Cepat, CEO! Kejar Mantan yang Kabur!

Cepat, CEO! Kejar Mantan yang Kabur!

Linda Lim · Sedang Diperbarui · 135.9k Kata

947
Populer
951
Dilihat
0
Ditambahkan
Tambah ke Rak
Mulai Membaca
Bagikan:facebooktwitterpinterestwhatsappreddit

Pendahuluan

Aku mengikutinya sejak usiaku delapan belas tahun, selalu yakin bahwa aku berbeda dari yang lain.
Hingga kemudian, ia membawa pulang seorang gadis. Pemalu, penakut, persis seperti diriku dulu.
Menyaksikannya membanjiri gadis itu dengan segala perhatian yang pernah ia tahan untukku, barulah aku tersadar: aku tak pernah menjadi keistimewaan. Dialah satu-satunya.
Pada tahun kesepuluh mengikutinya, dengan hati yang luka tapi mantap, aku memilih untuk pergi.

Bab 1

Hari ini keluarga besar Lukman mengadakan makan malam di rumah. Di meja makan, beberapa lelaki yang duduk mengelilingi meja tak henti-hentinya melirik ke arah Melati Handayani.

Di bawah meja, tanpa ada yang sadar, Adrian Lukman sudah mengait pelan betis Melati dengan ujung sepatunya.

Melihat Melati tersenyum basa-basi pada lelaki lain, berpura-pura ramah seolah semuanya baik-baik saja, yang ada di benak Adrian cuma satu, kalau bisa dia ingin menelanjangi perempuan itu saat itu juga dan menghabisinya sampai tak bersisa.

Melati tersentak kecil, hampir saja garpu di tangannya terjatuh ke piring.

Dia buru-buru berdiri, mencari alasan, berkata pelan kalau dia mau ke kamar mandi. Adrian juga langsung ikut berdiri, seolah hanya kebetulan, lalu menyusul ke lantai atas dan mengurungnya di salah satu kamar.

Melati menahan dadanya dengan telapak tangan, berdiri di depan Adrian. “Adrian, jangan.”

“Menurut kamu aku nggak bisa?”

Mata Adrian menyipit, sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang penuh makna sekaligus sangat tidak sopan.

Di punggung Melati ada satu tahi lalat merah, tepat di bawah tengkuk. Setiap kali dia menunduk, tahi lalat itu akan tampak sebentar lalu menghilang lagi di balik kerah, dan setiap melihatnya, tenggorokan Adrian seperti kering kerontang.

“Pak Adrian, jangan di sini ....”

“Diam.”

Menurutnya, Melati sudah terlalu banyak bicara. Dia menarik paksa kancing bajunya yang berderet-deret sampai terlepas, menekan tubuh Melati ke daun pintu, lalu membenamkan kepala dan menggigit keras tahi lalat merah itu, sementara pinggulnya menghantam tanpa ampun.

Mata Melati memerah, bibir bawah nyaris digigit sampai putus. Dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara apa pun.

Namun, malam itu Adrian seperti orang kalap. Tubuh Melati sampai terhuyung, dunia di sekelilingnya berputar-putar, dan akhirnya, dari sela gigi dan bibirnya juga lolos desahan pelan yang tidak bisa dia kendalikan.

Begitu mendengar suara itu, Adrian bukannya malah berhenti, justru makin menjadi-jadi. Dia kembali menghantamnya lagi.

Sampai tiba-tiba, dari bagian bawah perut Melati menjalar nyeri yang tajam, menusuk. Dia panik dan berusaha mendorong tubuh lelaki di belakangnya sekuat tenaga.

“Adrian, sakit!”

Suaranya bergetar, bercampur nada memohon. Namun, Adrian sama sekali tidak menghiraukan.

Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa Melati lakukan adalah menggigit.

“Ah—sial ....”

Rasa perih di lidah membuat Adrian tersadar. Dia mendelik tak terima ke arah Melati. “Kamu…!”

Belum sempat lanjut memaki, hidungnya tiba-tiba menangkap bau anyir. Melati memegangi perut, pelan-pelan berjongkok di lantai.

Begitu mengikuti arah pandang Melati, Adrian melihat darah mengalir di antara kedua kaki Melati. Dia mendecakkan lidah, terdengar jengkel.

“Mens, ya? Ribet banget.”

Nafsu yang tadinya menggebu langsung lenyap. Dia masuk ke kamar mandi, mencuci diri seadanya, dan ketika keluar, Melati masih saja berjongkok di tempat yang sama.

“Adrian, perutku sakit ....”

Mata Melati berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar pelan menahan rasa sakit yang tak ada putusnya.

Adrian melemparkan jasnya ke arah Melati, sekenanya. “Pakai itu, keluar lewat pintu belakang. Jangan sampai ganggu acara di bawah.”

Tanpa menunggu jawaban, dia membuka pintu dan pergi begitu saja.

Entah berapa lama sampai rasa sakitnya sedikit mereda, barulah Melati berusaha berdiri. Dia mengenakan bajunya lagi dengan gerakan pelan, membenahi diri sekenanya, lalu keluar lewat pintu belakang rumah, seperti yang diperintahkan.

Ketika dia didorong keluar dari ruang operasi, kepala Melati masih terasa kosong.

Baru tadi pagi dia diberi tahu bahwa dia sebenarnya sedang hamil. Dan sekarang, bayi itu sudah tidak ada.

Dokter yang mendorong brankarnya menatap bingung ke arah Melati yang kosong menatap langit-langit, lalu menghela napas pelan. “Anak muda zaman sekarang nggak tahu jaga diri, ya. Hamil muda itu paling gampang keguguran. Suami kamu sudah datang?”

Melati menatap tetesan infus yang turun satu-satu, matanya tak fokus. Seolah dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan barusan.

Perempuan di ranjang sebelah buru-buru meraih tas Melati yang dia titipkan tadi. “Waktu dia datang ke IGD, dia sendirian, Dok. Semua barangnya ada di saya, dia bahkan belum ....”

“Saya belum menikah.”

Suara Melati terdengar serak. Dia memaksa tubuhnya untuk tegak, duduk perlahan, lalu menerima formulir yang disodorkan dokter dan mulai mengisinya.

Saat baru menuliskan namanya, kertas di tangannya basah. Baru saat itu dia sadar kalau dia menangis.

Dia dan Adrian kehilangan anak mereka. Paling tidak, hal itu memang pantas ditangisi.

Seharian itu dia hanya terbaring di rumah sakit. Dari sepuluh tahun dia bekerja, baru kali ini dia absen tanpa izin.

Menjelang jam sebelas malam, ponselnya akhirnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar.

“Bolos seharian, istirahatnya sudah cukup, kan? Ke Bar Malam Biru sekarang.”

Di seberang terdengar suara musik keras bercampur suara orang tertawa, gaduh dan kacau. Di sela suara bising itu, Melati juga samar-samar mendengar ada seseorang yang sedang dibujuk minum. Baru saat itu dia teringat bahwa hari ini ulang tahun Sari Pratama, teman dekat Adrian. Harusnya malam ini dia ada di sana untuk membantu Adrian menolak minuman.

Melati baru akan menjelaskan bahwa dia sedang di rumah sakit ketika suara dingin Adrian memotong, terdengar tak sabaran. “Kamu punya waktu dua puluh menit. Jangan paksa aku ulang dua kali.”

Sambungan telepon terputus, nada sibuk terdengar berulang-ulang.

Melati tahu, Adrian sedang marah.

Dia bangkit perlahan, berjalan ke ruang perawat dan meminta obat pereda nyeri. Setelah menelan satu butir dengan bantuan segelas air putih, barulah dia keluar dari rumah sakit.

