Bab [3] Cara yang Baik

Melati baru saja mengembuskan napas lega ketika Adrian berkata datar, “Tapi, malam ini aku nggak akan datang.”

Melati sontak menoleh. Grup Hidayat adalah rekanan terbesar Grup Lukman; ulang tahun Pak Besar Hidayat, mana mungkin Adrian tidak datang?

Ia baru mau membuka mulut membujuk, Melinda sudah lebih dulu merapat manja ke dada Adrian dengan wajah penuh keluhan.

Melati langsung mengerti posisi, menelan kembali kata-katanya dan memilih berbalik pergi.

Malamnya, begitu melihat hanya Melati yang datang seorang diri, wajah Pak Besar Hidayat langsung mengeras.

Melati mengangkat gelas wine, melangkah mendekat. “Maaf, Pak Lukman belakangan ini agak sibuk. Beliau khusus menitipkan saya mengantarkan ukiran kayu kesukaan Bapak sebagai hadiah.”

“Sudah repot-repot,” gumam Pak Hidayat sambil ikut mengangkat gelas, tapi tidak meneguk sedikit pun.

Melati tahu ia sedang marah. Ia menenggak habis isi gelasnya sendiri, lalu menuang lagi.

“Tadi itu, saya mewakili Pak Lukman. Yang ini, saya pribadi menghormati Bapak.”

Beberapa gelas masuk ke tenggorokannya sebelum raut Pak Besar Hidayat mulai mencair.

Suasana pelan-pelan menghangat, tapi Melati sama sekali tidak berani lengah. Sejak tadi matanya terus menempel pada Arif Hidayat, pewaris keluarga sekaligus perusahaan.

Kalau mau membereskan masalah laporan keuangan, ia harus minta tolong laki-laki itu.

Arif jelas menyadari tatapannya. Ia mengangkat gelas ke arah Melati dari kejauhan, mata nakal terang-terangan menelusuri tubuhnya.

Malam ini Melati memakai dress ketat backless yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Punggungnya nyaris seluruhnya terbuka, membuat orang mudah sekali berpikir ke arah yang bukan-bukan.

Meski muak oleh cara Arif memandangnya, Melati tetap menegakkan bahu dan berjalan mendekat.

“Pak Arif, saya mau bersulang dengan Bapak.”

Ia menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Arif hanya menatap, tidak menyentuh gelasnya.

Melati tersenyum canggung. “Pak Arif nggak mau kasih saya muka, nih?”

“Bukan begitu. Muka cewek cantik, mana mungkin saya nggak kasih.” Bibir Arif terangkat miring. “Cuma kalau cantik seperti kamu mau minta tolong ke saya, segelas doang… kurang.”

Tatapannya melingkari tubuh Melati tanpa sopan santun, seakan-akan sedang membayangkan menelanjanginya.

Selama ini kalau Adrian ada di dekat Melati, ia memang tak berani macam-macam. Tapi malam ini Adrian tidak datang…

Arif menyodorkan lagi segelas wine ke Melati. “Nona Melati datang ke saya pasti karena masalah laporan itu, kan? Kesalahan segede itu, kamu pikir cukup ditebus dengan segelas wine?”

Melati tahu persis niatnya tidak baik, tapi ia tetap harus memasang senyum ramah.

“Itu salah anak magang baru di kantor, Pak. Masih belum paham sistem. Mohon Bapak bisa lebih berbesar hati.”

Ia mendongak, menenggak lagi segelas penuh, lalu tersenyum pada Arif.

“Pak Arif, gimana?”

“Kalau Nona Melati se-niat ini, ya sudah, saya temenin satu gelas.”

Ia mengambil satu gelas lagi. Melati menggenggam batang gelas erat-erat, giginya mengatup sebelum akhirnya ia menerimanya.

Begitu gelas mereka saling beradu, seluruh orang di ruangan serentak menoleh ke arah pintu.

Adrian muncul dengan setelan jas hitam, dingin dan berwibawa.

Di sampingnya, seorang gadis muda dalam dress putih sederhana menatap sekeliling dengan mata berbinar, polos dan penasaran. Kontras mereka jelas, tapi anehnya terlihat sangat serasi.

Gaun di tubuh Melinda itu, adalah hadiah ulang tahun Adrian untuk Melati tahun ini—gaun yang masih ia titipkan di butik, belum sempat ia ambil.

“Pak Lukman ternyata sibuk sekali,” komentar Arif lirih, senyum sinis menggayuti bibirnya.

Ia mendekatkan wajah ke telinga Melati, napas panasnya menyapu kulit tipis di sana. Melati refleks merinding.

“Pak Arif, maaf. Saya permisi sebentar.”

Menahan rasa mual di perut, ia memaksa bibirnya tersenyum lalu melangkah cepat ke arah Adrian.

“Katanya nggak mau datang?”

“Anak ini belum pernah ke acara seperti ini, pengin lihat suasana,” jawab Adrian santai.

Ia mencubit pipi Melinda dengan sayang. Pipi gadis itu langsung memerah.

“Kak Melati, aku belum pernah ikut acara formal begini. Pak Adrian ajak aku ke sini… biar nanti aku lebih gampang adaptasi kalau kerja.”

Melati mengangguk pelan. Ia tak menambahkan apa-apa.

Adrian tak lagi memedulikannya. Ia menuntun Melinda masuk ke kerumunan tamu.

Banyak mata mengikuti gerak-gerik mereka bertiga. Bisik-bisik halus mulai beredar, menebak-nebak siapa sebenarnya gadis muda di sisi Adrian.

Melati pura-pura tidak mendengar. Ia kembali melenggang ke arah Arif.

Arif mengangkat alis. “Pacar baru Pak Lukman?”

