkel.
“Mens, ya? Ribet banget.”
Nafsu yang tadinya menggebu langsung lenyap. Dia masuk ke kamar mandi, cuci diri seadanya, dan ketika keluar, Melati masih saja berjongkok di tempat yang sama.
“Adrian, perut aku sakit…”
Mata Melati berkaca-kaca, wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar pelan menahan rasa sakit yang tak ada putusnya.
Adrian melemparkan jasnya ke arah Melati, sekenanya. “Pakai itu, keluar lewat pintu belakang. Jangan sampai ganggu acara di bawah.”
Tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu dan pergi begitu saja.
Entah berapa lama sampai rasa sakitnya sedikit mereda, barulah Melati berusaha berdiri. Dia mengenakan bajunya lagi dengan gerakan pelan, membenahi diri sekenanya, lalu keluar lewat pintu belakang rumah, seperti yang diperintahkan.
Ketika ia didorong keluar dari ruang operasi, kepala Melati masih terasa kosong.
Baru tadi pagi dia diberi tahu bahwa dia sebenarnya sedang hamil. Dan sekarang, bayi itu sudah tidak ada.
Dokter yang mendorong brankarnya menatap bingung ke arah Melati yang kosong menatap langit-langit, lalu menghela napas pelan. “Anak muda zaman sekarang nggak tahu jaga diri, ya. Hamil muda itu paling gampang keguguran. Suami kamu sudah datang?”
Melati menatap tetesan infus yang turun satu-satu, matanya tak berfokus. Seolah dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan barusan.
Perempuan di ranjang sebelah buru-buru meraih tas Melati yang ia titipi tadi. “Waktu dia datang ke IGD, dia sendirian, Dok. Semua barangnya ada di saya, dia bahkan belum…”
“Saya belum menikah.”
Suara Melati terdengar serak. Ia memaksa tubuhnya untuk tegak, duduk perlahan, lalu menerima formulir yang disodorkan dokter dan mulai mengisinya.
Saat baru menuliskan namanya, kertas di tangannya basah. Baru saat itu dia sadar kalau dia menangis.
Dia dan Adrian kehilangan anak mereka. Paling tidak, hal itu memang pantas ditangisi.
Seharian itu dia hanya terbaring di RS. Dari sepuluh tahun dia bekerja, baru kali itu dia absen tanpa izin.
Baru menjelang jam sebelas malam, ponselnya akhirnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar.
“Bolos seharian, istirahatnya sudah cukup, kan? Ke Bar Malam Biru sekarang.”
Di seberang terdengar suara musik keras bercampur suara orang tertawa, gaduh dan kacau. Di sela bising itu, Melati juga samar-samar mendengar ada seseorang yang sedang dibujuk minum. Baru saat itu ia teringat: hari ini ulang tahun Sari Pratama, teman dekat Adrian. Harusnya malam ini dia ada di sana untuk membantu Adrian menolak minuman.
Melati baru akan menjelaskan bahwa dia sedang di rumah sakit ketika suara dingin Adrian memotong, terdengar tak sabaran, “Kamu punya waktu dua puluh menit. Jangan paksa aku ulang dua kali.”
Sambungan telepon terputus, nada sibuk terdengar berulang-ulang.
Melati tahu, Adrian sedang marah.
Dia bangkit pelan, berjalan ke ruang perawat dan meminta obat pereda nyeri. Setelah menelan satu butir dengan bantuan segelas air putih, barulah dia keluar dari rumah sakit.
Di taksi menuju bar, dia merias wajahnya secepat mungkin, memanfaatkan pantulan di kaca jendela dan kamera depan ponsel. Di pinggir jalan, dia turun sebentar hanya untuk membeli gaun murah di kios kecil, lalu berganti pakaian di toilet umum yang pengap.
Fitur wajah Melati memang menonjol; setelah diberi sentuhan make up tipis, seluruh aura dirinya berubah, ada jarak dingin yang elegan.
Ketika sampai di Bar Malam Biru, seorang pelayan yang sudah kenal dengannya langsung menyapanya sambil tersenyum lebar, “Nona Melati, Pak Adrian di ruang 209.”
Melati mengangguk singkat, tidak banyak bicara, lalu melangkah ke lantai dua.
Begitu pintu ruang VIP dibuka, seseorang langsung menariknya masuk dengan keras. Suara Adrian menyusul kemudian, dingin dan datar, “Sari, ini Melati. Dia alergi alkohol, jangan keterlaluan.”
Sari Pratama, lelaki yang malam itu berulang tahun, langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Melati. “Melati, dari dulu gue suruh lo ikut gue aja, lo nggak mau juga! Tuh lihat, si Adrian mah berat sebelah. Sayang banget sama cewek kecilnya sampai-sampai nyuruh lo yang datang buat ngeladeni gue.”
“Sekarang mumpung gue ulang tahun, dia titip lo. Dia bilang lo utang gue satu gelas dari tahun lalu, jadi lo ganti pakai tiga gelas malam ini. Kalau nggak, nggak usah ngomong soal ‘harga diri’ segala.”
Melati memicingkan mata, membiarkan pupilnya menyesuaikan dengan remang lampu bar. Baru setelah itu dia bisa melihat jelas gadis yang duduk mepet di sisi Adrian.
Dia mengenali wajah itu. Itu Melinda Lestari, intern baru di bagian sekretariat kantor.
Melinda memeluk lengan Adrian erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang dia punya. Matanya basah, tampak panik, lalu menatap Melati dengan ragu, “Kak Melati, maaf… Aku baru pertama kali ikut acara begini. Pak Adrian cuma… lebih jagain aku dikit.”
Di sudut matanya terkumpul air, membuatnya terlihat seperti anak kelinci yang ketakutan. Refleks, siapapun yang melihat pasti ingin melindunginya.
Adrian menarik Melinda lebih dekat, merengkuhnya ke dalam pelukan. “Kamu nggak salah apa-apa. Dia sekretaris, urus ginian memang kerjaan dia. Sudah, jangan takut.”
Kata-kata itu membuat Melati sempat kosong beberapa detik.
Selama ini, dia tidak pernah mendengar Adrian bicara selembut itu padanya.
Orang-orang di sekeliling jelas juga menangkap cara Adrian membela gadis itu. Satu per satu mereka bergantian ikut menenangkan Melinda. Sementara itu, Melinda terus saja melirik Melati, seolah benar-benar tidak mengerti apa-apa.
Melati menunduk, menatap lantai sesaat.
Di dalam hati, semuanya sudah jelas.
Tamu yang datang ke pesta ulang tahun Sari malam ini adalah orang-orang dari lingkaran sosial atas—pengusaha, pejabat, anak orang kaya. Adrian datang membawa seorang gadis muda dan menjaganya sedemikian rupa, jelas itu bukan sekadar sopan santun. Itu pengumuman halus: perempuan ini spesial.
Sedangkan Melati Handayani? Hanya sekretaris yang dipanggil ke sini untuk menahan gelas demi bosnya.
Dia menarik napas panjang, menelan rasa perih di perut yang belum hilang sepenuhnya. Lalu meraih gelas yang disodorkan Sari.
“Bu Sari, selamat ulang tahun. Ini dari saya.”
Minum alkohol di hari yang sama dengan operasi kuretase? Itu sama saja bunuh diri.
Tapi Adrian hanya duduk di sana, menyaksikan semuanya. Mata dingin, ekspresi datar, membiarkan Melati menegak gelas demi gelas tanpa sekalipun menghentikannya.
Entah apa yang dibisikkan Melinda pada Adrian kemudian, lelaki itu akhirnya berdiri. “Maaf, gadis kecilnya ngantuk. Gue antar pulang dulu.”
Seisi ruangan langsung bersorak, beberapa mencibir, “Parah, bro. Teman ditinggal, gebetan dibela. Gila, berat sebelah banget.”
Adrian hanya tertawa ringan, melambaikan tangan. Dia tak sekalipun menoleh ke arah Melati sebelum keluar.
Jam tiga pagi lewat, Melati baru keluar dari bar dalam keadaan hampir limbung. Kepalanya berat, perutnya senut-senut, dan langkahnya goyah.
Begitu di luar pintu, dia melihat mobil Adrian parkir di depan. Tanpa memikir panjang, dia membuka pintu belakang dan menjatuhkan diri di jok, tertidur begitu saja.
Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan napas panas seorang lelaki menghantam wajahnya. Tangan besar dengan kulit kasar meraba, meremas, mempermainkan tubuhnya tanpa rasa iba.
Melati tersentak bangun. Begitu menyadari perubahan di tubuh Adrian, dia berusaha meronta. Tapi dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah ditarik ke atas kepala dan diikat dengan dasi.
Adrian mendekap pinggangnya erat-erat, seolah takut dia menghilang. Bibirnya menelusuri kulit di dada Melati, menaburkan kecupan-kecupan rapat yang membuatnya sulit bernapas.
Mengingat bagaimana Sari tadi berulang kali melingkarkan tangan di pinggang Melati saat bercanda, Adrian mendadak kesal sendiri. Dia membalas dengan menggigit keras sisi pinggang Melati, tepat di bagian daging yang lunak.
“Ah! Adrian! Kamu gila, ya?!”
Rasa sakit yang tajam membuat air mata Melati langsung mengalir. Adrian hanya menyeringai, puas dengan reaksi itu, lalu dengan satu gerakan dia membuka ikat pinggang sendiri, berusaha mengangkat rok Melati.
Begitu melihat celana dalam di antara kakinya, dia mendesis pelan, mengumpat. Bagaimana bisa dia lupa kejadian kemarin?
Melati segera duduk tegak dan menarik dasi dari pergelangan tangannya, napasnya masih belum teratur. Pipinya masih memanas, entah karena alkohol atau ulah Adrian, dan dia benar-benar tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia mau.
Menatap bagian bawah tubuh Adrian yang masih tegang, Melati tiba-tiba teringat mata besar Melinda yang tampak begitu polos. Pertanyaan pun lolos dari bibirnya sebelum sempat dia tahan. “Kenapa kamu nggak nginap di tempat dia aja?”
“Dia masih kecil. Belum pantas buat hal-hal begini.”
Adrian mengangkat dagu Melati dengan ujung jarinya, mengusap lembut bibir yang tadi sudah dia lumuri gigitan.
Tenggorokan Melati tercekat. Kata-kata seolah macet.
Untuk melindungi Melinda, dia bisa bersikap sangat hati-hati. Tapi untuk menjadikan tubuh Melati sebagai sasaran pelampiasan, dia sama sekali tidak kenal ragu.
Dia memaksa suaranya keluar, rasanya seperti menelan pecahan kaca. “Kamu… suka dia?”
“Hmm.”
Melati tidak yakin apakah itu sekadar gumaman atau persetujuan. Namun sebelum dia sempat mencerna, Adrian sudah mendorongnya kembali, menekan tubuhnya di antara kedua pahanya.
“Kalau bawah nggak bisa dipakai,” bisiknya datar, “pakai atas aja.”