Di dalam taksi menuju bar, dia merias wajahnya secepat mungkin. Memanfaatkan pantulan kaca jendela dan kamera depan ponsel. Di pinggir jalan, dia turun sebentar hanya untuk membeli gaun murah di kios kecil, lalu berganti pakaian di toilet umum yang pengap.

Fitur wajah Melati memang menonjol. Setelah diberi sentuhan make up tipis, seluruh aura dirinya berubah, ada kesan dingin yang elegan.

Ketika sampai di Bar Malam Biru, seorang pelayan yang sudah mengenalnya langsung menyapanya sambil tersenyum lebar. “Nona Melati, Pak Adrian di ruang 209.”

Melati mengangguk singkat, tidak banyak bicara, lalu melangkah ke lantai dua.

Begitu pintu ruang VIP dibuka, seseorang langsung menariknya masuk dengan keras. Suara Adrian menyusul kemudian, dingin dan datar. “Sari, ini Melati. Dia alergi alkohol, jangan keterlaluan.”

Sari Pratama, lelaki yang malam itu berulang tahun, langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Melati. “Melati, dari dulu gue suruh lo ikut gue aja, lo nggak mau juga! Tuh lihat, si Adrian mah berat sebelah. Sayang banget sama cewek kecilnya sampai-sampai nyuruh lo yang datang buat ngeladeni gue.”

“Sekarang mumpung gue ulang tahun, dia titip lo. Dia bilang lo utang gue satu gelas dari tahun lalu, jadi lo ganti pakai tiga gelas malam ini. Kalau nggak, nggak usah ngomong soal ‘harga diri’ segala.”

Melati memicingkan mata, membiarkan pupilnya menyesuaikan dengan remang lampu bar. Baru setelah itu dia bisa melihat jelas gadis yang duduk mepet di sisi Adrian.

Dia mengenali wajah itu. Itu Melinda Lestari, intern baru di bagian sekretariat kantor.

Melinda memeluk lengan Adrian erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan yang dia punya. Matanya basah, tampak panik, lalu menatap Melati dengan ragu. “Kak Melati, maaf… Aku baru pertama kali ikut acara begini. Pak Adrian cuma ... jagain aku dikit.”

Di sudut matanya terkumpul air, membuatnya terlihat seperti anak kelinci yang ketakutan. Refleks, siapa pun yang melihat pasti ingin melindunginya.

Adrian menarik Melinda lebih dekat, merengkuhnya ke dalam pelukan. “Kamu nggak salah apa-apa. Dia sekretaris, urus ginian memang kerjaan dia. Sudah, jangan takut.”

Kata-kata itu membuat pikiran Melati sempat kosong beberapa detik.

Selama ini, dia tidak pernah mendengar Adrian bicara selembut itu padanya.

Orang-orang di sekeliling jelas juga menangkap cara Adrian membela gadis itu. Satu per satu mereka bergantian ikut menenangkan Melinda. Sementara itu, Melinda terus saja melirik Melati, seolah benar-benar tidak mengerti apa-apa.

Melati menunduk, menatap lantai sesaat.

Di dalam hati, semuanya sudah jelas.

Tamu yang datang ke pesta ulang tahun Sari malam ini adalah orang-orang dari lingkaran sosial atas—pengusaha, pejabat, anak orang kaya. Adrian datang membawa seorang gadis muda dan menjaganya sedemikian rupa, jelas itu bukan sekadar sopan santun. Itu pengumuman halus bahwa perempuan ini spesial.

Sedangkan Melati Handayani? Hanya sekretaris yang dipanggil ke sini untuk menahan gelas demi bosnya.

Dia menarik napas panjang, menelan rasa perih di perut yang belum hilang sepenuhnya. Lalu meraih gelas yang disodorkan Sari.

“Pak Sari, selamat ulang tahun. Ini dari saya.”

Minum alkohol di hari yang sama dengan operasi kuretase? Itu sama saja bunuh diri.

Namun, Adrian hanya duduk di sana, menyaksikan semuanya. Mata dingin, ekspresi datar, membiarkan Melati menegak gelas demi gelas tanpa sekalipun menghentikannya.

Entah apa yang dibisikkan Melinda pada Adrian kemudian, lelaki itu akhirnya berdiri. “Maaf, gadis kecilnya ngantuk. Gue antar pulang dulu.”

Seisi ruangan langsung bersorak, beberapa mencibir, “Parah, bro. Teman ditinggal, gebetan dibela. Gila, berat sebelah banget.”

Adrian hanya tertawa ringan, melambaikan tangan. Dia tak sekalipun menoleh ke arah Melati sebelum keluar.

Jam tiga pagi lewat, Melati baru keluar dari bar dalam keadaan hampir limbung. Kepalanya berat, perutnya senut-senut, dan langkahnya goyah.

Begitu di luar pintu, dia melihat mobil Adrian parkir di depan. Tanpa memikir panjang, dia membuka pintu belakang dan menjatuhkan diri di jok, tertidur begitu saja.

Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan napas panas seorang lelaki menyentuh wajahnya. Tangan besar dengan kulit kasar meraba, meremas, mempermainkan tubuhnya tanpa rasa iba.

Melati tersentak bangun. Begitu menyadari perubahan di tubuh Adrian, dia berusaha meronta. Namun, dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah ditarik ke atas kepala dan diikat dengan dasi.

Adrian mendekap pinggangnya erat-erat, seolah takut dia menghilang. Bibirnya menelusuri kulit di dada Melati, menaburkan kecupan-kecupan rapat yang membuatnya sulit bernapas.

Mengingat bagaimana Sari tadi berulang kali melingkarkan tangannya di pinggang Melati saat bercanda, Adrian mendadak kesal sendiri. Dia membalas dengan menggigit keras sisi pinggang Melati, tepat di bagian daging yang lunak.

“Ah! Adrian! Kamu gila, ya?!”

Rasa sakit yang tajam membuat air mata Melati langsung mengalir. Adrian hanya menyeringai, puas dengan reaksi itu. Lalu dengan satu gerakan dia membuka ikat pinggangnya sendiri, berusaha mengangkat rok Melati.

Begitu melihat celana dalam di antara kakinya, dia mendesis pelan, mengumpat. Bagaimana bisa dia lupa kejadian kemarin?

Melati segera duduk tegak dan menarik dasi dari pergelangan tangannya, napasnya masih belum teratur. Pipinya masih memanas, entah karena alkohol atau ulah Adrian, dan dia benar-benar tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia mau.

Menatap bagian bawah tubuh Adrian yang masih tegang, Melati tiba-tiba teringat mata besar Melinda yang tampak begitu polos. Pertanyaan pun lolos dari bibirnya sebelum sempat dia tahan. “Kenapa kamu nggak nginap di tempat dia aja?”

“Dia masih kecil. Belum pantas buat hal-hal begini.”

Adrian mengangkat dagu Melati dengan ujung jarinya, mengusap lembut bibir yang tadi sudah dia lumuri gigitan.

Tenggorokan Melati tercekat. Kata-katanya seolah tercekat.

Untuk melindungi Melinda, dia bisa bersikap sangat hati-hati. Namun, untuk menjadikan tubuh Melati sebagai sasaran pelampiasan, dia sama sekali tidak kenal ragu.

Dia memaksa suaranya keluar, rasanya seperti menelan pecahan kaca. “Kamu ... suka dia?”

“Hmm.”

Melati tidak yakin apakah itu sekadar gumaman atau persetujuan. Namun sebelum dia sempat mencerna, Adrian sudah mendorongnya kembali, menekan tubuhnya di antara kedua pahanya.

“Kalau bawah nggak bisa dipakai,” bisiknya datar, “pakai atas aja.”

