Bab [10] Penghancuran
Begitu tiba di rumah, Rizky Wijaya langsung tertarik oleh suara gaduh dari dalam. Hatinya seketika berdebar, mengira Cantika Kesuma akhirnya pulang. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menuju kamar Cantika. Namun, saat pintu didorong terbuka, matanya terbelalak. Amarah dan keterkejutan yang tak terlukiskan langsung membuncah di hatinya.
Kamar itu berantakan total. Kirana Santoso sedang mengamuk, merusak semua barang di kamar Cantika. Diiringi suara robekan kain dan benturan benda-benda yang dibanting, gunting di tangannya bergerak liar mengoyak pakaian Cantika Kesuma, sementara seulas senyum gila terukir di bibirnya. Perabotan dan perhiasan di sekitarnya hancur lebur, lantai dipenuhi puing-puing barang yang dirusak, menjadi saksi bisu kebenciannya.
"Kirana, apa yang kamu lakukan?!" Tindakan Kirana Santoso benar-benar di luar dugaannya.
Kirana Santoso berbalik, ekspresi wajahnya tetap terlihat lembut, tetapi tatapannya penuh provokasi pada Rizky Wijaya. "Aku benci melihat jejak kehidupan kalian di sini, benci mencium aroma Putri Maharani! Kalau bukan karena dia... kita tidak akan terpisah selama tiga tahun! Jelas-jelas dia yang merebut posisiku... tapi kenapa dia harus bersikap seolah-olah aku yang menyakitinya? Membuatku terlihat seperti pelakor!"
"Kirana, kamu bukan pelakor, jangan berpikir yang tidak-tidak."
Saat itu, pandangan Rizky Wijaya menyapu lemari pakaian dan langsung tertuju pada satu setelan jas pria yang masih baru. Hatinya mencelos. Bayangan Arya Kesuma seketika melintas di benaknya.
Apa ini jas milik Arya Kesuma? Amarah dalam hati Rizky Wijaya bergemuruh hebat, nyaris tak terkendali.
"Hentikan!" bentaknya dengan suara berat. Ia melangkah mantap mendekati Kirana Santoso, hatinya sekeras baja, bertekad menghentikan perbuatan gilanya.
Kirana Santoso yang juga sudah kalap, kehilangan kendali atas gunting di tangannya. Tanpa sengaja, ujung tajamnya menusuk lengan Rizky Wijaya.
Darah segar langsung muncrat, menodai kemeja putihnya.
"Ah! Ma-maaf, Kak Rizky!"
Gunting itu jatuh dari genggaman Kirana Santoso. Ia menutup mulutnya dengan ngeri, pikirannya kosong selain tangisan ketakutan.
"Astaga! Ada apa ini?!"
Cynthia Setyawan bergegas masuk diikuti oleh seorang pelayan. Melihat Rizky Wijaya terluka dan darahnya menetes hingga menodai karpet putih, ia pun ikut panik. "Rizky! I-ini kenapa sampai pakai pisau segala?"
"Handi, siapkan mobil, antar Nona Santoso pulang," perintah Rizky Wijaya sambil menahan sakit, napasnya terdengar berat menahan amarah dan lelah.
Tentu saja Kirana Santoso tidak mau pergi, dan Cynthia Setyawan pun tidak ingin ia pergi. Jika boleh memilih, Cynthia Setyawan ingin mereka berdua langsung tidur bersama malam ini dan besoknya sudah punya anak.
Namun, keduanya tidak berani menentang keinginan Rizky Wijaya. Akhirnya, supir pun disiapkan untuk mengantar Kirana Santoso pulang agar ia bisa menenangkan diri.
Setelah Kirana Santoso dan Cynthia Setyawan pergi, kamar itu akhirnya kembali sunyi. Rizky Wijaya enggan berlama-lama di kamar tidur yang porak-poranda itu. Entah apa yang ada di pikirannya, ia tidak ingin ada yang membersihkannya. Ia langsung menutup pintu, tak mau melihat pemandangan itu lagi, lalu duduk di ruang kerjanya.
Pikiran Rizky Wijaya masih dipenuhi pertengkarannya dengan Kirana tadi. Ia butuh secangkir kopi untuk meredakan kekalutan hatinya. Handi Kusuma dengan sigap segera menyiapkan secangkir kopi untuknya.
"Ini baru saya seduh, Pak. Silakan dicoba." Handi Kusuma menyodorkan cangkir itu kepada Rizky Wijaya dengan sorot mata penuh harap.
Rizky Wijaya mengambil kopi itu dan menyesapnya sedikit, tapi langsung terkejut oleh rasa pahit yang pekat. Ia mengerutkan kening, sangat kecewa dengan rasa kopi itu, jauh berbeda dari kopi buatan Putri Maharani yang selalu lembut. Kopi buatan istrinya selalu memiliki sentuhan manis yang pas, mampu menghangatkan hati.
"Bagaimana caramu membuatnya?" tanya Rizky Wijaya tak tahan, nadanya terdengar tidak puas.
Handi Kusuma tampak sedikit murung. Ia buru-buru membandingkan catatannya dengan memo yang ditinggalkan Putri Maharani, matanya menunjukkan kebingungan. "Saya sudah mengikuti langkah-langkah di memo ini, Pak, tapi entah kenapa... rasanya tetap tidak pas."
Pandangan Rizky Wijaya jatuh ke sudut meja, di mana buku memo itu tergeletak diam, seolah menceritakan semua perhatian dan ketelitian Putri Maharani. Ia membukanya dan mulai membaca. Buku itu penuh dengan detail-detail kecil tentang kehidupannya: "beberapa potong gula, susu secukupnya", "kopi direbus selama beberapa menit", "jangan pakai dasi merah di hari Senin", "Rizky lebih suka kue-kue tradisional", "jangan pernah menambahkan krim". Hal-hal sepele ini, meski terlihat biasa, memancarkan cinta yang begitu besar.
Tiba-tiba, perasaan rumit bergejolak di hati Rizky Wijaya. Keningnya semakin berkerut.
"Orang yang begitu pandai membaca pikiran orang lain, kalau bukan punya niat terselubung, pasti punya maksud tertentu!"
Rizky Wijaya bisa merasakan cinta yang begitu dalam dari memo itu, tetapi amarahnya sedang memuncak, dan ia menolak untuk mengakui hatinya yang melunak. Kalau dia memang secinta itu padaku, apa mungkin dia bisa pergi begitu saja?
Bisa sedekat itu dengan Arya Kesuma?
Bisa tidak jujur padaku?
Semua ini bohong! Pasti bohong!
"Handi Kusuma, menurutmu... apa Putri Maharani punya maksud lain padaku?" tanya Rizky Wijaya tiba-tiba, memecah lamunan Handi Kusuma.
Handi Kusuma tertegun sejenak, lalu menggeleng. "Menurut saya... Nyonya hanya terlalu mencintai Bapak. Sudah level bucin akut, Pak..."
Kejujuran Handi Kusuma membuat suasana hati Rizky Wijaya semakin rumit.
Tanpa sadar, ia menelepon Arya Kesuma.
Ya, benar, lagi-lagi Arya Kesuma.
Sekarang, satu-satunya cara untuk menghubungi Cantika adalah melalui Arya. Dulu mereka suami-istri, sekarang bahkan nomor teleponnya pun ia tak punya. Ia muak setiap kali harus menelepon pria lain hanya untuk bisa berbicara dengan istrinya sendiri.
Seperti biasa, butuh waktu lama sebelum Arya Kesuma mengangkat teleponnya.
"Pak Kesuma, saya mau bicara dengan istri saya," kata Rizky Wijaya. Nada bicaranya terdengar lebih alami dari pagi tadi, bahkan tersirat sedikit rasa posesif.
"Anj—" Denis Kesuma baru saja akan mengumpat, tapi mulutnya langsung dibekap oleh Cantika Kesuma dengan bantal sofa.
"Pak Wijaya, Putri bukan lagi istri Anda. Kalian sudah bercerai," Arya Kesuma mengingatkannya dengan tenang, sengaja mengganti panggilan untuk menyembunyikan identitas asli mereka.
"Saya mau bicara dengannya berdua saja." Rizky Wijaya tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Arya Kesuma.
Arya Kesuma melirik Cantika. Setelah melihat Cantika mengangguk, ia menarik Denis Kesuma ke dapur. Mereka harus melanjutkan memasak untuk Cantika. Jangan sampai bajingan ini merusak selera makan Cantika.
Pintu tertutup pelan. Barulah Cantika Kesuma angkat bicara, "Aku sibuk, cepat katakan ada apa."
"Aku mau nomor ponsel barumu," kata Rizky Wijaya dengan nada memerintah, seolah itu adalah haknya.
"Nggak akan kukasih!" tolak Cantika Kesuma mentah-mentah.
"Lalu bagaimana aku bisa menghubungimu?!"
"Lewat Pak Kesuma saja. Aku pasti ada."
"Putri Maharani, apa ini caramu balas dendam padaku? Kamu baru saja meninggalkanku, dan sekarang sudah tidak sabar tinggal bersama Arya Kesuma? Di depanku kamu pakai nama Putri Maharani, di depan Arya Kesuma kamu mau dipanggil apa lagi? Kamu mau bebas, silakan! Tapi tolong, sebelum ulang tahun Kakek yang ke-80, jaga kelakuanmu! Jangan sampai gosip murahan sampai ke telinga Kakek! Aku tidak mau beliau pada akhirnya sadar kalau wanita yang selama ini dia hargai dan banggakan ternyata seorang wanita tidak bermoral!"
PRAK!
Ponsel itu jatuh dari genggamannya.
Cantika Kesuma bersandar lemas di dinding, tangannya terkulai tak berdaya di sisinya.
Hatinya sesak oleh amarah dan tekanan yang luar biasa. Dadanya terasa seperti dihimpit batu besar, membuatnya sulit bernapas. Emosi ini datang seperti gelombang pasang yang membuatnya nyaris tenggelam. Pemandangan di depannya seketika menjadi kabur.
Keputusasaan dan luka menyelimutinya seperti awan gelap, tak memberinya ruang untuk lari.
"Rizky Wijaya... bagaimana bisa kamu melihatku seperti ini... Tiga belas tahun cinta yang tulus, ternyata semuanya salah..."
