Bab 3 Gadis Kecil yang Hilang
Citra menyeret Nuh dan Andi keluar dari bandara dengan tergesa-gesa.
Sahabatnya, Alya Davina, sudah berdiri di pintu keluar, melambaikan tangan heboh begitu melihat Citra. “Cit!”
“Alya!” Wajah Citra langsung berbinar.
Nuh dan Andi keburu lari duluan, nyemplung ke pelukan Alya. “Alya, kangen nggak sama kita?”
Alya jongkok, lalu mengecup pipi mereka satu-satu dengan heboh. “Ya kangen, lah! Aku juga bawain kalian model pesawat yang kalian suka itu.”
Mata Nuh berkilat. “Serius? Keren banget!”
Andi loncat-loncat. “Yang kapal induk itu, ya? Yang dari kemarin kita pengin banget! Mama nggak mau beliin!”
Biar jelas, itu model kapal induk dengan segudang komponen kecil.
Citra paham, apa pun yang ada bagian mungil di tangan Nuh dan Andi, paling juga lima menit kemudian sudah dibongkar jadi serpihan. Dan Citra selalu takut mereka ketelen potongan kecilnya, jadi jawabannya selalu tidak.
Alya nyengir. “Iya, yang itu. Satu buat masing-masing.”
Nuh nyengir lebar. “Aku tahu kamu emang paling terbaik.”
Citra melirik Alya, sedikit kesal. “Alya, kamu kebanyakan manjain mereka. Nanti jadi kebiasaan.”
Alya cuma mengangkat bahu. “Santai. Aku percaya mereka tahu batas. Yuk pulang.”
“Ya udah.” Citra memasukkan koper ke mobil Alya, lalu ikut naik bersama Nuh dan Andi.
Dia sama sekali tidak menoleh, dan tidak melihat Arga yang masih tertahan di dekat pintu keluar, menyapu kerumunan dengan tatapan mencari.
Dinda, memaksakan senyum, menyusul lalu meraih tangan Arga.
“Arga, kamu ngeliat siapa? Ingat, barusan kita diwawancarai wartawan.”
Arga mengibaskan tangannya, menepis pegangan Dinda, matanya dingin dan sebal.
“Dinda, jangan lupa kesepakatan kita. Kalau kamu berani-beraninya pesan penerbangan yang sama sama aku lagi, terus bawa wartawan buat maksa urusan nikah, aku nggak bakal tinggal diam!”
Arga selama ini selalu rapi dan tertutup. Bagaimana bisa jejaknya bocor sampai jadi heboh begitu?
Dinda menggigit bibir, wajahnya seolah tersakiti. “Arga, kamu salah paham. Aku nggak manggil mereka.”
Matanya berkaca-kaca, ekspresi memelas minta dikasihani. Tapi tatapan Arga tetap membeku.
“Kamu sendiri yang paling tahu kamu ngapain. Aku benci permainan kayak gini.”
Dinda menangis, air mata jatuh satu-satu. “Beneran bukan aku. Aku nggak mau kamu punya prasangka dan salah paham terus soal aku.”
Mata Arga dipenuhi jijik saat dia berbalik hendak pergi, tapi Dinda cepat-cepat mengikuti.
Tangisan jelas nggak mempan buat Arga. Dinda mengusap air matanya, senyumnya sekarang dipaksakan—manis yang dibuat-buat.
“Arga, malam ini kamu sempat nggak? Aku tahu restoran baru, makanannya enak.”
Arga mengernyit—dan di saat yang sama ponselnya berdering kencang, mendesak.
Dia mengangkatnya. Suara panik sang kepala pelayan terdengar dari seberang. “Pak Arga, Nona Ema hilang!”
Mata Arga melebar, amarahnya meledak. “Apa? Banyak orang dewasa bisa-bisanya kehilangan satu anak?!” bentaknya.
Kepala pelayan itu terdengar seperti berkeringat dingin. “Dia keluar dari halaman belakang sendiri, Pak. Sekarang kami lagi nyari.”
Arga melirik Dinda sekilas, lalu menggeram ke telepon, “Kerahkan semua orang. Kalau Ema nggak ketemu, kalian nggak usah balik!”
Kepala pelayan menjawab cepat, “Baik, Pak.”
Setelah menutup telepon, Jatmiko langsung memanggil asistennya.
“Batalkan semua jadwal rapat gue hari ini. Kumpulin orang-orang. Cari Emma.”
Asistennya menjawab singkat, “Siap, Pak.”
Begitu semuanya bergerak, Jatmiko membuka akses CCTV di Vila Martin.
Di layar, terlihat seorang anak perempuan kecil berkostum putri berlari menembus semak mawar di halaman belakang, lalu lenyap begitu saja dari jangkauan kamera. Itu putrinya—Emma Martin.
Melihat itu, Jatmiko mengepalkan tangan erat-erat.
Anak sekecil itu… ke mana Emma bisa pergi?
Apa pun yang terjadi, dia harus menemukannya.
Dara mencoba menenangkannya, “Mas, jangan panik. Aku bantu cari Emma.”
Jatmiko tak menjawab. Ia melangkah cepat keluar, langkahnya terburu-buru, kepanikannya bocor lewat cara ia bergerak.
Sementara itu, Awa sedang menyetir pulang.
Citra duduk di kursi depan sebelah sopir, sementara anak-anak di belakang berceloteh dan tertawa. Suasana mobil hangat, riuh, dan menyenangkan.
Namun mendadak Awa menginjak rem keras, membuat Citra terkejut dan Bimo serta Nara berseru kaget.
“Awa, kenapa?” tanya Citra.
Awa mengatur napasnya, suaranya tegang. “Ada anak kecil di jalan.”
Untung ia sempat mengerem. Kalau tidak, anak itu pasti sudah tertabrak.
Citra tak ragu. Ia membuka pintu dan langsung berlari ke arah anak yang sedang menyeberang.
Mereka berada di salah satu jalan paling ramai di Thaloria—lampu hijau, kendaraan mengalir padat.
Anak perempuan itu mengenakan gaun putri warna ungu yang cantik. Wajahnya halus seperti boneka, tapi tatapannya kosong.
Klakson bersahut-sahutan di sekelilingnya seakan tak ada artinya. Anak itu tetap berjalan seperti terperangkap di dunianya sendiri.
“Awas!” teriak Citra ketika melihat sebuah mobil putih melaju kencang ke arah anak itu. Tanpa pikir panjang, ia menerjang dan menarik tubuh kecil itu.
Mobil itu berhenti mendadak dengan decit tajam, suara remnya memekakkan.
Citra memeluk anak itu, memposisikan tubuhnya sebagai pelindung. Mereka terguling beberapa kali di aspal sebelum akhirnya berhenti.
Nyeri tajam menyambar pergelangan kaki Citra. Tapi ia menahannya, segera menatap anak itu cemas. “Sayang, kamu nggak apa-apa?”
Citra menoleh ke kiri-kanan, suaranya lebih lembut namun panik. “Kenapa kamu nyebrang sendirian? Orang tua kamu mana?”
Ia bertanya berkali-kali, tapi anak itu tak menjawab.
Anak itu benar-benar seperti boneka—cantik, tapi seolah tanpa nyawa.
Bahkan saat Citra menggenggam tangannya, tak ada reaksi.
Dada Citra terasa mengencang oleh rasa tidak enak.
Ia menyadari ada yang berbeda. Anak ini… seperti anak dengan autisme.
Awa berlari menghampiri bersama Nara dan Bimo. Pandangannya langsung menangkap luka lecet di lutut Citra. “Citra, kamu berdarah!” serunya.
Mendengar itu, Citra menunduk sebentar, menahan sakit sambil mengatupkan gigi. “Aku nggak apa-apa. Kita bawa dia dulu ke tempat aman. Di sini terlalu banyak mobil, bahaya,” katanya.
Bimo berkata serius, “Ma, kaki Mama harus diobatin, nanti makin parah!”
Saat itu, ada kilau kecil muncul di mata si anak perempuan. Perlahan, ia mendongak.
