Bab [3] Kembang Api Ulang Tahun

Tuduhan yang datang tiba-tiba itu membuat Putri Maharani tertegun. Namun, setelah keterkejutannya mereda, amarah yang membara justru bangkit di dalam hatinya.

“Aku berkhianat? Seharusnya kamu tanya dirimu sendiri! Siapa yang lebih dulu mengkhianati pernikahan kita, Rizky Wijaya!” balasnya, suaranya bergetar menahan sakit hati dan amarah yang sudah lama terpendam.

“Rizky Wijaya, jangan keterlaluan!” Arya Kesuma maju selangkah, melindungi Putri Maharani di belakangnya. Dengan hati-hati, ia berbalik pada adiknya dan berkata, “Suasana hati yang bagus dirusak oleh sampah. Kita pergi.”

Putri Maharani menurut dan berbalik.

“Jangan pergi!” geram Rizky Wijaya, emosinya semakin memuncak, hatinya dipenuhi amarah karena merasa dikhianati. Tangannya secara naluriah terulur ke arah Putri Maharani untuk menahannya, tetapi langsung dihadang oleh Arya Kesuma.

Arya Kesuma menatap Rizky Wijaya dengan tajam, tanpa gentar sedikit pun.

“Putri Maharani, hebat sekali kamu. Apa kamu tidak mau menjelaskan siapa pria ini?” Wajah Rizky Wijaya dingin dan penuh tekanan.

“Sepertinya ingatan Pak Wijaya kurang baik.”

Arya Kesuma merangkul adiknya lebih erat, senyumnya tenang dan ringan. “Di dunia bisnis, kita sudah lebih dari sekali berhadapan.”

“Putri Maharani, jawab pertanyaanku.” Rizky Wijaya mengabaikan Arya Kesuma sepenuhnya, terus mendesaknya.

“Kita sudah bercerai, Pak Wijaya. Siapa pria ini, apa urusannya dengan Anda?” Bibir Cantika Kesuma—nama asli Putri Maharani—terbuka sedikit, membalas dengan dingin dan tegas. “Aku tidak mau melihatmu lagi, Rizky Wijaya!”

Suara Cantika bergetar. Cintanya pada pria yang telah memukaunya selama tiga belas tahun ini akhirnya dihancurkan oleh tangan pria itu sendiri. Dia sudah lelah untuk mencintai.

Ia berjalan berdampingan dengan Arya Kesuma, seolah pada saat itu juga, seluruh dunia telah terpisah dari Rizky Wijaya.

“Kamu tidak boleh pergi!” Perasaan cemas yang kuat menyergap hati Rizky Wijaya, membuatnya ingin segera mengejar mereka.

“Kita bahkan belum resmi bercerai, tapi kamu sudah tidak sabar bersama pria lain?”

“Kita memang belum resmi bercerai, tapi ‘Cinta Monokrom’ kesayangan Pak Wijaya itu sudah tidak sabar untuk masuk ke rumah kita. Aku melihat sarangku direbut pun tidak berkomentar apa-apa, lalu apa hak Pak Wijaya melarangku bersama orang lain?”

Rambut hitam Cantika berkibar ditiup angin, bibir merahnya menyunggingkan senyum mengejek yang begitu cantik dan mengejutkan—sebuah sisi liar yang belum pernah Rizky lihat sebelumnya. “Kenapa? Hanya mantan suamiku yang boleh menyalakan api, sementara mantan istrinya tidak boleh menyalakan lilin?”

Nada bicara Cantika begitu tajam. Rizky tidak percaya Putri Maharani yang selama ini ia kenal penurut dan manis bisa berbicara dengannya dengan nada seperti itu!

Namun, tepat pada saat itu, Kirana Santoso tiba-tiba berteriak kesakitan, “Aduh, kakiku!”

Teriakan melengking itu menarik perhatian Rizky. Ekspresi rumit melintas di matanya.

“Kirana, kamu kenapa?” Dia segera berbalik, tanpa menyadari bahwa Cantika dan Arya telah memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi dengan cepat.

“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkilir.” Kirana Santoso berusaha memaksakan senyum, mencoba membuat suaranya terdengar lebih santai. Namun, di dalam benaknya, kekhawatiran terhadap Rizky masih bergelora seperti ombak. Dia sama sekali tidak akan membiarkan Cantika dan Rizky kembali bersama!

“Aku antar kamu ke rumah sakit.” Setelah menenangkan Kirana, Rizky tidak bisa lagi menemukan bayangan Cantika. Hatinya terasa hampa. Yang terlintas di benaknya justru bayangan wajah Cantika yang bercampur antara amarah dan air mata.

Sementara itu, Cantika dan Arya sudah berhasil melarikan diri dari keributan itu. Arya menggenggam erat tangannya, dalam hati bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.


Cantika dan Arya Kesuma bergegas kembali ke kediaman keluarga Kesuma, mendorong pintu yang sudah familier itu seolah meninggalkan semua perselisihan dan amarah di luar. Cantika menarik napas dalam-dalam. Aroma rumah.

Pelabuhan Biru, Kediaman Keluarga Kesuma, Kompleks Taman Cemara.

Cantika Kesuma sudah pulang!

Begitu memasuki ruang tamu, kakak keduanya, Denis Kesuma, langsung menyambutnya dengan gembira, matanya bersinar penuh perhatian dan kelegaan.

“Cantika, akhirnya kamu pulang juga! Kukira kamu mau tinggal di luar terus!” Suara Denis penuh kekhawatiran saat dia memeluk Cantika erat. “Kenapa baru pulang sekarang? Aku kangen setengah mati!”

“Aku baik-baik saja, terima kasih, Kak Denis.” Dalam pelukan Denis, Cantika merasakan kehangatan yang perlahan menenangkan kegelisahannya.

Pertengkaran tadi masih membuat Arya Kesuma emosi. Tiba-tiba ia teringat pada Rizky Wijaya, dan amarahnya kembali menyala.

“Cantika, kamu diperlakukan seperti ini di luar sana. Aku harus cari si Wijaya itu untuk perhitungan!” Kepalan tangannya mengerat, matanya berkilat marah. “Tuhan pun pasti akan mendukungku.”

“Bajingan si Wijaya itu! Berani-beraninya dia menyakiti adikku! Besok aku akan mulai selidiki Grup Wijaya habis-habisan, lalu suruh kakak keempat kita untuk menghabisinya sekalian!” Denis ikut menimpali tak mau kalah.

Kedua kakak beradik itu bertekad untuk menuntut balas demi Cantika.

Namun, Cantika tiba-tiba memotong semangat mereka. “Sudah, jangan cari dia!” Suaranya setajam pisau, memadamkan api amarah Arya dan Denis. Keduanya tertegun dan saling berpandangan.

“Cantika, apa maksudmu?” Arya mengerutkan kening, tidak mengerti jalan pikirannya.

“Aku tidak mau punya urusan apa pun lagi dengannya.” Mata Cantika memancarkan keteguhan. Meskipun hatinya masih terasa sakit, ia sudah memutuskan untuk melepaskan masa lalunya. Dengan suara pelan, ia berkata, “Masalah Rizky Wijaya, cukup sampai di sini. Aku harap kalian mengerti.”

“Tapi dia sudah menyakitimu!” bantah Denis, matanya menunjukkan kekhawatiran dan ketidakpuasan. “Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja! Dia harus membayar perbuatannya!”

“Aku tahu kalian mengkhawatirkanku, tapi aku sudah tidak mau mengungkitnya lagi.” Suara Cantika semakin pelan, namun terdengar sekokoh baja. Dia tahu, hanya dengan benar-benar melepaskan, dia bisa mendapatkan kebebasan batin dan memulai hidup baru.

Arya dan Denis saling menatap. Melihat ketegasan di mata Cantika, amarah mereka perlahan padam oleh ketegarannya. Akhirnya, Arya menghela napas pelan dan menurunkan kepalan tangannya. “Pokoknya, aku tidak akan melupakan ini begitu saja! Menyakiti aku boleh, tapi menyakiti adikku, maka Grup Wijaya mereka akan selamanya berada dalam jangkauan seranganku!”


Rizky Wijaya tidak tahu bahwa Grup Wijaya miliknya sudah menjadi target para Tuan Muda keluarga Kesuma. Dia masih sibuk menugaskan Handi Kusuma untuk melakukan sesuatu—menyelidiki Putri Maharani.

Dari sikap Putri Maharani beberapa hari ini, Rizky merasa ada yang janggal dengan identitasnya. Dia tidak sepolos dan selugu kelihatannya, melainkan penuh misteri.

Sebenarnya siapa Putri Maharani?

Rizky berdiri di depan jendela besar, menatap lalu lintas yang ramai di kejauhan. Deretan lampu mobil tampak seperti naga bercahaya yang ekornya menjulur jauh hingga tak terlihat lagi.

Apa yang ada di ujung jalan itu? Apakah desa kecil tempat tinggal Putri Maharani?

“Handi, apa sudah ada hasil penyelidikannya?”

Handi Kusuma menggaruk keningnya dengan canggung saat menerima tatapan dingin dari Rizky.

“Sikapmu membuatku meragukan etos kerjamu.”

“Pak Wijaya, saya sangat serius.”

“Kalau begitu, berarti kemampuan kerjamu yang bermasalah.”

“Saya…” Handi tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya, dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya bisa melaporkan hasil penyelidikannya apa adanya.

Setelah Nyonya Muda pergi hari itu, dia tidak kembali ke panti jompo tempatnya bekerja sebelumnya. Alamat rumah keluarganya di Bandung juga palsu; tidak ada satu pun keluarga dengan nama belakang yang disebutkan di sana.

Handi bahkan sudah memeriksa ke kantor polisi setempat, hasilnya tetap nihil.

Semuanya terasa aneh. Tapi jika dikatakan Nyonya Muda sengaja mendekati Grup Wijaya, apa tujuannya? Sejujurnya, Nyonya Muda sangat baik pada Pak Wijaya.

Jika harus mencari satu alasan, satu-satunya kemungkinan adalah Nyonya Muda dibutakan oleh cinta.

“Bagaimana dengan Arya Kesuma? Sudah kamu selidiki?”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya