Bab 2

James mengeluarkan ponselnya, siap menghapus satu lagi pesan spam. Namun angka-angka di layar membuatnya membeku di tempat.

NOTIFIKASI BANK: Setoran diterima. Jumlah: Rp15.000.000.000.000,00. Saldo saat ini: Rp15.000.005.217,30.

Lima belas triliun rupiah.

Ia berkedip. Angka itu masih terpampang.

Rekening yang semalam cuma berisi sekitar lima juta rupiah kini menampilkan saldo yang seketika mengosongkan pikirannya.

James berdiri di tengah jalan setapak kampus, mahasiswa lalu-lalang di sekelilingnya, tetapi rasanya seluruh dunia mendadak sunyi.

Ini nggak mungkin nyata. Pasti ada kesalahan sistem bank, atau jenis penipuan model baru.

Ia mengucek mata keras-keras. Angkanya tetap. Lima belas triliun—angka sebegitu konyol sampai ia bahkan tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Ponselnya berdering lagi. Nomor tak dikenal yang sama.

James ragu beberapa detik, lalu akhirnya mengangkat.

“Uangnya sudah masuk?” Suara pria paruh baya di seberang terdengar tenang, seolah cuma menanyakan cuaca.

“Siapa Anda sebenarnya?” James menurunkan suara, matanya menyapu sekitar dengan waspada. “Uang ini dari mana? Ini bukan uang ilegal, kan?”

“Tuan Smith, silakan tenang. Uang ini sepenuhnya legal.” Pria itu terkekeh pelan. “Lagipula, itu baru sebagian kecil dari warisan Anda. Mayoritas asetnya berupa aset tetap dan rekening luar negeri yang perlu diurus langsung sebelum bisa dialihkan ke Anda.”

Kepala James terasa mau hang.

“Tunggu… maksud Anda, lima belas triliun itu cuma sebagian kecil?”

“Ya. Kalau Anda berkenan, jam tiga sore ini, Meilong Tower, Suite 1308, kita bisa membahas rinciannya.”

James menarik napas dalam-dalam. Pikirannya berlari ke segala kemungkinan—ini bisa jebakan, bisa penipuan—tapi uang di rekening itu nyata.

Kalau ini benar... ia teringat sikap Jennifer kemarin yang matanya selalu menghitung untung-rugi, teringat cara Michael merendahkan ketika melempar jam emas itu seolah melempar recehan.

“Baik. Saya datang sore ini.”

Begitu telepon ditutup, James pulang dulu ke apartemen.

Barang-barang Jennifer sudah ia buang semua. Apartemen ini juga bukan murah—sewa sebulan sekitar dua puluh dua setengah juta. Awalnya ia berniat balik ke asrama begitu kontrak habis bulan ini supaya lebih hemat.

Tapi sekarang...

Ia melirik saldo di ponselnya dan terkekeh getir.

Sekarang, sepertinya ia tak perlu pusing soal uang sewa lagi.

Apartemennya dua kamar satu kamar mandi. Selain dia dan Jennifer, ada satu teman serumah lagi—Linda, gadis yang nyaris tak pernah ia ajak bicara. Sepertinya Linda mengambil jurusan desain seni, dan sering pulang larut karena kesibukan.

James menyentuh perban di keningnya. Terlalu banyak yang terjadi—dari pengkhianatan kemarin sampai hujan rezeki hari ini, rasanya seperti mimpi.

Ia masuk ke kamarnya, menjatuhkan diri ke atas ranjang, lalu cepat tenggelam dalam tidur yang dalam.

Entah sudah berapa lama ia tidur sampai kandung kemihnya membangunkannya.

Dengan mata berat, James bangun sambil menggosok wajah, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ia mendorong pintu, mulai membuka kancing celananya, lalu mendadak sadar—ada orang lain di dalam kamar mandi.

Linda berdiri di depan cermin, membelakangi pintu, perlahan mengangkat daster tidur renda yang seksi itu.

Gerakannya pelan, seolah sedang menikmati semacam ritual. Kain tipis itu naik sedikit demi sedikit, menyingkap lekuk pinggangnya yang menggoda dan tepi kamisol hitam di baliknya.

Tubuhnya memang bagus—kaki panjang lurus, rambut pirang keemasan bergelombang jatuh melewati bahu, berkilau lembut dalam cahaya redup.

Seluruh pemandangan itu dipenuhi pesona muda dan ketegangan sensual yang bikin dada terasa sesak.

Otak James mendadak siuman seketika, tapi tubuhnya justru kaku, sampai-sampai lupa membuka mulut.

Linda terus melepas pakaiannya. Daster itu sudah terangkat sampai tepat di bawah dadanya, garis kamisol renda hitam samar terlihat di cermin.

Di saat itulah, Linda mendadak membuka mata, pandangannya jatuh ke cermin—dan ia melihat James berdiri di belakangnya, celananya sudah melorot setengah.

Waktu seolah berhenti sedetik.

“Ah!” Linda menjerit, refleks berputar dan menendang dengan ganas ke selangkangan James.

“James! Dasar mesum!”

James tak sempat menghindar. Rasa sakit menyengat meledak dari perut bawahnya. Ia langsung membungkuk, megap-megap mencari napas.

Linda menyambar handuk di dekatnya untuk menutupi tubuhnya, lalu berbalik dan berlari keluar kamar mandi, membanting pintu kamarnya sampai berdentum keras.

Menahan nyeri sambil gemetar, James menarik celananya naik, lalu pincang mengejarnya.

Ia bersandar di dinding sebentar sebelum berteriak ke arah pintu kamar Linda, “Linda, kamu gila, ya! Aku nggak sengaja!”

Pintu kamar Linda langsung terbuka. Ia sudah berganti baju—kaus longgar dan celana training.

Matanya setajam pisau, menatap James dengan buas, seolah ingin mengoyak-oyaknya.

“Masih berani ngomong begitu?!” Suara Linda bergetar karena marah. “Kamu ngintip aku mandi!”

“Aku nggak ngintip!” James hampir meloncat. “Kamu nggak ngunci pintu! Aku baru bangun—aku mana tahu kamu di dalam!”

Linda hendak membalas, tapi kata-katanya tertahan di ujung lidah.

Ia baru ingat. Ia memang lupa mengunci.

Seharian tadi ia memotret untuk tugas sampai larut. Begitu pulang, ia capek setengah mati dan langsung masuk kamar mandi, sama sekali lupa kalau ia tinggal serumah dengan teman sekamar laki-laki.

Tapi itu bukan berarti James bebas dari salah.

“Jadi kamu lihat?” Wajah Linda memerah, campuran malu dan marah. “Kamu lihat semuanya?!”

James memutar bola mata, lalu menyindir, “Kamu kira kamu bintang film? Dada segitu doang? Mau ada yang maksa aku liat pun, aku juga malas.”

Wajah Linda makin merah terbakar.

Bentuk tubuhnya memang bagus, tapi ukuran dadanya cuma B+, dan itu selalu jadi titik sensitif buatnya.

Dengar James bilang begitu, ia rasanya ingin menendang sekali lagi.

Di saat itu juga, James mendadak teringat janji jam tiga.

Ia melirik jam dinding—sudah jam setengah tiga. Ia menyambar kunci motornya dari meja ruang tamu dan langsung ngacir ke pintu.

“James, mesum!” Linda mengejar beberapa langkah, berteriak dari ambang pintu. “Kamu nontonin aku ganti baju terus kabur tanpa tanggung jawab? Balik sini!”

Tapi James sudah menuruni tangga, meninggalkan Linda berdiri sendiri di depan pintu, menghentak-hentakkan kaki karena kesal.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya