Bab [4] Keluarga Kesuma
Handi Kusuma bisa merasakan nada kesal dalam suara atasannya, ia pun menjawab dengan hati-hati, "Agak sulit untuk mendekati Pak Kesuma. Keluarga Kesuma itu, kalau mau menyembunyikan seseorang, gampang sekali."
"Arya Kesuma, kelihatannya saja orang baik-baik, ternyata beraninya merebut istri orang, murahan sekali!" Rahang Rizky Wijaya mengeras, matanya yang kelam berkilat karena amarah yang membara.
"Eh... sebenarnya tidak bisa dibilang merebut juga, sih. Kalau dipikir-pikir, ini lebih tepat disebut 'menampung'...." Handi Kusuma tidak tahan untuk tidak membela, tapi ia langsung terdiam, lalu terbatuk karena salah tingkah.
Bayangan malam itu, saat Arya Kesuma melindungi Putri Maharani, masih terngiang jelas di benaknya. Tatapan mata pria itu begitu dalam dan penuh perasaan.
Entah kenapa, dada Rizky Wijaya terasa sesak.
Bagaimana bisa istrinya yang kaku itu punya pesona sebesar itu? Sampai-sampai seorang Arya Kesuma, sang "pastor" dari kalangan atas yang terkenal dingin dan tidak punya nafsu, kini menjadi pelindungnya?
Rizky Wijaya duduk di sofa, pikirannya berkecamuk tak menentu. Bayangan pertengkarannya dengan Putri Maharani dan rasa kecewanya terus berputar di kepala. Tepat saat ia mencoba menenangkan diri, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Kakek muncul di layar. Hatinya mencelos. Ia tahu kakeknya pasti ingin bicara, jadi ia mengangkat telepon itu.
"Rizky Wijaya, dasar cucu durhaka! Kakek dengar kamu mau cerai, dan masih main gila dengan si Kirana Santoso itu! Kakek benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu!" Suara di seberang telepon menggelegar seperti petir, tanpa basa-basi sedikit pun. Hawa kemarahan terasa begitu pekat. "Cepat datang ke kantor Kakek sekarang juga!"
Begitu masuk, Rizky Wijaya langsung merasakan tekanan udara di ruang tamu yang begitu berat hingga menyesakkan napas.
Darma Wijaya, dengan wajah sehitam tinta, duduk dengan mantap dibantu oleh sekretaris pribadi dan Agung Wijaya yang memapahnya. Tongkatnya tergeletak di samping.
Rizky Wijaya berdiri tegak di hadapan para tetua, suaranya mengandung nada keras kepala. Tekanan di hatinya akhirnya meledak pada saat itu juga. "Kakek, tiga tahun sudah berlalu. Kakek sudah berjanji padaku, aku hanya perlu menikahi Putri Maharani selama tiga tahun. Setelah itu, mau lanjut atau cerai, semua terserah padaku."
"Sialan! Sialan! Kenapa menantu Kakek tidak ada yang beres, sekarang menantu cucu pun tidak bisa dapat yang baik?! Kakek mau Putri! Kamu pergi cari Putri dan bawa dia kembali! Tanpa Putri, Kakek tidak bisa tidur nyenyak, tidak nafsu makan! Kakek tidak mau yang lain, Kakek hanya mau Putri yang jadi menantu cucu di keluarga Wijaya!" Suara Kakek semakin meninggi, amarahnya membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Pada akhirnya, ia malah merengek seperti anak kecil.
"Ini hidupku, aku berhak memilih!" balas Rizky Wijaya dengan suara berapi-api, emosi yang terpendam di hatinya meletus seperti gunung berapi. Saat ini, ia tidak tahan lagi dengan tekanan dan tuduhan dari kakeknya.
"Menantu sebaik Putri kamu sia-siakan! Kamu bahkan berani menentang Kakek demi Kirana Santoso!" hardik Kakek, seolah ingin menumpahkan seluruh kekesalannya.
Pertengkaran semakin memanas. Tiba-tiba, ponsel Rizky Wijaya berdering lagi. Kali ini, sebuah pesan dari Kirana Santoso. Hatinya tergerak, ia segera mengangkat telepon.
"Rizky, aku kangen. Aku ada di bawah, di lobi kantor..." Suara Kirana Santoso terdengar lembut dan manis seperti aliran air, seketika meluluhkan amarah dan kegelisahan di hatinya.
Pada saat yang sama, Kakek Wijaya juga mendengar suara di telepon. Wajahnya seketika pucat pasi. Jarinya gemetar menunjuk Rizky Wijaya, amarahnya meledak menjadi badai. Dadanya naik turun dengan hebat, lalu tiba-tiba ia ambruk dan pingsan di hadapan Rizky Wijaya.
Seolah semua pertengkaran dan amarah membeku dalam sekejap. Rasa panik menjalari hati Rizky Wijaya. Ia segera mematikan telepon dan bergegas ke sisi kakeknya.
"Kakek! Kakek kenapa?"
Setelah suasana kacau balau, akhirnya Kakek berhasil dilarikan ke rumah sakit.
Rizky Wijaya pun mulai merasa sedikit kesal pada Kirana Santoso. Ia bahkan belum resmi bercerai, tapi Kirana sudah berani terang-terangan datang menemuinya.
Bagaimana kalau ada orang yang melihat dan memotretnya...
Sebenarnya ia tidak peduli dengan gosip murahan seperti itu, tapi kalau sampai Putri Maharani melihatnya, mungkin wanita itu akan sedih. Namun, Rizky Wijaya langsung menertawakan dirinya sendiri. Putri kan sekarang sudah punya 'penampung' baru, mana mungkin dia masih peduli dengan mantan suaminya?
Justru Kakek yang masih terus memikirkannya, menganggap wanita jalang itu sebagai menantu yang baik hati.
Tunggu sampai Kakek sembuh, ia harus menunjukkan wajah asli Putri Maharani. Tapi kalau dipikir-pikir, Kirana Santoso datang di waktu yang sangat tidak tepat. Hanya karena ingin mengantarkan camilan untuknya, malah membuat heboh seantero Jakarta Selatan dan membuat Kakek masuk rumah sakit.
Ah, sudahlah. Kirana itu begitu polos dan baik hati, pasti dia tidak sengaja.
"Pak Wijaya, apakah Nyonya Muda perlu diberitahu mengenai hal ini?" tanya Handi Kusuma.
Rizky Wijaya menggenggam ponselnya, hatinya dipenuhi kebimbangan dan rasa frustrasi.
Kejadian Kakek pingsan barusan masih terbayang jelas, rasa bersalah dan cemas membanjirinya seperti ombak. Ia teringat pada Putri Maharani, ingin memberitahukan semua ini padanya, bahkan berharap wanita itu mau datang ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek. Tapi, mengingat semua pertengkaran dan ketidaknyamanan di antara mereka, ia tidak sanggup menelan gengsinya.
"Apa aku benar-benar harus meneleponnya?" gumam Rizky Wijaya pada dirinya sendiri. Perang batin berkecamuk di dalam dirinya, menarik-ulur keputusannya. Akhirnya, setelah melewati pergulatan batin yang menyiksa, ia menarik napas dalam-dalam dan dengan mantap menekan nomor Putri Maharani.
