Bab 4

Ini bukan kantor biasa—seluruh lantai tiga belas dibuka jadi satu ruangan raksasa, luasnya paling tidak seribu meter persegi.

Jendela kaca dari lantai sampai plafon menguasai satu sisi dinding. Pemandangan kota Lumina menghampar di depan mata seperti lukisan panorama—deretan gedung pencakar langit, sungai yang berkelok-kelok, pegunungan jauh yang samar di garis cakrawala—semuanya disiram cahaya keemasan sore.

“Silakan, duduk.” Tuan Charles mengisyaratkan, menuntun Rangga ke kursi di depan meja.

Tuan Charles duduk di seberangnya, senyum hangat itu masih menempel di wajah. “Tuan Rangga, saya rasa Anda pasti punya banyak pertanyaan.”

“Ya jelas.” Kata-kata itu keburu meluncur dari mulut Rangga sebelum sempat ditahan, lalu ia cepat menambahkan, “Maaf. Aku cuma—ini semua terlalu nggak masuk akal. Katanya aku dapat warisan? Tapi aku anak yatim piatu. Orang tuaku meninggal waktu aku masih kecil. Aku nggak punya saudara lain.”

“Memang Anda tidak punya keluarga inti,” Tuan Charles mengangguk, “tapi kakek Anda punya sepupu.”

Rangga terdiam, bayangan samar muncul di kepalanya—seorang lelaki tua yang ramah, rambutnya putih, senyumnya selalu ada.

Ia ingat pernah bertemu orang itu waktu kecil; mungkin saat orang tuanya meninggal, lelaki tua itu datang melayat.

Tapi itu sudah lama sekali—selama itu pula Rangga nyaris melupakan kerabat tersebut.

“Aku ingat,” ujar Rangga pelan, “tapi dia meninggal beberapa tahun lalu.”

“Betul,” kata Tuan Charles. “Sepupu kakek Anda—Tuan Ramírez. Beliau ketua utama Golden Peak Group.”

Pikiran Rangga mendadak kosong. “Golden Peak Group?”

“Ya.” Tuan Charles menarik sebuah map dari laci, lalu mendorongnya perlahan ke arah Rangga.

“Tuan Ramírez merantau ke luar negeri sejak muda, hidup sendiri, tidak punya anak. Sesuai surat wasiatnya, seluruh aset beliau diwariskan kepada Anda seorang.”

“Jadi,” Rangga akhirnya seperti tersadar, “sepuluh miliar dolar itu—”

“Hanya sebagian kecil dari aset yang Anda terima,” Tuan Charles menjawab tenang. “Tepatnya, itu tabungan beliau di dalam negeri. Tapi itu baru permukaannya.”

Tenggorokan Rangga mendadak kering. “Terus, apalagi?”

Tuan Charles mengeluarkan beberapa dokumen lagi dari laci, memperkenalkannya satu per satu. “Golden Peak Group, nilai pasarnya sekitar tiga ratus miliar dolar, bisnis utama meliputi pengembangan properti, pengelolaan properti komersial, dan jasa konstruksi. Stellar Enterprises Group, nilai pasar sekitar dua ratus lima puluh miliar dolar, mencakup manufaktur, riset dan pengembangan teknologi, serta perdagangan internasional. Blue Horizon Group, nilai pasar sekitar seratus delapan puluh miliar dolar, fokus pada pariwisata, hotel, dan industri hiburan. Selain itu, ada beberapa perusahaan minyak yang tersebar di Timur Tengah, Amerika Utara, dan Amerika Selatan, dengan nilai konservatif sekitar empat triliun dolar.”

Rangga merasakan ruangan seolah mulai berputar.

Ia mencengkeram sandaran tangan kursi sampai buku-buku jarinya memutih. “Tunggu,” ia menyela, suaranya bergetar, “maksud Anda—semua itu buat aku sendirian?”

Pak Charles mengangguk dengan wajah serius. “Iya, Pak Satria. Sesuai wasiat Pak Ramírez, Bapak adalah satu-satunya ahli waris.”

Dada Satria berdegup kencang, seperti mau meledak.

Dia ingin bicara, tapi tenggorokannya serasa tersumbat.

“Kalau totalnya—” Satria akhirnya berhasil mengeluarkan suara, “totalnya berapa?”

Pak Charles diam sejenak. “Perkiraan paling konservatif… seratus triliun dolar.”

Waktu seperti berhenti.

Satria duduk terpaku, menatap Pak Charles.

Seratus triliun.

“Seratus triliun dolar?” suara Satria bergetar.

“Iya,” kata Pak Charles. “Saya tahu ini sulit diterima, Pak Satria. Tapi begitulah kenyataannya.”

“Nggak mungkin,” Satria menggeleng. “Pak pasti bercanda. Ini nggak masuk akal. Kalau Pak Ramírez beneran punya uang sebanyak itu, namanya harusnya ada di daftar orang terkaya. Yang paling kaya di daftar Forbes aja cuma sekitar dua ratus miliar dolar. Seratus triliun? Mustahil!”

Pak Charles tersenyum tipis. “Maksud Bapak daftar orang kaya Forbes?” tanyanya, nadanya seperti mengejek halus. “Pak Satria, Bapak kira orang-orang yang ada di daftar itu benar-benar yang paling kaya di dunia?”

Satria terdiam, bingung harus menjawab apa.

Pak Charles melanjutkan, “Orang-orang di daftar itu belum tentu para raksasa uang yang sesungguhnya. Kenapa mereka muncul di sana? Buat menaikkan nama, buat nambah jaringan dan akses, supaya dunia tahu mereka ada. Tapi Pak Ramírez sudah lama melewati fase itu. Dia nggak butuh nama, nggak butuh akses sosial, dan jelas nggak butuh dunia tahu berapa banyak uang yang dia punya. Dia tinggal di luar negeri bertahun-tahun justru buat menyembunyikan identitasnya dan menghindari masalah yang nggak perlu. Kekayaan yang benar, Pak Satria, itu bersembunyi di bayang-bayang, bukan dipamerkan di bawah sorot lampu.”

Satria kembali diam, kata-kata itu bergema di kepalanya.

Dia teringat tatapan merendahkan resepsionis di bawah, jeritan perempuan pirang di lift, juga ucapan dingin Jennifer saat pergi: “Kamu terlalu miskin.”

Kalau semua yang terjadi hari ini nyata, kalau dia benar-benar mewarisi seratus triliun dolar—berarti dia bukan lagi kurir kere yang dipandang sebelah mata.

Dia akan jadi orang terkaya di dunia, seseorang yang bisa memandang rendah siapa pun.

Satria menatap Pak Charles, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan di matanya, tapi tatapan itu jernih dan lugas.

Tiba-tiba Satria sadar: Pak Charles nggak punya alasan buat menipunya—kalau ini penipuan, mana mungkin penipu memilih orang semelarat dirinya sebagai sasaran.

Dan kalau ini benar…

Tangan Satria masih sedikit gemetar, tapi dia memaksa diri menarik napas panjang, menenangkan dada.

“Baik,” katanya. “Anggap saja semua ini benar. Terus apa syarat buat nerima warisan ini? Nggak ada makan siang gratis, kan?”

Pak Charles mengangguk, seolah puas melihat Satria masih bisa menjaga kepala dingin.

Dia mengeluarkan satu dokumen terakhir dari laci—selembar kertas menguning dengan pinggiran yang sudah aus.

“Ini wasiat Pak Ramírez,” kata Pak Charles, mendorong dokumen itu ke arah Satria. “Bapak bisa mewarisi semua asetnya, tapi Bapak harus memenuhi satu syarat.”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya