Bab [4] Orang-Orangku
Adrian Lukman baru saja melangkah masuk ke ballroom ketika ia melihat Melinda Lestari berdiri di tengah lingkaran tamu, mata memerah, terus-menerus minta maaf.
“Maaf, Pak, aku alergi alkohol, aku benar-benar nggak bisa minum. Aku tadi nggak sengaja.”
Ia dikepung orang, tampak persis seperti kelinci ketakutan. Air mata jatuh satu-satu, besar-besar, bikin orang yang lihat ikut iba.
Di hadapannya berdiri “serigala” yang jadi sumber masalah: Arif Hidayat. Setelan mahalnya belepotan wine merah, dan wajahnya sudah gelap sepenuhnya.
“Orang-orang Grup Lukman, hebat juga, ya.”
“Ya jelas,” sahut sebuah suara dari arah belakang. “Bagaimanapun juga, mereka itu orang saya.”
Adrian Lukman melangkah lebar-lebar, langsung menarik Melinda Lestari ke dalam pelukannya.
Mengingat kejadian di ruang istirahat barusan, wajah Arif Hidayat jadi makin jelek.
“Pak Lukman ini tiap kali selalu datang pas momen pahlawan kesiangan, ya? Keren sekali.”
“Pak Hidayat, maaf ya, anak ini lagi nggak enak badan. Saya antar pulang dulu.”
Adrian menoleh ke arah Melati Handayani yang baru saja tergesa-gesa datang menghampiri. “Kamu yang minta maaf ke Pak Hidayat.”
Melinda Lestari akhirnya berhenti menangis. Ia tampak ragu. “Apa nggak apa-apa, Kak? Aku bisa pulang sendiri kok.”
Melati hanya diam di samping, menatap punggung Adrian yang membawa Melinda pergi, sampai mereka menghilang di pintu keluar.
Adrian tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Tapi tatapan orang-orang di sekitar justru serempak berbalik mengarah ke Melati.
Arif Hidayat terkekeh sinis. “Nona Melati, Pak Lukman ternyata penyayang juga ya, kalau sama cewek-cewek cantik. Begitu, kan?”
Pandangan orang-orang di sekelilingnya mendadak berubah.
Di kalangan mereka, semua tahu hubungan Adrian Lukman dan Melati Handayani. Tapi malam ini Adrian datang dengan perempuan lain, dan menjaganya seolah barang berharga. Siapapun bisa merasakan ada yang janggal.
Melati tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis, mengambil handuk kecil yang disodorkan pelayan, lalu dengan hati-hati mengusap percikan wine di jas Arif Hidayat.
Tatapan Arif Hidayat perlahan turun, berhenti di dada Melati yang penuh. Di balik gaun malamnya, jelas terlihat ada tonjolan kecil yang membuat imajinasinya berlari ke mana-mana.
“Melati,” suaranya merendah, setengah godaan, “ngapain sih ngekorin dia terus? Kamu tahu, pilihanmu sebenarnya banyak.”
Ia nekat meraih pergelangan tangan Melati, mengelus-elus pelan seperti menguji batas.
Melati menarik kembali tangannya, tetap tersenyum. “Tapi juga bukan semua orang pantas diikutin. Iya nggak?”
Malam itu Melati kembali harus menenggak cukup banyak minuman.
Begitu orang-orang sadar kalau ia datang tanpa ‘payung’ Adrian, hampir semua berlomba-lomba menawarinya gelas demi gelas, dengan berbagai alasan basa-basi.
Hampir dini hari ketika ia akhirnya sampai di apartemennya.
Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat seseorang sudah duduk di sofa ruang tamu.
Melati menendang lepas high heels-nya, berjalan langsung ke sofa dan menjatuhkan diri di samping lelaki itu. “Aku capek.”
Ia menangkap samar-samar aroma manis stroberi di tubuh Adrian. Wangi itu asing di hidungnya, sama sekali bukan aroma parfum atau sabun yang biasa dipakai Adrian.
Itu aroma yang tadi siang masih menempel di kulit Melinda Lestari.
Kesadarannya mendadak jadi jernih. Melati bangkit berdiri. “Ibu Melinda sudah kamu antar pulang?”
Adrian mengangkat wajah, menatapnya. Di matanya nyaris tak ada ekspresi.
“Dia itu masih anak-anak. Apa-apa belum ngerti.”
“Iya, bener, apa-apa belum ngerti,” sahut Melati datar. “Jadi kamu rencananya mau sama dia berapa lama? Tiga bulan?”
Pacar-pacar muda di sekitar Adrian datang dan pergi. Rekor paling lama bertahan pun tak pernah lewat tiga bulan.
“Dia beda.”
Adrian menarik napas pelan. “Kamu ajarin dia, ya. Jangan sampai dia mikir dirinya nggak ada apa-apanya.”
Nada suaranya penuh rasa sayang, bercampur sedikit tak berdaya.
Melati menatap lurus ke matanya, suara tetap tenang. “Kamu beneran suka sama dia?”
Nada bicara Adrian naik setengah oktaf, ada suka cita yang tak disembunyikannya. “Iya. Kali ini pengin pacaran yang beneran. Dia anaknya manis banget.”
Melati mengangguk pelan. “Baguslah.”
Dia sudah sepuluh tahun hidup di orbit lelaki ini. Wajar kalau akhirnya Adrian bosan.
“Terus, malam ini kamu nginep di sini?” Suaranya dingin, rata, sama sekali tanpa emosi.
“Nggak usah.”
Adrian berdiri dan langsung melangkah pergi.
Melati ingin bertanya apakah “nggak usah” itu juga berlaku buat hubungan di antara mereka. Tapi yang tersisa hanya suara pintu yang menutup berat, memantul di dinding apartemen.
Keesokan harinya, ketika Melati masuk kantor, Melinda Lestari sudah duduk manis di kursi paling tengah.
Begitu melihatnya, Melinda buru-buru berdiri, wajah memerah tegang. “Maaf, Kak Melati, aku duduk di tempat Kakak. Tapi Pak Lukman bilang dia mau ngawasin aku kerja. Kalau aku duduk di sini, dia tinggal angkat kepala bisa langsung lihat.”
Pipi Melinda merah seperti habis lari jauh, sorot matanya tak tenang, menatap Melati seakan menunggu vonis.
Melati merasa kepalanya sedikit berdenyut. Apa dia kelihatan seperti nenek sihir pemakan anak kecil, sampai setiap kali Melinda melihatnya langsung ketakutan begitu?
“Kerja saja.”
Melati berjalan ke meja di pojok ruangan. Sepanjang pagi orang-orang dari departemen lain bergantian mampir ke bagian sekretariat, dan semuanya pasti melirik posisi duduk Melinda yang sudah berubah.
Gosip menyebar cepat di grup kerja. Notifikasi berdenting tak henti; Melati sempat membaca beberapa komentar, tapi tidak menanggapi.
Saat jam istirahat, Melinda membawa masuk beberapa kantong makanan ke ruangan Adrian dan langsung menghilang di balik pintu. Mereka berada di dalam sana lebih dari satu jam; sesekali terdengar tawa Melinda yang lembut dan malu-malu menembus daun pintu.
Begitu Melinda keluar, barulah Melati berdiri dan menuju ruang CEO. “Pak Lukman, hari ini Bapak ada janji dengan Pak Hartini. Mobil sudah siap.”
“Pak Lukman, aku pesenin milk tea rasa stroberi…” Suara Melinda terdengar lagi; ia baru saja pergi, sekarang muncul lagi dan langsung mendorong pintu, tanpa mengetuk.
Begitu melihat Melati ada di dalam, ekspresinya langsung berubah jadi gugup. “Maaf…”
“Ya, saya tahu,” potong Adrian. Ia menunjuk Melinda. “Dia ikut saya. Semua berkas kamu kasih ke dia.”
Alis Melati terangkat sedikit, tapi ia hanya mengangguk. “Pukul tiga tiga puluh ada rapat departemen.”
Adrian tidak menjelaskan apa-apa lagi. Ia mengambil map dari tangan Melati dan menyodorkannya pada Melinda, lalu mereka pergi bersama.
Sampai waktu rapat dimulai pun, Adrian belum juga muncul.
Melati berusaha menenangkan para manajer yang menunggu, sambil berkali-kali menelepon Adrian.
Sambungan ketiga baru diangkat, tapi suara yang terdengar bukan suara Adrian.
“Kak Melati, ada apa ya?” Suara Melinda, lembut, nyaris seperti bisikan.
“Pak Lukman di mana?”
Melinda terdengar seperti hampir menangis. “Tadi aku nggak sengaja keiris kertas, Kak. Pak Lukman bawa aku ke rumah sakit. Dia lagi ambil obat.”
Melati melirik setumpuk berkas di atas meja rapat. “Parah?”
Ada jeda singkat sebelum Melinda menjawab pelan, manja, “Pak Lukman bilang parah, Kak.”
Suara itu, seperti orangnya, lembek dan lunak, betul-betul seperti anak kecil.
Belum sempat Melati menimpali, telepon dipindah ke tangan lain.
“Rapat batal. Kamu yang atur ulang. Saya ada urusan penting.”
Adrian langsung memutus sambungan begitu selesai bicara.
Melati mengangkat kepala, menatap para manajer yang memenuhi ruang rapat. Rasa pusing di pelipisnya makin menjadi.
Begitu rapat berantakan itu selesai dan semua manajer sudah berhasil ia tenangkan satu per satu, telepon dari Adrian masuk lagi.
“Ke kantor Pak Hartini, kamu yang datang,” ucapnya, terdengar jelas nada tak sabarnya.
“Kalian tadi nggak jadi ke sana?” Melati merasakan denyutan tajam di pelipis, emosi yang dari tadi ia tahan mulai bergolak.
“Melinda terluka.”
Ada jeda pendek sebelum Adrian menambahkan, “Mulai sekarang, di kantor jangan pakai kertas dan map yang tajam-tajam begitu.”
Telepon terputus, menyisakan nada sibuk di telinganya.
Melati hanya bisa duduk terpaku beberapa detik, rasanya seperti ingin marah tapi tidak tahu harus memarahi siapa.
Ia buru-buru mencetak ulang semua dokumen, merapikannya, lalu bergegas menuju kantor Grup Aman Jaya.
Ia terlambat dua jam. Pihak lawan sudah jelas-jelas kehilangan sabar. Mereka bahkan tidak mau bertemu, hanya menyuruh staf menerima berkas dan menyampaikan kalau pertemuan diundur entah sampai kapan.
Dalam perjalanan pulang, Melati memejamkan mata sepanjang jalan, berusaha menekan kembali amarah yang mendesak naik.
Saat kembali ke kantor, ia mendapati Melinda sedang membagikan dessert kecil ke semua orang di departemen.
“Ini oleh-oleh dari aku sama Pak Lukman, tadi beli di jalan pulang. Coba, enak banget, lho.”
Kotak-kotak dessert itu berasal dari hotel bintang lima yang terkenal dengan daftar tunggu panjang. Harganya pun bukan main; bukan tipe kudapan yang biasa dibagikan gratis di kantor.
Begitu melihat Melati, Melinda buru-buru mengambil satu cup mousse stroberi dan menghampirinya.
“Kak Melati, ini buat Kakak. Aku sengaja simpen. Yang ini paling enak.”
Tatapan Melati terhenti pada jari telunjuk Melinda, yang dililit plester bergambar stroberi. Luka yang sangat “serius”.
Tiba-tiba, pintu ruang sekretariat terbuka keras dari luar. Adrian masuk dengan wajah masam, melangkah lurus ke arah Melati.
“Bukannya saya suruh kamu ketemu Pak Hartini? Kenapa kamu masih di sini?”