“Hmm.”

Melati tidak merasa perlu menjelaskan. Ini bukan pertama kalinya Adrian punya “yang baru”.

“Pak Arif, soal laporan kemarin itu—”

“Kenapa? Kamu bawa laporan baru malam ini?”

Arif tiba-tiba mendekat. Napasnya berembus tepat di wajah Melati.

Melati meluruskan punggung, merogoh tas kecil dan mengeluarkan sebuah flashdisk. “Kalau Bapak berkenan kasih saya kesempatan, saya bisa kirim laporan baru itu ke sekretaris Bapak sekarang.”

“Nona Melati, nggak semua sekretaris itu kayak kamu, kerja 24 jam. Saya rasa… lebih praktis kalau kirim langsung ke saya saja.”

Arif meletakkan gelasnya, lalu berjalan ke arah ruang istirahat di ujung ballroom.

Melati menoleh sekilas ke arah Adrian. Laki-laki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya; ia sedang memesan jus untuk Melinda, sikapnya lembut dan penuh perhatian.

Ia paham betul, Adrian tidak akan turun tangan membantunya. Tanpa ragu lagi, Melati mengikuti langkah Arif.

Saat melewati seorang pramusaji, ia sempat membungkuk sedikit, berbisik menyampaikan beberapa instruksi singkat.

Di ruang istirahat, Arif menurunkan laptopnya di atas meja kecil.

“Nona Melati, silakan.”

Melati melirik meja. Untuk mengoperasikan laptop di situ, ia harus berlutut atau setidaknya setengah jongkok di lantai—dan dengan dress yang ia kenakan, bisa dipastikan ia akan tersingkap habis-habisan.

Tatapan Arif mengandung makna yang tak perlu diterjemahkan. Melati memilih melangkah mendekat, meraih laptop itu, lalu bersandar pada dinding sambil memeluknya di depan dada.

“Datanya sebentar lagi selesai dikirim, mohon tunggu.”

Tangannya cekatan mencari file yang diperlukan, sementara sudut matanya tak lepas dari gerak-gerik Arif.

Tadi ia telah menyuruh pramusaji mengetuk pintu lima menit lagi. Waktu itu harus cukup.

“Ibu Melati kelihatannya takut sekali sama saya, ya?” suara Arif berat, semakin mendekat.

Melati segera meletakkan kembali laptop ke meja. “Tentu tidak. Pak Arif itu kan orang baik-baik, saya takut apa?”

“Kalau begitu, Bu Melati salah besar.”

Arif mengayunkan satu langkah panjang dan langsung menarik Melati ke pelukannya. Tangan kasarnya menyapu telanjang punggungnya, bergerak makin ke depan, mendekati payudara.

Pintu ruang istirahat tiba-tiba terbuka.

Adrian berdiri di ambang pintu, wajah tanpa ekspresi, tatapan tajam menusuk.

“Pak Arif, semangat sekali,” ucapnya datar.

Melati memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Ia cepat-cepat merapikan gaunnya.

“Pak Arif, data barunya sudah saya copy di desktop laptop Bapak. Terima kasih karena mau kasih saya kesempatan memperbaiki kesalahan.”

Ia menunduk sopan, lalu bergegas keluar dari ruang istirahat.

Begitu urusan laporan selesai, ia akhirnya bisa menghela napas lega.

Baru beberapa langkah, suara langkah berat terdengar di belakang. Sebelum sempat ia menoleh, pergelangan tangannya ditarik kuat dan tubuhnya dibawa masuk ke ruang ganti di samping.

Adrian membenamkan tubuhnya ke dinding, menatapnya dengan mata gelap dan dingin.

“Ibu Melati… pintar juga cara mainmu.”

Jari-jarinya menelusuri kulit telanjang di punggungnya, naik turun dalam gerakan lambat yang mengancam. “Demi nutupin kesalahan, kamu mau ngelakuin apa pun?”

Ia mengangkat tangan, ibu jarinya menekan bibir Melati, menggosok kuat-kuat hingga lipstiknya melebar berantakan ke sudut-sudut mulut.

“Aku sudah bilang ke pramusaji untuk ketuk pintu lima menit lagi,” suara Melati serak. “Selama kamu ada di sana, dia nggak akan berani macam-macam sama aku.”

Ia tahu Adrian punya obsesi soal kebersihan dan kepemilikan. Ia boleh punya banyak perempuan, tapi perempuan yang tidur dengannya… hanya boleh disentuh olehnya seorang.

“Kalau malam ini aku nggak datang?” tanyanya lirih.

Tangannya melingkari pinggang ramping Melati, lalu menyusup ke balik kain gaunnya, meremas keras payudaranya.

Malam ini Melati tidak memakai bra; hanya mengenakan nipple cover tipis yang dicabut kasar oleh Adrian.

Desah tertahan lolos dari tenggorokannya. Bibir Adrian langsung menekan bibirnya, mencium dengan brutal, menggigit, menghisap, seakan ingin menghabisinya.

Napas Melati tersengal. Ia hampir kehabisan udara, tubuhnya secara refleks merapat mencari pegangan di dadanya.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar.

“Pak Lukman belum ketemu juga? Cewek yang dia bawa tadi bikin masalah.”

“Masalah banget. Dari semua orang, kenapa harus nyenggol Arif Hidayat segala?”

“Pelan dikit ngomongnya. Itu kan pacar baru Pak Adrian.”

Begitu mendengar yang bikin ribut adalah Melinda, gerakan Adrian seketika berhenti. Ia mendorong Melati menjauh tanpa banyak bicara dan keluar dari ruang ganti dengan langkah lebar, meninggalkannya sendirian.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya