Bab [2] Menebus Kesalahan
Melati Handayani ditekan dari atas, dipaksa terus-menerus maju mundur. Rasa mual yang mengguncang perut naik sampai ke kerongkongan, dia hampir muntah, tapi tangan Adrian Lukman sama sekali tidak berhenti, tidak memberinya celah untuk melawan.
Gerakannya makin lama makin cepat. Melati tersedak sampai air mata jatuh tak tertahan, tapi lelaki itu tetap belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Sampai ponsel Adrian bergetar.
Melati sempat melirik sekilas, melihat nama “Melinda Lestari” di layar. Hatinya langsung terasa jatuh ke dasar, dan tubuhnya pun seketika membeku.
Jari Adrian mengusap pelan punggungnya. “Terus. Jangan bersuara.”
Habis berkata begitu, dia mengangkat telepon. Suaranya masih terdengar malas dan santai. “Belum bisa tidur?”
Satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi sudah menyelusup masuk lewat kerah blus Melati, telapaknya mengusap-usap tahi lalat kecil di punggungnya.
Tubuh Melati bergetar hebat setiap kali dia menyentuh titik itu, tapi dia tetap menahan diri tak mengeluarkan suara, hanya bisa pasrah melanjutkan gerakan mulutnya.
Tatapan Adrian menggelap. Pegangannya di belakang kepala Melati mengeras beberapa derajat. Merasakan tubuh perempuan itu terus-menerus bergetar, dia memejamkan mata dengan ekspresi puas.
“Iya, kangen ya?” ujarnya ke telepon, nada lembut pura-pura hangat. “Besok kita ketemu.”
“Takut? Takut apa? Kan aku yang dampingin kamu.”
“Dia?”
Tatapan Adrian jatuh ke kepala Melati. Sudut bibirnya terangkat dingin. “Hah, dia cuma sekretaris. Masa aku harus ngurusin dia?”
Gerakan Melati tersendat. Tepat saat itu, kepalanya ditekan kuat ke bawah. Tenggorokannya seperti mau robek, dia tak kuasa mengeluarkan suara muntah kering.
Dengan susah payah dia mencengkeram pergelangan tangan Adrian, menariknya menjauh, memaksa diri duduk tegak. Pandangannya langsung bertemu mata Adrian yang penuh selera mengamati.
“Siapa juga orangnya?” Adrian berkata datar ke ponsel. “Kamu salah dengar. Udah malam, yang manis, tidur cepat.”
Dia memutus sambungan. Senyum dingin masih menggantung di bibirnya. Tangannya terulur, mencengkeram dagu Melati dan mengangkatnya kasar.
“Baru bolos sehari, berani juga ya?” suaranya rendah, mengandung ancaman. “Begini aja nggak becus? Tadi siapa yang bilang nggak boleh bersuara?”
Melati menarik selembar tisu, mengusap sudut bibirnya. “Pak, maaf.”
Melihat sikap datarnya yang tenang tanpa ekspresi, Adrian mengeluarkan suara kesal dari hidung. “Tsk.” Dia menyandarkan kepala, memejamkan mata. “Lanjut.”
Melati menarik napas panjang, menekan keras-keras rasa mual yang masih mengganas di tenggorokan, baru kemudian menunduk lagi.
Entah sudah berapa lama, ketika mobil yang diparkir di sudut basement itu hanya diisi suara napas berat, sebuah geraman rendah lolos dari dada Adrian. Dia akhirnya melepas semuanya. Melati tak sempat menghindar, cairan pekat dan hangat tetap mengenai sebagian rambut panjangnya.
Dia tak kuasa menahan diri lagi, muntah kering di tempat, buru-buru meraih beberapa lembar tisu, membuka pintu mobil dan berlari keluar.
Begitu menginjak lantai beton dingin, pandangannya berputar. Dunia serasa menghitam di tepi-tepi. Semua minuman yang tadi malam dipaksa masuk di bar keluar lagi, memercik di lantai. Nyeri di perut bawah datang lagi, menusuk, membuat kakinya lemas. Dia perlahan berjongkok, satu tangan menekan perut.
Refleks, dia menoleh, ingin memanggil Adrian, minta tolong—setidaknya minta diantar ke klinik.
Yang terlihat justru lampu belakang mobil hitam itu menjauh cepat, meninggalkan jejak asap tipis, lalu lenyap di tikungan.