Bab Terakhir

Anda Mungkin Suka 😍

Gadis Gemerlap

Gadis Gemerlap

3.5k Dilihat · Sedang Diperbarui · Budi Santoso
Setelah bersatu kembali dengan orang tua kandungnya, Sari dikenal sebagai seorang pecundang. Di kuliahnya, dia menjilat, suka berkelahi, dan bolos setiap hari. Bahkan pertunangannya dengan keluarga Rahman putus akibat kehidupan pribadinya yang berantakan! Semua orang menanti kehancurannya.

Namun di luar dugaan, dia membalas dengan tamparan yang menyakitkan! Ternyata dia bergelar doktor dan adalah ilmuwan ternama. Dia juara catur nasional, investor jenius, legenda bela diri... Saat prestasi tak terbantahkan ini terungkap satu per satu, tak terhitung orang mengejarnya.

Sementara itu, Tuan Phillips, legenda bisnis yang dulu memandangnya dengan hina, kini panik: Itu istriku! Menyingkir kalian!
Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

Cinta Manis dengan Suamiku Milyarder

4.1k Dilihat · Sedang Diperbarui · Dewi Sartika
Setelah bertahun-tahun menghilang, Sari tiba-tiba mengumumkan comebacknya, membuat para penggemarnya menangis haru.
Dalam sebuah wawancara, Sari mengaku masih single, menyebabkan sensasi besar.
"Nyonya Limbong bercerai" langsung melesat ke puncak trending search.
Semua orang tahu Ari Limbong adalah taktisi yang kejam.
Persis ketika semua orang mengira dia akan menyikat habis Sari, sebuah akun baru terdaftar memberi komentar di profil pribadi Sari: "Bersimpuh di lantai atau di hadapanku, pilih!"
Mantan Istri yang Tak Terlupakan

Mantan Istri yang Tak Terlupakan

9k Dilihat · Sedang Diperbarui · Dewi Sartika
Momen paling memalukan dalam hidupku adalah ketika ayahku mengusir ibu dan aku keluar dari rumah. Setelah insiden itulah aku menerobos masuk ke dalam kehidupan Ari Limbong. Sejak saat itu, duniamu hancur berantakan, dan satu-satunya harapanku hanyalah menua bersamanya.

Dia melamarku, dan kuterima. Bagaimana mungkin aku menolak pria yang sudah lama kusukai? Dia menjelaskan dengan tegas bahwa hubungan kami hanya berdasarkan uang dan seks, dan aku tidak keberatan. Dalam pernikahan tanpa cinta itu, aku sudah puas hanya bisa berada di sampingnya.

Dia mengajukan gugatan cerai, dan kusetujui. Lima tahun pernikahan berakhir dalam satu hari. Aku merasa putus asa, dan hanya berharap untuk tidak pernah melihatnya lagi.

Setelahnya, dia berkata, "Sari, mari kita menikah lagi." Aku sama sekali tidak merasa apa-apa dan menjawab, "Pak Limbong, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan selain urusan bisnis."

Dia meraih pinggangku dan berkata, "Kau yakin? Anak itu baru saja memanggilku Ayah!"
Bermain Dengan Api

Bermain Dengan Api

13.6k Dilihat · Selesai · Mariam El-Hafi🔥
Dia menarikku ke depannya, dan aku merasa seperti sedang berhadapan dengan setan sendiri. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku, begitu dekat hingga jika aku bergerak sedikit saja, kepala kami akan bertabrakan. Aku menelan ludah saat menatapnya dengan mata terbelalak, takut akan apa yang mungkin dia lakukan.

“Kita akan ngobrol sebentar lagi, oke?” Aku tidak bisa bicara, hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak sementara jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa berharap bukan aku yang dia incar.

