Bab 7 Orang Buta Buta
Charlotte sudah kelamaan berdiri di udara dingin sampai-sampai lupa memesan taksi.
Melihatnya, Arga menghentikan mobil di pinggir jalan dan menurunkan kaca. “Mau gue anter pulang, Charlotte?”
Charlotte nyaris mengangguk ketika Bagas muncul entah dari mana, suaranya dingin seperti es. “Nggak! Dia belum boleh pulang!”
“Bagas, urusan gue bukan urusan lo,” semprot Charlotte, menatapnya tajam. Kesal di dadanya makin menumpuk, detik demi detik.
Kenapa Bagas nggak bisa berhenti gangguin dia? Bukannya dia sendiri yang minta cerai demi nikah sama Dinda?
Arga keluar dari mobil dan berdiri di depan Charlotte, menahan jarak, menatap Bagas tanpa gentar. “Pak, hidup Charlotte ya hidup dia. Dia berhak mutusin mau tinggal atau pergi.”
Charlotte diam, menatap Bagas, sementara Arga tetap awas memperhatikan setiap geraknya.
Bagas terkekeh pahit, nada suaranya penuh sindiran. “Charlotte, setelah bertahun-tahun, gue baru tahu lo segampang itu berubah. Bukannya dulu lo selalu bilang lo cinta sama gue? Enam tahun lalu lo pergi tanpa sepatah kata, sekarang lo santai aja lanjut sama hidup lo?”
Tatapan Bagas dingin dan keras, seolah tak ada ruang untuk tawar-menawar.
Charlotte merasa kata-katanya konyol. Dengan suara datar, ia menjawab, “Orang bisa berubah. Dan kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Gue mau suka sama siapa pun, itu urusan gue.”
Ia bisa melihat amarah Bagas makin meledak.
Charlotte menunduk, tak ingin menatapnya lebih lama. Masa lalu terlalu menyakitkan. Tepat saat itu, sebuah taksi melambat mendekat, seperti penyelamat. Charlotte buru-buru melambaikan tangan, lalu masuk, ingin segera pergi.
Wajah Arga menggelap saat melihat Charlotte menjauh. Ia menoleh ke Bagas; tegang di antara mereka terasa jelas.
“Charlotte nggak mau ngomong sama lo. Jauhin dia,” kata Arga dingin.
Bagas menyeringai, tetap memandang Arga dengan merendahkan meski tinggi mereka hampir sama. “Masalah gue sama dia bukan urusan lo. Kalau ada yang harus menghilang, itu lo.”
Rahang Arga mengeras, alisnya terangkat sedikit. “Pede banget. Tapi kalau lo nyakitin Charlotte, lo bakal bayar.”
Bagas meneliti Arga dari atas ke bawah, nada suaranya pongah. “Lo siapa? Masalah gue sama mantan istri gue bukan urusan lo. Mending lo minggir sebelum lo nyesel.”
Mata Arga sempat memancarkan keterkejutan. Jadi ini mantan suami Charlotte?
Senyum tipis, samar dan sulit dibaca, muncul di bibirnya. “Oh, jadi lo si tolol yang buta itu.”
Setelah itu, Arga masuk lagi ke mobilnya dan pergi.
Bagas mendidih mendengar kata-kata Arga. Ia menendang sebuah batu dengan kesal, lalu menelepon Danu. “Charlotte balik, dan dia bareng seorang cowok. Gue mau semua info tentang dia, besok udah ada di tangan gue.”
Sesampainya di rumah, Charlotte tetap sulit menenangkan diri; jantungnya masih berdebar. Wajah Bagas dan kata-katanya terus terputar-putar di kepala.
Charlotte memejamkan mata, merasa seperti ada yang baru saja mendorongnya.
Saat membuka mata, Andi dan Nuh sudah menatapnya dengan cemas. “Mama melamun terus sejak pulang,” kata Andi. “Ada apa di kantor? Atau ada yang ganggu Mama?”
Charlotte menggeleng, memaksa seulas senyum supaya anak-anaknya tenang, meski rasanya kaku dan sama sekali nggak meyakinkan. Ia memilih menguburnya dulu, lalu mulai membujuk Andi dan Nuh bersiap tidur.
“Ibu nggak apa-apa. Cuma tadi ketemu orang yang bikin Ibu kepikiran. Ibu lagi nggak mood malam ini. Kita tidur lebih awal, ya?”
Andi dan Nuh saling pandang, lalu mengangguk patuh. Mereka masuk ke kamar berdua.
Begitu keduanya tertidur, Charlotte duduk di sofa, gelisah yang sama belum juga hilang. Ia mengeluarkan sebotol anggur, menuang, lalu menenggak beberapa gelas. Kenangan enam tahun lalu menyerbu tanpa ampun. Potongan-potongan tentang James seperti tertanam di kepalanya, dan ia menyesal setengah mati atas keras kepalanya dulu. Ia merasa tak dicintai, dan itu membuat dadanya selalu nyeri, seperti ada luka yang tak pernah menutup.
Satu-satunya penghiburan hanyalah Andi dan Nuh sudah tidur, jadi ia bisa sedikit lepas kendali.
Di kamar, Andi dan Nuh saling bertukar pandang. Tak satu pun bisa memejamkan mata benar-benar, karena tahu Charlotte sedang sedih. Sejak ibunya pulang, mereka sudah menangkap ada yang aneh. Dan saat Charlotte menyebut “seseorang”, mereka langsung paham siapa orang itu: ayah mereka, James.
Andi lebih dulu membuka suara pelan pada Nuh. “Menurut lo… Ibu ketemu Ayah hari ini?”
Nuh mencibir. “Emang siapa lagi yang bisa bikin Ibu sekesel itu?”
Andi mengepalkan tangan, amarahnya naik. “Kita harus bikin dia bayar gara-gara bikin Ibu sedih.”
Nuh nggak menjawab, tapi dari tatapannya jelas ia setuju. Di hati mereka, Charlotte adalah orang paling penting. Nggak ada yang boleh menyakitinya.
Sesaat, wajah Emma terlintas di benak Nuh, dan pikiran “balas setimpal” lewat begitu saja. Nuh tahu James sangat menjaga Emma; kalau Emma disakiti, James pasti kesakitan. Tapi pikiran itu cuma bertahan sedetik. Nuh menggeleng, menepisnya. Yang salah James, bukan Emma. Emma nggak bersalah.
Andi dan Nuh terus memikirkan cara membalas James demi Charlotte, sampai akhirnya tertidur juga.
Keesokan paginya, saat Andi dan Nuh bangun, mereka mendapati mood Charlotte sudah jauh lebih baik. Charlotte memanggil mereka ke meja makan dengan ceria, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Melihat ibunya sudah tampak ringan, Andi dan Nuh ikut lega.
“Ibu, sarapan Ibu paling enak,” kata Andi.
Charlotte tahu mereka cuma berusaha menghiburnya, tapi tetap saja hatinya menghangat. “Makan yang banyak,” katanya.
Baru saja mereka bicara, bel pintu berbunyi. Andi berlari membuka pintu, dan Ava masuk dengan kabar baik.
“Charlotte, aku sudah ngurus supaya anak-anak bisa masuk TK Dream Wings. Itu yang paling bagus. Mereka bisa mulai kapan aja.”
Mata Charlotte langsung berbinar. Ia tersenyum pada Andi dan Nuh. “Wah, bagus banget! Nanti Ibu antar kalian ke sekolah, ya. Gimana, kalian mau?”