Melati terpaku beberapa detik. Niat yang tadi siang masih dia simpan rapi—niat untuk mengatakan bahwa dia hamil—lenyap begitu saja.
Dia cuma alat. Alat pelampiasan nafsu, alat untuk membereskan urusan kantor.
Dia tahu persis posisinya, dan tidak punya niat menambah satu pun “masalah” di hidup laki-laki itu.
Saat sampai di kos-nya, langit di luar jendela sudah mulai memucat. Melati buru-buru masuk kamar mandi, menyabun tubuh berkali-kali sampai kulit terasa perih, membasuh rambut lama-lama, lalu berganti pakaian kerja dan langsung berangkat ke kantor.
Kemarin sebenarnya dia tidak benar-benar menghilang tanpa kabar. Dia sudah menghubungi bagian HRD, mengajukan cuti sakit sehari. Adrian hanya tidak merasa perlu menanyakan detail sekecil itu.
Begitu melangkah ke lantai sekretariat, dia langsung melihat keributan.
Di depan meja kerja, suara Nina Pratama, sekretaris senior yang paling lama di bagian itu, terdengar tajam menusuk.
“Melinda Lestari, siapa yang suruh kamu, anak magang, utak-atik data ini?!” Dia menuding tumpukan berkas di meja. “Kamu malah kirim laporan langsung ke atas! Satu angka salah, kerugian perusahaan bisa sampai ratusan miliar. Kamu mau ganti rugi pakai apa?!”
Melinda menunduk, bahunya berguncang halus, sesenggukan pelan. Tidak satu pun kata terbentuk dari bibirnya.
Saat melihat Melati datang, Melinda langsung menoleh dengan mata besar berkaca-kaca, tampang polos penuh ketakutan.
Nina menghela napas berat, kepalanya pening sendiri, lalu menyodorkan berkas pada Melati. “Lihat nih. Bikin tabel aja nggak becus, angka dimasukin salah. Laporan ini sudah dikirim ke Grup Hidayat. Sekarang gimana?”
Melati menunduk memeriksa lembar-lembar laporan. Kepalanya seketika berat. Satu kesalahan input Melinda menyebabkan harga penawaran mereka kurang dua puluh miliar rupiah.
Dia berpikir sebentar. “Hari ini ada pesta ulang tahun Pak Besar Hidayat, saya ikut Pak Lukman datang. Biar saya yang urus.”
Nina mengembuskan napas lega, tapi masih sempat melotot ke arah Melinda. “Terus, soal kelalaian kerja gimana? Kesalahan begini harus tetap ada yang tanggung jawab.”
Melati tidak mengangkat kepala. “Sesuai aturan perusahaan. Siapa yang salah, dia yang tanggung.”
Grup Lukman selalu begitu. Tegas dan kejam. Dia tidak sedang menggunakan kesempatan untuk balas dendam. Justru kalau kesalahan sebesar ini dibiarkan, orang luar yang akan mencibir.
Melati langsung kembali ke ruangannya. Melinda keluar sambil menangis, kedua tangan menutupi wajah.
Satu jam kemudian, bagian HRD mengirimkan surat keputusan. Nina Pratama dinyatakan melakukan kesalahan kerja dan diberhentikan, plus pemotongan bonus satu kuartal penuh.
Nina menatap lembar keputusan itu tak percaya, lalu menoleh ke arah pintu, ke sosok Melinda yang baru saja diantar masuk oleh manajer HRD, wajahnya masih tampak memelas.
“Apa-apaan ini?” Melati berdiri, menatap manajer HRD.
Pria itu tersenyum kaku. “Perintah Pak Lukman.”
Jari-jari Nina meremas kuat surat pemecatan itu. Tatapannya tak lepas dari Melinda di ambang pintu. “Kenapa saya yang dipecat? Kesalahan bukan di saya!”
“Tenang, Bu. Saya akan tanya langsung ke beliau,” ujar Melati pelan.
Belum sempat kalimatnya selesai, suara dingin Adrian terdengar dari luar pintu. “Tanya apa lagi?”
Dia melangkah masuk dengan langkah lebar, wangi parfum maskulin memenuhi ruangan. Begitu berdiri di sisi Melinda, gadis itu buru-buru menunduk makin dalam, seolah takut Adrian melihat matanya yang masih sembab.
“Angkat kepala,” kata Adrian singkat.
Melinda menggigit bibir, lalu perlahan mendongak. Tepat ketika sebutir air mata jatuh, menggelinding ke pipi.
Adrian mengulurkan tangan, menghapus air mata itu dengan gerakan santai, hampir lembut. Wajahnya tetap datar saat menoleh pada Melati. “Jelaskan.”
Melati tertawa pendek, tanpa humor. “Jelaskan apa? Jelaskan kenapa dia yang salah, yang dipecat malah orang lain? Atau jelaskan kenapa dia menangis tanpa sebab, dan semua orang harus ikut kasihan?”
Adrian sudah bertahun-tahun bergelimang di lingkungan perempuan, Melati tidak percaya dia benar-benar tidak mengerti trik murahan seperti itu.
Namun kali ini, dia benar-benar marah.
Dia berjalan mendekati Melati, berdiri tepat di hadapannya, memandang dari atas. “Ke ruang saya,” katanya dingin.
Dia berbalik melenggang keluar. Melati menarik napas panjang, lalu menyusul. Melinda juga ikut melangkah masuk ke ruang kerja besar itu.
Melati menoleh sekilas, tatapannya datar. Melinda kembali memasang wajah ketakutan, air mata sudah hampir jatuh lagi.
Adrian menepuk kursi di sampingnya. “Duduk di sini. Nggak usah takut sama dia.”
“Baik, Pak,” jawab Melinda pelan, duduk hati-hati di sisi Adrian, tubuhnya sedikit mengkeret.
Melati mengerutkan kening samar. “Kenapa yang dipecat Nina Pratama?”
“Kemarin kamu bolos,” jawab Adrian ringan. “Melinda dengan baik hati bantu kerjakan laporan. Nina sebagai wakilmu, punya kewajiban memeriksa semua data. Saya hanya menjalankan aturan perusahaan. Masalahnya di mana?”
Adrian menyilangkan jari di atas meja, menatap lurus ke arah Melati.
Baru semalam tidak bertemu, tapi dia melihat jelas tulang pipi Melati makin menonjol. Lipstiknya merah pekat, merata, membuat Adrian tanpa sadar teringat lagi adegan di mobil tadi malam. Adam’s apple-nya bergeser, menelan kosong.
Melati sudah memperkirakan dia akan membela Melinda. Yang tidak dia sangka, Adrian tega mengabaikan aturan internal perusahaan sendiri.
Dia menatap langsung ke mata Adrian. “Dari pendidikan, pengalaman kerja, sampai jurusan kuliah, Melinda tidak memenuhi persyaratan untuk ditempatkan di bagian sekretariat. Lulusan D3 tari yang langsung pindah ke sini. Pak Lukman tidak merasa itu tidak wajar?”
“Aku merasa wajar saja. Ada masalah?” balas Adrian tenang, tatapannya justru tertambat pada gerakan bibir Melati yang membuka dan menutup.
“Meski Pak merasa wajar,” suara Melati tetap datar, “aturan perusahaan tetap harus dijalankan. Bu Nina punya kemampuan kerja yang sangat baik. Kesalahan kali ini juga bukan karena dia. Melinda mengubah file tanpa izin, dan langsung kirim ke—”
“Cukup.” Adrian memotong, nada suaranya meninggi setengah tingkat. “Aku sudah bilang, kemarin kamu bolos, makanya sampai ada kesalahan besar. Sekarang kamu mau lempar kesalahan ke anak magang?”
Nada Adrian masih terkendali, tapi kilat marah sudah jelas di matanya.
“Jadi,” tanya Melati, berdiri tegak, “menurut Pak, ini semua salah saya?”
“Ya.”
Mendengar jawaban pasti itu, Melati diam beberapa detik. Matanya tetap menatap Adrian, kemudian dia mengangguk pelan. “Baik. Kalau memang ada kesalahan, saya yang akan memperbaiki. Tidak perlu memecat Bu Nina. Malam ini, di pesta ulang tahun Pak Besar Hidayat, saya yang akan bicara dan bereskan sendiri.”
Adrian menyandarkan punggung ke kursi, sudut bibirnya terangkat tipis. “Oke. Mengingat kamu sudah beberapa tahun ikut aku, aku kasih kesempatan untuk menutup kesalahan kali ini.”
