Bab [13] Rencana Kirana Santoso

Di dalam kantor, tiba-tiba ponsel Cantika berdering tanpa henti.

Tanpa perlu melihat pun ia sudah tahu, pasti kakak-kakaknya sedang heboh di grup "Grup Rahasia Keluarga Kesuma".

Grup itu dibuat oleh kakak keduanya, Denis Kesuma. Tujuannya dulu adalah untuk menutupi rapat-rapat pernikahan Cantika Kesuma dan Rizky Wijaya, agar tidak ada orang luar yang tahu.

Cantika menoleh ke arah asistennya, Arief Lim, dan berkata, "Arief, tolong lihat di grup ada ribut-ribut apa. Ponsel ini bunyi terus, berisik sekali."

Arief Lim segera mengambil ponsel itu dan memeriksanya.

Tak lama kemudian, Arief Lim melapor pada Cantika, "Bu Cantika, gawat. Pak Rizky Wijaya mengumumkan berita pernikahannya dengan Kirana Santoso. Sekarang akun-akun gosip menyebar hoaks, bilang kalau Ibu ini pelakor."

Mendengar itu, mata Cantika langsung terbelalak. Hatinya mendidih karena marah.

Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba aku yang jadi pelakor?

Sementara itu, di dalam "Grup Rahasia Keluarga Kesuma", kakak-kakak Cantika sudah seperti sarang lebah yang disenggol.

Kakak ketiga mereka, yang paling temperamental, meluapkan amarahnya di grup: "Keluarga Wijaya ini benar-benar keterlaluan! Kita tidak bisa diam saja. Menurutku, kita buat saja mereka bangkrut!"

Kakak keempat, yang tak kalah panasnya, langsung menimpali: "Betul kata Kakak Ketiga! Bukan cuma bangkrut, si Rizky Wijaya itu, huh, harus kuberi pelajaran biar dia tahu kalau keluarga Kesuma tidak bisa diremehkan!"

Melihat kakak-kakaknya begitu emosional, Arya Kesuma, sang kakak tertua, mencoba menenangkan, "Bro-bro, tenang dulu. Jangan terbawa amarah, jangan melakukan hal-hal yang gegabah. Masalah ini belum jelas, kita harus tetap berkepala dingin."

Membaca pesan dari kakak-kakaknya, hati Cantika terasa hangat. Namun, ia tidak ingin mereka melakukan tindakan nekat hanya karena dirinya.

Ia mengetik balasan di grup: "Bro-bro, kalian jangan emosi. Aku dan Rizky Wijaya sudah lama bercerai. Sekarang aku adalah putri dari keluarga besar Kesuma, tidak ada hubungannya lagi dengan dia."

Dari nada bicaranya, tersirat jelas bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya ditindas begitu saja dan pasti akan melawan.


Di sisi lain, keadaan di Grup Wijaya juga kacau balau.

Telepon di departemen humas berdering seperti orang gila. Ponsel pribadi Handi Kusuma, tangan kanan Rizky, juga tidak lebih baik. Media massa menyerbu laksana sekawanan hiu yang mencium bau darah.

Berita pernikahan Rizky Wijaya, ditambah statusnya sebagai duda yang menikah lagi, meledak seperti bom di Surabaya, bahkan di seluruh negeri.

Saat Rizky Wijaya mendengar kabar ini, wajahnya memerah padam karena murka. Ia berteriak, "Bagaimana ini bisa terjadi?! Siapa yang membocorkan informasinya? Semua orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, pecat semuanya!"

Di tengah kepanikannya mengurus krisis di Grup Wijaya, ponsel Rizky berdering keras. Nama Kirana Santoso tertera di layar.

Dari seberang telepon, terdengar suara Kirana yang terisak-isak, "Rizky, aku dikepung wartawan! Aku takut sekali, cepat datang selamatkan aku!"

Mendengar itu, hati Rizky Wijaya terasa diremas. Tanpa pikir panjang, ia langsung bergegas hendak keluar.

Handi Kusuma, yang berada di sampingnya, segera menahan, "Pak Wijaya, Anda tidak bisa keluar begitu saja! Situasi di luar tidak terkendali. Ini mungkin tidak sesederhana kelihatannya, bisa jadi ini jebakan."

Rizky Wijaya mengerutkan keningnya dengan tidak sabar. "Kirana dalam bahaya, aku tidak bisa membiarkannya!"

Setelah berkata demikian, ia menerobos keluar dari kantor Grup Wijaya tanpa ragu sedikit pun.


Di lokasi, Kirana Santoso memang sedang dikerumuni oleh lautan wartawan.

Ia tampak begitu rapuh dan menyedihkan, matanya berkaca-kaca, memasang wajah tak berdaya.

Padahal, semua ini adalah drama yang ia sutradarai sendiri. Dalang di balik berita negatif yang menyerang Cantika adalah dirinya.

