Bab [5] Memberi Jalan
Adrian Lukman berdiri dengan rahang mengeras, nada suaranya turun beberapa derajat.
“Ibu Melati, saya lagi tanya sama Anda.”
Melati Handayani menarik napas panjang, lalu mendongak menatap matanya tanpa menghindar.
“Pak Hartini bilang sudah nunggu Bapak dua jam. Katanya Grup Lukman nggak niat kerja sama, jadi dia nggak mau ketemu saya.”
“Menurut kamu, itu salah saya?”
Alis Adrian berkerut tajam, menatapnya dingin. “Melati Handayani, kamu sekretaris saya. Urusan begini memang seharusnya kamu yang beresin, kan?”
“Gitu?”
Tatapan Melati bergeser, jatuh pada sosok Melinda Lestari.
Plak!
Kue kecil di tangan Melinda jatuh ke lantai. Ia ketakutan, buru-buru bersembunyi di belakang Adrian. “Maaf… ini salah aku. Aku yang ceroboh, tadi kelelahan sampai jatuh, jadi ngerepotin semuanya.”
Melati memandang air mata yang jatuh deras di pipi Melinda, sorot matanya tetap datar, tenang sampai menusuk.
Adrian menarik selembar tisu dan menyodorkannya ke Melinda, suaranya melunak.
“Kamu baru masuk, bukan salah kamu.”
Begitu kalimat itu selesai, matanya kembali membeku saat beralih ke Melati. “Kamu yang beresin urusan ini. Perusahaan ini nggak pelihara karyawan yang cuma bisa buang-buang gaji.”
Jari-jemari Melati mengepal kuat. Beberapa detik kemudian, ia justru tersenyum.
“Oke. Kalau saya bisa selesain dan ngamanin kerja sama ini sendirian, komisi saya ikut dilipatgandakan, sesuai aturan, kan?”
“Hmph. Iya. Kalau kamu memang sanggup.”
Adrian mendengus pendek, lalu berlalu begitu saja sambil menggandeng Melinda keluar ruangan.
Nina Pratama langsung menghampiri. “Melati, jangan. Anton Hartini itu orangnya kotor, kamu mending nggak usah ke sana.”
Ponsel Melati bergetar. Notifikasi tagihan rumah sakit masuk. Ia menatap layar beberapa detik, lalu menggigit pelan bibirnya.
“Nolak uang cuma kerjaan orang bodoh. Tenang, aku tahu aku ngapain.”
Ia menepuk pelan bahu Nina, kemudian berbalik meninggalkan ruangannya.
Anton Hartini memang bukan orang baik. Tapi Grup Aman Jaya tetap salah satu klien terbesar Grup Lukman.
Demi menjaga hubungan, demi komisi, Melati tetap harus datang.
Kali ini ia tidak melewati resepsionis. Ia mengikuti jalur belakang, naik lewat koridor karyawan sampai langsung tiba di lantai eksekutif, di depan ruang CEO.
“Nona Melati, Anda belum ada janji! Tunggu dulu!”
Sekretaris di depan pintu panik, tapi terlambat. Pintu sudah terkuak.
Anton Hartini sedang duduk di balik meja besar, wajahnya kelihatan kesulitan memilih di antara beberapa kotak di depannya. Begitu melihat Melati melangkah masuk, sorot matanya langsung berubah—kagum yang kelewat batas.
Badan Melati semampai, dibalut setelan kerja yang pas di tubuh. Lengkungnya terbentuk jelas, seluruh dirinya memancarkan daya tarik, tapi bertabrakan dengan wajah dingin dan bersih yang membuat orang penasaran seperti ingin menguliti semua lapisan pertahanannya.
Tenggorokan Anton bergoyang. Ia menelan ludah tanpa sadar.
Melati bertindak seolah ia tak melihat tatapan cabul itu. Ia duduk dengan senyum ringan, terukur.
“Pak Hartini lagi milih kado, ya?”
Ia melirik ke arah kotak-kotak perhiasan di meja. Sekali lihat saja ia sudah tahu: itu semua jelas untuk perempuan.
Anton memberi isyarat singkat. Sekretarisnya langsung keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Ia mengangkat alis pada Melati. “Pas sekali Ibu Melati datang. Hari ini ulang tahun istri saya. Tolong bantu pilih satu yang paling cocok.”
“Istri Bapak suka warna biru. Saya lihat kemarin beliau pesan satu gaun malam biru di butik, kemungkinan dipakai malam ini. Menurut saya, kalung safir biru ini paling pas.”
Melati meletakkan map kontrak, menyelipkannya di bawah kotak kalung, lalu mendorongnya pelan ke arah Anton. “Kelihatan mewah, berkelas, dan nilainya juga tahan lama. Kado dan rekan bisnis, sebaiknya sama-sama yang model begini.”
“Penjelasan Ibu Melati bagus juga.” Anton tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan, jemarinya mengelus punggung tangan Melati seenaknya.
Melati buru-buru menarik tangannya, menahan mual yang sudah sampai di tenggorokan. “Pak Hartini, kerja sama yang kemarin sudah kita bahas… kalau menurut Bapak nggak ada perubahan, bagaimana kalau kita tanda tangan hari ini juga?”
“Nggak usah buru-buru. Kalau kadonya Ibu Melati yang pilih, sekalian saja temani saya mengantar untuk istri saya.”
Anton berdiri, sama sekali tak melirik kontrak yang barusan disodorkan.
Melati mengerutkan kening, tapi tetap mengambil kotak perhiasan dan mengikuti langkahnya keluar.
Anton masuk ke mobil. Pintu sampingnya sengaja dibiarkan terbuka. Ia menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. “Ibu Melati.”
“Pak, saya duduk depan aja, nggak apa-apa.”
Melati membuka pintu depan, dan langsung melihat seikat bunga besar sudah menutup kursi penumpang.
Anton terkekeh pelan. “Ibu Melati tetap di belakang sama saya saja, ya.”
Melati menarik napas panjang, menahan geram. Akhirnya ia memutar badan dan duduk di kursi belakang.
Begitu mobil melaju, tangan Anton jadi tak tenang. Ia segera menggeser tubuh, mendekat ke Melati, lalu meraba punggung bawahnya tanpa malu.
“Saya dengar Pak Lukman sekarang pelihara gadis penari, ya? Ibu Melati nggak kepikiran ganti ‘selera’?”
Tangannya menguat, menarik Melati ke dalam pelukannya. Melati mendorong dadanya sekuat mungkin.
“Bapak sendiri yang bilang, saya cuma sekretaris. Kerja saya cuma ngurus urusan kantor bos.”
“Gitu?”
Anton makin merapat. Tangan satunya turun, menyusuri paha Melati tanpa izin.
“Terus Ibu Melati nggak mau mikirin diri sendiri sedikit pun?”
Begitu kata-kata itu meluncur, sopir tiba-tiba menghentikan mobil di pinggir jalan dan buru-buru turun, meninggalkan mereka berdua di dalam.
Mata Melati melebar. Ia menghimpun seluruh sisa tenaga untuk mendorong tubuh Anton.
“Pak, hari ini ulang tahun istri Bapak.”
“Makanya, kita makan hidangan pembuka dulu.”
Cengkeramannya menggenggam lengan Melati kuat-kuat, menahan seluruh gerakannya.
“Ibu Melati datang ke sini bukan buat ngomongin kerjaan, ya? Bos kamu, Pak Lukman, ngirimin kamu ke saya. Kamu kira maksudnya apa?”
Napasnya panas dan bau, bercampur aroma cerutu yang menyengat. Melati mual sampai hampir muntah, tubuhnya menggeliat berusaha bebas.
Plak!
Tamparan itu menghantam pipinya. Dunia di sekitar seperti bergetar, suara mendengung di telinganya.
“Dikasih muka nggak mau! Udah kebanyakan dipakai sama Adrian Lukman, masih sok suci?”
