Bab [9] Fitnah dan Tuduhan Palsu

Dengan ekspresi polos, Kirana Santoso jatuh terjerembap ke lantai. Ia memegangi pergelangan tangannya seolah kesakitan, matanya berkaca-kaca seakan terluka parah. Sambil mengangkat kepala, ia menatap lurus ke arah Cantika Kesuma, suaranya bergetar, "Kenapa kamu mendorongku? Aku cuma mau bicara sebentar sama kamu!"

Orang-orang di sekitar langsung berkerumun, tatapan mereka dipenuhi rasa penasaran dan khawatir. Cantika Kesuma tertegun sejenak, lalu amarah mulai membara di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyentuh Kirana, bagaimana bisa ia dituduh begitu saja? "Aku tidak mendorongmu!" Cantika buru-buru membela diri, meski dalam hati ia tertawa dingin. Drama yang dimainkan Kirana benar-benar sudah kelewat batas.

Saat itu juga, sebuah ide melintas di benak Cantika. Ia segera mengeluarkan ponselnya, membuka rekaman CCTV, dan menemukan video dari koridor rumah sakit. Benar saja, rekaman itu dengan jelas menunjukkan seluruh kejadian. Terlihat Kirana tersandung dan jatuh sendiri, sama sekali tidak ada yang mendorongnya.

"Lihat ini, ini buktinya!" Cantika mengangkat ponselnya, memperlihatkannya dari kejauhan kepada Kirana dan Cynthia Setyawan. Rekaman Kirana yang terjatuh terlihat sangat jelas.

Wajah Kirana langsung pucat pasi. Ekspresi sedih dan polosnya seketika lenyap tak berbekas.

"Kirana, kamu masih mau mengelak?" tanya Cantika dengan dingin, tatapannya menyiratkan cemoohan.

"Aku... aku..." Kirana tergagap, hatinya dilanda kepanikan. Akhirnya, di bawah tatapan tajam Rizky Wijaya, ia terpaksa menundukkan kepala dan mengakui, "Aku tidak sengaja jatuh. Tidak ada hubungannya denganmu."

Rizky Wijaya, yang menyaksikan semuanya dari samping, merasa semakin kecewa pada Kirana. Ia pikir Kirana adalah gadis yang lembut dan baik hati, tapi sekarang ia benar-benar terkejut dengan kelakuannya.

Kirana menggertakkan giginya karena marah. Ingin menyelamatkan sedikit harga dirinya, ia tersenyum sinis dan berkata dengan nada yang dibuat santai, "Kalau saja dia tidak menghindar, aku tidak akan jatuh! Dia jelas-jelas sengaja! Gelangku juga pecah, ini peninggalan nenekku! Warisan keluarga Santoso! Kalau bukan karena dia, gelang ini tidak akan pecah! Mbak Cantika, aku tahu kamu masih marah karena bercerai dengan Mas Rizky, tapi kamu tidak seharusnya melampiaskannya padaku seperti ini. Apa perpisahan kalian itu salahku?"

Nada bicaranya terdengar sok santun tapi munafik, seolah sengaja memprovokasi.

Cantika terdiam sejenak, gelombang amarah kembali membuncah di hatinya. Ucapan Kirana bagaikan pisau tajam yang menusuk langsung ke ulu hatinya. Wajah Rizky pun menjadi muram, jelas ia merasa tak berdaya dan kecewa dengan sikap Kirana.

"Kirana, jangan keterlaluan!" Rizky tak tahan untuk angkat bicara, nadanya terdengar kesal.

Namun, Cantika justru tersenyum. Oh, jadi Rizky bisa juga marah pada Kirana, ya? Kukira dia hanya akan terus-terusan mengalah pada kekasih masa kecilnya itu.

Tentu saja Cantika tidak akan membiarkan Kirana menumpahkan fitnah padanya. Ia memungut serpihan gelang dari lantai, mengangkatnya ke arah cahaya, lalu mendecakkan lidah dengan jijik sebelum memberikannya ke tangan Cynthia. Ia bahkan mengelap tangannya sendiri setelah itu.

Seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

"Apa maksudmu?"

"Cuma mau kasih saran, lain kali kalau mau beli perhiasan, cek dulu keasliannya di tempat ahlinya. Pakai gelang palsu begini bisa bahaya buat kesehatan, lho."

Cantika tersenyum dingin, lalu berbalik hendak pergi.

Namun, ia kembali lagi, menepuk bahu Handi Kusuma yang sedang asyik menonton drama. "Sekretaris Handi, lain kali jangan lupa ingatkan Pak Wijaya, ya. Belikan kekasih kecilnya itu perhiasan yang bagus sedikit, jangan pakai barang rongsokan begini di badan, malu-maluin! Di meja rias saya di rumah keluarga Wijaya masih ada beberapa perhiasan yang lumayan, anggap saja hadiah untuk Nyonya Wijaya berikutnya. Ingat, ya?"

"Siap, Nyonya Muda!" jawaban Handi keluar seperti refleks. Begitu sadar, ia langsung menutup mulutnya. Dalam hati ia menyesali mulutnya yang terlalu cepat. Jangan-jangan aku dipecat!

Kali ini Kirana benar-benar murka. Matanya melotot tajam, menatap punggung Cantika dan Handi yang menjauh. Dalam hati ia bersumpah, Cantika Kesuma, tunggu saja kau. Cepat atau lambat, akan kuhabisi kau!

Cantika tidak peduli seberapa marahnya orang lain. Yang penting ia sudah meluapkan kekesalannya. Ia meninggalkan rumah sakit dengan perasaan lega, bahkan hampir tertawa saat membayangkan wajah Kirana yang merah padam karena marah tadi.

Cantika berjalan cepat keluar dari gedung, tapi ia mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa di belakangnya.

"Cantika, tunggu!" Rizky Wijaya mengejarnya dari dalam gedung, suaranya terdengar mendesak.

Keraguan tentang Cantika membanjiri benaknya. Ia ingin menanyakan beberapa hal padanya, ingin tahu kenapa dulu ia menyembunyikan identitasnya, ingin tahu siapa dia sebenarnya.

Cantika tidak menoleh. Tangannya menggenggam kunci mobil erat-erat, berusaha menenangkan diri. Ia melompat ke dalam sebuah mobil sport, barang mewah yang baru saja dibelinya. Bodinya yang aerodinamis berkilauan di bawah sinar matahari. Ia menyalakan mesin, deru knalpot memecah keheningan sekitar, sekaligus menenangkan gejolak di hatinya.

Melihat gerakan itu, kepanikan Rizky semakin menjadi-jadi. Ia mempercepat langkahnya, berusaha mengejar. Tepat saat ia hampir mendekat, Cantika sudah menginjak pedal gas. Mobil itu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya, meninggalkan kepulan debu.

"Cantika!" seru Rizky panik, lalu segera memanggil Handi untuk menyusul dengan mobil.

Pemandangan jalanan seolah mundur dengan cepat di antara kedua mobil. Handi menggertakkan giginya, matanya fokus menatap mobil sport di depan. Ia menginjak gas sekuat tenaga, ban mobil berdecit nyaring di aspal, seolah menantang dunia.

Cantika melirik kaca spion, melihat mobil Rizky yang terus membuntutinya. Perasaan rumit menyelimuti hatinya, tapi lebih banyak rasa jijik. Ia tahu lari tidak akan menyelesaikan masalah, tapi ia benar-benar tidak ingin bicara dengan Rizky, apalagi menceritakan masa lalunya.

Haruskah Cantika memberitahu Rizky bahwa tiga belas tahun yang lalu, di tengah malam yang gelap dan badai yang mengerikan, Cantika yang baru berusia sebelas tahun sudah mengukir sepasang mata Rizky yang seterang bintang itu dalam ingatannya?

Haruskah Cantika memberitahu Rizky bahwa pria itu pernah menyelamatkan hidupnya, dan tanpanya, ia tidak akan hidup sampai hari ini?

Semua itu, tidak akan pernah Cantika katakan.

Laki-laki memang brengsek. Saat kamu kejar-kejar dan perhatikan, yang kamu dapat hanya sikap jijiknya. Tapi saat kamu bersikap dingin dan menganggapnya sampah, dia malah datang menempel dengan sendirinya.

Cantika mendengus dingin sambil melirik kaca spion lagi.

Kenapa dia masih mengikuti seperti hantu?

Rizky, yang duduk di kursi penumpang, merasa sangat cemas. Tangannya tanpa sadar mencengkeram pegangan pintu. Ia menoleh ke arah Handi, nadanya terdengar memaksa, "Lebih cepat lagi, kejar dia!"

Sayangnya, kecepatan mobil Cantika luar biasa, seperti kuda liar yang lepas kendali. Dalam sekejap, mobil itu menghilang di tikungan, meninggalkan Handi dengan wajah frustrasi.

"Saya sudah ngebut maksimal, Pak, tetap tidak terkejar!" Handi menggeleng pasrah. Meskipun kemampuan menyetirnya hebat, tenaga dan kecepatan mobil sport itu tidak bisa dibandingkan dengan mobil biasa.

"Terus kejar!" mata Rizky tetap terpaku ke depan.

Handi menarik napas dalam-dalam, kembali menginjak gas. Mobil melaju kencang menembus kegelapan malam, berusaha mengejar bayangan Cantika. Tapi sekeras apa pun usahanya, ia seolah tidak pernah bisa mendekati cahaya lincah itu.

Dalam sekejap, mobil sport Cantika lenyap di kejauhan, berbelok ke sebuah gang sempit. Kecemasan dan amarah Rizky semakin memuncak. Akhirnya, saat bayangan mobil Cantika benar-benar memudar, amarah dan rasa frustrasi yang tak tertahankan meledak di dalam hatinya.

"Aku tidak percaya dia bisa lolos begitu saja!" suaranya akhirnya meledak, penuh dengan rasa tak berdaya dan kekecewaan. Ia bertekad tidak akan menyerah. Ia harus menemukan Cantika dan mengungkap semua rahasianya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya