Bab [7] Berbeda dari Sebelumnya
Hati Arjuna Wijaya terasa membara. Ia berusaha keras menekan amarah yang bergejolak di dadanya, suaranya terdengar sedikit lelah.
“Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Kakek sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Beliau terus-terusan mengigau ingin bertemu denganmu, bahkan tidak mau minum obat.”
Arjuna tidak punya pilihan lain. Demi sang kakek, ia terpaksa menceritakan semuanya. Jika Cantika Kesuma bersedia datang menjenguk kakeknya, mungkin itu bisa membantu proses pemulihan beliau.
Sebenarnya, satu-satunya orang yang paling dikhawatirkan Cantika saat meninggalkan keluarga Wijaya adalah pria tua yang keras kepala namun baik hati itu.
Saat Arjuna dengan ragu-ragu menyampaikan kabar tersebut, raut wajah Cantika langsung berubah cemas. “Aku akan segera ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek!” Kalimat sederhana itu membuat hati Arjuna sedikit lega.
Ia kemudian melajukan mobil Maserati-nya. Deretan kendaraan berkilauan di bawah terik matahari saat ia perlahan menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikiran Cantika berkecamuk. Perhatian dan kasih sayang kakek selalu terpatri dalam hatinya; itulah satu-satunya kehangatan yang ia rasakan selama tiga tahun terakhir. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia harus segera menemui pria tua itu.
Namun, baru saja tiba di depan pintu rumah sakit, pandangan Cantika tanpa sengaja menangkap sosok Kirana Santoso dan ibu mertuanya, Cynthia Setyawan. Keduanya sedang bersandar di dinding, berbisik-bisik dengan suara pelan. Meskipun hatinya sedikit bergejolak, Cantika tetap memasang wajah tenang, berpura-pura tidak melihat mereka, dan berjalan lurus menuju ruang rawat.
Kirana Santoso juga melihat Cantika dan seketika terperangah.
Apakah ini masih Cantika Kesuma yang dulu?
Penampilannya benar-benar berbeda dari biasanya, seolah ia telah menjelma menjadi seorang ratu yang anggun dan berkelas. Kulitnya memancarkan kilau alami, riasan mata yang dalam tampak pas, dan warna bibirnya cerah namun tidak mencolok. Dipadukan dengan tatanan rambut yang simpel, semua itu membingkai kontur wajahnya yang menawan.
Ia mengenakan setelan kerja berwarna terang rancangan desainer ternama. Potongannya yang pas menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan auranya yang elegan. Setiap detailnya tampak dipertimbangkan dengan sangat teliti, memancarkan nuansa kemewahan dan kelas atas yang tak tertandingi. Ujung roknya bergerak lembut mengikuti langkahnya, seolah membawa cahayanya sendiri, membuat segala sesuatu di sekitarnya tampak redup.
Melengkapi busananya yang memukau, perhiasan yang dikenakannya menjadi sentuhan akhir yang sempurna. Sepasang anting berlian berkilauan di telinganya, seterang bintang, memantulkan cahaya pada kulitnya yang putih bersih. Di jari-jarinya yang lentik, tersemat sebuah cincin dengan desain unik yang memancarkan kilau memesona di setiap gerakannya. Pergelangan tangannya dihiasi beberapa gelang emas tipis yang bergemerincing lembut saat ia bergerak, seperti alunan musik yang merdu. Dan bros kupu-kupu yang tersemat di dadanya adalah karya terbaru dari desainer terkenal Asia, Alexa, yang bernilai sepuluh miliar rupiah.
Cantika hari ini laksana bunga yang mekar sempurna, anggun dan memikat, mustahil untuk diabaikan. Gadis yang dulu tampak sedikit polos itu seolah telah naik ke level yang baru, memancarkan pesona dewasa dan kepercayaan diri. Perubahannya tidak hanya terletak pada penampilan yang glamor, tetapi juga pada aura dan kedalaman karakternya.
Kirana Santoso tiba-tiba merasa rendah diri. Hatinya dipenuhi amarah, tetapi ia tidak bisa meluapkannya dan hanya bisa mengikuti dari belakang dalam diam.
Di saat yang sama, Cynthia Setyawan juga merasa sedikit iri, pikirannya dipenuhi berbagai kenangan tentang Cantika selama bertahun-tahun ini. Namun, baru saja mereka tiba di depan pintu kamar rawat, asisten kakek menghadang mereka.
“Maaf, kalian berdua tidak boleh masuk,” ujar sang asisten dengan sikap dingin, tatapannya tegas dan tidak bisa dibantah. “Pak Wijaya sedang tidak ingin bertemu siapa pun.”
Wajah Kirana seketika pucat pasi, jelas tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. Ia menatap Cynthia Setyawan dengan canggung, hatinya diliputi kekecewaan. Sementara itu, Cynthia yang tidak terima, langsung membantah, “Kami bukan orang luar. Kami datang untuk menjenguk, kenapa tidak boleh masuk?”