“Saya mau sama kamu, itu sudah rezeki buat kamu. Pakaian kerja kamu saja sudah ngajak orang buat tidur sama kamu begitu.”
Ia mencengkeram dagu Melati, memaksa wajahnya terangkat.
“Geli sama saya? Sudah lihat diri sendiri di kaca belum?”
“Layanin saya baik-baik, urusan Pak Lukman ninggalin saya tadi selesai. Kalau nggak…”
Tamparan pelan mendarat di pipi Melati, lalu turun ke dada. Jemarinya kasar, merobek kancing kemeja satu per satu, membuka jalan untuk memperlihatkan bra hitam berenda yang langsung terekspos.
Melihat dada Melati yang penuh, Anton kembali menelan ludah. “Sial… Adrian Lukman selama ini benar-benar tahu cara hidup enak.”
Saat itu juga, kesadaran Melati seolah tersambar sesuatu. Ia mulai meronta habis-habisan.
Tapi ia baru saja menjalani kuret, tubuhnya masih lemah, dan ia hanya seorang perempuan yang melawan lelaki dengan badan jauh lebih besar. Dalam beberapa gerakan, Anton sudah berhasil menindihnya.
“Melati Handayani, saya kasih tahu, kamu mending nurut aja. Kalau nggak—”
Tok! Tok!
Suara ketukan keras di kaca jendela memotong ancaman itu.
Adrian Lukman berdiri di luar, wajahnya kelam, mata gelap menembus kaca.
Anton terkejut, tangannya refleks terhenti. Melati memanfaatkan celah itu untuk meraih gagang pintu, mendorongnya dan menjatuhkan diri keluar dari mobil.
“Pak Lukman…”
Adrian menatap lekat-lekat pada kemeja Melati yang terbuka, bra yang terlihat, dan pipinya yang sudah memerah bengkak. Lalu pandangannya beralih ke Anton.
“Ulang tahun Nyonya Hartini. Ternyata Pak Hartini lagi sangat semangat.”
Anton merapikan rambut dan bajunya, turun dari mobil dengan angkuh, mengangkat alis. “Ya, terima kasih juga sama Pak Lukman yang sudah kirim ‘hadiah’.”
“Ah, sama-sama. Bagaimanapun, Nyonya Hartini nelpon saya sendiri. Masak saya datang tanpa apa-apa.”
Adrian mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya dan menyerahkannya.
“Saya masih ada urusan sedikit. Nanti saya nyusul. Tolong hadiah ini diantar dulu.”
Anton menerima kotak itu, hanya mendengus pendek. Tanpa menambah satu kata, ia masuk kembali ke mobil dan meluncur pergi.
Baru setelah mobil itu menghilang, lutut Melati mulai goyah. Ia memaksa dirinya berdiri tegak. “Pak… Lukman…”
“Ini cara kamu menyelesaikan masalah?” Suara Adrian sedingin baja, mengiris.
Melati menutup mata sejenak. Ia tidak membuka mulut untuk membela diri.
Hari ini, ia memang sudah bertindak bodoh.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu! Kerjain tugas kamu dengan benar. Jangan paksa saya buat terus-terusan beresin kekacauan kamu.”
Belum sempat gema suara itu hilang, suara manja melengking pelan dari belakang Adrian.
“Pak Lukman, kita masih jadi ke acara ulang tahun nggak?”
Melinda berdiri beberapa langkah di belakang, memandang Melati dengan tatapan takut-takut, lalu menyembunyikan diri di balik punggung Adrian seakan mencari perlindungan.
Adrian mengusap lembut kepala Melinda, amarah di matanya seketika surut.
“Tentu. Kita tetap berangkat.”
Ia menoleh lagi ke arah Melati, kali ini suaranya turun beberapa derajat, tapi justru terasa semakin dingin.
“Kalau kerjaan sekretaris saja kamu nggak bisa beresin, sudah saatnya kamu kasih posisi itu ke orang lain.”