Althaia bertemu dengan bos mafia berbahaya, Damiano, yang tertarik pada mata hijaunya yang besar dan polos, dan tidak bisa mengeluarkannya dari pikirannya. Althaia telah disembunyikan dari iblis berbahaya itu. Namun takdir membawanya kembali padanya. Kali ini, dia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

Dimanjakan oleh Miliarder setelah Dikhianati

367.4k Dilihat · Sedang Diperbarui · FancyZ
Menikah selama empat tahun, Emily tetap tidak memiliki anak. Diagnosis rumah sakit membuat hidupnya terjun ke neraka. Tidak bisa hamil? Tapi suaminya jarang di rumah selama empat tahun ini, jadi bagaimana dia bisa hamil?
Emily dan suaminya yang miliarder berada dalam pernikahan kontrak; dia berharap bisa memenangkan cintanya melalui usaha. Namun, ketika suaminya muncul dengan seorang wanita hamil, dia putus asa. Setelah diusir, Emily yang tunawisma diambil oleh seorang miliarder misterius. Siapa dia? Bagaimana dia mengenal Emily? Yang lebih penting, Emily hamil.
Bapak Forbes

Bapak Forbes

17.4k Dilihat · Selesai · Mary D. Sant
"Menunduklah. Aku ingin melihat pantatmu saat aku menyetubuhimu."

Ya ampun! Kata-katanya membuatku terangsang sekaligus kesal. Dia masih sama seperti dulu, brengsek yang arogan dan bossy, selalu ingin segalanya sesuai keinginannya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" tanyaku, merasakan kakiku mulai lemas.

"Maaf kalau aku membuatmu berpikir kamu punya pilihan," katanya sebelum menarik rambutku dan mendorong tubuhku, memaksaku menunduk dan meletakkan tanganku di atas meja kerjanya.

Astaga. Itu membuatku tersenyum, dan membuatku semakin basah. Bryce Forbes jauh lebih kasar daripada yang kubayangkan.



Anneliese Starling bisa menggunakan setiap sinonim untuk kata kekejaman dalam kamus untuk menggambarkan bos brengseknya, dan itu masih belum cukup. Bryce Forbes adalah lambang kekejaman, tapi sayangnya juga lambang hasrat yang tak tertahankan.

Sementara ketegangan antara Anne dan Bryce mencapai tingkat yang tak terkendali, Anneliese harus berjuang untuk menahan godaan dan harus membuat pilihan sulit, antara mengikuti ambisi profesionalnya atau menyerah pada hasrat terdalamnya, karena batas antara kantor dan kamar hampir sepenuhnya hilang.

Bryce tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkannya dari pikirannya. Untuk waktu yang lama, Anneliese Starling hanyalah gadis yang bekerja dengan ayahnya, dan kesayangan keluarganya. Tapi sayangnya bagi Bryce, dia telah menjadi wanita yang tak tergantikan dan provokatif yang bisa membuatnya gila. Bryce tidak tahu berapa lama lagi dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Terlibat dalam permainan berbahaya, di mana bisnis dan kenikmatan terlarang saling terkait, Anne dan Bryce menghadapi garis tipis antara profesional dan pribadi, di mana setiap tatapan yang dipertukarkan, setiap provokasi, adalah undangan untuk menjelajahi wilayah berbahaya dan tak dikenal.
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

1.4k Dilihat · Selesai · Miss Yulie 2
Mentari si pengantin dadakan. Terpaksa menggantikan posisi Kakak kembarnya, Samantha yang hilang di hari pernikahan. Namun, menjadi pengantin dadakan tak cukup menyelesaikan masalah. Tidak ada cinta, tidak ada perlakuan istimewa. Hanya cemoohan dan hal menyakitkan yang Mentari dapat.

Arga, laki-laki baik yang seharusnya adalah Kakak ipar kepada Mentari, tetapi justru menjadi suami. Seketika menjelma sebagai sosok dingin tak tersentuh. Dia tidak pernah ikhlas dengan kenyataan bahwa Samantha hilang dan digantikan oleh Mentari. Tak sehari pun waktu berlalu tanpa bayang mantan calon istrinya, tidak sekalipun memandang Mentari seperti sosok seharusnya. Tidak pernah ada cinta.
Mami, Papi Memintamu Kembali

Mami, Papi Memintamu Kembali

1.9k Dilihat · Selesai · I S M I
Binar Mentari menikah dengan Barra Atmadja,pria yang sangat berkuasa, namun hidupnya tidak bahagia karena suaminya selalu memandang rendah dirinya. Tiga tahun bersama membuat Binar meninggalkan suaminya dan bercerai darinya karena keberadaannya tak pernah dianggap dan dihina dihadapan semua orang. Binar memilih diam dan pergi.
Enam tahun kemudian, Binar kembali ke tanah air dengan dua anak kembar yang cerdas dan menggemaskan, sekarang dia telah menjadi dokter yang berbakat dan terkenal dan banyak pria hebat yang jatuh cinta padanya!
Mantan suaminya, Barra, sekarang menyesal dan ingin kembali pada pelukannya. Akankah Binar memaafkan sang mantan?
“Mami, Papi memintamu kembali? Apakah Mami masih mencintainya?”
Boneka Iblis

Boneka Iblis

12.2k Dilihat · Selesai · Williane Kassia
Aku menambahkan satu jari lagi, merasakan ketegangannya meningkat saat jariku menjelajahi setiap inci vaginanya.

"Rileks, ya." Aku mencium bokong kirinya dan memutar jariku di dalamnya, lalu mendorongnya dengan keras.

"Ahh!"

Dia mengeluarkan erangan panas saat aku menyentuh titik sensitifnya, dan aku mendekati payudara kanannya, menandainya dengan gigitan dan hisapan. Aku ingin semua orang tahu besok bahwa dia sekarang punya seorang pria, pria yang akan menjadi satu-satunya pemiliknya. Setiap gerakannya akan kuketahui, hanya aku yang bisa memilikinya. Aku akan membunuh siapa pun yang berani mendekati boneka kecilku yang cantik ini.


Hidup Aurelia berubah drastis ketika dia dituduh salah membawa ganja di dalam ranselnya, dia dikirim ke Penjara Horizon yang terkenal, yang dikenal sebagai neraka di bumi. Di lingkungan di mana hukum dan ketertiban tampak seperti ilusi belaka, Aurelia mendapati dirinya dikelilingi oleh penjahat kejam dan bayangan menyeramkan yang mengintai di setiap sudut penjara.

Putus asa untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari mimpi buruk ini, Aurelia menarik perhatian Iblis yang ditakuti, pemimpin tertinggi penjara itu. Dengan aura kekuasaan dan dominasi mutlaknya, Iblis melihatnya sebagai mangsa yang menggoda, bertekad untuk memilikinya sebagai miliknya. Saat dia berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan di mana kekerasan merajalela, dia mendapati dirinya terlibat dalam permainan kucing dan tikus yang berbahaya dengan Iblis.

Di antara kegelapan penjara dan bayangan koridor, Aurelia berjuang untuk menjaga kemanusiaannya tetap utuh, bahkan saat dia mencoba mengubahnya menjadi boneka patuh. Di dunia di mana garis antara kebaikan dan kejahatan kabur, dia harus menemukan cara untuk menolak godaannya sebelum terlambat.

"Boneka Iblis" adalah kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan penebusan di tempat di mana harapan adalah kemewahan langka dan bertahan hidup adalah perjuangan sehari-hari.
Sang Profesor

Sang Profesor

17.1k Dilihat · Selesai · Mary Olajire
"Di tangan dan lututmu," dia memerintah.
Suaranya penuh dengan beban dan urgensi
dan aku segera menurut sebelum dia mengarahkan pinggulku.
Tubuh kami bertemu dengan irama yang keras dan marah.
Aku semakin basah dan panas saat mendengarkan suara kami bercinta.
"Sial, vaginamu gila."


Setelah satu malam panas dengan seorang pria asing yang dia temui di klub, Dalia Campbell tidak mengira akan bertemu Noah Anderson lagi. Kemudian Senin pagi tiba, dan orang yang masuk ke ruang kuliah sebagai dosen adalah pria asing dari klub itu. Ketegangan meningkat dan Dalia berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya karena dia tidak ingin terganggu oleh siapa pun atau apa pun - ada juga fakta bahwa dia benar-benar terlarang - tetapi ketika dia menjadi asisten dosennya, batasan hubungan dosen/mahasiswa mereka menjadi kabur.
Ayah Sahabat Terbaikku

Ayah Sahabat Terbaikku

40.1k Dilihat · Sedang Diperbarui · P.L Waites
Elona, yang berusia delapan belas tahun, sedang berada di ambang babak baru dalam hidupnya—tahun terakhirnya di SMA. Dia memiliki impian untuk menjadi model. Namun, di balik penampilan percaya dirinya, ada rahasia yang ia simpan—perasaan suka pada seseorang yang tak terduga—Pak Crane, ayah dari sahabatnya.

Tiga tahun lalu, setelah kehilangan istrinya secara tragis, Pak Crane, seorang pria yang sangat tampan, kini menjadi seorang miliarder pekerja keras, simbol kesuksesan dan rasa sakit yang tak terucapkan. Dunianya bersinggungan dengan Elona melalui sahabatnya, jalan yang mereka tinggali, dan persahabatannya dengan ayah Elona.

Suatu hari yang menentukan, sebuah kesalahan kecil mengubah segalanya. Elona secara tidak sengaja mengirimkan serangkaian foto yang agak terbuka kepada Pak Crane, yang seharusnya dikirimkan kepada sahabatnya. Saat dia duduk di meja rapat, Pak Crane menerima gambar-gambar tak terduga tersebut. Pandangannya tertahan di layar, dia harus membuat pilihan.

Apakah dia akan menghadapi pesan yang tidak disengaja itu, mempertaruhkan persahabatan yang rapuh dan mungkin membangkitkan emosi yang tak terduga?

Ataukah dia akan bergulat dengan keinginannya sendiri dalam diam, mencari cara untuk menavigasi wilayah yang belum terpetakan ini tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya?
Perangkap Ace

Perangkap Ace

31.3k Dilihat · Selesai · Eva Zahan
Tujuh tahun yang lalu, Emerald Hutton meninggalkan keluarga dan teman-temannya untuk bersekolah di New York City, sambil memeluk hatinya yang hancur, demi melarikan diri dari satu orang saja. Sahabat kakaknya, yang telah ia cintai sejak hari dia menyelamatkannya dari para pengganggu saat berusia tujuh tahun. Hancur oleh anak laki-laki impiannya dan dikhianati oleh orang-orang yang dicintainya, Emerald belajar untuk mengubur kepingan hatinya di sudut terdalam ingatannya.

Hingga tujuh tahun kemudian, dia harus kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliahnya. Tempat di mana sekarang tinggal seorang miliarder berhati dingin, yang dulu hatinya yang mati pernah berdetak untuknya.

Terluka oleh masa lalunya, Achilles Valencian telah berubah menjadi pria yang ditakuti semua orang. Kehidupan yang membakar telah memenuhi hatinya dengan kegelapan tanpa dasar. Dan satu-satunya cahaya yang membuatnya tetap waras adalah Rosebud-nya. Seorang gadis dengan bintik-bintik dan mata pirus yang dia kagumi sepanjang hidupnya. Adik sahabatnya.

Setelah bertahun-tahun berjarak, ketika saatnya akhirnya tiba untuk menangkap cahayanya ke dalam wilayahnya, Achilles Valencian akan memainkan permainannya. Permainan untuk mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Apakah Emerald akan mampu membedakan api cinta dan hasrat, serta pesona gelombang yang pernah membanjirinya untuk menjaga hatinya tetap aman? Atau dia akan membiarkan iblis itu memikatnya ke dalam perangkapnya? Karena tidak ada yang pernah bisa lolos dari permainannya. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan permainan ini disebut...

Perangkap Ace.