“Pak Wijaya sedang lelah. Silakan pulang,” jawab sang asisten tanpa basa-basi, nadanya tegas.
Dari dalam ruangan, Cantika mendengar percakapan itu dan seulas senyum dingin tersungging di bibirnya.
Ia melangkah masuk ke ruang rawat dan melihat kakeknya terbaring di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya seolah bersinar terang karena kedatangannya.
“Putri, kamu datang,” sapa sang kakek sambil tersenyum tipis. Kehangatan sesaat itu membuat hati Cantika luluh.
“Kakek, aku datang menjengukmu. Bagaimana keadaan Kakek?” Cantika duduk di sisi tempat tidur, menggenggam erat tangan kakeknya, hatinya dipenuhi kekhawatiran.
Pada saat itu, Arjuna yang juga duduk di samping tempat tidur, ikut terpesona oleh penampilan Cantika.
Cantika baru teringat, ia datang langsung dari hotel ke rumah sakit dan masih mengenakan setelan kerjanya. Ia lupa berganti pakaian dengan setelan andalannya di keluarga Wijaya—gaun putih dan sepatu kets.
Arjuna tertegun, hampir tidak percaya bahwa wanita di hadapannya adalah wanita yang telah menjadi istrinya selama tiga tahun. Baik dari cara berpakaian maupun cara bicaranya, ia sangat berbeda dari sebelumnya. Mana yang merupakan dirinya yang sebenarnya?
“Kamu… terlihat berbeda.”
Cantika tidak ingin membuat keributan di depan kakek. Ia tidak menanggapi ucapan Arjuna, hanya tersenyum sambil terus menggenggam tangan kakeknya. “Manusia memang bisa berubah.”
Darma Wijaya menghela napas panjang. Melihat sikap Cantika, ia tahu gadis ini sudah benar-benar menyerah.
Hah, pada akhirnya, ini semua karena cucunya sendiri yang tidak becus!
Dengan susah payah, Darma Wijaya mencoba mengangkat tubuhnya, matanya melotot marah. “Dasar cucu sialan, mata dan hatimu itu tertutup lemak babi, ya?! Istri sebaik ini tidak kamu hargai, apa kamu mau terbang ke kahyangan untuk menikahi bidadari?!”
Arjuna hanya bisa pasrah menerima omelan itu, tidak berani menghindar ataupun membela diri.
Cantika merasa geli melihatnya, tetapi saat melihat wajah kakeknya yang pucat dan lemah, ia pun menahan Darma Wijaya.
“Kakek, jangan marah pada Arjuna. Aku yang tidak ingin melanjutkan pernikahan ini lagi,” bujuk Cantika dengan suara lembut sambil menepuk-nepuk punggung kakeknya.
Pupil mata Arjuna yang gelap menyipit.
Wanita ini ternyata tidak mengadu atau memanfaatkan kakek untuk melampiaskan dendam padanya.
Apa dia mencoba menggunakan cara yang tidak biasa ini untuk menarik perhatianku dan menyelamatkan pernikahan kami yang sudah di ujung tanduk?
Putri Maharani, dari mana datangnya kepercayaan dirimu hingga berpikir aku pasti akan tertarik padamu?
Jika saja Cantika bisa membaca pikiran, dan tahu apa yang dipikirkan Arjuna saat ini, ia pasti akan langsung berbalik dan pergi. Pria narsis dan brengsek seperti ini, ia tidak sudi melayaninya.
Darma Wijaya bertanya dengan sedih, “Putri, apa kamu diperlakukan tidak baik di rumah kami? Apa Cynthia menyusahkanmu?”
Cantika yakin, jika ia mengangguk sedikit saja, kakeknya akan langsung keluar dan berdebat sengit dengan Cynthia.
“Tidak, Kakek. Aku dan Arjuna hanya tidak sejalan. Kami tidak bisa saling memahami hati masing-masing, jadi berpisah adalah jalan terbaik untuk kami berdua.” Mata Cantika yang jernih memancarkan kesedihan yang nyaris tak terlihat. “Jangan salahkan Arjuna. Selama tiga tahun ini, kami sudah menciptakan kenangan indah bersama, dan itu sudah cukup. Kami berdua tidak menyesal.”
Kenangan indah?
Apa mereka punya kenangan indah?
Mereka menikah terburu-buru di bawah paksaan kakek. Lalu, Cantika datang ke kediaman Wijaya hanya dengan membawa barang seadanya, dan begitu saja menjadi istrinya di atas kertas.
Kenangan seperti itu, indah?
Benar-benar lelucon!
Mata Darma Wijaya mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar menganggap Putri sebagai cucu kandungnya sendiri dan ingin memperlakukannya dengan baik. Tapi, apakah caranya selama ini salah? Justru membuat gadis itu banyak menderita.
“Putri, maafkan Kakek.” Sebaris air mata panas mengalir dari matanya yang semakin keruh. “Pak Hartono, bawa kemari hadiah ulang tahun yang sudah kusiapkan untuk Putri!”
