Bab 6: Reuni Setelah Pemisahan Lama
Dinda benar-benar nggak paham apa yang sebenarnya terjadi. Begitu melihat Jaka menatap lekat perempuan di layar, dadanya langsung diseret rasa cemburu. Ia memasang wajah seolah tersinggung.
“Emma itu dari dulu nggak suka orang asing. Kalau sampai dia mau lihat perempuan ini, pasti karena perempuan itu udah ngapa-ngapain Emma!”
Melihat reaksi Jaka yang aneh, Dinda mendekat, meneliti perempuan di video itu lebih saksama—dan tubuhnya mendadak kaku.
“Perempuan ini… mirip Laras,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Semakin lama ia menatap, semakin gelisah. Ada rasa panik yang mendidih dari dalam, dan ia sengaja mengompori.
“Dia sengaja, Ja. Dia cuma mau bikin lo kebawa emosi. Lo harus kasih pelajaran, taruh dia di tempatnya!”
Dalam hati, Dinda menggertakkan gigi. Kalau saja perempuan itu bisa terusir lagi seperti dulu.
Tapi Jaka langsung mematahkan semua spekulasinya. Suaranya tegas, dingin.
“Cukup. Nggak semua perempuan itu Laras. Kayaknya lo udah kebawa halusinasi. Periksa mata lo. Keluar. Ini bukan urusan lo.”
Jaka menolak secara naluriah bahwa perempuan di video itu Laras. Ia malah memarahi Dinda dan mengusirnya.
Dinda tersentak oleh reaksinya yang sekeras itu. Ada sejumput kesal yang menyesak, tapi ia tetap menunduk, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Maaf… mungkin aku salah lihat. Jangan suruh aku pergi, ya.”
Namun Jaka sama sekali tak melunak. Tatapannya tajam menancap ke Dinda, bibirnya melengkung mengejek.
“Jangan bikin gue ngulang.”
Dinda menelan ludah. Dari nada itu, ia tahu Jaka tidak sedang bercanda. Ia menimbang cepat, lalu memaksakan senyum.
“Oke… jangan marah. Aku pergi.”
Begitu kalimat itu selesai, ia berbalik dan melangkah keluar. Di balik punggungnya, matanya penuh niat jahat dan kebencian pada Laras.
Setiap kali nama Laras disebut, Jaka selalu marah.
Begitu Dinda pergi, Jaka kembali menatap layar pengawas.
Dia yakin, perempuan itu adalah Laras.
Kesadaran itu membuat kepalannya mengepal keras, urat-urat di punggung tangannya menonjol. Matanya memendam sesuatu yang sakit, ditahan mati-matian.
Tak lama, ia mengirim pesan pada Deni, memintanya mengecek rekaman CCTV rumah sakit untuk mencari Laras.
Namun setelah tiga jam menunggu, Deni baru membalas, “Pak Martin, kami nggak nemu. Sepertinya jejaknya sengaja ditutup.”
Jaka menutup telepon dengan wajah datar, tapi dada di dalamnya seperti dihantam frustrasi. Ia menatap lagi perempuan di video itu, sorot matanya makin mengeras, makin pasti.
Laras. Di mana pun lo, gue bakal nemuin lo.
Jaka keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamar Emma.
Begitu melihatnya, Emma langsung berlari menghampiri, mata bocah itu berbinar penuh harap.
“Daddy.”
Jaka memeluk Emma erat-erat, suaranya serak tertahan.
“Maaf. Daddy belum bisa tahu dia di mana.”
Mendengar itu, Emma mengangguk pelan, sedih. Lalu, dengan sekuat tenaga kecilnya, ia mendorong Jaka keluar dari kamar.
Sementara itu, Laras sudah kembali ke rumah bersama Andi dan Nuh. Setelah semuanya beres dan mereka mulai nyaman, Laras berniat mengurus agar kedua anak itu kembali sekolah.
Laras melirik Ava yang duduk di sebelahnya, lalu meminta bantuan.
“Ava, aku belum terlalu paham daerah sini. Bisa tolong cariin TK yang cocok buat Andi sama Nuh? Mereka udah usia sekolah. Mereka juga butuh teman seumuran.”
Ava sama sekali tidak heran. Ia malah tersenyum lebar dan langsung menjamin.
“Serahin ke aku. Aku cariin TK yang paling bagus buat mereka.”
Laras mengangguk, napasnya terasa lebih ringan.
Keesokan harinya, Laras menerima pemberitahuan untuk datang ke Institut Inovasi Medis Veritas.
Orang-orang di Veritas rupanya sudah diberi tahu lebih dulu, jadi Laras tidak mengalami hambatan untuk mengambil alih semuanya dengan mulus.
Alex Cooper mendampinginya menghadiri seremoni serah terima. Institut Veritas dipenuhi anak-anak muda.
Saat Brad memberi tahu Laras soal pengambilalihan Veritas, dia sudah menyuruh Alex pulang lebih dulu untuk mengurus semuanya—supaya prosesnya jadi jauh lebih gampang saat Laras datang.
Alex setahun lebih dulu dari Citra waktu sekolah dan sejak lulus sudah bekerja bareng Pak Brad di bidang riset. Setelah Citra menikah dengan Jaka, Alex kadang menghubunginya—menyampaikan pesan dari Pak Brad sekaligus menunjukkan penyesalan Pak Brad atas keadaan yang menimpa Citra. Saat Citra bercerai, Alex juga yang pertama kali mengulurkan tangan, bahkan mengajaknya menemui Pak Brad.
Enam tahun terakhir, Alex benar-benar banyak membantu—bukan cuma urusan riset, tapi juga urusan hidup.
Lagi pula, Nuh dan Andi sering menggoda, menebak-nebak apakah Alex punya perasaan pada Citra.
Berdiri berdampingan, Alex dan Citra memang enak dipandang. Seorang perempuan muda yang ceria tak tahan untuk nyeletuk, “Mbak Citra sama Mas Alex itu cocok banget. Kayak pasangan ideal.”
Yang lain ikut menimpali, “Iya, yang satu kalem, yang satu lembut. Jodoh banget. Sayang kalau nggak bareng.”
Citra mendengar godaan itu, tapi hanya membalas dengan senyum tipis. “Kalian masih muda, fokus kerja aja. Duit itu harusnya bikin senang, bukan bikin sibuk ngomongin orang,” katanya.
Namun tatapan Alex tak lepas dari Citra. Mendengar kata-katanya, sorot matanya sempat meredup sesaat, lalu kembali jernih seperti biasa.
Itu hari pertama Citra masuk kerja, dan sesuai tradisi, malamnya dijadwalkan acara penyambutan.
Citra sudah beberapa kali menolak halus, tapi akhirnya tetap harus ikut—bareng semua orang ke sebuah warung kopi yang agak ramai untuk merayakan.
Mereka makan, minum, bercanda. Suasananya hangat.
Citra memperhatikan tingkah mereka dengan senyum menggantung di bibirnya.
Di tengah acara, ia pergi ke toilet untuk cuci muka.
Entah karena minuman, entah karena tempatnya terlalu riuh, Citra tidak terlalu memperhatikan orang yang lalu-lalang.
Dalam hati ia sempat berpikir, warung kopi begini bukan tempat kelas atas—mana mungkin Jaka ada di sini.
Begitu masuk, lampu kuning terang menyilaukan dan membuat kepalanya yang sedikit melayang jadi lebih sadar.
Citra menggeleng pelan.
Kenapa malah kepikiran dia?
Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya.
Mata Citra membelalak. Ia hampir berteriak, tapi sebuah suara yang akrab cepat menahan, “Gue. Jangan teriak.”
Tubuh Citra menegang sekejap, lalu ia menoleh—wajah yang dulu begitu ia kenal kini ada di hadapannya.
Sakit sempat menyambar di matanya, tapi rautnya tetap dingin.
“Jaka, lepas. Lo maunya apa?” ucapnya.
Malam itu Jaka memang punya pertemuan tertutup di warung kopi itu. Setelah menenggak beberapa gelas, kepalanya pening dan ia memutuskan ke toilet buat mengusir pusing. Baru saja ia mendorong pintu, berniat cuci tangan, ia menangkap sosok yang dikenalnya di pantulan cermin. Jantungnya serasa loncat.
Jaka sudah membayangkan banyak sekali kemungkinan bertemu Citra lagi.
Ia juga sudah memikirkan kalimat pembuka macam apa yang akan ia ucapkan, tapi ketika kata-kata Citra yang dingin itu benar-benar menghantamnya, amarahnya meledak.
Ia mencengkeram bahu Citra dan menekannya ke dinding. Matanya memerah, penuh amarah.
“Citra, lo tega banget!” hardiknya.
Citra meronta sekuat tenaga. “Gue nggak ngerti lo ngomong apa. Kita udah selesai. Lepasin gue.”
Jaka tidak mau. Cengkeramannya malah makin kuat. Begitu tekanan itu bertambah, refleks Citra menamparnya.
Keduanya membeku. Seolah waktu berhenti sepersekian detik.
Rasa perih di telapak tangannya menarik Citra kembali ke sadar. Begitu Jaka lengah karena kaget, Citra langsung menyelinap dan lari.
Begitu kembali ke ruangan mereka, dadanya masih naik turun. Mengingat kejadian barusan, rasa tidak nyaman merambat di kulitnya.
Ia meraih tasnya, lalu buru-buru minta izin. “Maaf, aku lagi nggak enak badan. Aku pulang dulu ya. Nanti lain hari aku traktir makan buat gantinya.”
Tanpa menunggu jawaban, ia cepat-cepat keluar.
Tidak mungkin ia bertahan di situ dan ambil risiko Jaka mengejarnya.
Alex segera menyusul Citra.
Melihat mereka pergi, anggota tim malah semakin heboh.
“Mas Alex itu kelihatan banget, sih. Jelas dia suka sama Mbak Citra.”
“Iya lah. Mereka berdua cocok.”
Citra berlari dalam kepanikan, penampilannya terlihat berantakan.