Para wartawan memberondongnya dengan pertanyaan.

"Nona Santoso, apa sebenarnya hubungan Anda dengan Bapak Rizky Wijaya?"

"Nona Santoso, apakah Anda tahu tentang status Bapak Rizky yang sudah pernah menikah?"

Kirana dengan sengaja memasang ekspresi serba salah, lalu menjawab, "Saya... saya dan Rizky adalah teman baik. Selebihnya, saya tidak begitu tahu..."

Jawaban yang ambigu itu tentu saja tidak memuaskan para wartawan. Mereka justru semakin gencar bertanya, membuat suasana semakin ricuh.

Tepat pada saat itu, Rizky Wijaya tiba.

Ia menerobos kerumunan dengan paksa, berjalan ke sisi Kirana Santoso, dan memeluknya dengan protektif. "Berhenti bertanya padanya! Kalau ada masalah, tanyakan pada saya!" teriaknya.


Di dalam kantornya, Cantika Kesuma menyaksikan semua adegan itu melalui siaran langsung di ponselnya.

Hatinya seolah ditusuk belati tajam, sakitnya hingga ia sulit bernapas.

Ternyata, dicintai dan tidak dicintai perbedaannya begitu kentara.

Dulu, ia selalu berpikir bahwa ia memiliki tempat di hati Rizky Wijaya. Sekalipun ada konflik di antara mereka, ia selalu memilih untuk diam dan menahan diri.

Namun sekarang, melihat Rizky tanpa ragu sedikit pun menerjang kerumunan demi Kirana, Cantika akhirnya sadar.

Di mata Rizky Wijaya, ia mungkin hanyalah pengisi waktu.

Ia tersenyum pahit pada dirinya sendiri. "Cantika, Cantika... bodoh sekali kamu. Pengorbananmu selama ini sia-sia."

Sisa-sisa perasaan yang masih ada untuk Rizky Wijaya lenyap tak berbekas pada saat itu juga.

Ia tahu, ia tidak bisa terus-menerus menjadi bodoh. Sudah saatnya untuk benar-benar melepaskan dan menjalani hidupnya sendiri.


Beberapa waktu kemudian, Cantika dan kakak-kakaknya tidak tinggal diam. Mereka diam-diam menyelidiki latar belakang Kirana Santoso.

Dan benar saja, setelah berusaha keras, mereka berhasil menemukan banyak informasi mengejutkan.

Kakak kedua Cantika, Denis Kesuma, adalah seorang peretas ulung dengan kemampuan investigasi yang luar biasa. Ia memulai penyelidikannya dari media sosial Kirana Santoso, lalu melacak semua orang yang ada di daftar kontaknya.

Penyelidikan itu membuahkan hasil yang mencengangkan. Denis menemukan foto-foto mesra Kirana dengan seorang pria blasteran. Dalam foto-foto itu, pose dan ekspresi mereka berdua sangat intim.

Tidak hanya itu, Denis juga menemukan bukti bahwa Kirana pernah melahirkan seorang anak di Malaysia. Buktinya berupa foto stretch mark di perutnya dan rekam medis dari sebuah klinik bedah plastik.

Bukti-bukti itu bagaikan bom waktu yang siap meledak.

Saat melihat semua itu, perasaan Cantika campur aduk. Ia berdiri mematung, matanya terpaku pada foto-foto dan dokumen di hadapannya, tak sanggup berkata-kata.

Wajah Denis memerah karena marah. "Rizky Wijaya itu otaknya di mana, sih?! Melepas wanita sebaik kamu demi perempuan seperti Kirana Santoso. Lihat kelakuannya ini, dan dia masih saja dibodohi!"

Cantika tersenyum getir. Meski ada sedikit rasa perih di hatinya, ia tahu bahwa semua itu sudah menjadi masa lalu.

Ia berkata pada dirinya sendiri, Cantika, kamu tidak boleh lagi bersedih karena pria itu. Dia sudah bukan siapa-siapamu lagi.

Tentu saja, Cantika bukan tipe orang yang akan menelan penghinaan ini begitu saja.

Meskipun sudah tidak lagi mencintai Rizky Wijaya, ia tidak bisa membiarkan Kirana Santoso menang dengan mudah.

Dalam hatinya, ia mulai menyusun rencana. Ia harus mencari waktu yang tepat untuk membongkar semua rahasia Kirana.

Kirana, Kirana... kamu pikir rencanamu akan berjalan semulus itu? Huh, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, batinnya.

Kakak-kakak Cantika sangat mendukung rencananya. Menurut mereka, wanita seperti Kirana harus diberi pelajaran agar tidak bisa bertindak seenaknya.

Maka, mereka pun mulai berdiskusi, menyusun strategi bagaimana cara menyebarkan bukti-bukti ini dengan cara yang paling menggemparkan, agar Kirana Santoso hancur dan kehilangan segalanya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya